Rifan menatap syok pada Maya yang begitu terlihat sama sekali tidak merasa bersalah. Jantungnya seakan melorot ke bawah, dan rasa mual seketika menerjang perutnya. Dengan sekali sentakan, akhirnya Rifan bisa melepaskan tangan Maya, membuat perempuan itu langsung menoleh dan menatapnya dengan bibir yang sudah terkatup marah. Sementara penjaga itu masih mengernyitkan keningnya kebingungan, menatap Rifan dan Maya secara bergantian. “Mas!” pekik Maya seraya kembali berusaha mendekati Rifan. “Stop di sana, Mbak Maya! Jangan memaksa saya untuk berlaku di luar batas!” desis Rifa syarat akan penuh peringatan. Bahkan tatapan yang biasanya ramah, kini mengeras dan dingin. “Mas—” “Stop, Maya!” Akhirnya kesabaran Rifan sudah habis, dia membentak Maya membuat perempuan itu berjengit karena ka

