Husna menguap beberapa kali, tetapi dirinya tidak ada tanda-tanda untuk berhenti mengerjakan tugas kuliahnya membuat Rifan mengembuskan napasnya berkali-kali. “Tidur dulu, Dek. Istirahat. Nanti disambung lagi.” Dengan mata lelahnya, Husna menatap sang suami. “Tapi, tugasnya masih banyak, Mas. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya biar liburan akhir semester nanti, bisa pulang ke Indonesia. Katanya, Mas Juara akan menikah. Aku ingin hadir di acaranya.” Rifan mengangguk mengerti. “Tapi, kamunya udah lelah begitu. Gimana mau ngerjain tugas, kalau ngetik aja banyak direvisi terus karena typo. Sini, Sayang.” Rifan menepuk pangkuannya agar wanita itu duduk di sana. Namun, Husna menggeleng. “Gak mau ah, Mas. Entar aku tambah ngantuk.” “Nurut, Sayang.” Husna cemberut, tetapi dia menurut j

