“Mas, pelan-pelan! Sakit.” Maya menghempaskan cekalan Rifan saat pria itu terus menyeretnya tanpa perasaan. Yang lebih membuat hatinya dongkol adalah pria itu menyentuh tangannya dengan menggunakan lapisan tisu. Apa segitu kotornya dia sehingga membuat lelaki di depannya itu tidak sudi menyentuh tubuhnya? Rifan menatap Maya dengan pandangan yang sulit diartikan, saking sudah tak tahu lagi dia akan berpikir seperti bagaimana pada perempuan ini. Juga tak percaya, jika di dunia ini ada manusia yang tidak tahu malu sampai tidak tertolong seperti Maya. “Mbak Maya, apa yang anda katakan barusan di kamar istri saya? Apa anda menganggap penyakit istri saya sebagai lelucon?” Maya memutar bola matanya malas. “Mau sampai kapan Mas terus berpikir buruk padaku? Aku datang ke sini dengan niat ya

