Husna membekoa mulutnya yang terbuka, dan terus menatap sang suami dengan hal di depannya secara bergantian. “Ma—masyaallaah, M—Mas. I—Ini bukan mimpi, ‘kan?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Rifan tersenyum, lalu menggeleng. “Ini nyata, Sayang.” “Masyaallah.” Kaki Husna bergerak mendekat. “U—Umi, A—Abi, U—Umah, B—Babah, K—Kak B—Baby, d—dan kalian semua.” Sementara yang sejak tadi menjadi objek keterkejutan Husna, kini mereka tersenyum semakin merekah. Terlebih itu Hilya yang sejak tadi duduk paling depan. Wanita hamil itu kini merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berseru, “Kejutan!” “Yeeeay! Kejutan untuk Ateu!” seru Tsabit yang sejak tadi sudah ingin berteriak tetapi mulutnya terus dibungkam oleh sang ayah. Husna segera maju dan yang pertama menjadi sasarannya adalah i

