“Kalau aku juga ikut merebut Hiro senpai, gimana?” Friska melontarkan pertanyaan yang membuat Dira langsung berdiri dengan dahi yang berkerut.
“Maksud kamu apa Fris?” tanya Dira dengan nada sedikit marah.
“Aku juga mau merebut Hiro. Gak hanya dari pacarnya, tetapi juga dari kamu.” Friska memperjelas pernyataannya tentang merebut Hiro.
Dira terkejut tak menyangka jika sahabatnya juga menaruh hati pada lelaki yang sama. Sesaat atmosfer diantara kedua sahabat itu menjadi berbeda. Seperti ada kilat yang menyambar-nyambar diantara mereka. Apakah persahabatan mereka harus terpecah hanya karena memperebutkan seorang lelaki?
***
Dira dan Friska masih saling berhadapan dan saling menatap dengan tajam. Dira tidak ingin mempercayai jika Friska akan merebut lelaki yang dia sukai. Friska pun sudah tidak ingin menutupi perasaannya lagi.
“Friska, kamu kan sahabat aku. Kamu juga sudah punya Putra senpai. Kenapa kamu tega punya pikiran merebut kak Hiro dari aku?” tanya Dira pada sahabat baiknya itu.
Friska menghela nafas sejenak lalu dia menjawab pertanyaan Dira. “Aku kan sudah bilang sama kamu tadi Ra, aku pacaran sama Putra senpai itu karena sebuah ketidaksengajaan. Aku juga suka sama Hiro senpai.” Tanpa keraguan sedikit pun Friska memberikan jawaban pada Dira.
“Lagipula, kamu juga mau merebut Hiro senpai dari pacarnya kan? Yasudah sekarang kita bersaing aja, Ra. Kita sama-sama rebut Hiro senpai dari pacarnya, lalu kita biarkan Hiro senpai yang milih. Dia lebih menginginkan aku atau kamu.” Friska melanjutkan perkataannya.
Dira tak bisa membalas ucapan Friska. Karena Dira tidak punya kepercayaan diri untuk bersaing dengan sahabat baiknya itu. Selain karena tubuh Dira yang tidak seideal Friska, Dira juga tidak akan pernah merasa senang jika harus bersaing dengan sahabatnya. Tidak mungkin juga Dira harus mengalah pada Friska, karena Hiro adalah cinta pertama Dira.
Tok.. tok.. tok.. “Dira, ini mas Dirga bawain roti bakar untuk kamu. Sama teman kamu juga.” Dirga, kakak dari Dira mengetuk pintu dan memanggil Dira.
“Dira.. Lama banget kamu buka pintu, Ra? Keburu dingin ini roti bakarnya.” Tok.. tok.. tok.. Dirga kembali mengetuk pintu karena Dira tidak menjawab Dirga sama sekali.
Dira pun melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar. Dibukakan pintu yang sedari tadi diketuk oleh Dirga.
“Lama banget sih kamu, Ra? Ini roti bakarnya dingin nanti. Tuh makan bareng sama Friska ya!” Dirga menyodorkan sebuah kantung plastik yang didalamnya berisi roti bakar yang dibungkus rapih dengan kotak mika.
“Gak usah repot-repot Mas! Aku sudah mau pulang kok!” Friska langsung mengambil tas miliknya yang dia letakkan di sudut kamar Dira. Dia pun berjalan melewati Dira dan Dirga keluar dari kamar.
“Loh Friska kok kamu mau pulang sekarang? Kan kita belum selesai bicara!” Dira menggapai lengan Friska agar menghentikan langkahnya.
Friska pun menghentikan langkah kakinya. Namun dia tidak ingin membalikan tubuhnya. Dia tidak ingin melihat wajah Dira. Karena dia akan menarik kembali keputusannya yang ingin bersaing dengan sahabatnya itu jika dia melihat wajah lugu Dira.
“Ra, yang tadi aku bilang itu gak bercanda ya. Kamu harus bersiap untuk bersaing dengan aku.” Ucap Friska yang dilanjutkan dengan melepaskan lengannya dari genggaman Dira. Friska pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari tempat tinggal Dira dan kakaknya itu.
Dirga yang tak mengetahui apapun mulai kebingungan dengan apa yang tadi diucapkan oleh Friska. Bersaing? Apa yang dimaksud Friska dengan bersaing? Apa mereka sedang bertengkar?
Dira menghela nafas dengan lesu. Raut wajahnya juga terlihat seperti orang yang kebingungan. Dirga penasaran dengan apa yang terjadi diantara kedua gadis tersebut. Setahu Dirga, Dira dan sahabatnya itu selalu akur dan tak pernah bertengkar.
“Dira, ini roti bakarnya jadi mau dimakan?” tanya Dirga berbasa-basi.
“Duuhh Mas Dirga ini malah ngomongin roti bakar sih Mas? Gak tau apa kalau Dira lagi galau begini?” Dira malah memarahi Dirga yang seperti tidak tahu situasi dan malah membicarakan roti bakar.
“Kok jadi Mas Dirga yang dimarahi sih Ra? Mas Dirga baru datang loh. Terus kalian berdua malah ngomong saing-saingan gitu. Memangnya kalian lagi lomba apa sih pakai saingan segala?” Dirga langsung masuk ke kamar Dira dan duduk di ranjang empuk milik adiknya itu.
Melihat kakaknya sudah sangat nyaman duduk di atas ranjangnya, Dira pun menghampirinya dan ikut duduk bersebelahan dengannya. Raut wajah Dira masih belum berubah, masih dengan kebingungan dan kesedihan. Dirga pun mengeluarkan roti bakar dari dalam kantung plastik yang dibawanya agar suasana hati Dira berubah menjadi lebih baik. Dibukanya kotak mika yang membungkus roti bakar tersebut. Harum roti bakar yang diolesi mentega dengan isian mesis cokelat dan keju parut pun langsung menyelinap ke dalam hidung Dirga dan Dira tanpa permisi. Seketika mata Dira pun melirik perlahan ke roti bakar yang sengaja diletakan oleh Dirga di samping Dira. Seketika itu juga cacing di perut Dira langsung berteriak menginginkan roti bakar yang terlihat sangat menggiurkan. Bahkan Dirga harus menahan tawanya karena melihat Dira yang sudah menjilati bibirnya karena sudah tak tahan lagi menahan godaan roti bakar yang dibelinya itu.
“Kamu gak mau kan ya, Ra? Mas Dirga makan yaa roti bakarnya!” Dirga menyomot potongan roti bakar tersebut dan memasukannya ke dalam mulutnya. Mata Dira kini fokus pada mulut Dirga yang sedang mengunyah potongan roti bakar cokelat keju.
“Wahh enak banget ini, Ra! Mas Dirga habisin ya Ra, mubazir kan roti bakar seenak ini gak ada yang makan.” Dirga hendak menyomot lagi roti bakar dari tempatnya, namun dengan sigap Dira langsung mengambil semua roti bakar yang ada dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman.
“Lohh roti bakarnya mau dikemanain, Ra? Mas Dirga masih mau. Seriusan itu enak banget loh Ra!” kata Dirga dengan senyum jahilnya.
Tanpa menjawab sang kakak, Dira langsung berlari ke ruangan lainnya dengan membawa roti bakar tersebut. Dira sudah tidak tahan dia juga menginginkan roti bakar itu.
***
Malam berganti kembali dengan pagi. Dirga sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Dia bekerja sebagai seorang pramuniaga di sebuah supermarket.
Setelah merasa sudah cukup rapih, Dirga pun langsung bergegas ke luar rumah untuk memanaskan motor matic yang akan dibawanya. Mendengar suara motor yang dinyalakan, Dira mempercepat kegiatannya merapihkan buku-buku yang akan dia bawa kuliah.
“MAS DIIRRGAAA.. ANTERIN DIRA DOOONG..” teriak Dira sambil berlari keluar dari rumahnya.
“Ssttt!! Apa sih Ra kamu teriak-teriakan kayak anak kecil gitu!” dengan kesal Dirga menjawab Dira yang kini sudah sampai di hadapannya.
“Hehehehe kan Dira takut ditinggal sama mas Dirga. Dira udah tela nih mas. Yuk mas kita berangkat!” digoyang-goyangkan lengan Dirga agar dia segera mengantarkan Dira ke kampus.
Dirga sangat menyayangi adiknya. Dia pun akan langsung menuruti kemauan adiknya itu. bagi Dirga, Dira masih tetap adik kecilnya yang tak kunjung dewasa. Dirga akan terus memanjakannya.
Kedua kakak beradik tersebut kini saling berboncengan di atas motor matic dan membelah jalanan Jakarta di pagi hari. Jalanan sudah mulai padat walau masih pukul 8 pagi. Dirga menarik gas di tangan kanannya agar bisa lebih cepat sampai ke kampus adiknya, karena Dirga juga harus sampai di tempat kerjanya tepat waktu.
Akhirnya mereka tiba di depan gerbang kampus tempat Dira menempa ilmu. Dira langsung menuruni motor kakaknya.
Tiiiinnn!! Suara klakson berbunyi nyaring dan memengangkan telinga. Dira dan Dirga langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara klakson tersebut. Tubuh Dira langsung menegang melihat siapa yang membunyikan klakson barusan.
Dirga menuruni motornya dan menghampiri Hiro yang tadi membunyikan klakson sangat nyaring. Dira mulai khawatir jika kakaknya akan memarahi Hiro. Tetapi dia juga tidak berani menghentikan kakaknya itu.
“Haduuhh mas Dirga kalau marah kan serem banget. Kak Hiro juga ngapain sih klakson-klakson kenceng banget?” gumam Dira. Dia semakin tegang karena satu langkah lagi Dirga akan sampai tepat di hadapan Hiro.
“Yoo Hiroo! Akhirnya kita ketemu disini bro!” sapa Dirga.
“Haha iya bro, gue kira siapa ehh gak taunya elu!” Hiro membalas sapaan Dirga. Bahkan mereka saling berjabat tangan dan juga berpelukan ala lelaki.
Dira melongo kebingungan. Dia juga mengedip-ngedipkan kedua matanya melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya itu. Hiro dan kakaknya saling menyapa dan berpelukan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kini? Dira benar-benar tidak tahu apa-apa dan hanya bisa melongo dengan mulut sedikit terbuka.
“Lu ngapain di sini?” tanya Hiro sambil melepaskan pelukan Dirga.
“Gue nganterin adek gue. Tuh orangnya!” Dirga menolehkan kepalanya pada Dira yang masih melongo.
“Dia adek lu? Serius lu?” Hiro tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Seriuslah! Sebentar gue kenalin dulu.” Dirga langsung membalikan tubuhnya dan memanggil Dira agar menghampirinya.
Hiro hanya tersenyum lebar menunggu reaksi Dira selanjutnya saat Dirga memperkenalkannya.
“Nah Ra sini kenalin dulu. Ini Hiro, temannya mas Dirga.” Dirga mengenalkan Hiro pada Dira.
Hah? Apa? Teman? Sejak kapan? Dira bertanya-tanya di dalam hatinya.
“Gue udah kenal sama adek lu ini kok. Iya kan Dira?” Hiro pun melirik ke arah Dira.
“Eh ehmm iya mas, Dira udah kenal sama kak Hiro.” Jawab Dira dengan suara pelan.
“Jadi kamu tuh adeknya Dirga? Ya ampun dunia sempit banget sih! Dirga tuh teman sekolah aku sama Putra. Sama Naurin juga.” Dira mendengar nama Naurin lagi dari mulut Hiro. Hal itu membuat hati Dira merasa sedikit nyeri.
Dira tidak menyangka jika kakaknya adalah teman sekolah Hiro dulu. Tak hanya Hiro, tetapi juga Putra dan Naurin. Itu artinya Dirga juga sempat mengenal Naurin. Langsung terbesit di pikiran Dira jika dia akan mencari tahu tentang Hiro dan Naurin. Walau hatinya harus merasakan pedih terlebih dulu nantinya saat mendengar kisah cinta mereka, tetapi Dira tetap harus mencari tahu tentang Naurin.