Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Alya baru saja selesai membersihkan diri. Suasana rumah terasa sangat sunyi karena Bi Minah dan Sari sudah kembali ke paviliun mereka di belakang sejak satu jam yang lalu. Rayhan belum pulang, namun sebuah pesan singkat tadi sore mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan.
Alya berdiri di depan cermin besar di ruang ganti yang terhubung dengan kamar utama. Ia menatap deretan pakaian yang sudah disiapkan di sana. Matanya tertuju pada sebuah kotak kado tanpa nama yang ia temukan di atas meja riasnya sore tadi. Ketika dibuka, isinya adalah sebuah lingerie berbahan sutra transparan berwarna hitam pekat dengan aksen renda yang sangat halus.
Alya tahu ini pasti dari Rayhan. Pria itu mungkin diam dan kaku di luar, tapi seleranya dalam hal pribadi benar-benar membuat jantung Alya berdegup tidak karuan. Dengan tangan gemetar, Alya mencoba mengenakannya. Kain tipis itu jatuh dengan sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuh yang selama ini tertutup rapat oleh pakaian longgarnya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Alya terlihat seperti dewi malam—cantik, polos, namun sangat menggoda.
Ia menyemprotkan sedikit parfum dengan aroma vanila yang manis ke leher dan pergelangan tangannya. "Hasrat Halal Tuan Suami," gumam Alya pelan, teringat kata-kata Rayhan semalam. Ia memutuskan untuk menjadi istri yang baik, yang memberikan apa yang diinginkan suaminya agar Rayhan tidak perlu mencari pelampiasan di luar sana.
Terdengar suara pintu depan terbuka, disusul suara langkah sepatu yang berat menaiki tangga. Itu Rayhan.
Alya segera mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di samping ranjang yang memberikan nuansa kemerahan yang hangat. Ia duduk bersandar di kepala ranjang dengan sebuah buku di tangan, mencoba menutupi kegugupannya.
Pintu kamar terbuka. Rayhan masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah. Dasinya sudah longgar, dan kemejanya kusut di beberapa bagian. Namun, begitu matanya menangkap sosok Alya di atas ranjang, langkahnya langsung terhenti. Rayhan melepaskan tas kerjanya begitu saja ke lantai. Matanya menggelap, menatap lurus ke arah pakaian transparan yang dikenakan istrinya.
"Kau mengenakannya," suara Rayhan terdengar sangat serak, lebih serak dari biasanya.
Alya tersenyum malu-malu, menutup bukunya. "Mas sudah pulang? Mau mandi dulu atau... mau aku siapkan makan?"
Rayhan tidak menjawab. Ia berjalan mendekat dengan tatapan yang seolah ingin menelan Alya hidup-hidup. Ia duduk di tepi ranjang, tepat di depan Alya. Tangannya yang besar dan sedikit kasar karena sering bekerja keras, meraih pinggang Alya dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Melihatmu seperti ini, rasa lapar dan lelahku hilang seketika," bisik Rayhan. Ia melepaskan kacamatanya dan membuangnya ke sembarang arah.
Rayhan kemudian melakukan sesuatu yang membuat Alya terkejut namun tersentuh. Pria yang di kantornya ditakuti oleh ratusan karyawan itu, tiba-tiba menyandarkan kepalanya di d**a Alya. Ia memeluk pinggang Alya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di balik kain sutra tipis yang menghalangi kulit mereka.
"Biarkan aku seperti ini sebentar, Alya. Di luar sana sangat berisik, kepalaku mau pecah karena urusan kantor," gumam Rayhan. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Alya mengusap rambut Rayhan yang sedikit kaku karena sisa gel rambut. Ia merasa sangat dibutuhkan. Ternyata, di balik kesombongan dan kekayaan suaminya, Rayhan hanyalah seorang pria yang haus akan kasih sayang dan ketenangan.
"Mas lelah sekali ya?" tanya Alya lembut. Ia membiarkan tangan Rayhan mulai menjelajah dengan posesif di punggungnya.
Rayhan mendongak sedikit, menatap Alya dari posisi bawah. Matanya terlihat sayu namun penuh gairah. "Hanya kau yang bisa menyembuhkanku, Alya. Kau adalah obatku."
Rayhan mulai bergerak dengan lembut namun pasti. Ia menelusupkan wajahnya di antara leher dan pundak Alya, menghirup aroma vanila yang memabukkan itu. Sesekali ia memberikan kecupan-kecupan kecil yang membuat Alya mendesah pelan.
Alya merasa ada perasaan aneh yang membuncah. Ia merasa seperti seorang ibu yang sedang menenangkan bayinya, namun di saat yang sama ia merasa seperti seorang wanita yang sedang dipuja oleh kekasihnya. Sifat manja Rayhan malam ini benar-benar tidak terduga. Pria itu terus mencari kenyamanan pada tubuh Alya, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Alya akan hilang.
"Kau sangat cantik malam ini. Sutra ini... sangat cocok dengan kulitmu yang putih," Rayhan berbisik di depan bibir Alya.
"Mas yang membelikannya?"
"Aku ingin melihatmu seperti ini setiap malam. Tanpa ada orang lain yang boleh melihatnya. Hanya aku," ujar Rayhan dengan nada posesif yang kembali muncul. Ia menarik tali tipis di bahu Alya, perlahan namun pasti.
Malam itu berlalu dengan penuh kelembutan yang lebih dalam dari malam sebelumnya. Jika malam pertama adalah tentang kejutan dan penaklukan, malam kedua ini adalah tentang pengabdian dan kenyamanan. Rayhan tidak membiarkan Alya jauh darinya sedikit pun. Ia terus memeluk, mencium, dan mencari perlindungan pada istrinya, ... seolah Alya adalah satu-satunya pelabuhan tempatnya berlabuh setelah mengarungi samudra kehidupan yang kejam. Rayhan benar-benar seperti bayi yang sedang mencari perlindungan pada ibunya, namun dengan hasrat seorang pria dewasa yang tak terbendung. Ia terus mencari kehangatan pada d**a Alya, seolah itu adalah sumber energi utamanya untuk menghadapi hari esok.
Alya memeluk kepala suaminya erat, membiarkan jemari Rayhan bermain di balik sutra tipisnya. Ia menyadari bahwa di balik tembok tinggi kekuasaan yang dibangun Rayhan di dunia bisnis, suaminya tetaplah manusia biasa yang memiliki titik lemah. Dan kini, ia tahu bahwa dirinya adalah titik lemah sekaligus kekuatan terbesar bagi pria itu.
"Janji padaku, Alya," bisik Rayhan di tengah napasnya yang menderu pelan. "Jangan pernah biarkan mata laki-laki lain melihatmu seperti ini. Jangan pernah biarkan siapa pun masuk ke dalam duniamu selain aku."
"Aku janji, Tuan," jawab Alya lirih, menggunakan panggilan yang paling disukai Rayhan saat mereka hanya berdua.
Malam semakin larut, dan di bawah rembulan yang mengintip dari balik awan, Rayhan akhirnya tertidur pulas dalam dekapan Alya—posisi yang sangat kontras dengan imej dinginnya di kantor. Alya menatap wajah suaminya yang tertidur tanpa beban. Namun, hatinya sedikit terusik saat teringat ucapan Sari tadi siang tentang CCTV.
Alya melirik ke arah sudut plafon kamar. Benar saja, lampu merah kecil di kamera itu tetap menyala. Ia merasa aneh, apakah Rayhan juga merekam momen intim mereka? Atau kamera itu hanya aktif saat ia sendirian? Rasa penasaran itu bercampur dengan rasa dicintai yang luar biasa.
Alya tidak tahu bahwa obsesi Rayhan jauh lebih dalam dari sekadar rasa sayang. Baginya, Alya adalah koleksi paling berharga yang harus dijaga dalam brankas paling aman. Dan badai yang akan datang—entah itu dari Sari, Doni, atau masa lalu Alya—hanya akan membuat Rayhan semakin memperketat cengkeramannya pada sang istri.
Alya akhirnya ikut terlelap dengan tangan Rayhan yang masih melingkar protektif di pinggangnya, tidak menyadari bahwa besok pagi, sebuah kejutan dari kantor Rayhan akan mulai mengusik ketenangan mereka.