Part 14 - Pertengkaran

1770 Kata
“Kak Naurin?” Dira terkejut melihat Naurin berdiri di sana. “Ra? Kamu juga lihat Naurin?” tanya Dirga dengan raut wajah tidak percaya. “Iya Mas, Kak Naurin pasti ngelihat aku sama Kak Hiro tadi. Pasti Kak Naurin marah sama aku. Pasti dia cemburu!” Hiro kembali menolehkan kepalanya ke belakang. Benar saja dilihatnya raut wajah Naurin yang muram. Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Naurin benar-benar cemburu. Dirga tak lagi bisa berkata-kata. Dia masih tidak bisa percaya jika dia benar melihat Naurin. Dia juga tidak percaya jika adiknya, Dira, juga mengenal dan bisa melihat Naurin. Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?   ***   Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba saja berubah dengan cepat. Air hujan sudah turun membasahi bumi saat Hiro sampai di rumahnya. Pandangannya lurus dan kosong. Dia melewati pintu masuk dan ruang tamu begitu saja tanpa menyadari jika mamanya sedang duduk di ruang tamu. Mamanya sedikit heran dengan sikap Hiro namun berusaha untuk tidak terlalu peduli. Baginya Hiro sudah cukup dewasa. Sebagai orang tua, dia tidak mau terlalu ikut campur terlalu dalam terhadap urusan putranya itu. Kini Hiro sudah berada di dalam kamarnya, meletakan tas yang tadi dia bawa di atas tempat tidurnya. Kemudian Hiro duduk di pinggir tempat tidur. Pandangannya masih kosong. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Dirga juga bisa melihat Naurin. Dira dan Dirga, sepasang kakak adik yang kini keduanya bisa melihat sosok Naurin. Apakah Dira dan Dirga merupakan keturunan Indigo? Yang bisa melihat arwah atau makhluk yang tak kasat mata? Hiro menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, matanya berkeliling seperti mencari sesuatu. “Riinn..” dengan suara pelan Hiro memanggil Naurin. Hiro bangkit dari duduknya, lalu dia melangkahkan kakinya mengitari sudut kamarnya sambil tetap memanggil wanita yang tadi tampak cemburu karenanya. Hiro juga menoleh keluar jendela mencari keberadaan Naurin. Namun Naurin tak terlihat dimana pun. Hiro pun mulai panik, takut jika Naurin marah padanya dan tak ingin menemuinya. “Riinn.. Kamu dimana?” Hiro mulai sedikit mengeraskan suaranya berharap Naurin langsung muncul di hadapannya seperti biasanya. “Nauriinn.. Aku mau ngobrol sama kamu Riinn..” kini raut wajah Hiro mulai terlihat semakin panik karena Naurin yang dipanggilnya sedari tadi tak kunjung hadir di ruangan kamarnya. “Riinn.. Kamu marah sama aku? Maafin aku Rin, maafin aku.. Aku cuma nawarin tumpangan aja sama Dira, gak ada maksud lain kok Rin. Aku mohon percaya sama aku Rin! Hati aku cuma buat kamu aja. Riinn.. Tunjukin diri kamu Rin” Hiro menjadi frustasi dan memohon agar Naurin mempercayainya. Namun sosok Naurin masih juga tak muncul di sana.  Hiro mulai mengacak rambutnya dengan kasar. “Kamu ngomong sama siapa?” secara tiba-tiba Ibu Lidya, mamanya Hiro sudah berdiri di depan pintu kamar dan menanyakan pada siapa Hiro berbicara. Hiro tidak menjawab mamanya, dia hanya kembali duduk di pingir tempat tidurnya dengan kedua telapak tangan yang menyatu dan diletakan di keningnya. Ibu Lidya kemudian menghampiri Hiro dan ikut duduk di sebelahnya. Diraihnya tangan Hiro kemudian digenggamnya. “Kamu masih suka bicara sendiri?” tanya sang mama pada putranya yang hanya menundukan kepalanya menatap lantai. “Hiro, Mama tahu kalau kehilangan Naurin adalah hal yang paling menyakitkan buat kamu, tetapi Mama mohon agar kamu tidak lagi berbicara sendiri. Mama ingin kamu hidup normal. Mama ingin kamu bisa melihat dunia ini tanpa harus menganggap Naurin tetap ada.” Pinta Ibu Lidya dengan suara lirih. Sebagai seorang ibu sudah pasti ibu Lidya menginginkan semua yang terbaik untuk Hiro putranya. Dia tidak mau orang-orang di luar sana menganggap Hiro mempunyai kelainan jiwa. Hiro menarik tangannya yang sedang digenggam oleh sang mama. “Ma, Hiro sudah pernah bilang kalau Mama gak perlu mengkhawatirkan tentang kejiwaan Hiro! Hiro tidak gila, Ma!” dengan lantang Hiro menjawab mamanya. “Kamu memang tidak gila Hiro, tetapi Mama khawatir kalau hal seperti ini terus berlanjut. Sampai kapan kamu tidak mau menerima kenyataan jika Naurin sudah meninggal? Sampai kapan Hiro?” “Naurin masih tetap hidup Ma! Dia tetap hidup untuk Hiro!” tatapan mata Hiro pada sang Mama sangat tajam. Tak terlihat dari raut wajahnya jika dia sedang bercanda mengucapkan kalimat tersebut. “Hiro..” Ibu Lidya seperti orang yang patah semangat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh putranya. Dia beranggapan jika kejiwaan putranya semakin lama akan menjadi semakin parah. “Besok kita ketemu sama Psikiater yang dulu ya.” pinta Ibu Lidya pada Hiro. “Untuk apa Ma? Mama masih ragu sama Hiro?” tanya Hiro dengan raut wajah yang seketika berubah kecewa pada mamanya. Ibu Lidya hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian dia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hiro. Hiro menjadi bingung bagaimana harus mengatakan semua hal tentang arwah Naurin pada mamanya. Dia tidak ingin semakin dianggap tidak waras oleh mamanya sendiri. Hiro membanting tubuhnya ke atas ranjang. Sejenak dia memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya. Kemudian dirasakannya sesuatu yang dingin seolah membelai kepalanya. Dengan cepat Hiro langsung membuka kedua matanya dan melihat sosok cantik yang sudah duduk disampingnya dan membelai kepalanya. “Nauriiinn..” Hiro segera bangkit dari posisi tidurnya dan memeluk Naurin. Hiro terasa seperti memeluk segumpal angin yang dingin. “Riinn kamu kemana aja sih? aku jadi dianggap gila sama Mama tadi.” Keluh Hiro pada Naurin sambil melepaskan pelukannya. Naurin hanya memasang raut wajah datar tanpa senyum yang menghiasi. “Rin, kamu marah sama aku?” tanya Hiro dengan suara lembut. Naurin menggelengkan kepalanya pelan. “Terus kenapa?” tanya Hiro lagi. “Awalnya memang aku yang mendukung Dira agar bisa membuat kamu jatuh hati padanya. Tetapi ternyata melihat kamu bersama dengan dia membuat hatiku merasa tidak nyaman.” Naurin mulai menjelaskan apa yang sedang dirasakannya pada Hiro. “Tidak nyaman? Maksud kamu? Cemburu?” dengan agresif Hiro menanyakan hal tersebut. “Mungkin.” Satu kata singkat yang dilontarkan Naurin sebagai jawaban atas pertanyaan Hiro. Seketika terlintas dalam pikiran Hiro, Naurin adalah arwah yang masih ada di dunia untuk menemani Hiro. Pasti ada alasan mengapa arwah Naurin sampai saat ini tetap ada. Hiro juga berpikir pasti suatu saat nanti arwah Naurin akan pergi walau Hiro tidak menginginkannya. Dan kini sebagai arwah, Naurin masih tetap bisa merasakan cemburu dan cinta? Di tempat lain, di kediaman Dira dan Dirga, sepasang kakak beradik tersebut sedang mengganti pakaian mereka yang basah karena tersiram hujan dalam perjalanan pulang mereka. Mereka mengganti pakaian mereka di kamar masing-masing. Setelah selesai mengganti pakaiannya dengan kaos oblong berwarna biru muda, Dirga menghampiri adiknya di kamarnya. Dia masih penasaran sejak kapan adiknya itu mengenal Naurin. Dan lebih penasaran lagi mengapa dirinya dan juga Dira bisa melihat sosok Naurin. Apakah hanya salah lihat atau memang benar itu adalah arwah Naurin? Tidak mungkin hanya salah lihat, karena Dira juga melihat apa yang dilihatnya tadi di kampus. Sosoknya Naurin. Tok.. tok.. tok.. Dirga mengetuk pintu kamar Dira yang dikunci dari dalam karena Dira sedang mengganti pakaiannya. “Sebentar Mas, Dira sebentar lagi selesai kok!” terdengar suara Dira sedikit berteriak dari dalam kamar. Tak lama Dirga menunggu sang adik untuk membukakan pintu kamarnya. Kemudian Dira mempersilahkan Dirga untuk masuk ke dalam kamar. “Sini Mas masuk! Duh perut Dira jadi laper deh karena kehujanan tadi.” kata Dira yang langsung duduk santai di atas ranjangnya dengan melipat kedua kakinya. Dirga pun masuk dan menghampiri Dira. Dirga ikut duduk di atas ranjang Dira dengan posisi saling berhadapan. “Ra, Mas Dirga mau tanya.” Ucap Dirga. “Tanya apa Mas? Mukanya serius banget!” Balik Dira bertanya pada sang kakak dengan sedikit penasaran. “Kamu kenal Naurin?” tanya Dirga. “Kenal, Mas!” jawab Dira dengan cepat dan lugas. “Kenal dimana?” lanjut Dirga bertanya untuk mencari tahu. “Di perpustakaan kampus.” Dira pun kembali menjawab pertanyaan Dirga dengan cepat dan lugas. Dirga mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari adiknya yang sedikit tak masuk akal baginya. “Di perpustakaan kampus? Kok bisa? Kamu sudah tahu belum tentang kejadian yang menimpa Naurin? Kok kamu bisa ketemu di perpustakaan kampus kamu?” sedikit ragu Dirga menanyakan hal tersebut pada sang adik. “Kejadian? Kejadian apa Mas?” Dira pun mulai penasaran dengan pernyataan sang kakak barusan. Dirga terdiam, berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan adiknya itu. “Dira tidak mengalami gangguan penglihatan atau pun gangguan jiwa kan? Tapi kayaknya Dira gak berbohong, karena dia masih sangat polos. Apa Dira bisa melihat arwah ya?” gumam Dirga di dalam hatinya. “Ra, kalau Mas Dirga minta kamu agar gak dekat sama Hiro, kamu mau nurut ‘kan?” pinta Dirga. Sontak Dira langsung menatap Dirga dengan kedua mata membesar. “Maksud Mas Dirga tuh apa?” tanya Dira. “Mas Dirga mau kamu gak usah dekat-dekat lagi sama Hiro! Mas khawatir kamu kenapa-kenapa nantinya.” Jawab Dirga. “Mas harus kasih alasan yang tepat kenapa Dira gak boleh dekat sama Kak Hiro?” “Turutin aja permintaan mas kali ini! Mas bingung gimana ngejelasinnya sama kamu.” Dirga masih bingung bagaimana harus menjelaskan pada adiknya itu jika Naurin sudah tiada dan yang dia lihat dan temui adalah arwahnya Naurin. “Gak mau Mas! Kali ini Dira menolak! Dira tuh sudah jatuh hati sama Kak Hiro. Dira gak bakal bisa Mas kalau harus disuruh ngejauhin dia.” Dengan nada kesal Dira menolak permintaan sang kakak. “Dira, jangan kamu jatuh hati sama Hiro! Dia sudah milik Naurin! Kamu gak akan bisa merebut Hiro dari sisi Naurin. Mas gak mau kamu kenapa-kenapa Ra!” ketakutan dalam hati Dirga tak bisa dia jelaskan dengan baik pada sang adik. Dirga hanya tak ingin terjadi sesuatu terhadap adiknya itu karena harus berurusan dengan arwah. Dira mengerutkan dahinya dan memberi tatapan tajam pada Dirga. “Bahkan Mas Dirga juga bilang kayak gitu? Apa mas Dirga gak bisa sedikit ngedukung aku yang adik kandungnya Mas Dirga?” sedikit emosi Dira melontarkan pertanyaan tersebut pada Dirga. “Bukannya gitu Ra, kamu gak tahu kalau Naurin itu …” “Aku gak mau tahu Mas! Yang aku tahu sekarang aku suka sama Kak Hiro, dan Kak Naurin itu saingan terberat aku!” Dira memotong ucapan Dirga yang belum selesai. “Ra, banyak lelaki yang lain kok! Gak cuma si Hiro aja. Lagian Naurin itu kan sudah …” belum selesai Dirga berbicara, Dira kembali memotong kalimatnya. “Dira gak mau dengar mas! Dira gak mau denga apa-apa tentang Kak Naurin. Dira mau fokus ngerebut hati Kak Hiro aja. Titik!” Dira menutup kedua telinganya tak ingin mendengar ada kalimat lain yang keluar dari mulut sang kakak. “Ya sudah kalau kamu gak mau dengar apa yang Mas Dirga bilang. Biar Mas sendiri yang bicara sama Hiro.” Setelah berkata demikian Dirga pun langsung meninggalkan Dira. Dia akan membicarakannya langsung pada Hiro. Dia akan meminta Hiro untuk menjelaskan semuanya pada Dira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN