Chapter 6

1466 Kata
“Ada apa ini?” Fakhri menatap ke tiganya. Mulai dari Rifan yang terus menunduk dengan tubuh yang terlihat tegang dan sedikit bergetar, Husna yang malah seperti tersambar helang (kaku karena syok), dan terakhir pada Fahmi, pria yang menyebabkan dirinya lari keluar karena suara Tarzannya. “Gus!” Fakhri menepuk pundak Fahmi, karena belum juga ada yang menjelaskan padanya. “Rifan mau nikah, Bi,” jawab Fahmi spontan, bahkan dia masih merasa linglung dengan tingkahnya sendiri. Tadi, setelah menyampaikan pesan Rifan pada adiknya, sebenarnya Fahmi akan langsung bergegas melihat kebun buah naga miliknya di kampung dekat kompleks pesantren. Namun, saat dia berjalan, tak sengaja matanya menangkap gelagat Rifan yang mencurigakan. Pasalnya, dari sekian mereka bersama sedari orok, pria yang menjadi sepupunya itu baru pertama kali terlihat gelisah (dalam arti yang sebenarnya). Pria itu terlihat gugup, bahkan terus menggigit jarinya. Ke-kepo-an Fahmi semakin meningkat saat melihat bibir Rifan yang terus bergerak seperti tengah menggumamkan sesuatu. Tak lama, Fahmi melihat adik bungsunya keluar dari rumah dan hendak menghampiri Rifan. Karena rasa penasaran yang tinggi, dia mengikuti Husna tanpa disadari oleh gadis itu. Dia langsung berjongkok, mengumpat di salah satu tanaman pagar yang tak jauh dari sana. Memasang telinga selebar mungkin, guna mencari tahu apa yang akan mereka bicarakan—tepatnya, perkara apa yang akan diutarakan saudara sepupunya itu. Namun, .... Alangkah terkejutnya dia saat satu kalimat ajakan menikah meluncur begitu saja dari mulut Rifan, membuatnya tidak bisa mengontrol diri saking kagetnya. Sementara Rifan terus menunduk dengan sesekali mengusap wajahnya. Hatinya tak berhenti membaca istighfar, menyesali perbuatannya yang sudah melamar Husna sebelum meminta izin pada orang tuanya. Di samping itu, dia juga sempat beberapa kali mendumeli kelakuan sepupunya yang sudah dengan borokokok-nya merusak suasananya dan menimbulkan kehebohan seperti ini. “Apa? Gus Rifan mau menikah? Alhamdulillah ....” Mila yang semula berdiri di belakang suaminya berdampingan dengan Ihsan—putra sambungnya, seketika maju ke depan dengan raut penuh ekspresi. Antara terkejut, dan bahagia. Berbeda dengan Mila yang langsung bereaksi senang, Fakhri dan Ihsan sebaliknya. Kedua ayah dan putra itu malah mempunyai pikiran yang sama, terlebih melihat gelagat Rifan dan Husna di sana. “Gus, kalau boleh Bulek tahu, siapa perempuan beruntung itu?” Mila menatap Rifan—masih dengan binar bahagia. “Ekhem, Mate!” Fakhri merangkul lengan istrinya. “Sepertinya lebih baik kita bicara di dalam saja.” “A—ah, be—begitu, ya?” Mila menjadi tidak enak apalagi melihat tingkah putra iparnya semakin bertingkah gugup. “Ning! Ayo!” Husna yang sudah kembali sadar beberapa detik yang lalu, langsung mengikuti ibunya tanpa bantahan. Ujung matanya sempat melirik ke arah Rifan yang masih menunduk. Ya Rahim, hampir saja dia jantungan mendengar ucapan kakak sepupunya itu. Sepanjang melangkah ke arah rumah, hati Husna terus bertanya-tanya. Apa maksudnya? Kenapa Rifan tiba-tiba berkata hal yang membuatnya merinding takut? Apakah pria itu mencoba untuk menghiburnya dengan berbuat lelucon seperti tadi? Tapi kenapa harus ...? Ih, gak lucu banget! Sementara di kebun itu, Fakhri, Ihsan, Fahmi dan Rifan masih di sana. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara di antara mereka, sampai akhirnya .... “Subhanallah! Masyaallah tabarakallah.” Tiba-tiba Fahmi berseru membuat semua yang ada di sana sedikit terperanjat. “Abi, tahu, baru saja ....” “Uhuk—uhuk!” “Abi tahu?” Fahmi kembali mengulang perkataannya yang tadi sempat terjeda oleh batuk hebatnya Rifan. “Baru saja ....” “Sudah, sudah!” Fahmi segera memotong ucapan putranya yang sudah pasti ingin membuat ponakannya ini terpojok. Putranya yang satu ini, benar-benar .... Tidak lagi mempedulikan putra keduanya, Fakhri melangkah mendekati Rifan, dan menepuk pundak pria itu pelan. “Gus, bisa ikut Pakle ke rumah? Pakle ada sedikit yang perlu dibicarakan denganmu.” Rifan langsung mengangguk, dan mengikuti langkah omnya. Sedang di belakang, Fahmi masih akan kembali berbicara dan mencoba mengatakannya pada kakak sulungnya. “Mas tahu?” “Iya, tahu,” jawab Ihsan seraya ikut pergi dari sana, meninggalkan Fahmi yang sudah membuka mulutnya. “Eh, Mas, kok semuanya malah pergi meninggalkanku?” Fahmi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Tunggu! Apa tadi kata Mas Fatah? Dia sudah tahu? Jadi ... aku repot-repot menjerit, ternyata mereka sudah tahu?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Subhanallah, tega bener mereka membiarkan aku menjerit kaget sendirian.” Setelah puas bergumam, Fahmi akhirnya benar-benar pergi untuk memantau ladangnya. Sementara di ruang perpustakaan yang selalu dipakai keluarganya menjadi multi fungsi—untuk belajar, dan tempat ketika anak-anaknya menyetor hafalan, atau menjadi ruang santai jika seluruh keluarganya berkumpul-, Fakhri tengah duduk berhadapan dengan putra dari adiknya yang sekarang terlihat sudah sedikit tenang dan nyaman. Setelah melewati pintu masuk rumah itu, beruntung sekali, Rifan sudah tidak setegang sebelumnya. Entah kekuatan dari mana, hatinya tiba-tiba tenang, bahkan jantungnya sudah berdetak lebih normal daripada tadi. Dia juga sudah tidak lagi merasakan gugup, padahal saat ini dia tengah berhadapan dengan ayah dari perempuan yang disukai sekaligus orang yang selalu dia segani. “Gus!” “Iya, Pakle.” “Kemarin, babahmu menemui Pakle, dan menceritakan tentang niat baikmu.” Fakhri menjeda ucapannya untuk menghirup udara. “Gus, apakah yang dikatakan oleh babahmu itu benar, bahwa kamu sudah berniat bulat untuk meminang Husna?” Rifan yang sedari tadi menunduk, seketika mendongak menatap manik hitam milik omnya, sementara Fakhri mengangguk seraya membalas tatapan Rifan, seakan memberi tahu jika pria paruh baya itu sudah tahu dengan niatnya. Tak lama, Rifan mengangguk. “Insyaallah, Pakle.” “Apa kamu yakin? Mungkin saja, itu karena rasa kasihan kamu sama Husna karena selama ini dia bersikap manja kepadamu.” “Mohon ampun, Pakle, aku juga kurang paham. Namun, tentang niatku pada Ning Una, insyaallah, aku sungguh sadar sepenuhnya.” Fakhri tersenyum. “Pakle senang atas kejujuran dan niat baikmu, Gus. Pakle juga akan tenang, jika kamu yang menjadi sosok pengganti Pakle dalam menjaga Husna. Tetapi, Pakle tidak bisa menerima niat baikmu, sebelum putri Pakle sendiri yang menerimanya.” Rifan menundukkan kepalanya, dan mengangguk pelan. “Aku paham, Pakle. Te—terima kasih sudah merestui niat aku, Pakle. D—dan soal Ning Una, bo—bolehkah, bi—bila aku sendiri yang mengatakannya?” Untuk beberapa detik Fakhri terdiam, tetapi akhirnya dia menjawab, “Silakan. Pakle mengizinkan, tetapi, usahakan agar di tempat terbuka, jangan di dalam ruangan yang tertutup.” Rifan mengangguk. “Terima kasih, Pakle. Insyaallah, akan aku ingat pesan Pakle.” “Satu lagi, jangan memaksa dia, ya, Gus! Gunakan cara sehalus mungkin untuk mengambil hatinya.” Kembali, Rifan mengangguk, dan kali ini dia menatap kakak dari ibunya ini dengan senyuman dan binar mata yang cerah. Ya Rahman, ternyata tidak semenakutkan bayangannya. Justru, sekarang lah yang lebih menggelisahkan .... Rifan terus meremas kain sarungnya tepat di bagian lututnya. Sudah lima belas menit dia kembali duduk bersama Husna di kursi teras rumah gadis itu. Setelah pertemuannya dengan ... calon ayah mertua—aamiin- di ruang perpustakaan, omnya mengizinkan dia untuk kembali berbicara dengan Husna. Bukan hanya Rifan, Husna pun bertingkah demikian. Gadis itu terlihat canggung dan tidak berani menatap ke arah pria itu. Ya ampun ... padahal sebelum kejadian tadi, mereka sangat akrab. “D—Dek!” “Hmmm,” jawab Husna sa—ngat pelan sekali. “Ta—tadi, M—Mas mengatakan ba—bahwa ....” “Aduh ...!” Rifan sedikit terperanjat karena Husna tiba-tiba berdiri. “A—Ada apa, Dek?” “Mas Rifan ini kesurupan apa, sih? Tiba-tiba ngagetin Una dengan ucapan seperti tadi? Becandanya gak lucu, tahu!” Mata Rifan seketika mengerjap bingung. Siapa yang becanda? Dia jelas-jelas serius. “Dek, ma—maksud Mas, ....” “Una tahu, Mas mau ngeprank Una agar Una tidak kepikiran kuliah di kota Paris itu, ‘kan? Iii, Mas kenapa lama-lama seperti Mas Syafiq sih, senang banget ngerjain Una.” Mata Husna mendelik, bahkan jika cadarnya tidak ada, Rifan bisa melihat bibirnya yang sudah mempout. “Dek! Bukan gitu, maksud Mas ....” “Tahu, ah! Pokoknya Una ngambek sama Mas Rifan.” Setelah mengatakan itu, Husna langsung beranjak dan berlalu ke dalam rumah. “Dek! Kok ditinggal?” ucap Rifan lebih kepada dirinya sendiri. Dia mematung untuk beberapa detik, dan kemudian mengembuskan napas panjang—sangat terlihat akan dirinya yang begitu pasrah. “Sudah menyerah?” “Astaghfirullaahal’adzim!” Rifan langsung berdiri saat satu pertanyaan tiba-tiba terdengar dari belakang tubuhnya. “M—Mas Fatah?!” ucap Rifan seraya memegang dadanya. Ya Jabbar, sejak kapan pria itu ada di dekatnya. Ihsan hanya merespons Rifan dengan pandangan tenangnya. “Dibanding Hilya, Husna lebih manja dan jutek. Kamu harus bertahan menghadapinya!” Setelah itu, dia beranjak dan menepuk pundak Rifan sebelumnya. Fiuuuh! Apa artinya itu? Apa Ihsan juga mendukungnya? Allahu Kariim, ternyata untuk sebuah niat yang baik, tidak semulus yang sudah direncanakan. Husna dan sikap juteknya, sementara dia dan sikap pemalunya. Apa dia harus berguru pada Fahmi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN