Kepala Husna menyembul dari balik pintu kamar mandi, mengintip suaminya yang sedang duduk di sofa sambil ber-muthala’ah kitab. Menggigit bibir karena gugup, perlahan keluar menghampiri sang suami. “M—Mas,” panggilnya sangat pelan. Rifan mendongak, menatap Husna beberapa detik sambil memberikan senyumannya. “Ya?” Namun, setelah itu, dia kembali fokus pada kitabnya. “Mas.” “Iya, Dek?” Bibir merespons, tetapi mata dan pikiran tetap di deretan huruf hijaiyah tanpa harokat itu. “Mas!” “Hmmm?” Bibir Husna akhirnya mempout. Ini bukan kali pertama dia dicuekin gara-gara sang suami terlalu fokus dengan kitabnya. Sebenarnya, terkadang dia ingin marah dan sebal karena tak diacuhkan. Namun, dia malu jika harus merajuk gara-gara suaminya sedang ber-muthala'ah. Mungkin kalau sang suami ter

