“Masih kangen!” rengek Husna sambil memeluk tubuh sang ibu yang kini dalam perjalanan menuju airport. Mila hanya tersenyum dan tak pernah berhenti mengelus punggung serta kepala putrinya. “Umi juga sama, masih kangen. Namun, tentu kita memiliki kewajiban masing-masing, Sayang. Pondok ditinggalkan terlalu lama dan hanya diurus oleh Om Lukman yang terus hilir mudik antara pesantren dan kantor, apalagi babah dan umah ikut serta ke sini. Juga dengan Bu nyai (nenek Husna) pasti begitu merindukan kami.” Husna mempooutkan bibirnya di balik niqab yang dia kenakan. “Iya, Umi.” “Kamu yang tekun belajarnya, ya. Jangan memikirkan apapun apalagi yang membuat kita menjadi tidak nyaman. Berpikir yang baik-baik dan ingat, tetap berhusnudzon pada Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya Allah bersama p

