Kembali ke Tanah Air

1972 Kata
"Ma,Pa... kalian masih di sana?" Berkali-kali pertanyaan itu ditanyakan Axelle meski, setengah sadar dirinya tahu jika sambungan telepon itu benar -benar telah terputus. "Ma,Pa..." Axelle terus saja merapalkan panggilan tersebut dengan suara lirih penuh getar ketakutan juga kesedihan. Tangannya yang sedang memegang ponsel bergetar lemas lalu terkulai begitu saja sampai benda persegi yang mati juga ikut berguling lalu, tergeletak begitu saja. Bibir Axelle masih saja menyebut Mama dan Papa dengan mata yang memerah menahan tangis. Butuh waktu baginya untuk mengendalikan diri sampai pada akhirnya pikiran Axelle menjadi jernih. Hal yang pertama dia lakukan adalah segera memesan tiket pulang ke tanah air secepat mungkin, Tidak dipedulikannya lagi segala urusannya di sini. Kali ini karena yang harus dia prioritaskan adalah keluarganya, bagaimana keselamatan orang tuanya.. tidak mungkin lagi dia bisa tetap sabar dan waras ada kejadian seperti ini. Selanjutnya, yang bisa Axelle lakukan adalah menghubungi adik-adiknya di antara semua tentu saja hanya Aksa, adik pertamannya yang mungkin paling bisa dia andalkan saat ini. "Aksa, Aksa... kumohon, Angakatlah!" pinta Axelle berharap Aksa segera menerima teleponnya. Di saat itupun Axelle tidak tinggal diam. Dia bergerak cepat menggeret keluar koper kecilnya hanya memasukkan hal-hal penting, beberapa helai baju dan benda-benda miliknya tak lupa yang paling penting adalah pasport miliknya. Beberapa menit berlalu dengan puluhan dering panggilan dilakukan tetapi, juga tak ada satu pun adiknya yang mengangkat. Karena panggilannya untuk Aksa tidak kunjung diterima. Axelle benar-benar tidak tahu jika, diseberang benua sana keenam adiknya yang tidak mengetahui apapun tengah tertawa-tawa merasa senang karena sedang menggodanya. "Berengsek!" umpat Axelle marah. Dalam hati dia berjanji akan menghajar adik-adiknya itu tidak mengangkat teleponnya hanya untuk bermain-main dengannya. Mencengkeram ponselny kuat, Axelle dalam keadaan marah. Lalu, kemudian dia akhirnya pasrah, mengambil kunci mobil segera pergi ke bandara meski, masih ada beberapa jam lagi untuk take-off, Axelle tidak akan bisa tenang. * "Lihat, Kak Axell sudah tidak menelepon lagi," kata Arvin menunjuk semua ponsel yang tergeletak di atas meja. Hari itu kebetulan sekali, keenam saudara itu sedang berkumpul tak ada kegiatan di luar rumah yang biasanya menyapu waktu ke bersamaan mereka. Jarang-jarang sekali hal itu terjadi seperti saat ini, dalam satu bulan bisa terhitung jari kapan mereka berkumpul. Kesibukan masing-masing menjadi penyebabnya terutama di saat mereka semua mulai dewasa dan memiliki urusan masing-masing. "Lalu, apa? Biarkan saja," sahut Arion adik kembar Arvin yang tak serupa. "Kak Axelle pasti bakalan marah tapi, gak apa-apa, kan? Kak Axelle kalau marah serem ...hiih, oh, ya, beneran, nih? Tak ada dari kita yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya,kan?" tanya Abrisam, si Bungsu Evano menatap semua kakak-kakaknya dengan mata bulatnya yang besar. "Pastinya tapi, ... awas saja kalau ada yang berkhianat." Tunjuk Arkana dengan jarinya pada masing-masing wajah saudaranya. "Tidak ada yang melakukannya, semua orang,kan sudah sepakat," sahut Aliando sambil bergerak mengambil camilan di tangan si Bungsu. "Sam, jangan dimakan semua. Bagi sini!" "Aaah, gak mau. Tuh, ambil yang lain sana." "Jangan pelit, Sam. Lu udah bukan bocah." "Apa hubungannya bocah, ama ini cemilan. Ini cemilan aku, yah? Kalo mau beli aja sendiri," jawabnya rese sambil bergerak menjauh dari kakaknya Aliando satu ini yang paling sering merebut makanannya dari dulu selain si Kembar Arvin dan Arion. "Dasar bocah rese,"kesal Lian,panggilan Aliando yang akhirnya hanya bisa pasrah mengambil toples kue lain. Aksa yang sedari tadi diam terus menatap lurus dengan tangan saling bersilang di depan d**a. Entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya tak nyaman. "Mama, Papa belum pulang, ya? Kapan mereka pulang?" tanyanya tiba-tiba di saat adiknya tengah sibuk dengan obrolan mereka. "Mungkin pesta makan malamnya belum selesai," jawab Kana."atau mereka belum pulang karena sibuk kencan dulu." Aksa mengangguk setuju lalu, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja bersama milik yang lainnya. Ternyata banyak sekali panggilan yang dilakukan kakaknya, Axelle. Bukan cuma itu dia juga sadar semua nomor adik-adiknya dihubungi tidak dengan waktu sebentar tetapi,cukup lama sampai sebelumnya mereka sempat kesal dan menolak panggilannya lalu, men-silent-kan semuanya membiarkan panggilan itu berhenti sendiri. Beberapa waktu lamanya Aksa hanya menatap benda persegi tersebut, lalu berakhir men-scroll apapun yang bisa dia lihat dan tanpa disadarinya sebuah panggilan masuk yang membuatnya melotot dan memekik karena tidak sengaja menerima panggilan tersebut. Niat hati Aksa yang terkejut akan menutup sambungan telepon tersebut tetapi, tak elak dia membiarkannya setelah mendengar seruan kasar dari seberang telepon. Aksa juga makin pasrah melihat tatapan tak percaya adik-adiknya padanya. "Gak sengaja," bisiknya. "Akhirnya!" Terdengar suara keras sudah seperti geraman kesal. "Bocah-bocah tengik sialan! Berani kalian mematikan sambungan ini lagi, akan kupastikan kuhajar kalian sesampai di sana...." Mendengar kata-kata marah dan makian kasar dari kata-kata Axelle, tubuh Aksa sedikit bergetar dia belum pernah mendengar kakak sulungnya yang berbeda satu tahun ini terdengar begitu marah sampai hari ini. 'Hey, kami semua hanya bercanda,' katanya dalam hati. Aksa menoleh dan melihat lagi semua adik-adiknya yang juga tiba-tiba ikut terdiam sejak dia membuat kesalahan dengan menerima sambungan telepon Axelle tetapi, sepertinya akan jadi hal baik daipada mereka nantinya dihajar habis-habisan seperti kata-kata Axelle yang baru saja mereka dengar. Axelle dikenal orang yang cukup sabar jarang marah meski, sebanyak apapun mereka mengganggunya tetapi, di saat mereka melewati batas dan ketika Axelle mengatakan ancamannya. Dia seratus persen akan melakukanya. Jadi, tidak hanya Aksa tetapi, yang lainpun duduk tegang mendengar seruan keras dari balik telepon tersebut. "Matikan," bisik Arion memerintah Aksa untuk menutup ponselnya. Aksa tidak menurut, lebih baik dia mendengar kemarahan sang Kakak saat ini daripada nanti, dihajar sampai mati seperti kata-katanya barusan. "Kak," panggilnya pelan karena Axelle belum juga selesai mengumpat. Diseberang sana, Axelle memang masih mengumpat kesal dengan kelakuan adik-adiknya disaat-saat waktu baginya adalah yang terpenting dan apa yang dilakukan mereka malah bermain-main tetapi, di saat itu juga dirinya tengah berpikir bagaimana menyampaikan berita buruknya ini padahal,dirinya tak tahu dengan benar aa yang terjadi. "Kak Axellle, lu bisa tenang sekarang,kan?" tanya Aksa setelah beberapa saat tidak lagi mendengar suara keras Axelle. Iya saja, Axelle diam sembari memarkirkan mobilnya setenang mungkin. Dengan earphone, yang masih terpasang ditelinga. Axelle pun segera keluar dari mobil sambil membawa tas bawaannya. Pikiran Axelle perlahan jauh lebih tenang ketika merasakan angin dingin menerpa wajahnya membuatnya sedikit bisa menarik napas kasar, mengisi paru-paru yang terasa sesak sejak tadi. Dan, meski begitu langkahnya tidak mengendur saat memasuki lobi. Saat ini Axelle berada di bandara Interational Adelaide. Bandara yang disebut bandara ibu kota terbaik di Australia. Untuk sampai di Jakarta , Axelle akan membutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam. Belum lagi saat ini, dirinya masih harus menunggu pesawatnya yang akan lepas landas selama beberapa jam. Hal ini di saat seperti ini terasa kejam karena membuatnya mengerti bagaimana berartinya sebuah waktu. "Kak?" Aksa masih tengah menunggu, setelah cukup lama Axelle diam. "Aksa," panggil Axelle dengan suara beratnya. Mengusap wajah kusutnya, Axelle merasa sulit bicara dengan dadanya masih berdebar tak karuan dan saat ini juga ia bisa menebak sepertinya kabar tentang kecelakaan kedua orang tuanya belum sampai pada adik-adiknya. "Dengarkan baik-baik. Aku butuh waktu untuk sampai di rumah ...kamu--" "Oh, Kak, lu serius mau pulang?" potong Abrisam cukup terkejut, dia juga yang langsung mengambil alih ponsel Aksa. "Sam?" "Iya, Kak? Ini gue ...akhirnya kakak pulang juga, gak sia-sia kita ngerjain kakak dari kemarin," jawabnya riang. "Sam, dengerin Kakak!" Axelle menekan pelipisnya, menekan amarahnya ketika mendengar lelucon konyol mereka tadi dengan tidak mengangkat teleponnya. "Apa kalian semua juga di sana?" "Kami semua di sini heh...selamat ulang tahun,yah, Kak. Lu udah makin tua lebih bagus cepet balik sini--" "Sam itu semua gak penting sekarang," sela Axelle. "Dengerin semua! Loudspeaker! Kalian juga harus tenang...." Di ruang keluarga yang sebelumnya dipenuhi para bujang berisik yang sama berseru senang mendengar Axelle yang bakalan pulang berubah tenang. Saat sekali lagi mendengar seruan Axelle untuk diam, mendengar nada suaranya mereka bisa merasakan ketegangan, yang tidak bisa dijadikn lelucon. Sam yang mendengar kata-kata serius sang Kakak kembali duduk di tempatnya juga meletakkan benda persegi yang bisa mengeluarkan suara itu, di atas meja. Enam dari mereka berkumpul mengelilingi meja tersebut. Menunggu.. "Sesuatu terjadi," ujar Axelle mengawali. "Mama dan Papa meneleponku , kami berbincang lama ... mereka sedang dalam perjalanan pulang! Aku tidak tahu yang sebenarnya terjadi tapi,kumohon segera beritahu aku apapun itu ...kalian harus segra mencari tahunya. Aku sangat khawatir." Axelle akhirnya bisa mengucapkan kekhawatirannya, tubuhnya pun kini dihempaskannya di bangku tunggu yang sepi pengunjung. Wajahnya kuyu degan mata memerah menahan tangis. "Aku bakalan pulang secepatnya ..." "Apa yang Kakak omongin, kenapa gak jelas banget!" Sam menolak mengerti apa yang baru saja dikatakan Axelle sambil, menatap saudara-saudaranya yang lain. "Kak, kalau ini Prank, ini bukan hal yang lucu sekali ngelibatin keselamatan Mama dan Papa. Gue bakalan lebih marah--" "Aksa," panggil Axelle dia tak acuh dengan perkataan Sam."Kamu yang paling dewasa di sana, bantu aku ... sekarang." Aksa terlonjak segera dia mengambil ponselnya yang tergeletak itu dan langsung mengiyakan kata-kata Axelle tanpa ragu, dia yakin tidak mungkin kakaknya yang sedang berada jauh di sana bermain-main dengan hal penting seperti itu. "Kak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya sembari mengambil jaket dan kunci mobilnya. Sebelum benar-benar melangkah pergi keluar rumah, dia menoleh dan memanggil saudaranya yang lain. "Lian , Kana kalian juga ikut dan kalian bertiga ... " Tunjuknya pada tiga adik paling bontotnya. "diam di rumah dan segera hubungi kita kalau terjadi apa-apa." "Gak bisa! Gue ikut!" Sam sudah berdiri, dia tidak mau tinggal diam jika sesuatu terjadi pada orang tuanya. "Kamu tetep di sini!" perintah Aksa tegas. Wajah Sam berubah merah dan sangar, dia tampak tidak akan peduli dengan kata-kata kakaknya barusan dan akan melawan jika, kakak-kakaknya memaksanya untuk tetap diam. "Sam, tenang dulu!" Arvin menahan tangan Sam, menggenggamnya menatapnya untuk bersabar lalu, berpaling pada Aksa. "Kak, gak ada yang bisa kita lakuin kalau cuma diem di rumah lagipula, kita bukan anak kecil lagi. Ini juga hal penting bagi kami dan gak ada yang bakalan tinggal diem di saat kayak gini." Aksa menghela napas, dia dengan cepat menyerah dan memilih kembali berbicara dengan Axelle untuk mendengar lebih jelas kronologis ceritanya. Sedangkan adik-adiknya yang lain tepat di belakangnya terbagi menjadi dua kendaraan dengan masing-masing berisi tiga orang. "Kami akan ke kantor polisi terlebih dulu, kalian bertiga bisa cari di beberapa rumah sakit!" perintah Aksa pada Kana, Sam dan Arvin dari tempatnya berdiri. "jika terjadi sesuatu kita akan saling mengabari. juga, ingat tetaplah tenang, mengerti." Meski, Aksa mengatakan perintahnya untuk tetap tenang tapi, hatinya sangat risau jauh dari kata tenang setelah mendengar cerita Axelle di telepon. Yang sambungan telepon mereka sudah putus beberapa menit yang lalu. "Baik, kita ngerti," jawab Kana mewakili kedua adiknya, terutama Sam yang tampak gugup dan tidak percaya diri seperti biasanya. "Ayo, kita mulai jalan." Ajak Kana pada semua orang yang masih berdiri di luar. Aksa mengiyakan, dia juga yang pertama berjalan ke arah mobilnya dengan semua orang segera mengikutinya. Sekali lagi Aksa berseru mengingatkan adik-adiknya di mobil lainnya. "Kana! Ingat ponsel kalian harus stand-by juga, tetaplah tenang apapun yang terjadi dan hubungi kami jika ada kabar lainnya." "Aku tahu," sahut Kana yang langsung memutar setirnya. Dia juga sebenarnya tidak bisatenang sebelum mendengar jika, kabar orang tuanya baik-baik saja. Sesaat Aksa masih bisa melihat bayangan mobil adik-adiknya sebelum menghilang di kegelapan. Begitu terjadi, dia pun bisa menancap gas menghilang di jalanan ibu kota yang tak pernah sepi meski, malam yang datang. "Kalau menurut perkiraan, harusnya polisi atau rumah sakit udah ngasih kabar salah satu dari kita,kan? Mungkin aja Kak Axelle salah." Tiba-tiba saja Lian bicara begitu saja karena dalam hatinya tidak ingin percaya. Aksa maupun Arion yang berada di dalam mobil dengannya sama sekali juga tidak ingin menjawab tetapi, mendengar sangkalan Lian dia juga tidak mengerti. "Ini bukan film Lian, memangnya seberapa cepat tanggapnya kepolisian dan Rumah sakit di negera kita? Dan, apa salahnya jika kita sendiri yang mencari tahu daripada berdiam diri dengan bodoh...hanya mendengar apa yang terjadi. Jangan buat diri kita menyesal! Aku sudah sangat menyesal sekarang, kenapa kita harus bermain-main dengan kak Axel padahal dia sangat butuh bantuan kita." Lian terpengkur mendengarnya, air matanya jatuh berturut-turut. "Aku hanya pengen gak percaya. Jika, itu terjadi... g-gimna jadinya kita?!" ucapnya dalam isak- tangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN