“Jadi kamu tuh adeknya Dirga? Ya ampun dunia sempit banget sih! Dirga tuh teman sekolah aku sama Putra. Sama Naurin juga.” Dira mendengar nama Naurin lagi dari mulut Hiro. Hal itu membuat hati Dira merasa sedikit nyeri.
Dira tidak menyangka jika kakaknya adalah teman sekolah Hiro dulu. Tak hanya Hiro, tetapi juga Putra dan Naurin. Itu artinya Dirga juga sempat mengenal Naurin. Langsung terbesit di pikiran Dira jika dia akan mencari tahu tentang Hiro dan Naurin. Walau hatinya harus merasakan pedih terlebih dulu nantinya saat mendengar kisah cinta mereka, tetapi Dira tetap harus mencari tahu tentang Naurin.
“Dirga, ngobrol dulu yuk di kantin sama gue! Gue traktir sarapan deh!” Hiro mengajak Dirga agar ikut dengannya. Hiro ingin sedikit bernostalgia dengan Dirga, seperti membicarakan masa-masa sekolahnya dulu.
“Mas Dirga mau ngobrol sama kak Hiro kan? Dira duluan ya mas! Daahh..” Dira memberikan helm yang tadi digunakannya pada Dirga lalu melangkah menjauh dari kedua lelaki tersebut.
Tiba-tiba Dira menghentikan langkahnya dan berbalik lagi menghampiri Dirga. “Mas, kan mas Dirga masuk shift pagi. Jangan kelamaan ngobrolnya nanti malah telat! Udah yaa mas, dadaahh..” Dira berbalik kembali dan melangkah semakin jauh dari Dirga dan Hiro.
“Dirga, itu adek lu kok posesif banget gitu? Kayak gue mau ngerebut lu dari dia aja.” Pertanyaan Hiro dijawab dengan sebuah senyuman dari Dirga.
“Kok lu malah senyum-senyum gitu sih! Lu gak suka sama adek sendiri kan?” Hiro menatap Dirga dengan tatapan aneh. Menyangka Dirga menaruh hati pada adiknya sendiri.
“Gila lu Ro! Udah ah, nanti gue telat kayak apa yang Dira bilang tadi.” Dirga menepuk pundak Hiro pelan kemudian kembali ke motor yang diparkir sembarangan di depan gerbang kampus.
Dirga menaiki motornya dan memakai helm miliknya. Dia menarik gas di tangannya pelan hingga motornya sampai tepat di sebelah motor Hiro. “Kamu masih belum bisa ngelupain Naurin? Dia sudah tenang di alamnya, jadi sebaiknya kamu move on, Ro!” ujar Dirga yang kemudian berlalu meninggalkan Hiro.
Sejenak Hiro memikirkan perkataan Dirga. Naurin sudah tenang di alamnya? Lalu Hiro tersenyum simpul dan mengendarai kembali motornya menuju ke halaman parkir kampus. Dirga tidak mengetahui jika Naurin masih tetap ada menemaninya.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Naurin yang tiba-tiba hadir di belakang Hiro.
Hiro hanya menggelengkan kepalanya dan memarkirkan motornya di tempat yang tersedia. Dia membuka helm dan menyangkutknnya di kaca spion motornya.
“Kamu pasti mikir Dirga gak tahu kalau aku masih ada disini nemenin kamu kan?” Naurin bisa membaca pikiran Hiro dengan tepat.
“Gak ada yang tahu Rin kalau kamu tetap setia nemenin aku.” Hiro menjawab Naurin sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang Dosen. Hiro ingin mengajukan revisi skripsinya pada dosen pembimbingnya. Naurin tidak membalas perkataan Hiro dan hanya berjalan membuntuti Hiro.
***
Dira berjalan cepat memasuki ruang kelas dan mencari kursi kosong yang bisa dia tempati. Kelas sudah akan segera dimulai. Mata Dira sempat melirik ke arah Friska saat dia melewatinya. Seolah tak menghiraukan kehadiran Dira, Friska berlagak menulis di bukunya. Entah apa yang dia tulis di sana. Tetapi Dira yakin jika Friska tidak sedang menulis sesuatu yang penting.
Tak lama setelah Dira menduduki kursinya, dosen yang mengajar pun masuk ke dalam ruangan dan akan segera memulai kelasnya.
“Huuff untung aja tepat waktu.” Gumam Dira dengan suara sangat pelan.
Dira mengeluarkan buku dan juga tempat pensil ke atas mejanya. Tiba-tiba teman yang duduk di sebelah Dira memberikan secarik kertas padanya.
“Apaan nih?” tanya Dira saat menerima secarik kertas dari teman sebelahnya.
“Gak tau, itu dioper dari sana.” Jawab teman yang duduk di sebelah Dira.
Dira melihat kertas yang diterimanya, lalu terlihat ada tulisan di kertas tersebut.
“Mulai hari ini kita udah jadi rival ya.. Kita buktiin siapa yang pantas mendapatkan Hiro senpai.”
Mata Dira membuka lebar melihat isi yang tertulis di secarik kertas tersebut. Kemudian dengan cepat Dira menolehkan kepalanya ke arah Friska. Tampak Friska sedang menatap Dira dengan senyum sinisnya. Dira tak menyangka jika sahabatnya itu serius ingin ikut memperebutkan Hiro.
Waktu berjalan dengan cepat. Kelas Dira sudah selesai. Dia melihat Friska yang sudah hendak pergi meninggalkan ruangan. Dengan sigap Dira mengejar Friska dan menarik tangannya.
“Fris, aku mau ngomong sama kamu!” ucap Dira.
“Mau ngomong apa lagi? Kalau kamu cuma mau ingetin aku udah punya pacar, aku udah bilang ya kalau aku sama Putra itu pacaran karena ketidaksengajaan.” Friska menarik kembali tangannya.
“Bukan itu Fris.”
“Terus? Kalau kamu nyuruh aku buat gak ikut ngerebut Hiro senpai, aku menolak Ra.” Friska langsung membalikan badannya dan meninggalkan Dira.
Dira tak bisa lagi menahan Friska, dia memang ingin meminta sahabatnya itu untuk tidak ikut merebut Hiro. Karena Dira tidak mempunyai kepercayaan diri jika harus bersaing dengan Friska.
Dengan lesu Dira melangkahkan kakinya keluar kelas. Matanya memandang kedua kakinya yang dilangkahkan bergantian di lantai. Tiba-tiba Dira merasa menembus sesuatu seperti gumpalan angin yang sejuk. Dia pun menghentikan langkah kakinya. Kepalanya ditolehkan ke belakang melihat apa yang baru saja dia lewati.
“Hai!” sapa Naurin yang sudah berdiri tegak di belakang Dira.
“Ehh kak Naurin? Kok ada di sini?” tanya Dira dengan sedikit terkejut. Jari telunjuknya menunjuk pada diri Naurin yang sedang tersenyum di hadapannya.
“Memang aku gak boleh ada di sini?” tanya Naurin.
Dira menurunkan tangannya lalu menjawab Naurin. “Iya juga ya kak, kak Naurin kuliah di sini juga kan ya?” dengan segala kepolosannya Dira mengira jika Naurin adalah salah satu mahasiswi yang berkuliah di kampus yang sama dengannya.
Naurin hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Dira. Naurin juga tidak ingin mengatakan jika dia bukan mahasiswi di sana dan hanya sesosok arwah yang belum kembali ke alamnya karena ingin menemani Hiro.
Naurin berjalan mengikuti kemana arah Dira pergi. Dira merasa sedikit canggung diikuti oleh seorang wanita cantik di belakangnya. Dira pun menghentikan kembali langkahnya.
“Ehhmm anu kak, kakak ngikutin aku?” tanya Dira tanpa menoleh sedikit pun pada Naurin.
“Iya. Aku mau kasih tahu kamu gimana caranya dapetin hatinya Hiro.” Sontak Dira langsung membalikan badannya dan menatap Naurin dengan bingung.
“Kakak mau kasih tahu aku caranya dapetin kak Hiro? Aku gak salah dengar kan?” Wajahnya sedikit dimajukan mendekati wajah Naurin. Dira ingin melihat adanya tanda-tanda keisengan dari raut wajah Naurin.
“Waahh kulit kak Naurin mulus banget, matanya juga bagus banget. Pantas aja kak Hiro jatuh cinta sama dia. Aku juga kalau jadi cowok bakalan jatuh cinta sama kak Naurin.” Dira mengagumi kecantikan Naurin di dalam hatinya.
“Aku tahu kok kamu sedang mengagumi aku, tapi aku yakin Hiro juga bakal jatuh hati sama kamu.” Dira langsung terkejut dan menjauh dari Naurin karena apa yang dia pikirkan dan ucapkan di dalam hatinya terbaca oleh Naurin.
“Gak perlu kaget gitu, aku emang bisa baca pikiran orang kok” tentu saja, Naurin kan bukan manusia.
Tiba-tiba Dira merasakan tengkuknya bergidik melihat senyum yang diberikan Naurin padanya. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan isi hati dan pikirannya di depan Naurin. Dan itu artinya sejak awal bertemu Naurin, Dira sudah ketahuan jika menaruh hati pada kekasihnya itu.
“Bisa kita ngobrol sekarang Dira?” tanya Naurin dengan melebarkan senyumnya.
Akhirnya mereka mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Perpustakaan. Selain tak terlalu banyak orang, suasana di perpustakaan juga cukup tenang sehingga mereka berdua akan dengan nyaman untuk berbincang.
“Kamu serius suka sama Hiro?” tanya Naurin. Dira yang duduk di hadapannya hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah Naurin.
“Terus Friska sahabat kamu gimana?” lanjut Naurin bertanya. Kali ini Dira menggelengkan kepalanya pelan dan mengangkat kedua bahunya.
“Kamu gak perlu berpikir apa-apa, aku yakin Hiro pasti memilih kamu. Karena Hiro sangat suka tipe perempuan seperti kamu.” Dira mengangkat wajahnya melihat Naurin.
“Kamu hanya perlu berjanji kalau kamu gak akan ninggalin Hiro. Karena Hiro pernah merasakan kehilangan, dan aku gak mau kamu sampai buat Hiro merasakan hal itu lagi.”
“Sebentar kak, maksudnya kehilangan? Kak Hiro pernah diputusin sama ceweknya dulu?” tanya Dira dengan raut wajah kebingungan. Setahunya, Hiro dan Naurin sudah bersama sejak kecil. Mereka bersahabat sejak kecil. Apa sebelum bersama dengan Naurin, Hiro juga pernah mempunyai kekasih lain?
Naurin hanya mengembangkan senyumnya pada Dira dan tak menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba Naurin menolehkan kepalanya ke arah pintu keluar perpustakaan. Dira pun ikut menoleh ke arah yang sama karena penasaran dengan apa yang dilihat Naurin.
“Sudah ya Dira, Hiro nyariin aku. Pokoknya kamu jangan khawatir, aku pasti dukung kamu. Dadaahh..” Naurin bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Dira seorang diri.
“Kok kak Naurin tahu kalau kak Hiro nyariin dia? Jangan-jangan selain bisa baca pikiran orang, kak Naurin juga punya telepati?” Dira yang begitu lugu pun mulai kebingungan dengan seorang Naurin.
Seorang diri Dira memikirkan perkataan Naurin tadi. Dira juga bertanya-tanya mengapa Naurin mendukungnya untuk mendapatkan hati Hiro. Bukankah Naurin itu kekasihnya Hiro? Atau jangan-jangan Naurin punya lelaki lain yang dia suka dan takut untuk memutuskan hubungannya dengan Hiro?
Dira menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang ada di kepalanya. Tidak mungkin juga seorang perempuan cantik dan baik seperti Naurin seperti itu. Dan lagi, apa yang dimaksud Naurin dengan Hiro pernah merasakan kehilangan? Dira masih belum mengerti maksud perkataan Naurin itu. Memang sebaiknya dia menanyakan pada kakaknya, Dirga. Setidaknya Dirga juga pernah mengenal Hiro dan Naurin. Pastinya Dirga juga sedikit banyak tahu tentang hubungan mereka berdua.