“Duduk, Fan!”
Rifan yang sedari tadi berdiri sambil melihat taman belakang rumah Fahmi yang banyak ditumbuhi bunga dan tanaman obat tradisional, langsung berbalik. Mendapati pemilik rumahnya sudah berada di dekatnya sambil menyimpan nampan berisi dua cangkir teh hangat beserta satu piring pisang rebus.
Rifan duduk di kursi santai bersampingan dengan Fahmi. Dia mengambil cangkir tehnya setelah si tuan rumah menawarkannya. Satu tegukan air beraroma daun teh hijau yang dipadukan dengan aroma bunga melati dan jeruk nipis sangat terasa menyegarkan tenggorokan dan napasnya.
“Bagaimana? Adikku sudah berhasil kamu taklukkan?”
Rifan mengembuskan napas panjang. “Dia benar-benar menghindariku. Jangankan mau bicara, aku tak sengaja menatapnya saja, dia udah buru-buru menghindar. Fiq, apa menurutmu, Ning Una benar-benar membenciku?”
Fahmi tertawa. Lelaki di depannya ini, memang paling awam dalam urusan wanita. Ya, meski dirinya juga tidak pandai dan tidak berpengalaman, setidaknya dia bisa menaklukkan Zia yang terkenal galak dan tak kalah jutek dari adiknya, bahkan dia berani memepetnya sampai halal. Selain itu, meski Rifan seorang laki-laki, sayangnya, hati pria ini sangat lembut dan terlalu baperan. Lihat saja! Baru juga dijutekin Husna beberapa hari, dia sudah berpikir jika adiknya itu membencinya.
“Ayolah, dia hanya merasa kesal saja. Kamu seharusnya lebih berani lagi, jangan kalah begitu! Masa, baru dicemberutin begitu langsung KO. Pepet aja sampai dia tidak bisa bergerak, selain mengatakan iya dan menyetujui lamaran kamu.”
Rifan berdecak. “Aku bukan kamu yang kulit wajahnya seperti badak. Malulah, apalagi pakle sudah berpesan padaku untuk tidak memaksanya.”
“Selama itu bisa membuat kita berhasil mendapatkannya, kenapa tidak?” ucap Fahmi sambil menyeringai.
“Tetap saja, aku tidak berani membuat dia merasa terganggu oleh kehadiranku. Apalagi merasa tertekan jika aku memaksanya.”
“Jika begitu, mundurlah! Kamu tidak cocok jadi adik iparku.”
Rifan menatap Fahmi dengan pandangan tak senang, yang dibalas oleh pria itu tak kalah menantang. Dan pada akhirnya Rifanlah yang memilih memalingkan wajahnya, lebih dulu.
“Aku tidak seberani kamu, Gus,” lirih Rifan bahkan hampir tidak terdengar oleh Fahmi.
Fahmi menghela napas. “Sesekali bersikap egois dengan rasa rendah hatimu, tidak akan membuat kamu menjadi manusia jahat, Fan. Justru, rasa tawadhu' kamu itu terlalu berlebihan dan mengakibatkan kamu merendahkan dirimu sendiri. Ingat, Fan, Allah hanya menyukai hamba yang merendahkan hati, bukan dirinya!”
Rifan menundukkan kepalanya, hal yang sebenarnya sangat tidak disukai oleh Fahmi. Biasanya, Fahmi akan menendang kaki sepupunya ini jika wataknya sudah kumat(merendah), tapi untuk kali ini, dia membiarkannya. Mungkin saja, pria yang mengaku ingin menjadi suami dari adik bungsunya ini tengah memikirkan ucapannya.
“Hari kemarin, adalah hari yang paling menakjubkan untukku. Di mana suatu kejadian yang benar-benar menurutku—sebelumnya- hanya ada di dalam sinetron, ternyata aku menyaksikannya dengan mataku sendiri. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk Mas Fatah, ternyata Allah masih ingin menguji keimanan juga kesabarannya.” Fahmi membuang napasnya pelan-pelan. Rasanya masih saja ada yang mengganjal di sudut hatinya saat mengingat kejadian kemarin. Di mana hampir saja Ihsan sah menjadi suami dari Hilya, tetapi tidak jadi, karena Abi (suami Hilya) yang setelah hampir dua tahun menghilang dan dinyatakan meninggal tiba-tiba datang.
Rifan semakin tertegun mendengar ucapan Fahmi. Tentu saja, dia juga saksi mata atas kejadian itu. “Kamu benar sekali. Baru kali ini, aku menyaksikan sebuah keikhlasan yang begitu besar dari diri seseorang. Mas Fatah benar-benar ikhlas dan menerima setiap apa yang digariskan Allah Subhanahu Wata'ala untuknya.”
Fahmi mengangguk. “Aku bahkan tidak akan sanggup jika diriku yang ada di posisinya.”
“Maha bijaksana Allah yang menempatkan suatu ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Namun, aku sangat bersyukur dan bahagia, dengan maha adil-Nya, Allah menggantikan rasa ikhlas Mas Fatah dengan sesuatu yang selama ini dia harapkan.”
“Hmmm, pada intinya, setiap manusia punya cinta dan cara masing-masing untuk menghadapinya, Fan. Jika aku dengan berbuat tidak tahu malu—seperti katamu, tadi-, Mas Fatah dengan pengorbanan juga keikhlasannya, begitu pun kamu. Aku yakin, aku sangat percaya, jika kamu benar-benar mencintai adikku, kamu pasti punya jalan dan cara sendiri versi kamu.” Fahmi menatap lekat sepupunya.
“Jadi, hilangkan rasa minder kamu dan buktikan jika kamu benar-benar mencintainya, padanya. Buat dia percaya jika kamu juga pantas dia cintai. Karena cinta yang sempurna hadir dari perasaan di kedua sisi. Seperti halnya MUBTADA, selamanya tidak akan bisa disebut KALAM kalau tidak punya KHOBAR.”
Rifan sontak tertawa kecil mendengar kata-kata bijak yang Fahmi tuturkan. Pantas saja pria itu sering disebut Satria Baja Hitam. Sikapnya bisa berubah-ubah dalam sekejap. Tadi saja masih bersikap tengil, sedang barusan dia berkata dengan tenang dan pemilihan kata yang manis. “Tak sia-sia kamu menghapal seribu bait ta’lifan Syaikh Ibnu Malik. Kata-katanya sangat manis dan bijaksana.”
Fahmi sontak tertawa keras mendengar candaan Rifan. “Sore ini si Adek mau main ke sini. Kamu masih ada waktu tiga jam untuk berpikir. Aku bisa membantumu mencari waktu untuk kamu mengajak berbicara dengannya. Itu pun jika kamu masih ingin melangkah maju.”
Rifan tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Gus. Aku akan memanfaatkan bantuanmu itu.”
Fahmi mengacungkan jempolnya. “Nah, gitu dong! Mau pinjem muka badakku, tidak, agar mindernya minggat?”
Rifan hanya tertawa tidak lagi membalas ucapan Fahmi, karena tahu betul jika pria itu tengah balik mengoloknya.
......
“Ning, sebenarnya kamu kenapa?” Zia yang tengah menemani Tsabit bermain, tak tahan untuk tidak bertanya pada adik iparnya yang bersikap aneh akhir-akhir ini.
Husna menatap Zia sebentar, lalu mengembuskan napasnya. “Una lagi kesel sama Mas Rifan.”
Zia langsung tersenyum mendengar jawaban Husna. “Mungkin saja, gus Rifan memang serius, Ning.”
“Ih, Mbak Zi kenapa malah ikutan ledekin Una, sih? Ini pasti ketularan virus buruk dari Mas Syafiq nih.”
“Tangan malah-malah, enti tepat tua!”
Husna sontak melotot ke arah ponakannya, tetapi bukannya takut, Tsabit malah tertawa seolah tingkah laku tantenya itu sedang mengajaknya bermain.
“Ck, kenapa sifat putra Mbak Zi malah ngikutin ayahnya. Ngeselin banget.”
“Tapi tetap ditanyakan jika sehari tidak melihatnya, bukan?”
Husna segera berbalik dan menatap kakaknya sengit. “Mas, ngapain ke sini?”
“Lah, ngapain lagi? Menemui kesayangan-kesayangan akoh lah,” jawab Fahmi enteng, lalu mencium kepala Tsabit dan terakhir mencuri kecupan dari sudut bibir istrinya, membuat kedua perempuan yang ada di sana memekik hampir bersamaan. Wajah Zia seketika memerah sambil mencubit perut suaminya, sementara Husna, wajahnya lebih merah dari Zia. Dia merasa malu sendiri dengan kelakuan kakaknya.
Husna, bukannya tidak pernah melihat pasangan bersikap romantis seperti itu, bahkan kelakuan ayahnya pada sang ibu menjadi makanan setiap bagi matanya. Namun, kelakuan kakaknya barusan, membuat dia mati kutu.
“Mas Syafiq, ih! Tak tahu malu!” protes Husna sedikit memekik.
Bibir Fahmi tersenyum sebelah. “Muka kamu kenapa, Dek? Mupeng, ya, lihat kita berdua?”
“Mas!” tegur Zia.
“Ih, amit-amit!”
“Ih, amit-amit!”
Fahmi langsung menatap putranya yang baru saja menuruti ucapan Husna. “Bang! Gak boleh bilang gitu! Gak baik!”
“Ih, amit-amit!”
“Abang!”
“Ih, amit-amit!” Tsabit semakin gencar mengucapkan kalimat yang baru didengarnya, apalagi setelah ibunya melotot dan berniat menangkapnya. Tubuh kecil itu langsung berlari sambil terus meneriaki ucapan yang baru saja Husna ucapkan.
“Adek!” protes Fahmi menatap Husna kesal.
Tidak ingin disalahkan, meski dalam hati dia mengakui dan merasa menyesal, Husna memalingkan wajahnya seraya bersedekap d**a. “Siapa suruh ngajak gelut sama Una. Tetap aja salah Mas Syafiq.”
Fahmi mengembuskan napasnya. Merasa heran dengan kelakuan sang adik yang semakin barbar dan kekanakkan. Apa karena dia anak bungsu dan menjadi putri satu-satunya? “Dek!”
“Hmmm.”
“Kok, hmmm? Mau Mas bilangin sama umi?”
Husna langsung menoleh, matanya mendelik. “Iya, Maaas!”
“Nah, gitu, dong. Mas mau minta tolong, boleh?”
“Apa?”
“Bisa tolong siami tanaman stroberi Mas yang ada di halaman dekat dapur, gak? Mas belum sempat nyabutin rumputnya.”
Mendengar kata stroberi, mata Husna langsung berbinar. “Boleh, Mas. Tapi, boleh Una minta buahnya, ya?”
Fahmi menghela napas, lalu mengangguk lesu. Pasalnya gadis itu pasti akan memanennya bahkan ke buah yang masih hijau.
“Baik!” ucap Husna seraya melangkah pergi. Dengan riang, Husna memasuki dapur dan membuka pintu kaca yang terhubung langsung pada halaman yang luasnya sekitar 3 × 5 meter saja. Halaman terbuka yang berada di dalam rumah, yang diisi dengan banyaknya tanaman bumbu masak, seperti; cabai, tomat, bawang daun, seledri, pohon jeruk limau, yang ditanam dalam sebuah pot. Jadi, bila sedang masak dan kehabisan bumbu dapur, bisa petik langsung dari pohonnya.
Senyum Husna langsung merekah lebar saat matanya melihat beberapa buah stoberi yang sudah matang bergelantungan di pinggiran pot. Baru saja dia akan memetik, suara seseorang dari belakang mampu membekukan tubuhnya.
“Dek!”
Husna sontak berbalik, dan betapa terkejutnya dia saat matanya melihat sosok pria yang akhir-akhir ini dia hindari.
Ceklek!
Kepala Husna langsung menoleh ke arah pintu, di sana, kakak keduanya sudah berdiri di depan pintu kaca itu sambil mengangkat kunci. Dengan secepat kilat, Husna berlari dan mencoba membuka pintu itu, tapi, nihil!
“Mas Syafiq! Buka pintunya!” teriak Husna sambil menggedor pintunya terus menerus.
“Selesaikan dulu masalahmu sama Rifan, baru Kakak buka pintunya!” teriak Fahmi sambil duduk di kursi pantry.
“Mas, ini khulwah namanya!”
“Tenang saja, Mas di sini memantau kalian.” Memang, sepanjang halaman itu, semuanya berdinding kaca, sehingga siapa saja yang berada di sana akan terlihat jelas.
“Mas, buka!” Fahmi hanya melambaikan tangannya seraya memakan singkong goreng yang tadi dimasak bibi PRT.
Sementara di belakang Husna, Rifan hanya berdiri dan malah ikut panik melihat gadis itu terus berteriak.
Apakah ini akan berhasil? Husna tidak akan semakin membencinya, bukan?
Rifan menatap Fahmi yang tetap anteng, bahkan seperti tidak akan peduli a jika Husna sampai nekat memecahkan dinding kaca itu. Seketika hatinya kembali bertanya. Apakah dia sudah benar dengan mengikuti rencana gus satu itu?