“Assalamu’alaikum, Umi.” Husna melambaikan tangannya pada layar yang saat ini sedang menampilkan wajah bercadar sang ibu. “Wa’alaikumussalaam warahmatullah. Ning, kalian sampai jam berapa? Apa kalian baik-baik saja selama perjalanan?" “Alhamdulillah, Umi, kami sampai dengan selamat dan tidak menemukan kendala apapun. Kami tiba pukul tujuh pagi, kemarin.” “Subhanallah, Ning. Kenapa baru nelepon Umi sekarang?” “Hehehe, maaf, Umi. Seharian kemarin, aku sama Mas Rifan langsung istirahat. Bokongku rasanya menghilang karena duduk di pesawat selama hampir 17 jam.” “Iya, Umi maklum kok. Terus kenapa kamu masih di kasur aja? Memang di sana jam berapa, sekarang, Ning?” Husna meringis. “Udah pukul sembilan sih, Umi. Aku masih mager, hehehe.” Terdengar helaan napas sang ibu di benda pipi

