“Astaghfirullah! Awww!” Husna hampir saja limbung jika saja tangannya tidak berpegangan pada dinding rumahnya. Satu tangannya yang lain memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kram. Sekuat tenaga dia menghirup udara agar masuk ke parunya. Dihirup dalam-dalam dan dikeluarkan secara perlahan, biasanya sakit di perut dia akan berkurang, tetapi tidak dengan kali ini. “Astaghfirullah! Astaghfirullah! Ada apa dengan perutku? Kenapa sakit banget?” Susah payah Husna berjalan ke arah sofa di ruang tamu dengan tertatih-tatih seraya memegang perutnya yang terasa seperti diperas dan dililit dengan kuat, bahkan tenaganya seketika terkuras membuat kakinya bergetar hebat saat melangkah jalan. Bruk! Tubuh Husna ambruk di sofa itu. Rintihan kecil terus keluar dari mulutnya tiada henti. Air mata di

