Incident!

2116 Kata
“Maaf, Nona Mawar … Anda sudah tidak bisa masuk ke sini lagi kalau tidak ada urusan yang penting.” Mawar mengerenyit heran, baru saja dia dihadang di depan lobi perusahaan Lian secara tiba-tiba dan sejak kapan ada yang melarangnya masuk. “Kenapa tidak bisa masuk? Jelas-jelas urusan saya selalu penting. Bapak ini!? …ah, Pak Alim. Bapak bukan orang baru di sini, kan?” Satpam bertubuh besar dengan kumis tipis itu tersenyum pahit. “Saya udah lama di sini, kok, Non. Makanya sampai hafal sama Non Mawar yang hampir tiga kali dalam seminggu nongkrong di lobi,” jawabnya jujur. “Kalau udah tahu, minggir sana,” ujar Mawar sambil memutar bola matanya malas.  Pria berpetugas itu menggeleng. “Maaf, Non. Gak bisa!” “Kenapa?” tanya Mawar makin tidak sabar . “Pak Bos besar kemarin sudah melarang saya, buat membiarkan Nona masuk.” “Apa?! Siapa yang berani melarang saya, Aliando anak pemilik perusahaan ini aja gak pernah melarang saya,” jawab Mawar tak habis pikir.  “Itu, kan. Bapak Lian beda lagi sama Bos besarnya yang sekarang Pak Axelle.” Bola mata Mawar membulat sempurna, menatap tak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya. “Pak Axelle, yang melarang? Apa alasannya? Aku tidak pernah mengganggu yang lain, ya, ke sini aku hanya ketemu sama pak Lian. Apa hubungannya sama Pak Axelle.” Mendesah lemah pak Satpam ini sudah lelah menghadapi orang seperti Mawar, yang juga tidak bisa disinggung. “Pak Axelle bilang, Nona sudah cukup menggangu pak Lian. Katanya di sini tempat orang bekerja bukan café atau restoran.” “Ish, sialan!” umpat Mawar kesal. Sudah seperti ini dia juga hanya bisa berbalik, jangan membuat hal lebih memalukan lagi dan tanpa mengatakan hal apapun lagi Mawar membalikkan tubuhnya. “Awas saja kalau ketemu orang itu … aku injek-injek sampai jadi remahan rengginang!” “Siapa yang mau kamu bikin remahan, hah?” Tanpa disangka orang yang sedang dibicarakan Mawar, tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Axelle memegang jas-nya dan tas di satu tangannya, sedangkan yang lain tengah dimasukan ke dalam saku celana panjangnya kulitnya yang cerah semakin kontras dengan setelan kemeja putih bergaris dan vest senada dengan jas dan celananya yang berwarna Navy-nya serta dasi merah hatinya. The Perfect Human. “Puas natapnya? Kalo belum, ambil fotoku saja—“ “Siapa yang kerajinan natap Kakak,sih?” Sudut bibir Mawar berkedut setelah berhasil menyela perkataan Axelle yang narsis. Baru mendengar setengahnya saja Mawar sudah sangat merasa merinding tidak tahan. “Ya, kamulah. Gak sadar, yah? Mata kamu, tuh sampai gak berkedip belum lagi, tuh mulut yang ngiler.” “Yah, di mana aku ngiler.” Sekejap mata Mawar langsung panik, mengusap antara bibir dan dagunya takut itu ada benar-benar air liur yang keluar.  Axelle terhibur dengan tingkah sampai membuatnya ingin tertawa karena tidak ada hal lain yang mau dikatakan kakinya mulai beranjak pergi meninggalkan Mawar begitu saja tanpa ingin memerhatikannya lagi tetapi, sepertinya Mawar segera menangkap pergelangan tangannya, menahanya. Membuatnya kembali berbalik. “Ada apa?” “Kak Axelle kenapa aku gak boleh masuk gedung kantor ini? Aku, kan gak ganggu orang lain.” “Kamu mengganggu Lian,” jawab Axelle kalem sambil melepaskan cekalan tangan Mawar. “Ini bukan taman bermain kalau kamu memang mau ketemu Lian lebih baik cari tempat lain dan jangan di waktu kantor. Cari hari libur, jangan sampai dikatakan wanita bodoh dan tak tahu malu.” “A-aku gak tahu malu? Wanita bodoh? Siapa yang berani ngomong kayak gitu?” Mawar terlalu marah dibuat mendengarnya.  “Aku yang baru saja ngomong, jadi apa?” Baru saja Mawar mendengarnya . Rasanya mulutnya sedang mengunyah lidah sendiri, begitu gatal untuk menyemburkan kata-kata jahat. Kembali pada emosinya, Mawar berusaha menahan amarah demi Lian juga teringat pria di depannya ini adalah saudaranya, tepatnya sang Kakak. Sambil mengambil napas Mawar berkata, “Karena kakak itu, kakak Lian. Kali ini kumaafkan tapi, jelas tak akan ada lain waktu. Jadi, Kak Axelle juga jangan bicara omong kosong lagi tentang aku.” Axelle terlalu malas menanggapinya dengan serius, dia hanya mengangkat bahu dan hendak pergi dari hadapan wanita itu sudah seperti ini apa lagi yang perlu dikatakan tetapi, Mawar sepertinya tidak puas. Saat Axelle berbalik, Mawar menahan tangannya. “Ada apa lagi?” “Aku mau ketemu Lian,” ujar Mawar dengan sedikit sedih.  “Aku tidak melarangnya, kau bebas menemuinya tapi, harus di luar jam kantor dan tidak berdiri menunggu di sini lagi.” “Tapi, aku kesulitan. Lian terlalu sibuk kalau aku tidak ke sini malah dia mungkin akan lupa.” “Aku gak punya waktu mendengar keluhanmu,” kata Axelle sedikit mendesah lelah, baru disadarinya ternyata ada wanita yang sulit dihadapi karena dalam masa hidupnya kecuali ibunya. Semua wanita yang dikenalnya bisa dikatakan cukup manis dan baik, tidak terlalu merepotkan. Yah, mungkin kadang-kadang ada hal sulit seperti ini tapi, tidak sesulit bicara dengan wanita bebal yang sedang tergila-gila. Benar saja Mawar masih ingin mengeluh tetapi, tidak ada yang mau mendengar keluhannya ini. Axelle baru saja pergi begitu saja, memasuki mobil pribadinya yang ternyata sudah terparkir di depan tanpa diketahuinya. “Ish! Aku belum selesai ngomong!” teriaknya sunyi. ** “Jadi, bagaimana? Apa belum ketemu juga?” Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan riasan yang tidak sederhana namun, sangat cocok dengan usianya itu mendesah sedikit sedih. Menyandarkan punggungnya di depan d**a seorang pria yang usianya juga tak jauh darinya. “Sangat sulit. Aku tidak tahu di mana wanita jalang itu menyimpan berkas-berkas yang kita butuhkan?” Pria itu pun sama-sama mendengus kesal. “Sudah mati saja masih saja membuat kesulitan. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Para investor sana sudah mulai tak sabar.” “Sayang, haruskah kita lakukan dengan cara mulus.” “Cara mulus seperti apa?” “Kita bicarakan ini dengan anak itu … “ “Siapa maksudmu?”  Ria Susano mencibir bangkit dari acara lesehannya, melihat prianya yang sedikit bodoh. “Siapa lagi? Tentu saja keturunan dua orang berengsek yang mati itu. ck, sebenarnya selama ini kamu ke mana saja, hah? Menghibur istrimu yang gila shoping itu, sialan! Kamu terus memanjakannya dan aku yang harus jadi sapi perahmu. Darren kamu keterlaluan sekali!” “S-sayang, jangan marah seperti itu.” Darren sedikit panic melihat kemarahan kekasih gelapnya itu. “K-kau tahu wanita itu sangat sulit diatur, aku hanya bisa menuruti apa yang diinginkannya. Jangan marah, kau sudah sangat tahu bagaimana keadaan kita sekarang.” “Ck, kamu masih saja seperti ini! Apa kamu benar-benar tidak akan menceraikannya, hah?” Darren menarik kekasihnya itu dalam pelukannya, meremas lembut bahunya. “Tentu saja itu akan segera tapi, … setelah kita bisa merebut surat kuasa juga berkas-berkas yang kita perlukan untuk membangun kerajaan bisnis kita. Bersabarlah sebentar lagi. Kita tidak bisa hidup di bawah telunjuk orang lain lagi nanti atau jika, hubungan kita terbuka sekarang … apa yang kita dapat? Hanya cibiran, Sayang.” Mendengar itu Ria hanya bisa mengangguk kesal. Saat ini mereka berada dalam hubungan yang tidak menguntungkan sama sekali jika terpublish keluar. Istrinya Darren, Gina Callie meski tidak sepenuhnya memegang kekuasaan diperusahaan tetapi, memegang saham terbesar dia bisa saja mendepak Darren dari kedudukannya saat ini sebagai Direktur. Lalu, entah apa yang akan dilakukan padanya bisakah wanita itu mempersulit kehidupannya nanti? Memikirkannya saja Ria merasa lelah, dia masih bukan siapa-siapa pasti akan masih merasa sulit. Belum lagi Dareen yang bisa saja jatuh miskin, tidak mereka tidak bisa sesial itu. “Kamu benar, Mas. Tapi, ingat kamu tidak bisa menyisakan apapun untuk wanita itu dan anaknya. Giliran mereka hidup susah setelah kita berada di puncak.” “Hm, tentu saja. Apa saja yang kamu inginkan.” “Baguslah!” Ria bersorak dalam hati lalu, pikiran jahatnya sesaat berkelebat dalam benaknya. “Ah, ya, bagaimana kita bunuh mereka saja sekarang? Seperti yang kita lakukan sebelumnya.” Darren mengerutkan keningnya. Ada perasaan tak rela meski begitu wanita menyebalkan itu masih istri dan putrinya. Tidak mengapa hanya membuat mereka sedikit menderita tapi, menghabisi mereka?!. “ Untuk apa? Jika kita mendapatkan harta mereka, tidak perlu memedulikan keduanya.” “Huh, ternyata Mas masih punya rasa kasihan sama mereka.” “Jangan salah sangka. Aku hanya merasa tidak perlu membuat mereka mati. Kembali lagi kepersoalan utama … sekarang apa yang bisa kita lakukan?” tanya Darren menghentikan perdebatan tak penting mereka. Ria bangkit dari posisi duduknya berjalan ke bar kecil miliknya, menuangkan minuman serupa Wine meneguknya dengan elegan sambil menatap prianya. “Seperti awal kubilang dekati saja bocah Evano itu. Lalu, suruh dia cari berkas yang kita butuhkan mungkin saja Selena atau Aries menyimpan barang-barang itu ditempat yang hanya keluarganya yang tahu. Kita sudah mencari itu di mana-mana tapi belum ketemu.” “Tidak buruk juga tapi, kamu yakin dia tidak akan curiga.” Senyum sinis terukir di bibir Ria. “Bagaimana mereka bisa curiga? Mas kamu itu pengecut sekali!” “Ria jangan kelewatan, bagaimana bisa kamu sebut aku pengecut.” “Hhhh… tapi, itu nyatanya. Kamu bahkan gak berani dateng buat pemakaman mereka.” “Sialan! Untungnya buat aku ke sana apa?” “Sudahlah, pembicaraan ini membosankan. Yang penting mulailah urus masalah itu dulu, dekati Axelle Evano … jika ingin rencana kita segera tercapai.” Darren mengangguk setuju, menutup mulutnya untuk tidak lagi protes dengan kata-kata provokator kekasih gelapnya. Rasa penasaran juga haus kekuasaan tiba-tiba terbersit di benak Darren ketika sadar siapa Axelle Evano. Akhir-akhir ini lini perkumpulan penguasa tengah ramai memperbincangkan exsecutiv muda ini. Axelle Evano, yang memegang dua perusahaan besar warisan kedua orang tuanya. “Apa bocah ini luar biasa?” tanyanya pada akhirnya.  “Lumayan.” Angguk Ria.  “Dia ini memegang kedua perusahaan warisan Evano berarti jelas dia ini anank kandung mereka, kan? Ke mana dia selama ini, kenapa baru-baru ini saja terdengar.” “Mas, kamu itu benar-benar.” Ria menggeleng pasrah. “Makanya, Mas jangan hanya sibuk dengan urusan pribadi saja, kamu juga perlu mendnegar gossip juga berita dikalangan sekitar.” “Jawab saja, kenapa harus berputar-putar.” Kesal Darren sambil menghampiri dan mengambil gelas ditangan Ria, menegak minuman yang tersisa. “Ok-ok, iya, dia anak sulung keluarga Evano. Selama ini dia hanya tinggal luar negeri cukup lama dan kukira jika, tidak ada kematian Aries dan Selena barang tentu dia hanya akan tinggal di luar.” “Ah, seperti itu,” sahut Darren dengan sedikit antusias dalam benaknya seolah tengah memikirkan suatu rencana. *** “Yah, Vin. Masa lu gak mau bantuin gue, sih?” “Males, urus aja sendiri.” “Aaaakhh!” Arion merengek keras bahkan, tanpa malu berguling di lantai. Mereka baru saja kembali dari kampus. Arvin dan Arion belajar di tempat yang sama meski berbeda jurusan, jika Arvin memilih jurusan seni maka, Arion ada dalam bidang jurnalistik. Saat ini Arion sedang dalam masalah dengan seorang gadis yang dikencani lewat web setelah beberapa waktu dia tidak serius tetapi, gadis itu telah menganggapnya sangat serius dan ingin datang bertemu sedangkan, saat ini Arion tidak mungkin lagipula dia sudah memiliki pacar. Tidak mungkin dia cari masalah dengan hanya seorang gadis yang dia kenal lewat dunia maya. Meskipun begitu dia juga tidak tega membiarkan gadis itu datang jauh-jauh dari luar kota tetapi, tidak menemuinya. Dia minta Arvin yang datang lalu membicarakan keadaanya lalu mengirimnya pulang. ‘Wah, baik hati sekali hatinya!,” pikir Arion dalam hatinya sendiri. Mimpi apa Arvin semalam harus direpotkan hal seperti semalam. Tidak dia berniat menolong, memutar bola matanya malas dan memilih segera menyingkir dari sana. “Berhenti merengek, Yon. Gue gak bakalan luluh mau lu ngapain juga.” “Aaarkh, Vin. Please!” Arion masih saja merengek lalu berderak kesal melihat Arvin, saudaranya itu malah pergi begitu saja. “Jahat! Gue sumpahin lu jadi jomblo akut!” “Lu berani sumpahin gue?!” Marah Arvin menolah kejam pada saudara kembarnya itu. Arvin ini dikenal baik hati dan terkadang kolokan lebih dari Arion jika, dia mau tetapi, juga emosinya naik. Tidak cukup orang yang bisa menenangkannya masih untung jika, dia hanya mendiamkan orang itu seperti yang dilakukannya pada Axelle beberapa waktu lalu. “Ng-ngak, maaf.” Arion mengangkat kedua tangannya menyerah.  Arvin masih tidak puas, Arion seringkali membuat masalah dan selalu mengejarnya untuk menyelesaikan masalahnya lalu, hari ini mulutnya yang lebar itu juga berani berkoar untuk menyumpahinya. Arvin tidak berniat memaafkannya semudah itu. “Lu, gak bakalan sadar sebelum kepala lu benjol. Sekarang lu rasain ini!” Tangan cekatan Arvin bergerak mengambil sesuatu dari pinggir tas-nya yang mencuat keluar, jelas tidak terlalu berbahaya. Hanya stick drum yang terbuat dari kayu selanjutnya tidak akan sampai membuat orang mati jadi, tanpa ragu lagi benda itu melayang di udara dan … Pow! Baru saja menghantam sesuatu. “Aakh!” terdengar jeritan tertahan. Dua orang di sana terpaku dengan sudut bibir yang berkedut antara ingin tersenyum juga tengah meraba-raba rasa nyeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN