Beruntung saat mereka keluar dari gedung apartemen itu, sebuah taksi tengah berhenti setelah menurunkan penumpang. Jadi mereka langsung masuk dan pergi. “Subhanallah!” Rifan mengembuskan napas panjang dengan jantung yang masih berdegup kencang seakan baru saja selamat dari kejaran para penculik. Lalu menoleh ke samping di mana sang istri duduk sambil termenung. Jelas sekali raut wajahnya begitu terlihat syok. “Dek.” Kepala Husna menoleh, menatap suaminya dengan tatapan kosong. Rifan segera menarik tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan. “Semua baik-baik saja. Jangan khawatir,” bisik Rifan seraya memegang tangan wanitanya. “Mas, apa Mbak Maya tidak akan kenapa-kenapa? Bagaimana ka—kalau dia kesandung, mengingat bagaimana tadi dia berlari saat mengejar pintu lift.” “Ins

