Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menggelitik kelopak mata Alya. Ia mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk. Setiap inci ototnya seolah memprotes aktivitas luar biasa yang terjadi semalam. Saat ia membuka mata sepenuhnya, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal yang mewah. Ia tersadar, ini bukan lagi kamar kost sempitnya atau kamar sederhana di rumah ayahnya. Ini adalah kamar pengantinnya.
Alya menoleh ke samping. Sisi tempat tidur itu sudah kosong, namun masih menyisakan kehangatan dan aroma maskulin yang kini ia kenali sebagai aroma suaminya. Ia menarik selimut hingga menutupi dagu saat kilasan memori semalam berputar di otaknya. Rayhan yang kaku di depan orang banyak ternyata bisa berubah menjadi sosok yang begitu dominan dan penuh tuntutan di balik pintu kamar yang terkunci.
"Sudah bangun?"
Suara bariton itu membuat Alya tersentak. Rayhan berdiri di ambang pintu balkon, sudah rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia memegang secangkir kopi, dan kacamata kaku itu sudah kembali bertengger di hidungnya. Sosok "Tuan" yang dingin telah kembali, menggantikan pria penuh gairah semalam.
"Mas... maksudku, Mas Rayhan sudah lama bangun?" tanya Alya canggung, mencoba duduk sambil menahan selimut agar tidak melorot.
Rayhan berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang lalu meletakkan kopinya di nakas. Ia menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kepuasan, namun juga ada aura protektif yang sangat kuat di sana.
"Sejak subuh. Aku tidak terbiasa tidur terlalu lama," jawab Rayhan singkat. Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Alya dengan lembut. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?"
Wajah Alya memanas. "Hanya... sedikit pegal."
Rayhan tersenyum tipis, jenis senyuman yang jarang ia perlihatkan pada dunia. "Itu karena kau terlalu banyak bergerak semalam. Tapi aku menyukainya. Ternyata label 'gadis nakal' yang diberikan orang padamu itu salah besar. Kau jauh lebih berharga dari yang mereka bayangkan, Alya."
Rayhan kemudian berdiri dan mengambil sebuah bungkusan kecil dari laci meja. "Ini untukmu. Pakailah mulai hari ini."
Alya membukanya. Sebuah ponsel keluaran terbaru dengan model tercanggih. "Ponselku yang lama masih bagus, Mas."
"Buang ponsel lama itu," perintah Rayhan tanpa bantahan. "Ponsel ini sudah aku atur. Ada nomor pribadiku di urutan pertama. Dan ada satu hal lagi... aku tidak ingin kau memasang media sosial yang aneh-aneh. Aku tidak suka istriku dipandang oleh laki-laki lain di internet."
Alya tertegun. Ia baru menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya soal cinta atau hasrat, tapi juga soal kepemilikan. "Tapi teman-temanku..."
"Teman-temanmu yang mana? Yang mengajakmu nongkrong sampai tengah malam itu?" Rayhan memotong dengan nada dingin. "Mulai hari ini, temanmu adalah aku. Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku. Jika kau bosan, aku akan membawamu jalan-jalan. Tapi aku tidak mengizinkanmu keluar rumah tanpa izin dariku atau tanpa pengawalan sopir."
Alya merasa ada yang sesak di dadanya. Ini adalah sangkar emas. Mewah, indah, namun tetap saja sebuah sangkar. Namun, melihat tatapan Rayhan yang begitu intens, Alya tidak berani membantah. Ia mengangguk pelan.
"Pintar," puji Rayhan sambil mengecup kening Alya. "Sekarang mandilah. Kita sarapan di bawah. Bi Minah sudah menyiapkan makanan."
Setelah Rayhan keluar kamar, Alya menghela napas panjang. Ia bangkit dan menuju kamar mandi. Saat ia melewati cermin besar di sudut ruangan, ia melihat bercak kemerahan di lehernya—tanda kepemilikan yang ditinggalkan Rayhan. Ia menyentuhnya dengan ujung jari, merasakan sensasi aneh antara bangga karena diinginkan dan takut karena merasa terkekang.
Setelah selesai bersiap, Alya turun ke ruang makan. Rumah itu terlihat sangat sepi meski ukurannya sangat besar. Di meja makan yang panjang, sudah tersaji berbagai menu sarapan mewah. Di sana, seorang wanita paruh baya sedang menata piring.
"Selamat pagi, Non Alya. Kenalkan, saya Minah," ujar wanita itu dengan senyum tulus.
"Pagi, Bi. Panggil Alya saja, jangan pakai Non," jawab Alya berusaha ramah.
Namun, di belakang Bi Minah, muncul seorang gadis muda yang tampak seusia dengan Alya. Gadis itu membawa nampan berisi jus jeruk. Rambutnya diikat kuda, dan ia mengenakan seragam asisten rumah tangga yang terlihat sangat pas di tubuhnya yang ramping. Wajahnya cantik, namun matanya menatap Alya dengan pandangan yang tidak bersahabat.
"Ini Sari, anak saya, Non. Dia yang bantu-bantu bersih-bersih di sini," Bi Minah memperkenalkan anaknya.
Sari meletakkan jus itu di depan Alya dengan gerakan yang sedikit kasar, membuat sedikit cairan memercik ke meja. "Silakan, Nyonya Baru," ucap Sari dengan nada yang terdengar seperti sindiran bagi telinga Alya.
Alya mengernyitkan dahi. "Terima kasih, Sari."
Sari tidak menjawab dan langsung berlalu menuju dapur. Alya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis itu. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Rayhan datang dan duduk di kursi utama.
"Makanlah yang banyak, Alya. Kau butuh tenaga," ujar Rayhan sambil mengambilkan nasi goreng ke piring istrinya.
Sepanjang sarapan, Rayhan terus memperhatikan Alya. Namun, perhatiannya terasa berlebihan. Setiap kali Alya mengambil sesuatu, mata Rayhan mengikuti. Bahkan saat Alya tanpa sengaja menatap ke arah jendela luar, Rayhan bertanya, "Apa yang kau lihat di luar? Ada yang menarik?"
"Tidak, Mas. Hanya melihat burung-burung di pohon," jawab Alya cepat.
"Bagus. Karena mulai sekarang, dunia luar tidak lagi penting bagimu. Hanya apa yang ada di dalam rumah ini yang harus kau perhatikan," kata Rayhan sambil menyeka sudut bibir Alya dengan tisu.
Setelah sarapan, Rayhan bersiap berangkat ke kantor. "Aku akan pulang terlambat malam ini karena ada meeting dengan investor. Jangan keluar kamar setelah jam sembilan malam. Jika kau butuh sesuatu, panggil Sari atau Bi Minah."
"Iya, Mas."
Rayhan mencium bibir Alya cukup lama sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil mewahnya. Alya berdiri di teras, melambaikan tangan sampai mobil itu hilang dari pandangan. Saat ia hendak masuk kembali ke dalam rumah, ia berpapasan dengan Sari di ruang tengah.
Sari sedang menyeka guci besar di sana. Saat Alya lewat, Sari tiba-tiba berujar tanpa menoleh, "Jangan senang dulu, Nyonya. Tuan Rayhan itu orangnya cepat bosan. Dulu juga banyak wanita cantik yang datang ke sini, tapi akhirnya mereka semua diusir karena tidak bisa memenuhi standar Tuan."
Alya berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Sari. "Apa maksudmu?"
Sari berbalik, menatap Alya dengan senyum meremehkan. "Maksudku? Aku hanya ingin mengingatkan. Kamu mungkin merasa menang karena sudah dinikahi. Tapi di mata Tuan, kamu mungkin hanya mainan baru. Apalagi dengan masa lalumu yang... yah, semua orang tahu seperti apa gadis yang suka nongkrong malam-malam."
Alya merasa darahnya mendidih. "Jaga bicaramu, Sari. Aku istrimu sekarang, dan aku berhak atas rumah ini."
"Istri?" Sari tertawa hambar. "Kita lihat saja berapa lama status itu bertahan. Oh ya, hati-hati di rumah ini. Tuan Rayhan memasang mata di mana-mana. Jika kamu berani macam-macam sedikit saja... habis kamu."
Sari melenggang pergi meninggalkan Alya yang berdiri terpaku. Ancaman Sari terdengar nyata. Namun, yang lebih membuat Alya merinding adalah perkataan Sari soal "mata di mana-mana".
Alya mulai berkeliling rumah. Ia memperhatikan sudut-sudut plafon. Benar saja, di setiap sudut ruangan strategis, ada kamera CCTV kecil yang lensanya seolah mengikuti gerakannya. Di ruang tamu, di dapur, di lorong menuju kamar, bahkan di taman belakang. Rayhan benar-benar memantaunya.
Alya masuk ke kamar dan duduk di sofa. Ia merasa diawasi, bahkan saat dia sendirian. Ia teringat Rayhan semalam, pria itu begitu mencintainya, tapi apakah cinta harus dibarengi dengan rasa tidak percaya seperti ini?
Tiba-tiba, ponsel barunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Rayhan.
“Kenapa duduk melamun di sofa? Apa kau tidak suka dengan makanannya? Makanlah buah yang ada di meja kamar, aku melihatmu hanya makan sedikit tadi pagi.”
Alya tersentak. Ia menatap ke arah kamera CCTV di pojok kamarnya. Rayhan sedang menontonnya dari kantor!
Jantung Alya berdegup kencang. Ia merasa privasinya benar-benar hilang. Namun di sisi lain, ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Rayhan begitu terobsesi padanya. Pria mapan itu menghabiskan waktu kerjanya yang berharga hanya untuk memperhatikannya duduk di sofa.
Alya membalas pesan itu dengan tangan gemetar. “Aku suka makanannya, Mas. Hanya sedikit lelah. Aku akan makan buahnya sekarang.”
Alya mengambil apel di meja dan menggigitnya, sambil matanya tetap tertuju pada kamera kecil itu. Ia merasa seperti sedang melakukan pertunjukan untuk satu-satunya penonton setianya. Tanpa ia sadari, tantangan untuk menjadi "benteng" bagi suaminya telah dimulai—bukan hanya dari gangguan orang luar, tapi juga dari sisi gelap posesif suaminya sendiri yang begitu menyesakkan namun candu.
Sementara itu, di sebuah ruangan kantor yang mewah, Rayhan tersenyum tipis menatap layar monitor di depannya. Ia melihat Alya yang patuh memakan buahnya. "Kau adalah milikku, Alya. Seluruhnya. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan sehelai rambutmu pun, disentuh oleh orang lain."
Rayhan menutup laptopnya saat manajernya, seorang pria bernama Doni, masuk ke ruangan. Doni adalah sahabat lama Rayhan, namun ia memiliki tatapan mata yang licik setiap kali nama Alya disebutkan.
"Gimana malam pertamanya, Ray? Lancar?" tanya Doni dengan nada menggoda yang tidak sopan.
Rayhan menatap Doni dengan dingin. "Jangan bahas istriku di kantor, Don."
Doni terkekeh. "Santai saja. Aku hanya penasaran, secantik apa sih gadis yang bikin kamu sampai mau dijodohkan begitu cepat? Kapan-kapan ajaklah dia makan malam bersama kami."
Rayhan tidak menjawab. Dalam hatinya, ia sudah menandai Doni. Ia tahu sahabatnya itu punya tabiat buruk terhadap wanita, dan ia tidak akan pernah membiarkan Doni berada dalam jarak satu kilometer dari Alya. Baginya, setiap laki-laki di dunia ini adalah ancaman bagi hartanya yang paling berharga.