“Dira gak mau dengar Mas! Dira gak mau dengar apa-apa tentang Kak Naurin. Dira mau fokus ngerebut hati Kak Hiro aja. Titik!” Dira menutup kedua telinganya tak ingin mendengar ada kalimat lain yang keluar dari mulut sang kakak.
“Ya sudah kalau kamu gak mau dengar apa yang Mas Dirga bilang. Biar Mas sendiri yang bicara sama Hiro.” Setelah berkata demikian Dirga pun langsung meninggalkan Dira. Dia akan membicarakannya langsung pada Hiro. Dia akan meminta Hiro untuk menjelaskan semuanya pada Dira.
***
Keesokan paginya, Ibu Lidya kembali mendatangi kamar Hiro. Beberapa kali Ibu Lidya mengetuk pintu kamar putranya tersebut. Tokk.. tokk.. tokk..”Hiro.. ayo bangun, buka pintunya!” dengan lembut Ibu Lidya mencoba membangunkan putranya.
Dari dalam kamar terdengar suara Hiro menjawab panggilan sang mama dengan nada yang masih mengantuk. “Iyaa Maa.. Sebentar..” Hiro juga langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan sedikit terhuyung untuk membukakan pintu.
Cklek.. klekk.. Suara kunci yang diputar pun terdengar. Tak lama kemudian pintu kamar Hiro terbuka.
“Ada apa Ma bangunin Hiro pagi-pagi banget? Belum jam setengah 7 kayaknya Ma.” Hiro mengucek matanya yang masih ingin menutup karena mengantuk.
“Hiro, kita ke tempatnya dokter Hardi yuk sayang!” ajak Ibu Lidya.
Dokter Hardi adalah dokter spesialis kejiwaan atau yang biasa juga disebut dengan psikiater. Dokter Hardi sendiri sempat menangani kejiwaan Hiro saat awal-awal kematian Naurin. Namun atas permintaan Hiro pada mamanya agar tidak perlu mengkhawatirkan kejiwaan dirinya, maka sang mama tidak lagi memaksa Hiro untuk menemui Dokter Hardi.
Namun sebagai orang tua, Ibu Lidya kembali mengkhawatirkan kondisi kejiwaan Hiro setelah melihat Hiro yang semakin intens berbicara sendiri. Oleh karena itu dia memutuskan untuk membujuk Hiro agar mau menemui dokter Hardi kembali.
“Ke tempat Dokter Hardi? Mau ngapain Ma?” tanya Hiro pada sang mama.
“Kita ngobrol di dalam kamar kamu yuk!” kemudian Ibu Lidya menarik lengan Hiro dan mengajaknya untuk berbincang di kamarnya.
Kini Ibu Lidya dan Hiro sudah duduk bersebelahan di pinggir tempat tidur Hiro. Terlihat sedikit kegugupan dari raut wajah dan juga sikap Ibu Lidya. Hiro hanya menatap mamanya dengan serius menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh mamanya itu.
“Hiro, gini.. Kita ketemu sama Dokter Hardi ya hari ini.” kembali Ibu Lidya mengajak Hiro.
“Untuk apa Ma? Mama masih menganggap Hiro gila?” tanya Hiro dengan tegas pada mamanya.
Ibu Lidya menggelengkan kepalanya kemudian meraih kedua tangan putranya dan menggenggamnya. “Enggak Hiro, kamu gak gila. Kita ketemu aja lagi sama beliau. Mungkin ada hal yang kamu gak bisa ceritakan sama Mama, tapi kan mungkin saja kamu bisa cerita sama Dokter Hardi. Dia pasti akan kasih kamu masukan yang bagus.”
“Konsultasi maksud Mama? Sama aja Ma, itu sama aja Mama masih anggap Hiro gila karena Hiro bicara sama Naurin!” Hiro menarik kedua tangannya dari genggaman Ibu Lidya.
Terlihat raut wajah kecewa pada sang mama karena masih saja menganggap Hiro tidak waras. Tapi Hiro juga menyadari jika itu adalah kesalahannya karena tidak bisa dengan tegas menjelaskan pada sang mama jika arwah Naurin masih terus menemaninya.
“Hiro, Mama mohon ini untuk yang terakhir kali. Setelah ini Mama gak akan pernah minta kamu untuk ketemu sama Dokter Hardi lagi. Mama janji Hiro. Kali ini saja kamu turuti permintaan Mama.” Ibu Lidya memohon pada Hiro agar mau menuruti keinginannya.
Hiro menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Sejenak dia menutup matanya lalu menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan mamanya untuk bertemu dengan dokter Hardi. Setelah itu Hiro kembali membuka kedua matanya untuk menatap wajah sang mama.
Ibu Lidya tersenyum karena Hiro mau menuruti permintaannya. Kemudian Ibu Lidya langsung menepuk-nepuk pelan lengan Hiro lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan kamar Hiro.
Hiro kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang kosong. “Rin, emangnya ada gunanya aku cerita ke psikiater? Aku kan gak gila. Hmm atau memang aku gila ya? Ah gak tau lah aku, Rin!” gumam Hiro seorang diri.
***
Sampailah Hiro dan Ibu Lidya di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman yang cukup luas. Di depan rumah tersebut terdapat sebuah palang bertuliskan dr. Hardi Pradipta Sp.Kj beserta jadwal prakteknya.
Ibu Lidya menuntun tangan putranya untuk memasuki rumah tersebut. Beliau sudah membuat janji dengan sang dokter. Mereka melewati pintu masuk utama menuju ke sebuah pintu lainnya yang berada di samping rumah tersebut. Tempat praktek Dokter Hardi memang di rumahnya, lebih tepatnya di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar di rumah tersebut yang berada berdampingan dengan tempat tinggalnya.
Tampak sosok Dokter Hardi sedang duduk di depan pintu ruang prakteknya dan berbincang dengan seorang lelaki muda. Kening Hiro menjadi sedikit berkerut melihat siapa lelaki muda yang sedang berbincang dengan Dokter Hardi.
“Selamat pagi dok!” Ibu Lidya menyapa sang dokter.
“Selamat pagi!” dengan kompak Dokter Hardi dan lelaki muda itu menjawab ibu Lidya.
“Wah Hiro sudah lama kita gak ketemu.” Dokter Hardi langsung berdiri dan menghampiri Hiro. Diulurkan tangannya untuk dijabat oleh Hiro. Sepertinya Dokter Hardi ini adalah orang yang sangat ramah.
“Dok, kemarin sudah saya ceritakan di telepon, dan sebaiknya sekarang saya pamit pergi dulu biar Hiro bisa ngobrol sama dokter. Permisi ya dok, Hiro nanti Mama jemput lagi ya.” Kata Ibu Lidya sambil berpamitan dan pergi.
“Hiro sini ikut saya, kita kenalan dulu dengan anak saya.” Dokter Hardi merangkul Hiro dan mengarahkannya pada lelaki muda yang sedari tadi memperhatikan mereka.
“Apa kata dokter tadi? Anak?” dengan sedikit terkejut Hiro menatap wajah Dokter Hardi.
“Iya Hiro. Sepertinya kalian seumuran, ehmm enggak, anak saya lebih muda dari kamu. Sini saya kenalkan sebelum dia berangkat kuliah.” Hiro menolehkan kepalanya bergantian pada Dokter Hardi dan lelaki muda yang disebut sebagai anaknya itu.
“Nah Hiro, ini Satya. Dia putra saya. Sat, kenalin dulu dia sudah lama kenal sama Papa.” Satya melongo melihat Hiro berdiri di depannya.
Tak disangka, Dokter Hardi adalah ayah dari Satya. Satya Pradipta. Kini baik Hiro maupun Satya hanya bisa melongo satu sama lain. Tak ada satu pun dari mereka yang mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
Dokter Hardi melihat keanehan sikap yang mereka tunjukan. “Loh loh loh.. kok malah pada bengong. Sat, kenalin dulu diri kamu.” Ucapan Dokter Hardi membuyarkan keterpakuan mereka berdua.
Sesuai permintaan ayahnya, Satya pun mengulurkan tangannya. “Satya. Salam kenal.” Dia pun memperkenalkan dirinya dengan sangat singkat. Hiro menyambut uluran tangan Satya dan menjawab perkenalannya juga dengan singkat. “Hiro. Salam kenal juga.”
Setelah perkenalan diri Satya dan Hiro, Satya pun berpamitan untuk pergi kuliah. Sebenarnya terbesit di benak Satya beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah mengapa Hiro menemui ayahnya. Apakah Hiro mempunyai keluhan mental?
Dokter Hardi dan Hiro pun memulai perbincangan mereka. Awalnya Hiro masih tidak ingin mengatakan apapun tentang Naurin. Tetapi pada akhirnya Hiro ingin mengetahui apa pendapat yang akan diberikan sang dokter jika dia menceritakan tentang arwah Naurin.
“Dok, Dokter mau dengerin saya?” tanya Hiro sebelum memulai ceritanya. Dokter Hardi pun tersenyum ramah dan menganggukan kepalanya.
“Ini tentang Naurin, saya tidak tahu saya ini gila atau tidak, tetapi ini yang sedang saya alami sekarang. Naurin itu masih tetap ada Dok.”
“Maksud kamu, Naurin masih hidup?” tanya Dokter Hardi.
“Bukan, dia memang sudah tiada tetapi arwahnya masih menemani saya sampai sekarang.” jawab Hiro. “Gak semua orang bisa melihat dia. Awalnya saya sempat berpikir jika saya memang gila dan saya terima itu asalkan saya masih bisa melihat dan berbincang dengan Naurin. Sampai suatu ketika ada orang lain yang melihat Naurin di samping saya.” Lanjut Hiro bercerita.
Dokter Hardi mendengarkan cerita Hiro sampai akhir tanpa menyelanya sedikit pun. Setelah Hiro selesai menceritakan semuanya, sang dokter kemudian mengutarakan pendapatnya.
“Sekarang saya mengerti Hiro. Benar kata kamu, mungkin jika kamu saja yang bisa melihat Naurin itu artinya ada yang bermasalah dengan kejiwaan kamu. Tetapi tadi kata kamu ada orang lain yang juga bisa melihat Naurin. Disini saya tidak bisa banyak memberikan masukan, tetapi saya hanya meminta kamu untuk kembali mengikhlaskan kepergian Naurin. Mungkin saja kan jika yang kata kamu arwahnya masih menemani kamu itu karena kamu masih belum bisa mengikhlaskan dia.”
Hiro menundukan kepalanya, di dalam hatinya seperti berbisik jika akan sangat sulit untuk mengikhlaskan Naurin. Karena Hiro sangat mencintai teman masa kecilnya itu.
“Hiro, mungkin saya memang tidak bisa banyak membantu. Kalian, maksud saya kamu dan orang yang bisa melihat arwah Naurin itu adalah orang spesial yang diberi kelebihan. Tetapi kamu juga harus ingat, masa depan kamu masih panjang. Masih banyak hal yang harus kamu lakukan, juga kamu lalui demi masa depan kamu.” Dokter Hardi menambahkan.
Hiro mengerti apa yang dimaksud oleh Dokter Hardi. Dia harus menjalani kehidupannya dengan normal. Demi masa depannya. Tetapi tetap saja sangat sulit baginya untuk mengabaikan arwah Naurin. Hatinya sudah jatuh terlalu dalam pada wanita cantik tersebut.
“Tetapi dok, saya tidak tahu kapan arwah Naurin akan pergi dari kehidupan saya.”
“Untuk hal ini, saya tidak bisa memberi jawaban. Karena ilmu kejiwaan yang saya pelajari tidak pernah ada yang mengatakan kapan arwah yang gentayangan itu akan pergi. Tetapi kamu bisa mengontrol diri kamu agar tidak terus mempedulikannya.”
Hiro mengangguk pelan. Kini dia bingung harus berbuat apa. Apakah dia bisa tidak mempedulikan Naurin? Sedangkan dia sendiri sangat membutuhkan Naurin. Lalu apa yang akan Hiro lakukan selanjutnya?