“Sayang, Mas izin masuk, ya!” bujuk Tifan seraya mengetuk pintu. Namun, tidak ada sahutan dari sang istri, wanita itu memilih bungkam. Mengembuskan napas berat, Rifan terus mengucapkan istighfar. Ini seperti dejavu, baginya. Suasana ini sama persis ketika dia dan istrinya memiliki kesalahpahaman gara-gara Maya, dulu. Karena hampir tak pernah Husna marah sampai mengabaikan keberadaannya apalagi secara terang-terangan bersikap sarkas padanya. Kamu ini bodoh sekali, Fan! Ya jelaslah dia akan marah jika diledek seperti itu sama suaminya. Apalagi dia sampai berusaha selama itu untuk terlihat lebih cantik di matamu. Hati istri mana yang tidak akan sakit jika dihina seperti itu? Seperti ulat pisang? Berani banget kamu, Fan—Fan. Rifan mulai gelisah karena rasa bersalahnya pada sang istri. Di

