Satu minggu berlalu begitu saja. Semua orang telah menggunakan hari-hari itu untuk menghabiskan waktu bersama dalam masa berkabung. Di saat seperti itu juga Axelle mencoba mendekatkan kembali hubungannya bersama keenam adiknya.
Bahkan, Axelle akhirnya tahu di mana letak kesalahannya terakhir kali saat Arvin dan Sam terlihat marah padanya. Semuanya hanya gara-gara sebuah telepon rekan kantornya di Adelaide, yang jelas memintanya untuk kembali bekerja. Mereka berpikir jika Axelle setelah masa berkabung berakhir, dirinya akan segera pergi lagi. Sampai mereka juga berpikir dirinya tidak peduli dengan wasiat kedua orang tua mereka yang jadi tanggung jawabnya.
Tetapi, Semuanya salah. Tidak pernah ada yang bisa menebak hati juga pikiran seseorang. Axelle sebenarnya sudah berpikir matang-matang dan lebih memilih untuk tinggal bersama lagi dengan mereka. Axelle sangat tahu tanggung jawabnya besar dan erat untuk bisa mengelola dua perusahaan sekaligus. Jadi, tidak mungkin hal tersebut diabaikannya lagi apalagi, dari sanalah perjuangan kedua orang tuanya berasal.
Yang utama adalah perusahaan ibunya, Selena. SLN Jati tbk. yang, merupakan warisan kakeknya yang dirintis puluhan tahun lalu. Setelah ini, Axelle tidak berniat kembali ke Adelaide. dia hanya mengirimkan mereka email pengunduran dirinya lalu, menyuruh teman dekatnya di sana untuk memaketkan semua hal penting yang tertinggal dan membagikan juga membuang sebagian hal lainnya.
"Aku gak tahu apa tapi, rasanya aku melupakan sesuatu yang penting," gumam Axelle saat dirinya sedang bercermin. Mendandani dirinya sendiri, hari ini akan jadi hari pertamanya melangkah ke perusahaan.
Memiliki tubuh tinggi dengan badan proposional Axelle lebih tampak gagah dengan setelan jas hitam, dasi berwarna dark blue lengkap dengan penjepitnya serta kemeja putih bersih, ditambah aksesoris jam tangan mahal serta sepatu pentofel mengkilap. Satu hal lagi yang paling penting adalah wajahnya yang tampan menjadi penunjang no.1 bagi penampilannya.
"Kakak sudah sangat tampan, butuh berapa banyak waktu lagi buat bersiap," ungkap Lian yang tiba-tiba datang tanpa mengetuk pintu pula.
"Berisik, aku sudah siap!" sahut Axelle sambil menoleh dan berjalan ke arah Lian, yang berada di balik pintu sambil memandanginya.
"Wow, Kakak benar-benar tampan sempurna." Lian mengacungkan jempolnya sambil mengedip centil.
Axelle hanya tersenyum bangga, mengusap lembut rambutnya yang sudah tertata rapi "Oh, Kakakmu ini memang sudah ditakdirkan seperti ini sejak dulu ... sedikit merepotkan memang tapi, menyenangkan selalu terlihat tampan."
Alindo tersedak air liurnya sendiri, awalnya dia hanya sekadar memuji tidak tahu jika, setelah mendengar kenarsisan kakaknya yang sudah tingkat dewa itu semua organ tuuhnya ingin meloncat semua dan hal itu jelas tidak baik, So. lebih baik dia mengangguk setuju saja apa yang dikatakan kakaknya.
Di hari ini, adalah langkah awal bagi Axelle untuk mewujudkan amanat kedua orang tuanya. Melanjutkan warisan perusahaan kedua orang tuanya agar semakin maju ditangannya. Langkah pertama yang diambil Axelle adalah memasuki perusahaan firma Aries, ayahnya.
Sebelumnya untuk memegang jaatan Direktur utama menggantikan jabatan ayahnya, hari ini dirinya harus bisa meyakinkan pemegang saham yang juga pendiri perusahaan firma tersebut dalam sebuah rapat agar jalan ke depannya bisa ia tangani dengan mudah selanjutnya.
*
Di dalam ruang rapat yang menghabiskan waktu berjam-jam akhirnya berhasil menyatukan seuah kesepaatan. Seelumnya para pengacara senior itu, yang merupakan pendiri dan pengacara berpengalaman berunding cukup alot, tidak sedikit yang meragukan kredibilitas Axelle sebagai pemimpin perusahaan mereka meski, dia adalah anak Aries Evano pendiri utama firma tersebut.
Namun, akhirnya setelah banyak argumen Axelle mampu mengatasi mereka dengan kemampunnya berbicara dan akan segera membuktikan kemampuannya sebagai pemimpin selanjutnya.
"Akhirnya, selesai juga," ujar Axelle seraya membanting dirinya di kursi Direktur. Mulanya ini kursi ayahnya. Matanya menjelajah sekitar sepertinya belum ada yang berubah dan Axellle pun tidak berniat segera merubahnya.
Di sana masih terpampang foto besar keluarga mereka juga rak-rak buku serta rak beragam penghargaan yang di dapat ayahnya juga perusahaan. Di atas meja juga terdapat foto-foto lain yang paling menarik perhatiannya foto kedua orang tuanya bersama pria tua yang sedang duduk dikursi roda. Jelas, itu bukan Kakeknya dari kedua belah pihak kerena mereka ssemua sudah meninggal dunia.
"Kakak, sedang lihat apa?" Lagi-lagi Lian datang tiba-tiba dan tanpa mengetuk pintu.
Kali ini Axelle tidak bisa tidak menegurnya, mereka bukan sedang berada di rumah. "Ketuk pintunya dulu sebelum masuk, Ba
Pak Aliando ... juga panggil aku dikantor dengan sebutan, Sir."
"No, Sir. Di sini Indo," sahut Lian dia mengerti maksud Axelle segera. yah,seharusnya panggilan keduanya berubah saat berada di kantor. menjaga hubungan profesionalisme keduanya. "Ok, Maafkan saya, Pak Axelle."
"Ok! Ada apa ke sini?"
"Tentu aja mau ngucapin selamat yang tadi, keren sekali!"
Axelle tersenyum puas juga. "Oh, ya, kamu tahu siapa ini?" tanyanya sambil menyodorkan frame foto yang sebelumnya masih di pegangnya.
Aliando mendekat dan tanpa perlu seksama mengamati dia tahu orang itu. "Ini Pak Jared Callie, dia juga Kakeknya Mawar. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa...hanya heran saja ada fotonya di sini."
"Papa sama Mama memang sangat deket sama Pak Jared. Apa mereka di sana juga ketemu lagi gak ,ya?" Lanjut Lian berbicara omong kosong sambil meletakkan kembali frame foto tersebut ke tempatnya.
"Oh, gitu, ya. Kayaknya deket banget ya, sampai mereka mau jodohin kamu sama si Mawar, itu, kan?"
Mata Lian berputar malas. "Aku gak mau sama dia."
"Tapi, gimana donk? Dia mau tuh, sama kamu," sanggah Axelle bergurau. "Padahal dia cakep,loh, kenapa gak mau?"
"Karena aku gak mau sama dia."
"Hm, terus kenapa masih berhubungan sama dia. Jangan ngasih banyak harapan kalau gak minat, jauhi saja. Kasihan anak orang."
"Mau-nya gitu tapi,... si Mawar ini yang keranjingan banget ngejar-ngejar."
"Hhh..bo'ong banget. Dia ngejar kamu pastinya udah kamu pelet kali. Iya, kn?"
"Hadeuh, bukan pelet kali ... ini tuh, emang resiko orang ganteng."
Giliran Axelle yang sekarang mual mendengr kenarsisan adiknya. "Uhw, sangat narsis."
Lian nyengir kuda, "Aku,kan belajar dari Kakak!" Lian sama sekali tidak kebaratan dengan sebutan narsis tersebut. Memang benar yang terlebih dulu mengajarinya buat sepercayadiri seperti ini jika bukan Axelle sendiri.
**
Mawar berdiri di lobi perusahaan firma menunggu Aliando, bersandar pada meja resepsionis yang memanjang lebar. Tidak jauh dari sana ada lift, hingga saatnya nanti dia bisa langsung melihat siapa saja orang yang masuk dan keluar perusahaan.
Mawar sudah lebih dari tiga minggu lalu tidak bisa bertemu dan jalan dengannya. Jika tak salah dia ingat kencan terakhir mereka adalah saat pesta ulang tahun Amelia, sahabatnya yang juga kenalan Lian semasa kuliah.
Kemudian yang paling mengkhawatirkan saat kedua orang tua Aliando meninggal. Di sana Mawar sangat kecewa tidak bisa tinggal di sisinya menemaninya melewati kesedihan diawal masa itu makanya, di hari ini Mawar sangat bertekad akan menunggui Lian mengajaknya makan siang bersama agar dia sedikit saja melupakan kesedihannya.
Tetapi, sudah satu jam lewat dari waktu makan siang Mawar belum melihat sosok pria itu. Mendesah kesal, dia melirik seorang pegawai wanita, yang bekerja sebagai resepsionis tak jauh dari tempatnya berdiri. Mawarnya sepertinya cukup hafal nama-nama mereka saking dia keranjinan nongkrong di tempat ini. "Hey, Mbak Mer, yakin nih, belum lihat kalau Pak Aliando keluar dari kantornya?"
"Belum, Kak!" jawabnya sopan dengan senyuman yang tidak sampai mata, membuat Mawar tambah berdecak kesal saja. Pegawai itu pasti jelas bosan ditanyainnya terus. "Kenapa gak ditelepon aja, Kak, Pak Aliandonya. "
"Kalau bisa saya gak bakalan nungguin di sini malah mungkin udah lari ke atas mengetuk pintu kantornya..., "cerocos Mawar sambil memutar bola matanya. Sudah untung dia tidak berdiri di luar sana, di bawah sejak kejadian kemarin dulu.. --yang membuat kesal Aliando-- dan akhirnya dirinya tidak diperbolehkan lagi untuk ke lantai atas menemui pria itu di ruangannya.
Jadilah, Mawar hanya bisa menunggunya di lobi. Berdiri, duduk atau jalan kesana kemari hanya untuk menemui pria itu. Semua orang di sana sudah tidak aneh lagi dengan kehadirannya di sana. Yang membuat Mawar acuh tak acuh juga.
Baru saja kaki Mawar melonjak senang, seperkian detik saja dirinya merasakan kesenangan melihat sosok yang hampir mirip dengan pria-nya tetapi, setelah membuka matanya lebar pria itu bukan dia. Baru setelah Axelle hampir melewatinya begitu saja, Mawar segera keluar dari lamunan sesaatnya.
"Kak Axelle!" serunya percaya diri dan jelas sangat sok akrab. Mawar berjalan tegak ke arahnya, meninggalkan dirinya yang tadi kuyu sehabis kesal menunggu.
Axelle cukup terkejut mendengar suara panggilan tersebut, sudah bertahun-tahun rasanya lepas dari perkuliahan tidak ada seorang wanita lagi yang memanggilnya dengan sebutan. 'Kak', yah, terkecuali keenam adiknya yang masih sampai sekarang.
Mawar sudah berdiri di depan Axelle dengan senyuman mahalnya, yang ia pelajari di kelas etika. "Kak Axelle, mau pergi ke mana?"
"Mawar, ah," ucap Axelle yang merasa tercerahlah karena baru ingat siapa wanita yang berdiri di depannya.
"Iya," balas Mawar yang kini sedikit jutek karena mendengar nada bicara Axelle yang seolah baru mengingatnya. 'Nyebelin, masa dia gak inget sama gue yang cantik kayak gini!' gemanya dalam hati.
"Ngapain kamu di sini?" giliran Axelle yang bertanya, sedikit heran melihat Mawar tengah hari seperti ini berada di perusahaan.
"Aku mau ketemu Lian tapi, dia belum turun juga dari kantornya belum lagi ponselnya juga mati gak bisa dihubungin," terangnya sangat jelas.
'Bener aja nih, cewe ternyata ngejar-ngejar tuh, bocah."
"Lian lagi banyak kerjaan dia gak bakalan turun. Kamu nungguin buat makan siang barengkan?Sebaiknya ,kamu pulang aja. Tadi, kita udah makan siang bareng di atas."
Segera setelah mendengar berita itu wajah cantik Mawar menjadi gelap, sudah hampir dua jam menunggu dan hasilnya hanya seperti ini. "Aah, jadi gitu!"
Salah satu alis Axelle terangkat sebelah, dia mengira Mawar sudah menunggu Lian cukup lama ada perasaan kasihan di wajahnya jadi Axelle menepuk bahunya. "Kasihan, pasti sudah nungguin Lian lama, ya, coba lagi nanti telepone anak itu dulu buat janji. Sayang sekali,kan waktunya terbuang kayak gini. Yaa, udah sekarang pulang aja! Lian belum beres kerja jangan di ganggu. Kamu, juga Mawar jangan lupa sempetin makan siang dulu. OK, kalau gitu aku pergi duluan,yah."
Setelahnya Axelle benar-benar pergi, meninggalkan Mawar dibelakangnya yang berwajah suram dengan pandangan masih lurus ke belakang kepalanya.
Di sisi Mawar mulutnya hampir saja terbuka lebar, menganga menatap tidak percaya pada sosok pria yang sebelumnya berdiri tepat di depannya. Tadi saja hatinya hampir berdebar hebat bahkan, akan melelehkan saat bahunya di sentuh begitu saja tetapi, setelah mendengar kata-katanya tangan Mawar ingin rasanya langsung memukul wajah tampannya.
'Dasar pria nyebelin!! Bisa-bisanya ngomong kayak gitu dengan wajah sok perhatian lagi. Kalau bukan kakaknya, Lian. Aku udah injek-injek tuh, mulut, Sialan!' maki Mawar segenap jiwa raga setelah hanya bisa mengumpat dalam hati semoga tidak ada yang menertawakannya meski, ada pun Mawar harusnya sudah terbiasa juga.
Menarik napas panjang Mawar menghempaskan kekesalan juga kekecewaannya, segera setelahnya ia meninggalkan pelataran lobi menaiki mobilnya meninggalkan perusahaan itu menuju tempat terbaik yang bisa melepas penatnya juga uangnya. Mall.
Sebagai seorang Sosialita, urusan Mawar hanya berada di kisaran merawat tubuhnya, berbelanja dan yang terakhir menangkap calon kekasih sejatinya sampai akhir masa. Itulah mimpinya hidup bahagia seperti dalam dongeng.
"Lian, Lian... aku gak tahu harus pakai cara apalagi buat narik perhatian kamu," gumam Mawar sambil menatap jauh pada jalanan yang tengah dilaluinya.
Sudah sangat lama sekali Mawar memperjuangkan perasaannya mungkin tepatnya ketika dirinya duduk di bangku kuliah. Hatinya sudah untuk Lian, Aliando Evano yang menjerat hatinya membuatnya hanya terpikat dan tertuju padanya tidak ada yang lain meski, banyak pria lain yang mengejarnya.
Dalam kenangan Mawar, ia masih ingat bagaimana hatinya terpikat pada pesona anak keluarga Evano itu, sampai mengatakan ia sungguhan jatuh cinta pada pemuda ramah dan berlesung pipit tersebut. Belum lagi dengan prestasinya yang mengagumkan di masa perkuliahan.
Namun lambat laun Mawar saat ini hanya bisa berpikir ulang tentang perasaannya yang tidak pernah Lian terima. Terang saja, tak pernah ada kemajuan dalam hubungan keduanya.. Status mereka hanya teman atau juga bisa si Pengejar dan si Target, atau seperti juga anjing dan Kucing.
'Sialan! Gue bukan serendah anjing. Anjing aja masih banyak yang ngerawat dan di sayang
Perasaaan sedih dan kecewa tengah berkecamuk ketika sampai hari ini pun dia belum bisa menaklukan hatinya padahal semuanya sudah diupayakannya.