“Mulai hari ini kita udah jadi rival ya.. Kita buktiin siapa yang pantas mendapatkan Hiro senpai.”
Mata Dira membuka lebar melihat isi yang tertulis di secarik kertas tersebut. Kemudian dengan cepat Dira menolehkan kepalanya ke arah Friska. Tampak Friska sedang menatap Dira dengan senyum sinisnya. Dira tak menyangka jika sahabatnya itu serius ingin ikut memperebutkan Hiro.
“Iya. Aku mau kasih tahu kamu gimana caranya dapetin hatinya Hiro.” Sontak Dira langsung membalikan badannya dan menatap Naurin dengan bingung.
Bukankah Naurin itu kekasihnya Hiro? Atau jangan-jangan Naurin punya lelaki lain yang dia suka dan takut untuk memutuskan hubungannya dengan Hiro?
***
Dira masih duduk sendirian di salah satu kursi perpustakaan setelah beberapa waktu sebelumnya Naurin pergi untuk menemui Hiro.Dira mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak kakaknya. Dia mengetikan sesuatu untuk kakaknya itu.
Dira :
Mas, nanti pulang jam berapa? Ada yang mau Dira tanyain sama mas Dirga.
Pesan pun sudah terkirim. Dan juga sepertinya Dirga sudah langsung membaca pesan yang dikirimkan oleh adiknya itu. Sudah tertera dua centang berwarna biru, yang artinya pesannya sudah dibuka oleh sang penerima.
Dira menunggu sang kakak membalas pesannya. Dia sudah tidak sabar ingin menanyakan tentang bagaimana hubungan Hiro dan Naurin yang sebenarnya. Sudah 5 menit berlalu tetapi Dirga belum juga membalas pesan adiknya itu. Padahal jelas sekali Dirga terlihat online di w******p. Hal tersebut membuat Dira kesal dengan kakaknya yang tidak dengan cepat merespon pesan darinya.
“Iihh mas Dirga kenapa gak langsung balas pesan aku sih!” Dira menggerutu karena kesal.
“Wooyy ngomong sendirian aja!” suara seorang lelaki langsung mengejutkan Dira.
Dira menoleh ke sumber suara. Dilihatnya sesosok tubuh lelaki yang sangat tidak ingin dia temui di saat seperti ini.
“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak ngeliat hantu gitu?” tanya Satya pada Dira yang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Ya emang kamu kayak hantu, datang tiba-tiba gak ngucapin salam.” Jawab Dira dengan nada sedikit ketus.
“Jadi kamu anggap aku hantu?” Satya mencubit pipi kanan Dira dengan sedikit keras sehingga membuat Dira berteriak karena merasakan sakit di pipi kanannya.
“Aduuhh.. aduuhh.. Sakit tau Bang Sat!!” Dira memegangi pipi kanannya yang langsung memerah karena cubitan Satya.
“Gak sopan kamu ngatain aku b*****t kayak gitu! Mau aku cubit lagi pipi yang sebelahnya?” Satya sudah bersiap untuk mencubit pipi kiri Dira namun dengan sigap langsung ditepis oleh Dira.
“Aku gak ngatain kamu! Nama kamu kan Satya, ya jadinya Bang Sat! Bang Satya!” jelas Dira.
“Ya jangan pakai ‘Bang’ dong, panggil Satya aja biar gak jadi salah paham lagi.” ujar Satya.
Kemudian tanpa dipersilahkan Satya duduk di kursi sebelah Dira. Dia meletakkan tas selempangnya di atas meja dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Mata Dira langsung melotot melihat sebuah buku yang baru saja dikeluarkan oleh Satya dari dalam tasnya.
“Kamu suka bacaan kayak gitu? Kamu kan bukan anak jurusan Sastra atau bahasa Jepang, kok suka bacaan kayak gitu?”tanya Dira heran melihat Satya mengeluarkan buku yang sangat tebal yang isinya menceritakan tentang sejarah Jepang.
“Memangnya gak boleh?”
“Yaa boleh-boleh aja sih, tapi kan jarang aja ada anak teknik yang sukanya baca buku tentang sejarah Jepang.”
Dira ingin beranjak dari kursinya namun tiba-tiba Satya memegang tangan Dira untuk mencegahnya pergi.
“Temenin aku dulu disini.” Pinta Satya.
“Kenapa harus aku temani? Kamu baca sendiri aja, aku ada urusan lain!” Dira menarik tangannya dan melangkahkan kakinya.
Satya kembali menarik tangan Dira dan memintanya untuk tetap duduk menemaninya di perpustakaan.
“Sebentar aja, 10 menit deh temani aku disini. Kamu kan jurusan Sastra Jepang, ada yang mau aku tanyain juga kalau ada yang aku gak ngerti dari buku ini.” Satya mencoba mencari alasan agar Dira tidak pergi meninggalkannya.
Dira sempat terdiam sejenak lalu kembali duduk di tempatnya semula. Senyum di wajah Satya langsung mengembang mengetahui jika Dira bersedia menemaninya.
“Hmm.. Ra.” Satya memanggil Dira.
“Yaa..” Jawab Dira singkat.
“Kamu sama senior yang waktu itu ada hubungan apa?” Sepertinya Satya mulai penasaran dengan Hiro, juga dengan ada hubungan apa diantara Hiro dan Dira.
“Bukan urusan kamu!” jawab Dira.
Satya pun tidak melanjutkan pertanyaannya, karena sepertinya Dira tidak terlalu suka jika Satya banyak bertanya padanya.
Hampir 10 menit berlalu, Dira dan Satya saling fokus dengan buku yang mereka baca. Dira melihat jam yang tertera di layar ponselnya. Kemudian dia beranjak dari kursinya.
“Mau kemana kamu?” tanya Satya.
“Udah 10 menit. Aku mau pergi. Aku ada urusan lain.” Dira langsung melangkahkan kakinya menjauh dari Satya.
Kali ini Satya tidak bisa menghentikan Dira. Dia membiarkan Dira untuk pergi. Setidaknya dia sudah menghabiskan sedikit waktunya bersama dengan Dira. Waktu 10 menit yang baru saja berlalu itu menjadi sesuatu yang berharga bagi Satya.
***
Dia adalah Satya Pradipta, putra dari seorang dokter spesialis kejiwaan yang kini menaruh harapannya pada putra satu-satunya itu. Satya diharapkan agar bisa menjadi lulusan Sarjana Teknik. Sama halnya seperti Satya, ayahnya juga mengambil jurusan kedokteran karena permintaan kedua orang tuanya. Karena itu, dia kini berharap Satya bisa meneruskan keinginannya dulu untuk menjadi seorang lulusan dari fakultas teknik.
Satya sebenarnya sangat menyukai bahasa dan juga kebudayaan Jepang. Tetapi karena paksaan orang tuanya, dia kini melanjutkan pendidikannya di jurusan teknik. Walau pun begitu Satya tetap suka membaca cerita bergambar animasi Jepang, menonton drama Jepang, dan juga menyukai musik Jepang. Namun itu semua hanya bisa dia jadikan sebagai hobi.
Saat hari dimana semua mahasiswa dan mahasiswi baru masuk untuk orientasi pengenalan kampus, secara tidak sengaja Satya melihat ada seorang gadis dengan postur tubuh sedikit mungil sedang duduk sendirian di kursi taman. Gadis itu terlihat seperti sedang menggerutu karena harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh para seniornya.
Wajah gadis itu sangat sesuai dengan tipe gadis ideal satya. Imut. Keningnya juga ditutupi oleh poni. Satya menyukai semua yang berbau dengan Jepang. Oleh karena itu saat melihat gadis yang berwajah imut itu langsung membuat Satya jatuh hati. Gadis tersebut adalah Dira.
Tangan kanan Satya merogoh saku celananya. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya tersebut. Dengan cepat Satya mengambil potret Dira yang sedari tadi masih menggerutu sendirian. Setelah berhasil mengambil potret Dira, Satya ingin mendekatinya untuk berkenalan. Namun sangat disayangkan, seorang kakak senior memanggil Satya agar mengikutinya ke tempat lain. Pada akhirnya Satya hanya bisa menyimpan foto Dira dalam galeri ponselnya.
Satya sering mencari-cari sosok Dira di kampus. Satya baru menyadari jika ternyata mereka tidaklah satu jurusan. Dira adalah mahasiswi jurusan Sastra Jepang, sedangkan Satya adalah mahasiswa jurusan Teknik Sipil.
Saat secara tidak sengaja Satya melihat Dira di sudut kampus, maka Satya langsung mengambil ponselnya untuk memotret Dira. Satya belum siap untuk memperkenalkan dirinya, apalagi menyatakan perasaannya. Dia menunggu waktu yang tepat. Dan sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk mendekati Dira. Satya tahu saingannya adalah seorang senior, dan juga menjadi salah satu lelaki yang banyak disukai di kampusnya. Oleh karena itu Satya ingin segera merebut hati Dira.
Akankah Satya dengan mudah membuat Dira berpaling padanya?