Hiro mengerti apa yang dimaksud oleh Dokter Hardi. Dia harus menjalani kehidupannya dengan normal. Demi masa depannya. Tetapi tetap saja sangat sulit baginya untuk mengabaikan arwah Naurin. Hatinya sudah jatuh terlalu dalam pada wanita cantik tersebut.
“Tetapi dok, saya tidak tahu kapan arwah Naurin akan pergi dari kehidupan saya.”
“Untuk hal ini, saya tidak bisa memberi jawaban. Karena ilmu kejiwaan yang saya pelajari tidak pernah ada yang mengatakan kapan arwah yang gentayangan itu akan pergi. Tetapi kamu bisa mengontrol diri kamu agar tidak terus mempedulikannya.”
Hiro mengangguk pelan. Kini dia bingung harus berbuat apa. Apakah dia bisa tidak mempedulikan Naurin? Sedangkan dia sendiri sangat membutuhkan Naurin. Lalu apa yang akan Hiro lakukan selanjutnya?
***
Matahari mulai merangkak semakin tinggi. Langit pun terlihat sangat biru, hanya sedikit goresan awan terlihat disana. Cerahnya langit siang itu tidak secerah suasana hati Dira. Dia masih kesal karena kakaknya terus melarangnya untuk dekat dengan Hiro lagi.
Sepertinya belum cukup Dirga menyuruhnya menjauhi Hiro tadi malam. Tadi pagi lagi-lagi Dirga meminta adiknya untuk tidak lagi mendekati Hiro. Padahal tadi malam Dira juga sudah dengan jelas mengatakan jika dia tetap akan menaruh perasaannya pada Hiro.
“Mas Dirga itu ya, kenapa sih memangnya aku gak boleh dekat sama Kak Hiro? Padahal Kak Hiro itu juga kan teman sekolahnya dulu. Apa iya segitunya Mas Dirga ngedukung hubungan Kak Hiro sama Kak Naurin? Aku kan adiknya, masa Mas Dirga gak mau sih kasih aku dukungan sedikit aja gitu!” sambil berjalan Dira menggerutu seorang diri. Bahkan mimik wajahnya dibuat sedemikian rupa menyesuaikan ucapan yang sedang dia katakan.
Dari kejauhan sikap Dira yang berbicara sendiri itu ternyata diperhatikan oleh Robi, Dastan, Miko dan juga Irham yang sedang berjalan bersama. Mereka adalah personil band Furizu bersama dengan Satya.
“Itu bukannya Dira ya, Rob?” tanya Dastan.
“Iya itu si Dira. Ternyata dia suka ngomong sendiri ya? Kirain cewek cantik imut kayak gitu normal-normal aja.” Jawab Robi.
“Hah? Maksud lu gimana?” tanya Miko pada Robi atas pernyataannya.
“Iya maksud lu apaan?” Irham ikut bertanya.
“Yaa gitu, ternyata suka ngomong sendiri kayak orang setengah waras. Hahaha..” jawab Robi diikuti tawanya.
Yang lain pun ikut tertawa mendengar candaan Robi tentang Dira yang berbicara sendiri. Kemudian mereka berempat langsung melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti karena memperhatikan sikap aneh Dira.
Mereka berempat menuju ke sebuah studio band yang ada di salah satu ruangan di universitas mereka. Satya sudah menunggu mereka disana.
Pintu ruangan studio baru saja terbuka tetapi Satya sudah menyambut kedatangan teman-temannya itu dengan kesal. “Lama banget sih kalian! Gak tau apa gue udah nungguin disini dari zaman batu?”
“Yaelah Sat baru juga masuk udah diomelin gitu! Sorry deh ya!” sahut Robi.
“Iya Sat, kita telat gara-gara ngeliat Dira ngomong sendirian. Eh dia bukan cewek indigo kan?” Irham menambahkan.
Mendengar nama Dira disebut, Satya langsung menolehkan kepalanya. Raut wajah Satya juga menunjukan ketertarikan dengan apa yang sudah dikatakan oleh Irham.
“Dira? Dira yang itu?” tanya Satya.
“Ya iyalah Sat emang Dira yang mana lagi sih!” jawab Robi sambil menaik turunkan alisnya ke arah Satya.
“Segitu tertariknya lu sama si Dira itu ya Sat?” tanya Dastan.
“Gimana gak tertarik sih Tan, lahh itu wallpapernya si Satya aja fotonya Dira. Upss keceplosan Sat.” Robi menutup mulutnya dengan satu tangan karena keceplosan membongkar rahasia Satya yang memasang foto Dira sebagai wallpaper ponselnya.
Dastan, Miko dan Irham langsung melirik ke arah Satya sambil memasang senyum usil. Seketika wajah Satya memerah menahan malu. “Ngapain sih kalian ngeliatin gue kayak gitu!?”
“Jadi selama ini, lu tuh penggemar rahasianya Dira?” tanya Irham seolah menyudutkan Satya.
“Apaan sih! Udah ah gue mau balik aja!” Satya langsung mengambil tas miliknya yang diletakan di bawah kursi yang didudukinya, lalu dia bangkit dan hendak melangkahkan kakinya keluar ruangan studio.
“Bilang aja mau nyari si Dira sih Sat. Pake malu-malu segala.” Ucapan Miko sukses membuat wajah Satya semakin memerah. Kini wajah Satya sudah seperti kepiting rebus.
Satya tidak ingin menghiraukan teman-temannya lagi. Langsung saja dia pergi meninggalkan semua teman-teman band nya itu. Mencari keberadaan Dira? Satu hal yang patut dia lakukan.
***
Di tempatnya bekerja, Dirga tidak fokus karena masih memikirkan sang adik. Dirga masih bingung bagaimana menjelaskan pada Dira, adiknya, jika Naurin itu sudah tiada dan arwahnya masih mengikuti Hiro. Dirga tidak mau dicap sebagai pembual oleh adiknya sendiri.
Teringat kembali perdebatan antara dirinya dengan sang adik saat Dirga meminta adiknya itu untuk menjauhi Hiro.
“Aku gak mau tahu Mas! Yang aku tahu sekarang aku suka sama Kak Hiro, dan Kak Naurin itu saingan terberat aku!” Dira memotong ucapan Dirga yang belum selesai.
“Ra, banyak lelaki yang lain kok! Gak cuma si Hiro aja. Lagian Naurin itu kan sudah …” belum selesai Dirga berbicara, Dira kembali memotong kalimatnya.
“Dira gak mau dengar Mas! Dira gak mau dengar apa-apa tentang Kak Naurin. Dira mau fokus ngerebut hati Kak Hiro aja. Titik!” Dira menutup kedua telinganya tak ingin mendengar ada kalimat lain yang keluar dari mulut sang kakak.
Dirga menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal. “Duuhh gimana ya ngasih tau si Dira kalau yang dia lihat selama ini tuh arwahnya Naurin. Masa beneran harus ngomong langsung ke Hiro sih buat jaga jarak sama Dira? Kan gue gak mau kalau adik gue harus berurusan sama arwah. Nanti Dira malah kenapa-kenapa.” Gumam Dirga dengan suara pelan.
Dirga menengok jam yang menempel di dinding. Sudah jam 2 lewat. Jika ke kampus Dira sekarang masih akan keburu untuk menemui Hiro asal jalanan tidak macet. Dari tempat Dirga bekerja ke kampus Dira hanya memakan waktu 30 menit jika menggunakan motor.
Akhirnya Dirga memutuskan untuk izin pulang pada atasannya dengan alasan harus menjemput adiknya yang sakit. Kini dalam hatinya dia bertekad jika harus menemui Hiro dan memintanya menjauh dari Dira.
Bersyukurnya jalanan Jakarta saat itu seperti memihak pada Dirga. Jalanan sangat lowong dan tak ada kemacetan sama sekali. Sehingga tak sampai setengah jam Dirga sudah sampai ke kampusnya Dira. Tentu saja Dirga membawa motornya agak sedikit mengebut.
Dirga melemparkan pandangannya jauh ke balik gerbang kampus. Dia mencari sosok Hiro dari banyaknya mahasiswa yang berlalu lalang. Dirga menyangkutkan helmnya di spion motor lalu menuruni motornya. Dirga melangkah lebih mendekati gerbang. Kemudian dia berdiri sambil bersandar di gerbang tersebut.
10 menit..
20 menit..
30 menit..
1 jam..
Sudah 1 jam berlalu namun sosok Hiro tak kunjung muncul di pandangannya. Dirga memutuskan untuk menunggunya sekitar 10 menit lagi. Jika masih tak muncul juga maka dia akan pulang.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak kirinya. “Ngapain disini?”
Sedikit terkejut Dirga menolehkan kepalanya melihat siapa yang menegurnya. “Eh kamu, Ra!”
“Mas Dirga mau ngapain kesini?” tanya Dira pada sang kakak sambil memberikan tatapan mautnya.
“Kamu kenapa ngeliatin Mas kayak gitu?”
“Pasti Mas Dirga nyari Kak Hiro kan? Mau ngomong sama Kak Hiro buat jauhin Dira kan?” Dira menyodorkan jari telunjuknya pada Dirga. Dira juga memasang mimik wajah curiga pada kakaknya itu.
“Apaan sih kamu nunjuk-nunjuk Mas Dirga kayak gitu! Gak sopan tahu!” Dirga menepis pelan tangan Dira yang menunjuk dirinya.
“Mas udah bilang kan kalau Mas mau ketemu sama Hiro. Mas mau ngomong langsung sama orangnya biar gak usah ada urusan apa-apa sama kamu.” Tambahnya.
“Mas Dirga apa-apaan sih! Dira gak mau Mas Dirga ngomong sama Kak Hiro! Kan Dira udah bilang kalau Dira tuh suka sama Kak Hiro. Biarin aja sih Mas adiknya ini jatuh cinta!” dengan nada kesal dan bibir cemberut Dira mulai memarahi kakaknya.
“Kamu kan gak mau dengar apa kata Mas Dirga, jadi Mas juga gak mau dengar apa yang kamu bilang. Pokoknya Mas Dirga gak mau kamu punya hubungan atau urusan apapun sama Hiro! Titik!”
“Iihh Mas Dirga!!” ucap Dira gemas sambil menghentakan kakinya bergantian.
“Kamu harus dengar apa yang Mas Dirga bilang! Mas cuma gak mau ada apa-apa sama kamu, Ra.”
“Kenapa sih Mas kalau Dira tuh suka sama Kak Hiro? Kok kayaknya Mas Dirga gak suka banget?” bibir imut Dira semakin cemberut. Air mata mulai menggenang dan bersiap untuk jatuh.
Dirga memegang kedua lengan sang adik dan menatapnya serius. “Ra.. tolong kali ini aja dengerin Mas Dirga. Mas masih belum tahu gimana cara jelasinnya sama kamu tetapi yang pasti Mas Dirga gak mau kamu sampai kenapa-kenapa.” Katanya.
“Kalau Mas Dirga gak bisa jelasin sama Dira, Mas Dirga juga gak bisa dong ngelarang-larang Dira!” Dira menyingkirkan tangan sang kakak dari kedua lengannya.
“RA! POKOKNYA MAS DIRGA GAK MAU KAMU DEKAT SAMA HIRO!!” bentak Dirga. Dia kesal karena sang adik tak mau menuruti permintaannya.
Dira terkejut karena kakaknya berani membentaknya di depan umum. Air mata yang menggenang tadi akhirnya mengalir membasahi pipinya setelah Dirga membentaknya.
“Ra, maaf Mas Dirga gak bermaksud membentak kamu. Mas hanya mau kamu dengar dan menuruti apa yang Mas bilang.” Suara Dirga melembut. Kembali Dirga memegang kedua lengan Dira.
Dira tak menjawab dan hanya menyeka air mata yang terus mengalir. Dari kejauhan Satya melihat Dira dan Dirga yang sedang berbincang. Satya sangat ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Namun karena jarak yang jauh, Satya tak bisa menguping pembicaraan mereka.
Satya memandang kesal Dirga, dia tak suka jika ada lelaki lain yang berdekatan dengan Dira. Satya tidak tahu jika lelaki itu adalah kakaknya Dira. Semakin kesal lagi Satya saat melihat Dira yang seperti sedang menangis dan menyeka air matanya.
“Siapa sih itu cowok? Kok kayaknya dekat banget sama Dira. Itu si Dira nangis ya? Wahh b******k tuh cowok bikin Dira sampai nangis gitu!” gumam Satya dalam hatinya.
Satya pun terus memperhatikan mereka berdua sambil menahan perasaan kesal dalam hati. Kesal karena menerka-nerka siapakah lelaki yang sedang bersama Dira dan membuatnya menangis.