Rifan terus mengelus kepala istrinya saat wanita itu bergerak dalam tidurnya. Rasa kebas sudah sering muncul dan hilang di tangannya karena terlalu lama menjadi sandaran sang istri. Juga karena terlalu duduk di kursi pesawat yang hampir memakan 17 jam ini. “Apa masih lama ini, Mas?” tanya Husna dengan suara serak khas orang bangun tidur. “Sebentar lagi.” “Aku masih ngantuk, Mas.” Rifan hanya tersenyum lembut meski istrinya tidak melihat lengkungan bibirnya. “Tapi kamu harus bersiap-siap, Dek. Bangun dulu, nanti setelah sampai hotel, kamu bisa meneruskan istirahatnya.” Meski enggan, Husna tetap menurut. Dia menggeliat seraya menguap cukup besar, yang langsung ditutup oleh tangan suaminya. “Kalau menguap, tutup mulutnya,” nasihat Rifan dengan pelan. Husna hanya tersenyum seraya

