Flex!!

2207 Kata
Dalam waktu setengah jam anak-anak keluarga Evano itu sudah berkumpul di ruang keluarga. Hanya tinggal tiga beruang yang sedang berhibranasi sangat sulit dibangunkan sampai Axelle sendiri akhirnya, yang harus turun tangan untuk membangunkannya terutama untuk membangunkan Sam. Si Bungsu yang meski, paling sedih tapi, masih tidak bisa meninggalkan kebiasaan tidurnya. Marco datang sebagai pengacara keluarga Evano. Untuk membacakan surat wasiat yang sudah disiapkan Aries dan Selena saat mereka dalam keadaan sehat. Tidak disangkanya jika, dia akan mengumunkan hal ini begitu cepat. Dari keseluruhan anak keluarga Evano, lima orang lainnya tidak ingin hadir atau menyimak apa yang akan disampaikan sang Pengacara. Karena, bagi mereka dirinya hanyalah anak-anak yang angkat dan adopsi, yang tidak berhak melihat atau mendengar juga tidak berharap lebih. Dengan mereka sudah diadopsi dan dibesarkan seperti ini saja, mereka sangat bersyukur. jadi, sebenarnya apa yang akan dikatakan sebagai wasiat kedua orang tua angkat mereka yang paling berhak, tentu saja Axelle dan Abrisam saja karena keduanya adalah anak kandung orang tua angkat mereka. "Apa kalian baik-baik saja?" tanya Marco melihat wajah mereka masing-masing terlihat kusut dan murung. "Kalian harus baik-baik saja. Kematian itu tidak bisa dicegah, begitu juga kehidupan yang tidak bisa kalian tolak. Orang tua kalian sudah tenang, kalian harus belajar ikhlas." "Terima kasih, Om," sahu Lian merasa cukup tenang mendengar kata-kata tersebut seperti, mendengar ayahnya sendiri yang berbicara dan menenangkan kerisauan mereka. "Seperti kata Om, barusan kita harus belajar Ikhlas mulai sekarang meski, hal ini begitu mendadak kami rasakan." "Om, ngerti! Pasti gak mudah diterima. Om saja, terkadang masih gak percaya tetapi, jangan larut terlalu dalam, hm. Masih banyak hal yang harus kalian raih. Kalian juga harus bisa saling jaga." "Sepertinya aku gak harus menasihati lagi mereka, ini berkat, Om. Terima kasih banyak," ucap Axelle tiba-tiba datang, yang baru saja menuruni tangga dengan tangan menyeret Sam, yang masih enggan membuka matanya. Mendudukannya di tempat tersisa untuk mereka dan menatap satu persatu wajah adik-adiknya. "Kita semua di sini,kan. Jangan larut dalam kesedihan seorang diri saja, kita bisa saling berbagi. Suka dan duka ini kita bisa lewati bersama. Mengerti!" Axelle mengatakan hal tersebut sambil menepuk lembut kepala Sam, yang berada di sampingnya. Anak itu masih dilanda kantuk berat berkali-kali menguap bahkan, barusan tidak ada waktunya menyimak dia hanya menyandarkan kepalanya di kepala sofa. "Bailah, biar saja, Sam seperti itu" Axelle menyerah lalu, menoleh kembali pada Marco." Jadi, Om. Apa yang bisa kami bantu?" tanyanya kemudian. "Langsung saja, Om di sini ingin membacakan surat wasiat orang tua kalian," ujarny seraya mengeluarkan setumpuk map dari dalam tasnya. "Om, tahu tidak seharusnya membacakan hal seperti ini di saat kalian masih berkabung tetapi, ini juga merupakan amanat ayah kalian. untuk membacakan wasiatnya lebih cepat." "Tapi, sepertinya kami yang lain tidak perlu ikut mendengarkan juga," ujar Aksa. " Cukup Kak Axelle dan Sam aja. Aku dan yang di sini cuma sebagai anak angkat saja." "Tidak seperti itu, kalian semua harus mendengarkannya." Axelle juga setuju dengan apa yang baru saja dikatakan Marco. Orang tuanya tidak mungkin melakukan hal yang tidak adil, meski mereka bukan saudara kandung asli tetapi, kedua orang tua mereka tak pernah membeda-bedakannya.  Axelle juga tidak mengerti kenapa Aksa bisa bicara seperti itu sebelum akhirnya dia melirik Aksa yang tersenyum kecil lalu, hanya menatap datar ke depan. Sepertinya ada yang dikhawatirkan adik-adiknya selain merasa sangat sedih dan kehilangan orang tua angkat mereka. 'Apa mereka ketakutan? Takut untuk apa?' tanya Axelle terheran-heran dalam hati. Butuh waktu hampir dua jam ketika semua pembicaraan tentang wasiat tersebut selesai. Seperti yang disampaikan Marco, jika sebelumnya Aries dan Selena sudah mempersiapkan segalanya untuk masa depan ke tujuh anak-anak mereka meski, lima di antaranya adalah anak angkat. Lalu kenapa kedua orang tuanya memilih mengangkat anak sedangkan dia sudah memiliki anak-anak sendiri. Pertanyaan yang satu kali pernah ditanyakan Axelle muda. Jawaban yang masih diingatan sampai sekarang.. Karena mereka tidak lagi memiliki saudara lain kakek, nenek dari pihak ayah atau ibu keduanya sudah meninggal sedangkan mereka keduanya anak tunggal. Jangan berharap dengan saudara jauh yang entah bagaimana sifat atau sikapnya. Selena lebih percaya mengangkat anak, memberikan kedua anak lelakinya persaudaran yang erat meski, tak memiliki ikatan darah. Anak-anak yang sudah mereka didik sedari dini dengan menanam kebaikan sampai mereka nantinya tetap menjadi keluarga, yang saling mendukung. Kembali pada isi wasiat yang dibacakan Marco. Tanggung jawab terbesar dua perusahaan yang dibangun atas hasil usaha Aries dan Selena jatuh pada Axelle seluruhnya, selama Sam yang nanti akan mewarisi salah satu dari perusahaan tersebut. Dan, yang lain akan diberikan saham sama rata dan juga rumah-rumah yang sebelumnya sudah dipersiapkan mereka jauh-jauh hari. Axelle yang mendengar itu, tiba-tiba saja kepalanya berdenyut sakit. Selama ini dia tidak pernah ikut langsung dengan bisnis ayah dan ibunya. Satu perusahaan saja sudah akan sangat merepotkan bagaimana dengan dua. Sebelumnya dia hanya berpikir jika hanya akan mendapat harta waris lalu, ...flex! Terserah dia mau melakukan apa nantinya. Tetapi, nyatanya tidak. Selama pembicaraan tersebut Axelle sudah menolak untuk mengelola dua perusahaan tersebut. Dia pikir Aksa dan Lian, yang merupakan orang paling mampu karena selama ini juga keduanyalah yang berada di perusahaan tersebut membantu Aries dan Selena. Aksa sudah menjadi wakil Selena selama dua tahun ini di perusahaan pembangunan Real Estate. Begitu juga Aliando, Lian. yang menjadi Advocad di sana membantu Aries di firma hukum yang dibangun ayahnya bersama kawan-kawannya. "Kak Axelle kenapa menolak?" tanya Aksa sambil menuangkan minuman pada gelasnya. "Itu udah wajar juga,kan. kalau Mama sama Papa pengen Kakak lanjutin usaha mereka." "Tapi, kamu juga selama ini bekerja di perusahaan itu bareng Mama. Apa kamu juga gak pengen ngurus itu perusahaan meski, aku ...anak mereka. Kalau aku gak mampu menjalankanya dan berakhir buat bangkrut bukannya percuma? Lebih baik berikan sama orang yang mampu dan bisa diandalkan." Dalam hati Aksa setuju akan hal itu tetapi, dia juga yakin jika Axelle pun sebenarnya mampu menjadi menjalankan keduanya sebagai petinggi perusahaan meski, basic-nya merupakan Pengacara tetapi, jalan berpikirnya bisa seperti pengusaha. Itu yang aksa ketahui. "Kak Axelle lebih baik jalani saja dulu ... beberapa tahun lagi akan ada Sam, yang bisa lanjutin. sekarang biar dia fokus kuliah. Lagian,kan diperusahaan itu ada aku juga Lian yang bakal bantu." "Aku, sih, gak yakin bakal banyak bantu. Di perusahaan Papa, aku, kan masih junior," kata Lian menimpali. Masih belum terdengar jawaban Axelle, dia masih berpikir panjang dengan bagaimana dirinya bisa mengurus dua perusahaan besar, yang bebannya juga pasti tidak sedikit. Belum lagi, pekerjaannya yang masih tertinggal di Adelaide, haruskah ditinggalkanya. "Hhh, baiklah! Kakak bakal pikirin hati-hati. Sekarang, jangan pikirin hal yang lain dulu belum genap tujuh hari masa kabung kita buat Mama dan Papa. Lebih baik kita banyakain doa buat mereka." "Yang Kakak ucapin itu emang bener tapi, soal kepimpinan dua perusahaan harus bener-bener Kakak pikirin bukan cuma jadi, wacana doang dan berakhir di tong sampah ... karena Kakak milih balik lagi ke luar negri dan menetap tinggal di sana," celutuk Sam tiba-tiba, dia bangun dari acara rebahannya menatap Axelle. Di tatap sedemikian rupa oleh adiknya, Axelle sedikit kikuk. Tidak  pernah terbersit hal tersebut dalam pikiran Axelle tetapi, hatinya juga jelas menolak setelah kedua orang tuanya meninggal. Tidak mungkin dia pergi begitu saja, lagi. "Kakak gak bakal lakuin hal itu, kita bakalan tetep bersama sampai masing-masing dari kita menikah dan punya keluarga masing-masing." Sam memutar bola matanya malas, bibirnya mencibir sebal. "Halah, yang duluan pergi pasti Kakak ... di sini yang paling tua, kan, Kakak. Yang pasti duluan nikah dan punya keluarga baru juga Kakak. Emang dari dulu Kakak udah gak respect sama kita." "Kamu ngomong apa, sih, Sam? Kenapa jadi gini?" "Gak tahu, ah, males!" sahut Sam sambil beranjak dari sana. "Abrisam!" panggil Axelle dengan nama panjangnya. Sekarang, bukan cuma Sam yang bangkit tapi, juga Arvin. "Hah, Kak Axelle kalau emang gak pernah nyaman lagi di sini. Kakak boleh pergi gak usah khawatir sama kita. Banyak yang bisa diandelin bukan cuman Kakak," ujarnya lalu, berjalan mengikuti Sam yang lebih dulu pergi. "Kenapa mereka?" tanya Axelle benar-benar tidak mengerti. "Apa yang salah?" Yang lain hanya bisa mengangkat bahu sama tidak mengertinya. *** Di Sore hari. Axelle, Aksa dan Lian sedang berada di ruang tengah berdiskusi kembali tentang pertimbangan apa yang harus mereka lakukan jika benar, harus Axelle yang memegang kedua perusahaan warisan orang tua mereka. Sedangkan, yang lain tengah sibuk masing-masing. Kana sibuk dengan semua catatan skripsinya. Sebentar lagi, dirinya akan jadi dokter spesialis hewan. Cita-citanya yang tidak pernah berubah untuk menjadi Dokter Hewan, karena kecintaanya pada dunia Fauna tersebut. Sedangkan, tiga bungsu Evano pun  sedang berkumpul di halaman. Berselonjoran di dalam Gazebo sibuk dengan kegiatan masing-masing. Entah itu, bermain game di ponsel, memetik gitar atau juga tidur siang di antara suara tenang mereka. "Aku bisa jadi wakil Kakak nanti, meski banyak yang harus diurus setidaknya ...Kakak bisa membagi waktu." "Aksa itu tidak mudah juga, kamu tahu bagaimana sibuknya pengacara saat mempunyai klien?" keluh Axelle menghela napas tidak berdaya, dia merasa tidak mampu memimpin dua perusahaan sekaligus jika bisa memilih. Axelle hanya akan mengambil alih perusahaan firma ayahnya, yang sama dengan basic-nya."Aksa lebih baik kamu sendiri-lah yang mengambil alihnya sementara ini sebelum Sam siap." Aksa menggeleng."Lakukan saja, Kak. Aku yakin kakak bisa sebelumnya Kakak bilang 'Jika ada Klien baru akan sibuk' di perusahaan Firma kupikir Kakak tidak akan terlalu sibuk jika tidak ada Klien berbeda di PT SLN jati kita ini." "Ya, Kak Aksa jangan katakan hal seperti itu! Pekerjaan di mana pun  akan selalu ada, terkait itu ada Klien atau tidak. Memangnya Kakak pikir perusahaan Papa bisa sebesar ini karena tidak ada klien gitu?" "Ok!ok! aku salah." Aksa angkat tangan dengan Lian. Anak dengan kepintaran di atas rata-rata itu lebih tidak bisa di sanggah daripada menyanggah perkataan Axelle. "tapi, tetap saja akhirnya Kakak harus bisa membagi waktunya untuk dua perusahaan ini." "Iya, Kak Axelle gak usah khawatir karena biasanya bisnis klien yang datang akan dibagikan pada pengacara-pengacara lain yang dirasa mampu dan gak sepenuhnya pemimpin yang mengurus... yah, kecuali orang-orang penting yang sulit ditangani biasanya mereka diurus oleh Papa dulu." "Aku gak tahu kalian memudahkan sekali urusan seperti ini." Aksa dan Lian saling memandang dan tersenyum, memang mereka tidak tahu apa yang akan dialami Axelle karena bukan mereka yang merasakannya bahkan, untuk membayangkannya saja kedua tidak berniat melakukannya. "Den Lian!" panggil Mbak Anik tiba-tiba saja datang sedikit tergesa. "Bakalan ada tamu yang dateng, Mbak gak sengaja liat dari jendela." "Memangnya siapa?" "Siapa lagi, Den. Nona Mawar!" Lian memukul keningnya, lalu tergesa berdiri sambil bicara pada Mbak Anik. "Ya, ampun ... aku sedang malas liat dia. Bilang aja aku tidur, sedang mengurung diri dan gak mau diganggu dulu." "Yah, yah... kenapa sama tamu gitu? Kalo denger dari nama-ny itu pasti cewe,kan? Pacar kamu? Kenapa gak mau ditemuin?" tanya Axelle beruntun. "Dia bukan pacar aku, ceritanya panjang ... pokoknya Mbak Anik~ bilang aja aku gak mau diganggu." Mbak Anik mengangguk dan segera berjalan kembali ke ruang tamu menunggu tamu, yang dalam hitungan detik akan datang mengetuk pintu rumah mereka. Lian sendiri sudah melarikan diri, pergi ke kamarnya di lantai atas. Giliran Axelle melihat Aksa. "Apa kamu juga sudah punya pacar?" "Memangnya kenapa?" jawab Aksa dengan pertanyaan lain. "Jangan bilang Kakak masih belum punya pacar sampai sekarang?" "Oh, Sialan! Siapa bilang?!" Mata Axelle melotot, jelas tidak terima apa yang dikatakan Aksa meski, nyatanya sebagian benar. Aksa tertawa puas dan segera melarikan diri setelah melihat tanggapan Axelle. ** "Jadi, Aliando gak mau turun dan ketemu saya, Mbak?" "I-iya, Non...sejak kemarin. Bukan cuma Den Lian aja, yang lain juga mereka masih sangat sedih," jawab Mbak Anik dengan raut wajah tak enak hati. Sebenarnya, dirinya sedikit bingung dengan Lian, kenapa dia selalu menolak kehadiran gadis secantik Mawar. "Saya nyesel sekali, Mbak. gak di samping Lian pas hari itu ...kalau aku gak pergi mungkin, aku gak bakalan telat tahu tentang kepergian Tante sama Om," gumam Mawar sedih dengan mata memerah. Dia benar-benar sedih, beberapa waktu yang lalu dia masih sempat shoping bersama Selena, 'Camer'-nya itu. "Gak ada yang menduganya juga, Non." Mbak Anik juga turut menunduk sedih, air matanya juga tidak tahan terjatuh setiap, mengingat kedua majikannya. "Semua orang sedih hiks, Tuan dan Nyonya orang baik...duh, saya juga jadi kangen Nyonya." "Kenapa kalian menangis?" Axelle baru saja datang menghampiri ketika mendengar suara tangisan. "Den Axelle." Mbak Anik langsung berusaha menghentikan tangisannya."Maaf, barusan kita jadi sedih ingat Nyonya dan Tuan." "Tapi, jangan sampai didenger yang lain juga, Mbak!" balasnya, tidak senang, khawatir adik-adiknya masih akan sangat sedih jika teringat kedua orang tua mereka lagi. "Maaf, Den." Mbak Anik mengangguk dan menoleh pada Mawar, yang juga tengah menatap Axelle dengan mata merahnya ah, bukan cuma itu tapi, juga kini seluruh wajahnya sangat memerah. Axelle juga sebenarnya tengah menatap wanita berambut hitam tergerai itu sedikit penasaran, saat wajahnya terangkat Axelle bisa melihat mata, hidung dan bibirnya memerah tipis jelas sekali dia juga sedang menangis barusan. Tiba-tiba saja sesuatu mencuat dalam benaknya. 'Cantik!' "Dia, Non Mawar, Den ... yang nyari Den Lian." "Aaah, ya." Axelle bingung harus menanggapinya seperti apa tetapi, gadis itu yang sedih. Dia jadi tak enak hati. "Kalau gitu panggil Lian-nya, kasihan jangan dibiarin nunggu." "Gak papa, Bang, Mas atau Kakak . nih.. aku harus panggil apa?" Mawar langsung berdiri, mencegah orang yang entah siapa, baru dilihatnya tetapi, Mawar yakin dia Axelle sulung keluarga Evano. Yang sudah cukup sering dia lihat difoto keluarga mereka tetapi tak disangka penampilannya lebih tampan daripada di foto. 'Gila, gak nyangka dia lebih cakep dibanding di foto!" batinnya seakan tengah menjerit tak tahu malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN