Sudah lebih dari 30 menit lamanya, Arfan dan Rifa duduk bersama putra semata wayang mereka. Keduanya masih terdiam pasca sang putra mengutarakan isi hatinya. Mungkin karena belum bisa percaya, atau mereka tidak tahu harus berkata apa.
Sementara Rifan, dia terus menunduk meski sekali-sekali mendongak—sekadar melihat reaksi wajar dari kedua orang yang selalu dihormatinya.
Dalam heningnya ruangan itu, Rifan terus menghirup dan mengembuskan napasnya sepelan mungkin. Dia sadar, beberapa menit yang lalu bibirnya telah mengutarakan sesuatu yang tentu membuat ayah ibunya terkejut.
“Gus!”
“Iya, Bah.”
“Apakah kamu sudah matang dengan keputusanmu? Pernikahan bukanlah hal yang main-main.”
Rifan menatap ayahnya beberapa detik sebelum kembali menurunkan tatapannya. “Insyaallah, Bah. Sebenarnya, sudah hampir 3 minggu ini, aku melakukan salat istikharah setiap malamnya untuk meminta petunjuk dari Allah Subhanahu Wata’ala, dan jawabannya adalah semakin meyakini hatiku untuk terus melangkah maju.”
“Namun, Gus, Ummah takut, niatmu ini hanya sebatas rasa kasihan saja pada ning Una. Ummah tidak mau, kalian tersakiti satu sama lain.”
Kini, Rifan menatap ibunya dengan senyuman yang lebih lebar. “Insyaallah, Ummah. Aku sudah sangat yakin, karena ....”
“Karena apa, Gus?”
Rifan mengusap tengkuknya yang terasa dingin, jantungnya berdegup kencang, apalagi saat kedua pasang retina milik ayah ibunya menatapnya dengan lekat.
“Emh ....” Pipi Rifan sudah memerah, bahkan tubuhnya sudah sedikit bergetar—gugup.
“Ada apa to, Gus? Ayo cerita sama Umah!” Rifa baru saja akan beranjak dan berpindah duduk ke samping putranya, sebelum satu tangan yang sedari tadi dia genggam kembali menariknya. Kepalanya menoleh pada sang suami yang tengah menatapnya dengan bibir yang tersenyum manis.
“Tetap duduk di samping Babah, ya, Um!” pinta Arfan begitu lembut.
Rifa mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk. Kembali duduk dan lebih merapatkan duduknya pada sang suami, seolah memang dia tengah mencari ketenangan dari perasaan was-wasnya karena sang putra tak kunjung melanjutkan perkataannya.
Sedangkan Arfan, hanya tersenyum maklum, bahkan merasa gemas dengan kelembutan hati sang istri. Wanita yang sudah dia nikahi lebih dari 28 tahun ini memang mempunyai hati yang begitu lembut bahkan rentan, tidak tahan melihat kesedihan atau kesusahan orang lain, apalagi masih bersangkutan dengan orang-orang tersayangnya.
Padahal, hanya dilihat sekali juga, orang pasti tahu, jika gelagat yang ditimbulkan sang putra adalah sebuah kegugupan karena sedang menyukai seseorang—atau kalau secara ringkasnya adalah kasmaran.
“Gus! Kenapa malah diam? Apa yang sebenarnya kamu rasakan sekarang ini?” Rifa kembali bertanya bahkan semakin terasa nada kekhawatirannya.
Arfan menepuk-nepuk tangan sang istri dengan pelan dan lembut. “Mungkin, putra kita sedang merasakan gugup, Umah.”
“Kenapa harus gugup, to, Gus? Masa sama Umah sendiri gugup?” Bukannya tenang, Rifan malah semakin salah tingkah, dan oleh sebab itu, Arfan tertawa kelepasan.
“Babah, kok malah tertawa? Apa itu lucu?”
“Umah ..., Umah!” Sebelah tangan Arfan masih setia memegang tangan sang istri, sedang tangan satunya (kanan) lagi menunjuk Rifan memakai ibu jarinya. “Putra kita ini, sedang gugup karena dia tidak berani mengungkapkan isi hatinya.” Arfan menatap sang putra dan berkata, “ayo, to, Gus, ungkapkan apa yang sebenarnya kamu rasakan!”
Wajah Rifan semakin merona, kepalanya semakin menunduk. “Emh ..., se—sebenarnya aku suka sama Ning Una, Umah.”
“Subhanallah!” Rifa menutup mulutnya. “Ja—jadi, maksud Babah tadi ...?”
Arfan tertawa sambil mengangguk. “Putra kita ternyata sudah besar, ya, Umah?”
Rifa membalas pertanyaan suaminya dengan senyuman. Kembali menatap sang putra dengan tatapan lekat. “Masyaallah, Gus. Sejak kapan?”
“I—itu, aku pun sebenarnya tidak tahu, sejak kapan, Umah. Namun, sejak tiga minggu, selepas Ning Una menangis di depanku karena keinginannya untuk berkuliah di Paris. Perasaanku menjadi tidak terbaca. A—aku seperti tidak bisa untuk tidak memikirkannya.”
“Subhanallah, B—Bah.” Rifa menatap suaminya. “Se—sepertinya ini ti—tidak boleh dibiarkan.”
“Iya, Umah. Babah tahu apa maksud Umah.” Arfan kembali menatap sang putra. “Jadi, apa rencanamu setelah ini, Gus?”
“I—insyaallah, jika Babah dan Umah merestui, a—aku akan menemui Om Attar dan meminta izinnya.”
“Alhamdulillah, jika kamu memang sudah yakin, dan sudah melakukan salat istikharah, Babah dan Umah pasti akan mendukung apapun yang kamu lakukan. Benar tidak, Um?”
Rifa mengangguk. “Umah akan selalu mendukung semua yang menjadi kebahagiaanmu, selama itu ada dalam ridha Allah Subhanahu Wata'ala (dibenarkan oleh agama).”
“Terima kasih, Umah, Babah.”
“Sama-sama, Gus. Namun, apakah Ning Una tahu dengan perasaanmu?”
Tubuh Rifan mendadak kaku. “Se—sepertinya tidak, Umah.”
“Oalah, terus bagaimana kalau Ning Una menolakmu, Gus?”
“Hahaha.” Arfan benar-benar tidak bisa menahan lagi tawanya, pertanyaan polos sang istri malah semakin membuat putra mereka merasakan kegugupan. Belum juga melangkah, jalannya sudah terlihat licin. “Umah, kita harus percaya sama putra kita! Gus Rifan adalah seorang pria, yang tidak akan menyerah begitu saja, apalagi saat niatnya sudah bulat seperti ini.”
“Babah benar, ‘kan, Gus?”
“Insyaallah, aku akan mencoba untuk mengungkapkannya pada Ning Una. A—Aku, mohon do’anya dari kalian.”
Rifa menatap putranya dengan binar mata bahagia. “Tanpa kamu pinta pun, Umah akan terus mendo’akan kebaikan kamu.”
“Terima kasih, Umah, Babah.”
Arfan dan Rifa mengangguk hampir bersamaan. “Sama-sama.”
.......
Di sinilah Rifan sekarang. Setelah menyiapkan hatinya selama dua hari di mana dia meminta izin pada kedua orang tuanya, akhirnya dia memberanikan diri untuk menemui Husna terlebih dahulu—sebelum benar-benar meminta pada ayah gadis itu yang tak lain adalah omnya sendiri.
Ya Kariim, belum juga dia bertemu dengan gadis itu, tubuhnya sudah basah oleh keringat saking gugupnya, apalagi orang yang tengah berhadapan dengan dia terus saja menatapnya dengan tatapan kepo—seperti biasanya.
Kebetulan, saat Rifan akan ke rumah Husna, dia malah berpapasan dengan Fahmi. Hubungannya dengan Fahmi memang lebih dekat daripada dengan sepupu lainnya, selain usia mereka hampir sama(hanya selisih bulan saja), mereka juga adalah teman bermain sejak kecil. Maka dari itu, tanpa pikir panjang, Rifan meminta bantuan Fahmi untuk bisa menemui Husna.
Akan tetapi, sepertinya dia salah melangkah, saat pria itu malah terus bertanya tanpa berhenti.
“Ada keperluan apa, sama adikku?” tanya Fahmi untuk ke sekian kalinya.
Rifan menghela napas panjang. “Ayolah, Gus ...! ‘Kan sudah aku jawab dari tadi. Aku hanya ada perlu sedikit padanya.”
“Naaah, itu, kamu belum jawab apa perlunya.”
“Aku perlu sama Ning Una, bukan sama kamu. Kalau perlunya sama kamu, untuk apa aku meminta untuk bertemu dengan Ning Una?”
Fahmi semakin menatap sepupunya dalam dan sok mengintimidasi. Tangannya sedari tadi terus mengelus jambang tipisnya laksana Juragan Jengkol yang tengah mengawasi kiloan jengkolnya. “Hmmm, bahkan kamu semakin mencurigakan.”
“Subhanallah ...! Ya sudah kalau tidak mau membantu.” Rifan segera bangkit dan bersiap melangkah.
“Ck, digituin segitu saja, sudah ambekan. Mau tunggu di mana? Biar aku sampaikan sama dia.”
Seketika senyuman Rifan terbit. “Makasih, Gus. Aku ..., bolehkah jika aku menunggu di gazebo sana?” tunjuknya ke arah kebun di depan rumah itu.
“Ck—ck—ck! Makin mencurigakan saja. Baiklah, tunggu di sana!”
Fiuuuh!
Rifan berjalan ke arah kebun di depan rumah omnya itu. Sebenarnya, daripada disebut kebun, ini lebih pantas disebut taman. Karena lebih banyak ditumbuhi bunga-bunga—kesayangan om dan tantenya. Malah Fahmi, sepupunya yang terlihat seperti anak begajulan itu, sangat suka dan pandai mengurus taman harum itu.
Rifan duduk di salah satu kursi di gazebo itu, hati yang sempat lega, mendadak kembali tegang saat mengingat tujuannya. Kakinya tidak bisa diam, bahkan lututnya terus bergetar. Sekali-sekali dia menggigit jari—saking gugupnya.
“Ekhem! Dek, sebenarnya ... sudah lama Mas menyukai ka ..., ah! Apa tidak terlalu lancang, langsung berbicara seperti itu?”
Rifan kembali berdeham mencoba untuk berlatih kembali. “Dek, sebenarnya ... selama ini, Mas ...”
“Mas!”
“Astaghfirullah!” Tubuh Rifan seketika berdiri dan berbalik. Kekagetannya, ternyata mengejutkan Husna. “Dek!”
“Ma—maaf, Mas! Sudah mengagetkan Mas.”
“Ti—tidak apa-apa!”
Tubuh Rifan semakin gemetaran, jangan tanyakan kondisi jantungnya saat ini! Bahkan dia sangat kesusahan menelan ludahnya sendiri.
Bagaimana jika sudah begini?
“A—ah, iya! Kenapa Mas cari Una?”
Deg—deg—deg!
“Ekhem! Dek!”
“Iya?”
“Maukah kamu menikah denganku?”
“Menikahlah denganku!”
“APA?”
Rifan dan Husna hampir terjengkang saat tiba-tiba suara seseorang melengking nyaring dari arah belakang mereka. Keduanya sontak berbalik dan mendapati Fahmi yang sudah berdiri tak jauh dari sana. Matanya masih melotot syok—terlebih ke arah Rifan.
“Ada apa ini? Gus, kenapa kamu berteriak?”
Tubuh Rifan semakin panas dingin saat sosok yang sangat dia hormati datang menghampiri mereka. Bahkan seolah tengah mengutuknya, beberapa orang ikut mendekati mengikuti langkah ayah dari gadis yang baru saja dia lamar.
Ya Ghaffar! Beginikah rasanya saat akan dikerumuni warga ketika kamu terciduk melakukan kesalahan?