Episode 1
“Aku pulang!” katanya pada diri sendiri sambil melangkah masuk diiringi suara pintu terkunci dari belakang. Rumah itu gelap dan sunyi, tidak ada siapapun selain dirinya. Lagipula rumah ini bagi Axelle hanyalah tempat singgah untuk tidur saja, sudah seperti hotel saja. Maklum saja terkadang pekerjaan membuatnya terlalu sibuk untuk pulang bahkan, untuk tidur di kantor saja cukup sulit. Semua orang hampir tidak memberinya kesempatan untuk istirahat. Contohnya saja hari ini. Hari ini adalah, ulang tahunya yang ke-28.
Axelle Evano, umur 28 tahun itu barulah dicapainya tahun ini tepatnya kemarin malam. Di mana dia menimatinya seorang diri tanpa keluarga dan kekasih sungguh, sepi. Belum ada salah satu anggota keluarganya yang menghubunginya untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Hal menyebalkan tetapi, dia juga enggan untuk yang pertama kali menelepon. Hampir sepanjang usia dua puluhan ini, jauh dari keluarganya untuk kuliah dan bekerja di sini. Adelaide, Australia. Bukan dia tidak rindu rumah dan keluarganya tetapi, keinginanya untuk berkembang dengan tangannya sendiri lebih besar daripada yang lain.
“Belum satu pun dari mereka yang menelepon,” keluh Axelle ketika mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja. Belum sempat ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering ponselnya memenuhi seluruh ruangan. Senyuman pun terbit dari bibirnya, segera saja ia raih ponselnya dengan kecepatan tercepat. “Halo, Ma!” serunya riang setelah melihat nama si penelepon.
“Halo juga, Sayang. Selamat ulang tahun!”
“Thanks, Ma! Mama,loh yang pertama kali ngucapin. Papa sama yang lain ke mana? Gak mungkin semua orang lupa,kan?” tanya Axelle bertubi-tubi dan penuh semangat karena terlalu senang akhirnya mendapat telepon.
Selena yang berada diseberang telepon tertawa mendengar keluhan putra sulungnya ini. Wanita yang masih cantik meski tak lagi muda ini, tengah berdiri menunggu sambil bertelepon riang dengan putra sulungnya yang hidup jauh darinya. Memeluk tubuhnya yang sedikit dingin, matanya berkeliaran melihat sekeliling parkiran pintu depan hotel. “Kalo Papa, sih ada di sini bareng Mama tapi, kalo Adik-adik kamu sibuk dan mereka udah kompak katanya bakal lupa sama ulang tahun kamu… ha ha.”
“Ya ampun! Mereka masih dendam gara-gara aku lupa ulang tahun Sam. Ya, udah bilangin juga. Kakak mereka gak bakalan pulang akhir tahun ini!”
“Ok! Kalau kamu sampai gak pulang lagi tahun ini, bukan cuma mereka yang bakal lupa sama ulang tahun kamu tapi, Mama juga gak bakalan inget lagi kalo masih punya anak yang namanya Axelle Evano itu,” ujarnya sedikit kejam, karena menyebalkan sekali mendengar Axelle bicara tidak ingin lagi pulang padahal, mereka sudah menunggunya sangat lama. “Mama sampe heran. Kamu,tuh betah banget di sana! Udah cukup kamu kuliah di sana tapi, masa kerja juga harus di sana… tahu sendiri,kan Mama juga punya perusahaan yang harusnya bisa kamu urus.”
Axelle menahan napas, sepertinya dia baru saja membangunkan singa tidur. “Ma, Mama tenang baru aja Axelle bercanda. Akhir tahun bakalan pulang,kok! Axelle juga kangen banget sama Mama.”
“Bukan cuma pulang tapi, kamu harus netep di sini juga nikah terus urus perusahaan Mama bareng Aksa,” sahut Selena tegas. Dalam beberapa lama tidak terdengar lagi sahutan dari Axelle, keduanya memilih diam sesaat untuk tidak menambah lagi suara-suara panas karena enggannya Axelle untuk pulang ke tanah air.
Seperti diawal Axelle, lah yang membuat masalah dia juga yang harus menyelesaikan diam mereka. “Maaf, Ma …akhir tahun ini Axelle pasti pulang tapi,”
“Tapi, apa?”
“Ok, ok, tidak ada tapi!”
Mendengar nada menyerah dari Axelle, Selena tidak membahas terlalu jauh lagi. Dia mengalihkan pembicaraan ke hal lain tidak ingin larut pada masalah yang tak akan tuntas hanya dari sambungan telepon. Juga mereka jarang berkomunikasi karena kesibukkan masing, di saat bisa Selena ingin benar-benar mengobrol dengan putra sulungnya itu. “Axelle, kamu belum mau tidurkan?”
“Belum, Ma. Axelle sebenarnya baru aja pulang habis neraktir temen-temen,” jawab Axelle yang saat itu sedang membuka kaosnya, menggantinya dengan yang baru. “Mama, belum istirahat juga? Udah makan malem, kan?” tanyanya perhatian.
“Udah bareng Papa kamu ini! Kita lagi makan di luar, di pesta temen Papa.”
“Oh, terus di mana papa-nya? Dia gak mau ngomong gitu sama anak gantengnya ini.”
“Gak ilang juga,tuh. Sifat narsis papa kamu itu?!” Keduanya terkekeh. Selena kemudian kembali bicara, ”Nanti, tadi aja Papa kamu juga ingin ngomong tapi, pas kebetulan malah ada yang mamggil terus jalan kepojokan, ngobrol berdua. Ninggalin Mama sendiri padahalkan Mama udah pengen cepet-cepet pulang. Yang lain udah gak ada, Masa Mama di sini udah jadi kayak patung liberty yang bukannya pegang obor tapi, malah pegang telepon.”
“Ya, ampun kasian banget,sih. Mama-ku ini,” ujar Axelle setengah meledek. “Ya, udah pulang sendiri, tinggilin aja papa. Udah gede ini masa gak bisa ditinggal.”
“Seenak udelmu,yah! Kamu yang bakal Papa tinggalin tanpa warisan udah aja diem di benua sana, gak usah pulang… betah banget di negeri orang! Lagian Papa punya banyak ini,” sahut suara baritone seorang pria yang baru saja menyela pembicaraan Selena dan Axelle.
“Gess, masih aja sensian!” kekeh Axelle senang mendengar suara ayahnya. “Pa, cepetin ucapin selamat ulang tahun! Lah, masa baru Mama doang.”
“Udah bagus Mama yang ngucapin,” sahut Aries Evano yang sudah berkepala lima ini tetapi, masih punya perawakan tegap dan gagah meski, rambutnya yang beruban tidak bisa ditolak. “Papa lebih setuju sama adik-adik kamu yang gak ngucapin selamat. Apa-apaan coba, toh. Orangnya gak ada di sini juga!”
Suiiiiiing! Seperti ada panah yang melesat dan langsung tepat sasaran. Axelle menghela napas. “Ya, ampun sebenarnya sekarang siapa sih yang jahat,” melas Axelle memillih menjatuhkan tubuhnya di atas kasur mulai sedikit mengantuk.
Di seberang telepon. Aries dan Selena sudah berada di dalam mobil dengan telepon yang masih tersambung. Mereka masih berbicara banyak hal lainnya terutama tentang kehidupan anak-anak mereka. Keluarga Evano adalah keluarga besar yang terdiri sepasang suami istri dan ketujuh anak laki-laki yang terkadang cukup sangat merepotkan. Di Rumah itu meski hanya ada Selena, wanita sendiri yang seharusnya dijadikan ratu untuk dipatuhi para pria di rumah nyatanya, tidak seperti itu Selena tetap saja seorang ibu yang harus banyak mengalah.
Dan, Axelle Evano putra sulungnya yang paling tidak bisa dia kendalikan. Axelle itu baginya seperti burung, jika hanya berada di sarang dia tidak akan hidup. Juga, ada Aksa Evano putra keduanya dia sudah serupa manusia es saja tetapi, bisa jadi banyak tingkah saat ingin diperhatikan. Anak ketiganya Aliando Evano panggilnnya adalah Lian. Anak ini sebenarnya kebanggannya, dia anak jenius dalam berbagai bidang prestasi kekurangannya hanyalah dia itu ceroboh seringkali terluka meski, hanya sedang berjalan dan juga … Lian terlalu sangat cuek ke mana-mana hanya ingin pakai kaos oblong jika, bukan karena tangisan Selena untuk berpakaian pantas anak itu pasti tak akan mengindahkan yang lain.
Kemudian seumuran Lian. Arkana atau Kana … Anak yang hidup seperti air mengalir dan mengikuti arus. Baru saja lulus kuliah tapi, belum tahu apa yang ingin dilakukannya jadi, sebelum itu dia hanya nongkrong di rumah. Berujar ingin menyusul Axelle saja keluar negeri tapi, takut karena tidak bisa bahasa inggris. Lalu, anak kelima dan keenam itu kembar yang tidak serupa. Entah itu dari wajah, hobi, kegemaran, sikap maupun watak apapun tidak ada miripnya sama sekali kecuali satu sifat ini keduanya bisa jadi sangat cengeng karena satu hal.
Yang terakhir anak kesayangan semua orang. Abrisam Evano, bungsu Evano yang sangat manja dan menggemaskan tetapi, tak kalah mengkhawatirkan karena terkadang hobi-hobinya yang ekstrem. Sebagai ibu, tentu punya ketakutan berlebih ketika melihat anaknya melakukan panjat tebing tanpa tali pengaman membuatnya sakit jantung kaena khawatir. Jika Abrisam di rumah dia akan sangat manja dan anak penurut tetapi, setelah berada di luar, Abrisam memilih jadi pria macho yang bisa diandalkan banyak wanita.
Tersenyum bibir Selena ketika mengingat anak-anaknya, bukan hanya bahagia memiliki mereka dia juga bangga dengan semua anaknya dan bersyukur. Meski, tidak semua anak lahir dari rahimnya Selena dan Aries menyayangi semua anak mereka sepenuh hati. Apa yag kurang dalam hidupnya saat ini adalah ingin segera melihat putra sulung mereka menemukan kekasih hatinya lalu menikah dan memberi mereka cucu yang sehat, tampan atau cantik mumpung Selena merasa dirinya masih cukup pantas dipanggil nenek muda.
“Axelle apa kamu gak punya pacar di sana?” tanya Selena sambil melihat jalanan di luar jendela.
Axelle membuka mata kuat-kuat mendengar pertanyaan ibunya. Tentu sebenarnya ada pacarnya tetapi itu, sebelum putus satu bulan lalu karena wanita itu ketahuan selingkuh bahkan, sudah hamil anak temannya sendiri. Kecewa dan marah tentu saja tetapi, Axelle tidak mau terpuruk. Wanita berarti bukan jodohnya yah, seperti itulah dirinya.
“Axelle!” panggil Selena, cukup membuat Axelle kembali dari lamunannya. “Axelle cepatlah nikah, kau harus punya pacar dulu sebelum itu atau …kalo kamu gak bisa cari biar Mama yang cariin. Bagaimana?”
“Jangan ngaco, Ma. Gak, tetep gak. Udah gak jaman jodoh-jodohin.”
“Di jodoh-jodohin emang gak level apalagi punya tampang rupawan tentu malu,kan, Xell,” sahut Aries yang berada di samping Selena tengah menyetir mobil. Maklum saja dia bisa mendengar karena sejak tadi di dalam mobilnya pembicaraan mereka dilakukan melalui pengeras suara ponsel. “Tapi, lebih malu mana. Punya tampang cakep, body luar biasa, tajir juga sukses iya sayangnya gak punya pacar padahal umur udah pas buat nikah dan punya anak.”
Jleb lagi.
Menepuk dadanya kuat, Axelle harus melawan sabar mendengar kepasihan lidah ayahnya. ‘Yah, bagaimana juga mana bisa lawan pengacara,’ keluh Axelle dalam hati. “Jodoh tuh, udah ada yang nentuin. Mama sama Papa gak usah khawatir pas nanti udah waktunya. Jodoh gak bakalan lari.”
“Yah, terus aja gitu ngeles. Jodoh juga,kan gak Cuma bisa ditunggu harus dicari juga. Jangan males ikhtiar sana,” telak Selena yang membuat Axelle memutar bola matanya malas di ujung benua lain.
“Ok, ok! Axelle nyerah, udah,yah. Ngomongin jodohnya,” tutur Axelle bangkit dari ranjangnya. Mengambil air minum dan ingin segera menutup sambungan teleponnya hampir setengah jam berlalu rasa kantuk dan lelah sudah menyerangnya. “Axelle, ngantuk. Lain kali kita sambung … lagi!”
Duarrrr!
“Aaaaaa! Pa, hati-hati! Awas!!!”
“Ma! Pa! Ada apa?!” tanya Axelle keras sama khawatirnya setelah mendengar teriakan ibunya. Di saat itu juga gelas yang sedang dipegangnya jatuh ke lantai, pecah berhamburan. Suatu hal yang tidak dipedulikannya meski, kini ada luka dikakinya dari pecahan beling gelas tersebut. Axelle masih focus dengan keadaan orang tuanya sehingga ia hanya terus-menerus bertanya setengah berteriak meminta jawban apa yang terjadi pada mereka tetapi, Selena maupun Aries tak pernah menjawab lagi.
*
Suara letupan senapan membuat Aries dan Selena sama-sama terkejut dan beruntung Aries masih bisa mempertahankan laju mobilnya. “Pa, suara apa itu barusan?” tanya Selena dengan napas terengah saking gugup dan takut.
Belum lagi Aries menjawab istrinya, berselang waktu yang tidak lama. Dari arah depan mobilnya mereka dikejutkan adanya sebuah yang melaju kencang ke arah mereka. Saking begitu cepatnya Aries tidak mampu menghindar yang kemudian, membuat keduan mobil itu berbenturan. Mobil Aries terdorong ke belakang dengan kekuatan penuh , sebelum terpental ke sisi lain jalan dan berguling beberapa kali sebelum berhenti begitu saja di tengah jalan.
“Ma, Pa, kalian masih denger suaraku,kan? Kalian baik-baik aja,kan? Ayo, jawab! Mama, Papa!” teriak Axelle setengah frustrasi, menjambak rambutnya. Lama dirinya tadi tertegun dengan keadaan tak percaya menunggu jawaban mereka saat, yang terdengar terakhir kali hanya suara rintihan yang tidak cukup lama kemudian, menghilang menyisakkan keheningan yang mencekam setelah sebelumnya. Suara-suara hantaman baja besi-lah yang mampir ditelingannya dari sambungan telepon tersebut.
“Ma, Mama, Papa kalian masih di sana?” tanyanya kali ini mencoba lebih mengendalikan dirinya. Bersuara penuh ke hati-hatian meski, sebenarnya tidak. Tingkahnya berubah bingung dan gugup, berulang kali menatap ruangan kamarnya yang sunyi dengan pandangan hampa sekaligus ketakutan. “Ma, Pa! Kalian gak papa, kan? Gak ada yang terjadi sama kalian, kan? Ma, Pa … jawab Axelle! Axelle pulang sekarang, aku bakalan pulang saat ini juga tapi, jangan buat aku khawatir kayak gini!” teriak Axelle pilu.
Berapa kali pun akhirnya Axelle bertanya dengan suara terkerasnya. Tak ada lagi yang bisa menjawabnya, Aries dan Selena tak mampu bergerak meski, mereka ingin. Kini yang terlihat dari tubuh mereka hanya luka di mana-mana dengan genangan darah merah yang terus mengucur jatuh bahkan, mengalir ke arah ponsel Selena yang masih menyala dan menampakkan nama putranya di layar, ‘Wild Bird’.
Suara-suara dari ponsel masih bergema di dalam mobil yang tampak lagi terlihat kehidupan semua gelap dan hening yang tersisa nyala ponsel yang mulai berkedip-kedip sebelum akhirnya layar itu pun gelap. Tak lama sampai suara-suara lain datang dari luar mobil. Derap langkah kaki pun tak sedikit disertai seruan-seruan terkejut dan khawatir. Di malam itu Keluarga Evano kehilangan dua pilar besar mereka.