Hiro tersenyum senang setelah bertemu dengan dosen pembimbingnya. Skripsi yang sudah melewati beberapa kali revisi pun diterima oleh sang dosen pembimbing. Dia juga sudah mendapatkan tanggal untuk sidang skripsi nanti.
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Ada hal yang bikin kamu senang?” tanya Naurin yang berjalan beriringan dengan Hiro di lorong kampus.
“Iya dong Rin, akhirnya aku gak harus pusing revisi lagi. Tanggal sidang juga udah ditentuin. Sebentar lagi aku akan lulus dari sini Rin.” Jawab Hiro dengan riang.
Naurin tersenyum lembut pada Hiro kemudian berkata, “Kamu akan jadi Sarjana Sastra ya? itu titel yang paling aku inginkan. Anda saja aku masih bisa mendapatkan titel Sarjana Sastra.”.
Langkah kaki Hiro terhenti untuk beberapa saat. Hiro menghela nafas kemudian melanjutkan langkahnya. Kembali hatinya merasakan kesedihan setelah mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Naurin. Dia juga merasa bersalah karena jika saja Hiro tidak berlari waktu itu, mungkin Naurin masih hidup sampai sekarang dan bisa mengejar title yang dia cita-citakan.
“Kamu gak perlu sedih, apalagi merasa bersalah.” Ujar Naurin yang bisa membaca pikiran dan perasaan Hiro.
“Aku senang kamu bisa baca pikiran aku, tapi aku gak senang kalau kamu baca pikiran aku yang sedang seperti ini. Maafin aku, Rin. Semua ini salahku.” Dengan lirih Hiro mengucapkan kata maaf pada Naurin. Sedangkan Naurin hanya bisa menggeleng pelan dan tersenyum menjawab permintaan maaf dari Hiro.
Semua ini bukanlah kesalahan Hiro, bukan juga kesalahan apalagi kemauan Naurin. Memang ini semua sudah takdir yang digariskan oleh Tuhan.
Sepanjang langkah kakinya, banyak pasang mata yang memperhatikan Hiro sedang berbicara seorang diri. Beberapa diantara mereka juga menganggap kalau Hiro sedikit terbebani dengan skripsi yang sedang disusunnya, sehingga membuat Hiro menjadi suka berbicara sendiri. Mereka semua tidak bisa melihat dengan siapa Hiro berbicara. Kecuali Dira, dia melihat Hiro berjalan berdampingan dengan Naurin menuruni tangga.
Di mata Dira, Hiro dan Naurin yang berdampingan seperti itu terlihat sangatlah serasi. Hiro tampan, Naurin juga cantik. Mereka berdua sangatlah cocok untuk berpasangan seperti karakter utama dalam seri komik romantis. Pasangan yang sangatlah sempurna.
Tiba-tiba ponsel Dira berdering kencang dan membuat Dira memalingkan perhatiannya dari pasangan sempurna yang sedari tadi dia perhatikan. Dilihatnya nama Mas Dirga tertera di layar ponsel tersebut.
“Halo Mas?” Dira menjawab panggilan telepon Dirga.
“Kamu sudah pulang belum?” tanya Dirga.
“Belum Mas, masih ada satu mata kuliah lagi. Kenapa memangnya, Mas?”
“Mas sudah di depan gerbang kampus kamu. Boleh bolos aja gak? Mas Dirga mau minta antar kamu ke dokter.”
“Loh Mas Dirga sakit? Sakit kenapa Mas?” tanya Dira penuh kekhawatiran terhadap kakaknya.
“Kamu bisa bolos aja gak? Ayo cepetan ini Mas Dirga udah kepanasan nungguin kamu depan gerbang.” Pinta Dirga pada adiknya.
“Iya ya sudah, Mas, tungguin Dira ya!” Dira pun langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan berlari menuju ke tempat dimana kakaknya sedang menunggu dirinya.
Karena ingin segera sampai dan menemui kakaknya, Dira tidak terlalu memperhatikan langkahnya dan terus berlari tanpa melihat kiri dan kanan. Lalu tiba-tiba, brruukkk! Dira terjatuh karena menabrak seseorang.
“Aduuuhhh sakiiittt” Dira merintih kesakitan sambil memegangi lututnya.
“Duuhh kamu tuh jalan pakai mata dong!” orang yang bertabrakan dengan Dira pun mengomeli Dira karena tidak melihatnya dan menabraknya sehingga mereka berdua terjatuh.
“Putra senpai ngapain sih keluar dari situ! Gak tau aku lagi buru-buru apa?” Dira malah balik mengomel pada Putra.
Putra bangkit dan berusaha membantu Dira untuk berdiri. “Kamu tuh kayaknya hobi banget jatuh sama nabrak orang sih, Ra!” Ucap Putra sambil membantu Dira berdiri.
“Duuhh duh duuhh sakiitt..” kembali Dira merintih kesakitan, jalannya juga menjadi sedikit pincang. Sepertinya Dira terjatuh dan kakinya membentur lantai dengan cukup kencang mengingat dia juga berlari kencang untuk menemui kakaknya.
“Sakit, Ra?” tanya Putra.
“Ya sakitlah!” jawab Dira dengan ketus.
“Gak usah marah-marah gitu, Ra! Aku minta maaf deh karena sudah ditabrak sama kamu.” Dira mengerlingkan matanya mendengar permintaan maaf Putra yang sepertinya tidak tulus.
Lagipula ini juga karena kesalahan Dira yang berlari tanpa melihat kiri dan kanan. Dira tidak bisa menyalahkan Putra, dia hanya bisa menyalahkan nasibnya yang sangat tidak baik ini. Sudah mendapat pernyataan perang dari sahabatnya, ditahan oleh Satya untuk menemaninya, melihat Hiro dan Naurin yang sangat serasi dan membuatnya cemburu, sekarang dia harus terjatuh karena menabrak Putra. Benar-benar nasib yang tidak bagus sedang bersamanya.
Pada akhirnya Putra membantu Dira untuk berjalan. Tangan kanan Putra memegangi lengan kanan Dira dari belakang, dan tangan kiri putra memegang tangan kiri Dira. Putra terlihat seperti sedang merangkul Dira. Mau bagaimana lagi, walau bukan kesalahannya tetapi Putra juga ikut bertanggung jawab karena kini Dira menjadi sedikit sulit untuk berjalan.
Putra membantu Dira berjalan perlahan menuju ke pintu gerbang. Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang sedang melihat mereka dengan tatapan yang sangat tajam. Dia tidak suka jika Dira dirangkul seperti itu oleh lelaki lain. Padahal sebenarnya Dira sedang dibantu untuk berjalan oleh Putra.
Pemilik sepasang mata tersebut berjalan menghampiri Dira dan Putra. Raut wajahnya sangat menunjukan ketidaksukaannya pada Putra. Matanya terus melihat ke arah tangan kanan Putra yang seperti sedang merangkul Dira. Putra dan Dira menyadari kehadirannya yang sudah semakin dekat.
“Ehh Kak Hiro!” Sapa Dira pada Hiro yang raut wajahnya tidak biasa.
“Eh elu, Ro!” Putra juga menyapa Hiro tetapi tidak menyadari raut wajah Hiro yang tidak biasa itu.
“Ngapain lu sama Dira? Cewek lu mana?” tanya Hiro pada Putra.
“Maksud lu apa sih? Nih si Dira yang …” belum juga Putra menyelesaikan kalimatnya, Hiro sudah memotongnya dan tidak ingin mendengar penjelasan Putra.
“Jangan nanya balik! Lu ngapain ngerangkul si Dira? Kan lu udah punya cewek!” Hiro melepaskan rangkulan Putra di lengan Dira lalu menarik lengan Dira agar menjauh dari sisi Putra.
“Yaelah Hiro, si Dira tuh nabrak gue tadi! Terus kakinya jadi sakit gitu, jalannya jadi susah. Ya gue bantuin dia buat jalan.” Putra menjelaskan duduk perkaranya.
“Kamu benar nabrak Putra, Ra?” tanya Hiro pada Dira untuk memastikan. Dira pun mengangguk pelan kemudian menundukan pandangannya.
“Ngapain juga sih gue bohong sama lu, Ro? Jangan-jangan lu cemburu sama gue gara-gara gue bantuin Dira?” tanya Putra dengan tatapan usilnya pada Hiro.
Hiro hanya tertegun tak sanggup menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Sedangkan Dira, pipinya mulai merona. Jantungnya juga berdegub kencang. Bolehkan dia berharap kalau Hiro benar cemburu pada Putra? Karena itu artinya di hati Hiro ada sedikit perasaan untuk Dira.
“Yaudah tuh anterin si Dira pulang! Kasihan kakinya sakit gitu. Udah ya Ro, jyaa mata ne (sampai jumpa)” Putra melambaikan tangannya lalu pergi dari hadapan Hiro dan Dira.
Tinggalah kini Hiro dan Dira dengan segala kecanggungan yang ada diantara mereka. Dira masih menundukan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang memerah. Hiro menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Ehhmm, Ra..” panggil Hiro dengan suara pelan.
“Iyaa..” jawab Dira tak kalah pelan.
“Maaf ya aku udah salah sangka sama kamu dan Putra tadi.” Ucap Hiro.
“Iya gak apa-apa kak..” jawab Dira.
“Kaki kamu sakit? Yang mana?” Hiro berusaha menunjukan perhatiannya.
“Yang ini kak, lutut aku.” Dira menunjuk lututnya.
“Mau aku antar pulang?” Hiro menawarkan tumpangan untuk Dira.
Dira mengangkat kepalanya dan menampilkan senyuman yang lebar pada Hiro. Hatinya bersorak gembira mendapat tawaran untuk diantar pulang oleh Hiro. Wajahnya juga terlihat sangat gembira dengan pipi yang merona.
Deg. Hati Hiro berdegub lebih kencang melihat wajah cantik dan imut Dira dengan pipi yang merona kemerahan. Seketika itu juga pipi Hiro ikut merona. Untuk pertama kalinya Hiro menyadari jika Dira sangat cantik. Ya, untuk pertama kalinya Hiro menyadari ada gadis lain yang cantik selain Naurin.
Naurin? Untuk sesaat Hiro melupakan sosok Naurin yang selama ini selalu memenuhi hatinya. Di pandangannya kini hanya ada Dira. Dira yang cantik dengan pipi yang merona kemerahan.
“Diraa.. Kamu lama banget sih! Mas Dirga udah kepanasan nih!” terdengar suara Dirga yang mengacaukan momen manis diantara Dira dan Hiro.
Kepala Dira dan Hiro dengan cepat menoleh ke arah Dirga yang kini sedang berjalan menghampiri mereka. Hiro langsung sedikit menjauh dari Dira.
“Mas Dirga kok disini?” tanya Dira dengan sedikit bingung. Dia lupa jika kakaknya itu sudah menunggunya sedari tadi.
“Kamu ini ya Ra, Mas Dirga sudah nunggu kamu dari tadi di depan gerbang sana. Kamu sama Hiro malah saling senyum-senyum.” Dirga menunjuk ke arah gerbang. Terlihat motor milik Dirga terparkir di luar sana.
“Ya ampun Mas aku lupa kalau Mas Dirga tuh udah nungguin dari tadi.” Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ya sudah yuk Ra kita langsung pulang saja, ke dokternya malam saja ya.” ucap Dirga.
Dengan lesu Dira hanya bisa mengangguk dan menuruti perkataan kakaknya tersebut. Hilang sekejap kesenangan Dira yang baru saja ditawari tumpangan oleh Hiro. Nasib baik masih belum berpihak pada Dira.
“Hiro, kita dulu.. an..” Suara Dirga menjadi terbata-bata. Matanya melotot melihat ke satu arah. Wajahnya langsung menjadi pucat.
“Lu kenapa, Dirga?” tanya Hiro yang kebingungan melihat sikap Dirga.
“Iya, Mas Dirga kenapa?” tambah Dira.
“Itu.. Itu.. Nau.. rin..” Dirga menunjuk agak jauh di belakang Hiro. Tampak sosok Naurin sedang berdiri mematung memperhatikan mereka.
Sontak Hiro langsung menolehkan kepalanya ke belakang, lalu menolehkannya kembali dengan cepat pada Dirga. Apa Dirga juga bisa melihat Naurin?
“Kak Naurin?” Dira terkejut melihat Naurin berdiri di sana. Tidak seperti Dirga, keterkejutan Dira dikarenakan dia takut jika Naurin melihat apa yang terjadi diantara dirinya dan Hiro tadi.
“Ra? Kamu juga lihat Naurin?” tanya Dirga dengan raut wajah tidak percaya.
“Iya Mas, kak Naurin pasti ngelihat aku sama kak Hiro tadi. Pasti kak Naurin marah sama aku. Pasti dia cemburu!”
Hiro kembali menolehkan kepalanya ke belakang. Benar saja dilihatnya raut wajah Naurin yang muram. Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Naurin benar-benar cemburu.
Dirga tak lagi bisa berkata-kata. Dia masih tidak bisa percaya jika dia benar melihat Naurin. Dia juga tidak percaya jika adiknya, Dira, juga mengenal dan bisa melihat Naurin. Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?