Berita Terduga

1988 Kata
Belasan jam sudah berlalu, bagi Axelle saat itu terasa menjadi waktu yang  paling tak tertahankan untuk dilewati. Bagaimana dirinya ingin segera tiba dikediaman rumahnya bahkan, berharap akan ada sesuatu kekuatan yang bisa membawanya pergi ke tempat tujuan dalam sekejap. Namun, Khayalan tetaplah jadi khayalan yang mungkin tidak semudah itu terjadi hanya dengan sebuah harapan saja. Satu jam sebelum akhirnya, Axelle akan menaiki pesawat dan lepas landas Aksa sudah memberinya kabar dan benar saja. Hal tersebut adalah kabar buruk, yang tidak bisa ia elak lagi. Bagaimana tidak di saat hal itu terjadi dia secara tidak langsung bersama mereka. Mendengar tiap-tiap apa yang terjadi pada mereka meski, tidak sepenuhnya pasti kerena bukan visual yang terlihat. Sesak. Perasaan itulah yang pertama kali Axelle rasakan menerima kabar seburuk apa yang terjadi pada kedua orang tuanya itu. Aksa yang biasanya adalah anak yang kuat dan jarang sekali menangis pun, sepertinya kali ini menyerah dan tidak menahan perasaanya dan menangis sedih. Kehilangan orang yang disayangi terutama itu orang tua, yang sudah menyayangi dan membesarkan kita bukan hal yang mudah dihadapi apalagi ketika mereka pergi secara bersamaan. Tak terbayangkan kesedihan seperti apa yang mereka rasakan. "Aksa, bertahan sebentar saja. Aku bakalan pulang secepatnya. Dan, tunggu aku! jika memungkinkan. Aku mau lihat Mama dan Papa terakhir kalinya tapi, ..." Axelle tak kuasa melanjutkan tetapi, inilah harapan kecilnya, yang dipenuhi penyesalan yang tidak berkesudahan karena mereka pergi sebelum sempat bertatap muka dengannya lagi. "Jangan lagi ditunggu jika, aku terlalu lama kasihan Mama dan Papa." * Dalam hembusan napas serta iringan debaran jantung, yang memompa cepat membawa ketidaksabaran. Berjam-jam sudah, Axelle bergumul dengan waktu untuk segera sampai di tanah air. Harapannya tipis untuk bisa melihat kedua orang tuanya terakhir kali. Kini, waktu sudah hampir petang hari ketika mobil taksi yang tumpanginya tiba tepat di depan kekediamannya. Pandangan mata Axelle bertambah sendu ketika melihat di pagar rumahnya tertancam bambu berbendera kuning, jauh ke dalam kediamannya pun tampak sangat ramai di mana setiap orang di sana menggunakan pakaian hitam. Jelas rumahnya kini dipenuhi pelayat. Di awal kakinya berat meangkah ke dalam namun, sedetik kemudian hati yang teremas sakit tidak sabar membawa lari kakinya sesuai kecepatan berlari yang ia bisa, menerobos banyaknya kerumunan orang sampai tepat di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar. Bibirnya yang bergetar ingin bersuara tetapi, tak ada apapun yang bisa ia ucapkan. Tubuhnya kaku, mematung. kedua orang tuanya benar-benar telah terbujur kaku di tengah ruangan ditemani para pelayat juga adik-adiknya yang bisa ia lihat. "Kak Axelle!" Dekapan itu datang begitu cepat menyentak tubuh kakunya. Kedua tangan remaja itu melingkar kuat, mencengkeram pinggangnya juga menyerukkan wajahnya di depan dadanya menyembunyikan wajah sendunya lalu terdengar suara isakkan keras. "S-saam," lirih Axelle yang hanya mampu memanggil nama adiknya ini, diiringi setitik air mata yang ikut jatuh karena mendengar tangisnya. "Kakak berengsek! Kenapa baru datang huh?!" keluh Sam dalam pelukan kakaknya. "Mama, Papa hiks...huuaa!" Air mata Axelle yang selalu ditahan-tahannya kembali jatuh. "Maafin Kakak," ucapnya sendu sambil merekatkan pelukannya. "Kak Axelle!" "Rion, Arvin," panggil Axelle saat melihat siapa yang baru saja memanggilnya, direntangkan satu tangannya agar kedua adiknya yang lain datang dan ikut menyambutnya dengan pelukan. "Kak Axelle!" teriak dua remaja itu, yang sebenarnya kembar meski, mereka tak memiliki wajah serupa. Keduanya pun tak kalah langsung menghambur ke dalam pelukannya. Serupa dengan sang Adik bungsu keduanya tidak kalah menjerit dan menangis sambil terus memanggil mama dan papa mereka yang sudah tiada. Berapa usia mereka? Bagimana bisa mereka menangis begitu keras layaknya bocah balita tetap, kali ini Axelle akan mafhum. Memberi mereka kenyamanan kini sudah menjadi kewajibannya. Belum satu menit berlalu, Kana adiknya yang ketiga datang dan langsung memeluk Axelle tanpa berkata-kata memeluknya di sela-sela ketiga adik kecil mereka. Berapa waktu lamanya Axelle tidak mampu menghentikan tangis mereka, yang bisa ia lakukan hanya memeluk semua adiknya mencoba menenangkan mereka meski, hatinya sama sakitnya dan mungkin rasa lebih dari itu. "Kalian ini! Biarkan Kak Axelle masuk dulu dan jangan terus memeluknya sambil menangis begitu," ujar Aksa yang mulai tidak tahan dengan tingkah mereka di depan semua orang terlebih, terjadi di depan pintu hal itu cukup mengganggu. keempat orang yang sedang memeluk Axelle segera melepas pelukannya setelah  mendengar Aksa bicara. Axelle yang tidak lagi tertahan, berjalan menghampiri Aksa dan memeluknya tanpa berkata-kata. Keduanya berpelukan seolah tengah saling menguatkan. "Ayo, masuk! Mama sama Papa pasti sudah rindu Kak Axelle." ** Kali ini Axelle tak kuasa lagi menahan tangis, setelah bagaimana dia bersimpuh di dekat Jenazah lalu membuka kerudung yang membungkus kedua wajah kedua orang tuanya. Axelle tak akan pernah percaya jika, ia tidak melihatnya sendiri. Bagaimana bisa kedua orang tuanya yang satu malam kemarin masih bisa ia dengarkkan suaranya sedangkan kini, sudah terbaring tak bernyawa tak menyisakan suara sekecil apapun. "Kak," panggilan serta genggaman tangan seseorang membuat Axelle tersadar semua adik-adiknya berada di sisinya, mengitarinya. "Sam, tidak apa-apa," ucap Axelle melihat adik bungsunya itu menangis di sampingnya. "Kita akan baik-baik saja, jangan nangis lagi. Kakak juga gak bakalan nangis. Kasihan Mama dan Papa." Lanjut Axelle mencoba menenangkan adik-adiknya juga dirinya sendiri. Dia tidak bisa terpuruk di saat seperti ini, masih ada adik-adiknya yang perlu ia perhatikan. Sebagai kakak sulung tanggung jawabnya tentu lebih besar dari semua orang, mereka masih muda sedangkan ia sudah cukup dewasa yang harus menjaga keenam adiknya. Untuk terakhir kalinya. Axelle bergerak mengecup kening serta pipi kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya. "Maafin, AXelle yang baru datang sekarang. Mama dan Papa, sudah bisa tenang dan berbahagia di sana kita di sini akan mendoa'akan kalian. Terima kasih untuk semuanya. We love you..." Setelahnya Axelle menengadah , memejamkan matanya dan berdoa untuk kebaikan kedua orang tuanya sampai selesai lalu, kemudian melihat Aksa dan adik-adiknya yang lain. "Sudah waktunya, mari kita ke bumikan Mama dan Papa," ucapnya dengan hati tegar. Arvin, Arrion dan Sam yang sepertinya paling terpukul mereka tidak bisa berhenti menangis ketika, melihat kedua orang tua mereka yang mulai diangkat menggunakan tandu bahkan, saat dipekuburan melihat kedua jenazah dikuburkan Sam dan Arvin terisak lebih kencang meski, sebenarnya tak ada satupun dari mereka yang tidak menangis. ** "Vin, panggil yang lain sana! Kita makan bareng," ujar Axelle setelah menutup tab- nya dan berjalan ke arah meja makan di mana Mbak Anik, Asisten rumah tangga kesayangan ibunya itu sudah selesai meletakkan piring terakhirnya di atas meja makan. "Makanan udah siap, Den." "Iya, Mbak! Makasih, ayo, kita makan bareng." "Gak usah, Den. Si Mbak-nya di dapur aja nanti. Sekarang, Mbak panggilin yang lainnya dulu." "Gak usah! Biar Arvin yang panggil. Mbak Anik udah cape dari kemaren mending makan dulu," ujar Axelle pada Si Mbak Anik, yang sudah menjadi asisten rumah ini yang setia juga bertahan paling  lama, dari ingatan Axelle pun Mbak Anik ini sudah ada sejak dia kecil. "Vin, kamu denger nggak? Panggilin yang lain, surun mereka turun dan makan! Kamu juga?" Arvin menoleh, enggan menanggapi perkataan Axelle dan tidak memerhatikanya lagi memilih sibuk dengan ponselnya sendiri entah, apa yang sedang dilihatnya. Memerhatikannya Axelle hanya bisa menghela napas,  Arvin sudah seperti kepompong saja dengan menekuk kedua kakinya lalu, memasukkannya ke dalam Hoodienya yang kebesaran. Seperti itu saja sejak tadi, tiduran di sofa. Sudah hari ketiga berlalu sejak pemakaman tersebut. Suasana rumah belum sepenuhnya seperti dulu. Mereka semua masih larut dalam kesedihan hingga, enggan melakukan apapun juga hampir tidak memiliki nafsu makan. dan Axelle tidak bisa membiarkan mereka 'seperti orang yang hidup tak mau mati pun enggan'. Tentu saja Axelle mengerti mereka tetapi, sampai kapan? Yang pergi tak akan lagi kembali, yang ditinggal pun tetaplah harus melanjutkan kehidupannya. Waktu masihlah brputar bagi mereka. Kemudian Axelle pasrah, memilih melakukannya sendiri dan menyuruh Mbak Anik ke dapur. Axelle menaiki tangga dan mulai mengetuk pintu kamar adik-adiknya. Aksa sudah tidak ada di kamar tapi, sibuk di ruang kerjanya. Lian, Arion dan Sam tiga beruang itu masih tertidur dan menjadi orang yang sulit dibangunkan sedangkan Kana. Axelle melihat dari jendela balkon kamarnya. Dia sedang di halaman menyiram tanaman. "Ternyata, masih ada yang sehat di antara mereka," ujar Axelle lega dibanding yang lain Kana masih melakukan sesuatu daripada yang lain tampak mengurung diri jika, tidak mereka akan sibuk dengan apa saja seperti Aksa dan Arvin. Tugasnya sudah di lakukannya. Axelle pun tidak mendesak atau memaksakan sesuatu, biar saja mereka jika, tidak ingin makan. Rasanya belum waktunya juga memaksakan mereka untuk bangkit dari kesedihan mereka. Lambat laun pun mereka akan belajar bagaimana menerimanya, bagi Axelle, mereka sudahlah dewasa. Adik-adiknya bukan lagi anak - anak kecil yang dulu akan terus mengintilinya bahkan, sangat penurut padanya. Sam saja, yang paling kecil sudah berusia dua puluh dan seorang mahasiswa pula. Cukup membuatnya tahu mereka sudah cukup dewasa dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Jadi, Axelle akhirnya kembali dengan tangan kosong dan tidak memiliki niatan  tetap menunggu mereka untuk sarapan bersama. Duduk di meja makan sendiri. Axelle menyadari sesuatu ketika  ibunya seringkali mengeluh kesepian tiap kali ditelepon olehnya. Selena akan bicara  karena anak-anaknya sudah besar dan dewasa sehingga, mereka tak pernah ada di rumah bahkan, untuk sarapan bersama. anak-anaknya yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing sejak pagi dan pulang di malam hari, itupun tidak tepat waktu makan malam. Sehingga jarang sekali mereka makan malam bersama atau duduk-duduk santai sambil berbincang terlebih, sejak Axelle memilih pergi ke luar negeri dan menetap lama di sana. Banyak hal yang berubah. Axelle merasa bertambah lagi penyesalannya, menampar dirinya sendiri sebenarnya apa yang dia cari sehingga, memilih pergi jauh dan tidak menghabiskan waktunya bersama keluarganya. * "Kak Axelle, makan sendiri?" tanya Kana yang tiba-tiba datang dengan kaos oblong dan celana pendek yang sudah terciprat air di mana-mana. "Kamu mandi di halaman, heh?" tanya balik Axelle sambil menyuap  nasi gorengnya dengan lahap. "Lah, masa iya ini mandi. Ini namanya nyuci baju," sahut Kana bosan lalu, duduk di kursinya siap menarik bakul nasi goreng sebelum terdengar teguran dari seberang tempat duduknya. "Ganti baju dulu sana!" "Duh, repot banget ke buru laperrr," ujar Kana tidak peduli siap mengambil nasi-nya sebelum Axelle berhasil menarik bakul nasi itu terlebih dulu. "Ganti baju lalu, bangunkan yang lain." Kana mencebik tidak senang jelas enggan pergi tetapi, melawan Axelle akan sangat merepotkan. Jadi, Kana mau tak mau bangkit berdiri begitu juga Axelle yang kembali meletakkan mangkuk besar nasi gorengnya di atas meja. Dasar licik, dengan kecepatan penuhnya Kana segera menyinduk besar nasi gorengnya ke atas piring dengan senyuman puas. Dia membatalkan niatannya untuk patuh. Lebih baik baginya sarapan terlebih dulu baru pikirkan yang lain karena, jelas akan butuh waktu lama juga tenaga membangun saudara-saudaranya yang suka tidur. Sudah seperti 'Kerbau mati.' itu. Axelle yang melihatnya hanya menghela napas. 'Terserah saja kalau begitu.' Pasrahnya sekarang tidak ada adik-adiknya yang mau mendengarkan lagi perintahnya. "Hhh, aku udah laper, Kak! Nanti aja ganti bajunya,Oke!" "Terserah," sahut Axelle kembali melanjutkan makannya. Kemudian, Kana berbalik menolehkan wajahnya pada Arvin yang masih setia jadi, kepompong di sofa. "Arvin, kamu gak mau makan!? Cepet sini, jangan cuma diem di sana kayak kepompong busuk gitu ...  panggil yang lain juga jangan males, gerak dikit." "Aku gak mau, makan! Kakak aja yang bangunin mereka, barusan juga disuruh Kak Axelle, kan?" "Arvin, cepat!" perintah Kana dengan suara tinggi, tidak senang sambil menatapnya tajam. Arvin cukup kesal diperlakukan seperti itu, dia membanting ponselnya. Menatap balik Kana lalu tanpa sengaja menatap Axelle yang pandangannya lebih tajam dari Kana. Arvin menyerah, tak lagi ingin protes dan segera berlari ke atas mencari semua saudaranya yang lain.            "Anak itu, kenapa lagi, sih?" keluh Kana tidak habis pikir merasa sejak kemarin Arvin sedang merajuk. Axelle juga hanya bisa mengangkat bahu, sama tidak mengertinya."Biarkan saja, nanti juga lelah sendiri." Kana mengangguk setuju lalu, tidak lama dari itu terdengar suara langkah sepatu yang mendekat refleks Kana maupun Axelle melihat ke asal arah suara yang datang dari ruang tamu. Berdiri di sana seorang pria dewasa. Berkumis tipis, berambut rapih disertai juga pakaian jas hitam dan berdasi merah. "Om Marco!" panggil Kana, tidak asing lagi dengan pria dewasa tersebut bahkan, dia adalah orang-orang yang pertama kali datang ketika mendengar kecelakaan tentang kedua orang tuanya. "Selamat pagi, kalian masih sarapan?" tanyanya dengan senyuman tipis, tidak hangat tetapi, juga tidak asing. Marco adalah pengacara pribadi ayah mereka, Aries. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN