Merayakan Kehilangan
MERAYAKAN KEHILANGAN
Karya : Pujiyanti
Kenyataan yang ternyata
Bukan standar kebahagiaan.
2 Tahun lalu saya melihat sosok wanita hebat yang selalu ceria didunia keduanya,
Sebut saja media sosial. Sering saya dapati senyuman-senyuman hangat yang hadir didalam hidupmu. Entah apakah kenyataannya sebenarnya seperti itu. Ternyata setelah ditelusuri wanita ini menyimpan banyak luka dan trauma didalam hidupnya.
Merayakan kehilangan
Pada suatu kehilangan, kita seolah menemukan kesedihan.
Dari semua latar yang kita temui dan jumpai.
Pada suatu kehilangan, kita sadar,
Bahwa semua akan hilang kemudian,
Terjadi di awal maupun diakhir itu sudah kehendak Tuhan.
Akhirnya kita lebih sadar dan menghargai sebuah kehilangan,
Tanpa berargumentasi terlalu inggi.
Hidup tak pernah sulit,
Yang sulit itu pikiran kita,
Karena terlalu mempersulit jalannya.
Pernahkah kita berfikir betapa istimewanya kehilangan,
Sampai-sampai selalu kita pikirkan,
Mengapa tidak berinisiatif merayakannya? Mengapa selalu kebahagiaan ang dirayakan.
Bukankah kehilangan sama saja mempunyai standar keistimewaan dihidup kita.
Apa hal yang paling menakutkan dari kehilangan?
Ialah mencari tempat ternyaman untuk memupuk kerinduan.
Karena setiap orang tetap mencari ,
Padahal tempat itu tak pernah benar-benar ada.
Tapi tak apa, bukan?
Kita memang selalu keras kepala dalam hal ini,
Atau keras kepala urusan kehilangan.
Sebuah hati telah dikuatkan,
Selapang-lapangnya jiwa,
Sedalam-dalamnya makna,
Tugas kita, adalah percaya,
Sebaik-baiknya jiwa.
Pada suatu kehilangan,
Arti kebingungan mencari tempat bernaung.
Apakah pada jiwa mereka yang menerima,
Atau pada sesat mereka yang dipaksa kehilangan.
Sesekali kita harus merayakan ini,
.merayakan hati yang terluka,
Saat asa tak sanggup berkata,.
Manusia hanya memikirkan luka.
Bukankah, manusia tahu?
Semua akan hilang kemudian,
Mengapa relung jiwa selalu merasa dilukai dan sulit dicari.
Seharusnya kerelaan mudah dicari dan diterima,
Dibawah rindu yang tak punya titik kesempurnaan dan titik temu.
Yang tersisa, hanya puing-puing kenangan.
Tempat paling tak di inginkan apalagi di ikhlaskan.
Dunia ini penuh dengan manusia baik,
Jika kamu tidak pernah menemukannya,
Maka jadilah pemerannya.
Aku percaya Tuhan itu baik,
Karena semua hal yang terjadi,
Atas kehendaknya tentu baik hasilnya.
Rasanya pilih kasih jika kita,
Hanya terfokus merayakan kebahagiaan saja,
Mengapa kita tidak mencoba merayakan kehilangan.
Tuhan itu baik, ternyata.
Kehilangan-kehilangan itu,
Mengajarkan tuk lebih menghargai keberadaan.
Cobalah sesekali adil dalam merayakan hal istimewa,
antara kebahagiaan dan kehilangan,
sama-sama setara dalam keistimewaan.
Kita adalah dua orang yang sama-sama takut kehilangan,
Namun enggan melahirkan kebahagiaan.
Bukan menolak sakit,
Bukan mau-ku sulit,
Bukan tak ingin rumit,
Tapi tingkahmu yang mempersulit dan membuat aku pahit.
Gak masalah,
Seringkali kalah,
Seringkali mengalah,
Seringkali patah,
Sampai tiba saatnya bangkit dan melawan setidaknya kamu bertahan.
Rasanya sama saja,
Jika aku mengakhirinya,
Kamu tidak akan pernah memulainya.
Lantas apakah harus selalu kehilangan yang disalahkan?
Sedangkan ia berhak dirayakan.
Ada beberapa hal yang harus dipendam sendirian,
Terlebih perihal kehilangan.
Kita memang punya keinginan,
Tapi Tuhan penentu segalanya.
Bukan aku yang takut kehilangan,
Tapi kamu yang menaruh titik kehilangan.
Aku hanya ingin sembuh,
Dititik luka yang lama terukir,
Aku hanya ingin sembuh.
Hadirnya menghantarkan keindahan,
Hilangnya meninggalkan kerinduan.
Cuma rumah
Pergilah dengannya,
Bersenang-senanglah dengannya,
Jika kamu kehilangannya,
Maka kembali lah kepadaku yang cuma rumah ini.
Terkadang kita hanya memikirkan eksistensi dari kehilangan aja,
Tanpa menganggap adanya esensi sebuah kehilangan.
Baru saja dibuat terbang dan sayang,
Mengapa harus hadir sosok kehilangan.
Kita adalah pernah,
Bukan punah,
Bukan juga menyerah, hanya saja sudah.
Beda orang,
Beda asa,
Beda kehilangan,
Beda juga rasa.
Jangan salahkan kehilangan,
Jika kamu masih takut kebahagiaan.
Kita dipaksa maju oleh keadaan,
Dimana selalu saja hal-hal kehilangan yang disalahkan,
tentu saja melulu tentang diikhlaskan.
Kamu sangat hebat saat ini,
Meskipun terluka,
Sambil kecewa,
Bahkan sampai darahmu menetes,
Bunuh diri bukanlah sebuah tujuan.
Coba lihat,
Manusia yang sedang membaca tulisan ini,
Ia, jika ditanya.
Selalu jawabnya gapapa,.
Padahal dikala ia sendiri hatinya hancur dan air matanya tumpah dimana-mana.
Pahit, sakit,
Sulit, payah, marah, lelah, kecewa, merana, gembira, bahagia, semua punya takarannya.
Mau tidak mau,
Sulit tidak sulit,
Suka tidak suka,
Kita harus terima,
Karena memang begitulah semesta.
Hei, ganteng.
Wanita yang sedang membaca tulisan ini,
Hanya ingin sebuah pembuktian dan kepastian, bukan hanya sebuah pengakuan.
Satu yang kutahu,
Broken home, bukan hanya kasus perceraian orangtua saja,
Melainkan kasus kehilangan yang dipaksa mengikhlaskan itu lebih lebih menyakitkan.
Bagaimana kamu bahagia,
Kalau kamu masih nyaman dengan orang yang menjatuhkan.
Bagaimana kata semangat itu hadir,
Jika pelaku semangatnya dipatahkan oleh penyemangatnya.
Terlalu sesak jika ditahan,
Tapi lebih merusak bila dibiarkan.
Semakin dalam pertemuan,
Semakin besar kehilangan.
Justru aku sering berfikir,
Apa yang seharusnya dirayakan,
Kebahagiaan atau kehilangan.
Tuhan, kehilangan ini sudah terlalu sulit,
Tolong beri kami tempat,
Karena masih banyak keinginan yang sudah terlewat.
Kita tidak pernah bisa merubah sifat manusia lain disekitar kita,
Tapi kita bisa memilih siapa saja manusia yang berhak masuk dihidup kita.
Tidak banyak yang aku inginkan,
Aku hanya ingin ibuku tersenyum ketika ia kehilanganku.
Inilah yang katanya dunia,
Yang sukanya mengubah rasa,
Bahkan pandai pura-pura.
Perasaan kehilangannya sudah lama,
Mengapa rindunya tiada henti?
Apa mesti kucari dan kurayakan kembali.
Hari-hari erasa berat,
Kobaran semangat semakin sempit,
Dan jarang ku temui manusia lain peduli,
Dan akhirnya semua hanya perihal diri sendiri yang mengerti.
Aku sudah tahu, semua orang tiba-tiba menghilang,
Dan ketika aku kuasa, tiba-tiba semua orang datang,
Maka aku mengerti,
Ternyata sifat manusia hanya sementara,
Dan semua akan hilang jika kita sedang terluka.
Kenapa sesusah itu, buat bilang.
"Selamat merayakan kehilangan."
Lagi-lagi, mikirin kehilangan,
Lagi-lagi, mikirin kerinduan,
Kapan kamu sanggup mengikhlaskan an merayakannya.
Ternyata begini jadi dewasa,
Semua harus terlihat baik-baik saja,
Semua keluh kesah sungkan diterima,
Walaupun ealitanya hanya pura-pura.
Kamu pikir, hanya kamu yang berhak bahagia,
Lantas mengapa kebahagiaan diciptakan, jika salah satu hati merasa tidak menyenangkan.
Kamu pikir, cuma kamu yang dibebani,
Cobalah sesekali melihat sudut pandang orang lain,
Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri.
Giliran ada di sia-siain,
Waktu hilang dicariin,
Jangan terlalu egois dengan perasaan diri sendiri.
Manusia lain, mana tahu tentang kehilangan?
Selalu menuntut kita terlihat kuat dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak mengapa merasa kehilangan,
Setidaknya pernah hadirnya kebahagiaan.
Ingin rasanya marah dan menyesal,
Karena kita sempat kenal,
Tapi aku berubah pikiran,
Kamu pernah begitu berkontribusi dalam hidupku,
Walau pada akhirnya kita sama-sama kehilangan.
Jika terus menerus menengok ke belakang,
Dengan kenangan indah bersama orang yang sudah hilang,
Lantas bagaimana sib seseorang yang sudah menghadangmu pulang.
Kalau sakit,
Obati sendiri,
Kalau marah,
Redam sendiri,
Kamu bukan anak kecil lagi,
Yang dimana-mana harus dituruti.
Capek banget yah hidup dibawah ekspektasi orang lain,
Harus memenuhi list-list keinginan mereka,
Kadang kita tidak sadar,
Kalau diri ini sedang berjuang,
Untuk kuat bukan pura-pura kuat.
..
Suatu saat nanti kamu akan kehilangan orang yang tidak pernah meminta apapun, selain waktumu.
Ada jiwa yang mulai patah,
Ada rasa yang mulai pasrah,
Entah karena ingin menyerah,
Atau memang sekedar sudah.
Aku tidak pernah melarang kamu menghilang,
Walau pada akhirnya aku yang kewalahan karena kerinduan.
Nanti aku ceritakan,
Bahkan aku tuliskan,
Bagaimana aku melupakanmu,
Tanpa melibatkan orang baru.
Siapa pun boleh pergi dan menghilang dari hidup kita,
Karena tidak ada salahnya,
Kita sering-sering merayakan kehilangan.
Memang benar,
Kita paling hebat,
Masih pura-pura bahagia,
Setelah kita banyak kehilangan.
Sesulit apapun rintangan yang menghadang,
Percayalah,
Yang hilang tetap hilang,
Dan,
Yang datang tetap datang.
Aku sudah bersahabat dengan kesepian,
Sudah nyaman juga dengan kehilangan.
Bagaimana caranya,
Kamu hanya terfokus pada dirimu dan kamu.
Tuhan memang selalu punya rencana,
Untuk buat kita bahagian,
Hanya saja kita yang kurang mensyukurinya.
Jangan pernah merasa sendiri,
Semua ada titik bersamanya,
Walau kenyataannya memang hanya perihal sendiri.
Mengandalkan keberadaan orang lain,
Bukan solusi kebahagiaan bagi diri,
Jika kita mampu melakukan sendiri,
Mengapa harus orang lain?
Untuk siapa pun manusia baik,
Yang sempat membaca tulisan ini,
Terima kasih sudah menjadi versi terbaik yang kamu miliki.
Tidak semua kenyataan yang terlihat,
Memang kenyataan adanya,
Bisa saja sebaliknya.
Yang paling menyakitkan,
Kita seolah kuat dari kehilangan,
Tapi, yang kehilangan malah seenaknya meraih kebahagiaan.
Yang paling sulit setelah kehilangan,
Ialah merelakan dan mengikhlaskan apalagi merayakan.
Kita perlu merasakan sedalam-dalamnya kehilangan,
Agar kita mengerti bagaimana caranya mengikhlaskan.
Yang dicari hilang,
Yang dikejar lari,
Semua akan hilang tanpa dicari itulah alur semesta.
Aku baru saja kehilangan,
Tapi aku lupa kemarin-kemarin aku minta apa sama Tuhan,
Karena ia mengembalikan kehilangan itu dengan sebuah pertemuan.
Jangan pernah salahkan kehilangan,
Jika kita sulit mengikhlaskan.
Kukira dewasa itu menyenangkan
Ternyata semakin banyak beban pikiran,
Semakin banyak tuntutan impian,
Yang harus diwujudkan walaupun sudah tak sejalan.
Kalau boleh jujur
Dulu aku sering cemburuan
Dulu aku sering kangen
Tapi dulu rasanya gengsiku semakin memuncak dan malu tuk sekedar mengungkapkan sebuah pengakuan.
Sudah kuduga kamu masih mikirin dia,
Yang sudah lama pergi dan menghilang,
Tolong berhenti menguras energi,
Untuk manusia yang tak menghargai.
Terlalu ambisi agar dikasihi
Sampai lupa punya harga diri.
Walaupun dia memilih untuk melupakan
Setidaknya aku sudah berjuang keras
Untuk pernah ada didekatnya,
Walau kemudian saling kehilangan
Mau dipendam atau diungkapkan
Keduanya sama-sama bisa jadi faktor kehilangan.
Aku suka menulis, karena dengan menulis aku bisa menangis suka relaku,
Kata-kata yang kutulis seakan-akan mewakilkan air mataku yang terjatuh,
Karena hanya mengandalkan pendengar bagiku buku diary-ku pun lebih setia.
Pada akhirnya,
Kehilangan yang sudah terukir lama
Tetap menempati posisi yang sama,
Sama-sama sulit merelakan.
Kalau yang lama bisa kembali,
Itu ada dua kemungkinan yang terjadi,
Kembali untuk menyakiti,
Kembali karena belum ada pengganti.
Jika keberadaannya aja tak inanto,
Coba sesekali pergi dan menghilang tanpa alasan ingin dicari.
Jangan pernah membenci kehilangan
Karena dengan kehadirannya mampu mendewasakan keegoisan kita
Pergi dan menghilang memang bukan bukan jalan solusi,
Tapi terkadang pergi dan menghilang bisa menjadi intuisi, jika keberadaannya tidak diharapkan lagi.
Aku hanya ingin mengerti
Apa yang sebenarnya terjadi
Tanpa harus membayangkan
Apa yang belum tentu terjadi
Ternyata menjadi dewasa itu
Menyenangkan menurut mereka yang berkata
diwaktu kecil "Enak yah jadi dewasa."
Ternyata realitanya tak seenak bayangan anak kecil itu
Yang dimana harus ada perjuangan untuk menjalani hari-harinya.
Ketidakselarasan hati
Selalu menentukan jalan cerita kita
Ditengah resahnya hati
Yang tidak punya jawaban
Kamu harus berani sendiri
Karena di dunia ini gak melulu tentang peduli
Dan gak semua orang bisa paham kamu dan peduli sama kamu
Kalau bukan kita yang mengerti diri sendiri
Mau siapa lagi yang peduli?
Dulu aku mikir
Siapa yang bersyukur miliki aku
Apakah ada di dunia ini yang bangga dengan aku
Ternyata kutemui ia yang bersyukur an menghargai keberadaanku di hidupnya.
Kamu terlalu sering memikirkan masa depan
Padahal hari ini juga kamu belum paham maknanya
Semua ini
Hanya berada di pikiran
Bukan berarti bisa terjadi begitu aja
Ini hanya soal kecemasan-kecemasan
Yang belum tentu terjadi
Ada rasa takut yang hadir
Takut kamu lebih nyaman dengan orang selain aku
Karena pada kenyataannya aku tidak sebaik itu.
Terlalu merusak
Jika terus dikeluarkan
Tapi terlalu sesak
Jika terus-menerus ditahan
Yang selama ini aku perjuangkan
Ternyata belum terlihat apa-apa dimatamu
Yang sampai saat ini
Ternyata kau menganggap u hanya sebuah pelampiasan semata
Berjuang adalah salah satu effort-ku
Menyerah adalah sebuah hianatku
Dan kamu adalah sebuah tujuan
Ini hanya sebuah kenyataan
Aku ditakdirkan untuk selalu memikirkan kamu
Sedangkan kamu ditakdirkan untuk memikirkan orang lain
Sama-sama diposisi saling memikirkan namun beda tujuan
Salahnya aku
Masih memikirkan kamu
Jelas-jelas kamu menghilang
Bersama pilihanmu itu
Haruskah semua merasa kehilangan?
Atas apa yang sudah ku perjuangan sejak dulu
Dan akhirnya semua usai dan jadi benalu
Hingga kisahnya dihempas masa lalu
Sulit
Satu kata yang mewakili
Dan masih bertahan sampai saat ini
Tetap bertahan untuk tidak saling bertukaran perasaan
Aku mengerti
Dan aku sedikit pahami
Bahwa caraku berperasaan salah
Harusnya ku tutupi
Pikirkan sewajarnya
Langkahkan semestinya
Karena biasanya yang membuat sulit
Adalah pikiran kita sendiri
Terkadang
Kemauan yang tidak sesuai dengan tindakan
Juga bisa menghianati kita
Apalagi harapan yang tidak sesuai ekspektasi
Bisa jadi akan berujung frustasi
Aku tidak ingin terlalu larut
Ketergantungan akan semua hal
Begitu pun harapan-harapan
Aku hanya ingin suatu kejelasan
Cerita kita apakah masih diposisi yang aman?
Dalam hidup
Semua harus dengan takaran
Terkadang kamu harus rela mempertaruhkan
Sesekali juga kamu harus berhenti
Ada kalanya kamu harus memulai kembali,
Dan ada pula waktu kamu untuk mengakhiri semua
Gak semua harus sekarang
Gak mesti semua terjadi bersamaan
Sesekali kamu harus memanjakan dirimu
Istirahat itu perlu, yang gak boleh itu nyerah.
Semua orang punya keinginan,
Walaupun kenyataannya sebaik-baiknya pengabul
Ialah Tuhan yang menghadirkan takdir
Capek yah jadi manusia yang kerjaannya pura-pura
Yang hidupnya dipenuhi ekspektasi manusia
Dan akhirnya banyak kekecewaan yang hadir tiada henti
Ternyata
Semua hal yang terjadi itu sudah ada obatnya
Seperti aku dan kamu ketika dihantui kehilangan
Obatnya cuma satu pertemuan.
Kita tidak perlu mengerahkan semua kekuatan kita
Hanya untuk terlihat kuat
Karena kenyataannya kita benar-benar belum kuat
Dan masih beradaptasi dengan keadaan yang rumit
Kaki terima kasih selalu kuat dan mampu
menopang persoalan hidup sendiri
Kuatkan lagi pikiran,
Kuatkan lagi perasaan,
Kuatkan lagi badan,
Tanggung jawab kita masih membeludak
Tapi, terima kasih sudah mau bertahan.
MERAYAKAN KEHILANGAN
Karya : Pujiyanti
Kenyataan yang ternyata
Bukan standar kebahagiaan.
2 Tahun lalu saya melihat sosok wanita hebat yang selalu ceria didunia keduanya,
Sebut saja media sosial. Sering saya dapati senyuman-senyuman hangat yang hadir didalam hidupmu. Entah apakah kenyataannya sebenarnya seperti itu. Ternyata setelah ditelusuri wanita ini menyimpan banyak luka dan trauma didalam hidupnya.
Merayakan kehilangan
Pada suatu kehilangan, kita seolah menemukan kesedihan.
Dari semua latar yang kita temui dan jumpai.
Pada suatu kehilangan, kita sadar,
Bahwa semua akan hilang kemudian,
Terjadi di awal maupun diakhir itu sudah kehendak Tuhan.
Akhirnya kita lebih sadar dan menghargai sebuah kehilangan,
Tanpa berargumentasi terlalu inggi.
Hidup tak pernah sulit,
Yang sulit itu pikiran kita,
Karena terlalu mempersulit jalannya.
Pernahkah kita berfikir betapa istimewanya kehilangan,
Sampai-sampai selalu kita pikirkan,
Mengapa tidak berinisiatif merayakannya? Mengapa selalu kebahagiaan ang dirayakan.
Bukankah kehilangan sama saja mempunyai standar keistimewaan dihidup kita.
Apa hal yang paling menakutkan dari kehilangan?
Ialah mencari tempat ternyaman untuk memupuk kerinduan.
Karena setiap orang tetap mencari ,
Padahal tempat itu tak pernah benar-benar ada.
Tapi tak apa, bukan?
Kita memang selalu keras kepala dalam hal ini,
Atau keras kepala urusan kehilangan.
Sebuah hati telah dikuatkan,
Selapang-lapangnya jiwa,
Sedalam-dalamnya makna,
Tugas kita, adalah percaya,
Sebaik-baiknya jiwa.
Pada suatu kehilangan,
Arti kebingungan mencari tempat bernaung.
Apakah pada jiwa mereka yang menerima,
Atau pada sesat mereka yang dipaksa kehilangan.
Sesekali kita harus merayakan ini,
.merayakan hati yang terluka,
Saat asa tak sanggup berkata,.
Manusia hanya memikirkan luka.
Bukankah, manusia tahu?
Semua akan hilang kemudian,
Mengapa relung jiwa selalu merasa dilukai dan sulit dicari.
Seharusnya kerelaan mudah dicari dan diterima,
Dibawah rindu yang tak punya titik kesempurnaan dan titik temu.
Yang tersisa, hanya puing-puing kenangan.
Tempat paling tak di inginkan apalagi di ikhlaskan.
Dunia ini penuh dengan manusia baik,
Jika kamu tidak pernah menemukannya,
Maka jadilah pemerannya.
Aku percaya Tuhan itu baik,
Karena semua hal yang terjadi,
Atas kehendaknya tentu baik hasilnya.
Rasanya pilih kasih jika kita,
Hanya terfokus merayakan kebahagiaan saja,
Mengapa kita tidak mencoba merayakan kehilangan.
Tuhan itu baik, ternyata.
Kehilangan-kehilangan itu,
Mengajarkan tuk lebih menghargai keberadaan.
Cobalah sesekali adil dalam merayakan hal istimewa,
antara kebahagiaan dan kehilangan,
sama-sama setara dalam keistimewaan.
Kita adalah dua orang yang sama-sama takut kehilangan,
Namun enggan melahirkan kebahagiaan.
Bukan menolak sakit,
Bukan mau-ku sulit,
Bukan tak ingin rumit,
Tapi tingkahmu yang mempersulit dan membuat aku pahit.
Gak masalah,
Seringkali kalah,
Seringkali mengalah,
Seringkali patah,
Sampai tiba saatnya bangkit dan melawan setidaknya kamu bertahan.
Rasanya sama saja,
Jika aku mengakhirinya,
Kamu tidak akan pernah memulainya.
Lantas apakah harus selalu kehilangan yang disalahkan?
Sedangkan ia berhak dirayakan.
Ada beberapa hal yang harus dipendam sendirian,
Terlebih perihal kehilangan.
Kita memang punya keinginan,
Tapi Tuhan penentu segalanya.
Bukan aku yang takut kehilangan,
Tapi kamu yang menaruh titik kehilangan.
Aku hanya ingin sembuh,
Dititik luka yang lama terukir,
Aku hanya ingin sembuh.
Hadirnya menghantarkan keindahan,
Hilangnya meninggalkan kerinduan.
Cuma rumah
Pergilah dengannya,
Bersenang-senanglah dengannya,
Jika kamu kehilangannya,
Maka kembali lah kepadaku yang cuma rumah ini.
Terkadang kita hanya memikirkan eksistensi dari kehilangan aja,
Tanpa menganggap adanya esensi sebuah kehilangan.
Baru saja dibuat terbang dan sayang,
Mengapa harus hadir sosok kehilangan.
Kita adalah pernah,
Bukan punah,
Bukan juga menyerah, hanya saja sudah.
Beda orang,
Beda asa,
Beda kehilangan,
Beda juga rasa.
Jangan salahkan kehilangan,
Jika kamu masih takut kebahagiaan.
Kita dipaksa maju oleh keadaan,
Dimana selalu saja hal-hal kehilangan yang disalahkan,
tentu saja melulu tentang diikhlaskan.
Kamu sangat hebat saat ini,
Meskipun terluka,
Sambil kecewa,
Bahkan sampai darahmu menetes,
Bunuh diri bukanlah sebuah tujuan.
Coba lihat,
Manusia yang sedang membaca tulisan ini,
Ia, jika ditanya.
Selalu jawabnya gapapa,.
Padahal dikala ia sendiri hatinya hancur dan air matanya tumpah dimana-mana.
Pahit, sakit,
Sulit, payah, marah, lelah, kecewa, merana, gembira, bahagia, semua punya takarannya.
Mau tidak mau,
Sulit tidak sulit,
Suka tidak suka,
Kita harus terima,
Karena memang begitulah semesta.
Hei, ganteng.
Wanita yang sedang membaca tulisan ini,
Hanya ingin sebuah pembuktian dan kepastian, bukan hanya sebuah pengakuan.
Satu yang kutahu,
Broken home, bukan hanya kasus perceraian orangtua saja,
Melainkan kasus kehilangan yang dipaksa mengikhlaskan itu lebih lebih menyakitkan.
Bagaimana kamu bahagia,
Kalau kamu masih nyaman dengan orang yang menjatuhkan.
Bagaimana kata semangat itu hadir,
Jika pelaku semangatnya dipatahkan oleh penyemangatnya.
Terlalu sesak jika ditahan,
Tapi lebih merusak bila dibiarkan.
Semakin dalam pertemuan,
Semakin besar kehilangan.
Justru aku sering berfikir,
Apa yang seharusnya dirayakan,
Kebahagiaan atau kehilangan.
Tuhan, kehilangan ini sudah terlalu sulit,
Tolong beri kami tempat,
Karena masih banyak keinginan yang sudah terlewat.
Kita tidak pernah bisa merubah sifat manusia lain disekitar kita,
Tapi kita bisa memilih siapa saja manusia yang berhak masuk dihidup kita.
Tidak banyak yang aku inginkan,
Aku hanya ingin ibuku tersenyum ketika ia kehilanganku.
Inilah yang katanya dunia,
Yang sukanya mengubah rasa,
Bahkan pandai pura-pura.
Perasaan kehilangannya sudah lama,
Mengapa rindunya tiada henti?
Apa mesti kucari dan kurayakan kembali.
Hari-hari erasa berat,
Kobaran semangat semakin sempit,
Dan jarang ku temui manusia lain peduli,
Dan akhirnya semua hanya perihal diri sendiri yang mengerti.
Aku sudah tahu, semua orang tiba-tiba menghilang,
Dan ketika aku kuasa, tiba-tiba semua orang datang,
Maka aku mengerti,
Ternyata sifat manusia hanya sementara,
Dan semua akan hilang jika kita sedang terluka.
Kenapa sesusah itu, buat bilang.
"Selamat merayakan kehilangan."
Lagi-lagi, mikirin kehilangan,
Lagi-lagi, mikirin kerinduan,
Kapan kamu sanggup mengikhlaskan an merayakannya.
Ternyata begini jadi dewasa,
Semua harus terlihat baik-baik saja,
Semua keluh kesah sungkan diterima,
Walaupun ealitanya hanya pura-pura.
Kamu pikir, hanya kamu yang berhak bahagia,
Lantas mengapa kebahagiaan diciptakan, jika salah satu hati merasa tidak menyenangkan.
Kamu pikir, cuma kamu yang dibebani,
Cobalah sesekali melihat sudut pandang orang lain,
Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri.
Giliran ada di sia-siain,
Waktu hilang dicariin,
Jangan terlalu egois dengan perasaan diri sendiri.
Manusia lain, mana tahu tentang kehilangan?
Selalu menuntut kita terlihat kuat dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak mengapa merasa kehilangan,
Setidaknya pernah hadirnya kebahagiaan.
Ingin rasanya marah dan menyesal,
Karena kita sempat kenal,
Tapi aku berubah pikiran,
Kamu pernah begitu berkontribusi dalam hidupku,
Walau pada akhirnya kita sama-sama kehilangan.
Jika terus menerus menengok ke belakang,
Dengan kenangan indah bersama orang yang sudah hilang,
Lantas bagaimana sib seseorang yang sudah menghadangmu pulang.
Kalau sakit,
Obati sendiri,
Kalau marah,
Redam sendiri,
Kamu bukan anak kecil lagi,
Yang dimana-mana harus dituruti.
Capek banget yah hidup dibawah ekspektasi orang lain,
Harus memenuhi list-list keinginan mereka,
Kadang kita tidak sadar,
Kalau diri ini sedang berjuang,
Untuk kuat bukan pura-pura kuat.
..
Suatu saat nanti kamu akan kehilangan orang yang tidak pernah meminta apapun, selain waktumu.
Ada jiwa yang mulai patah,
Ada rasa yang mulai pasrah,
Entah karena ingin menyerah,
Atau memang sekedar sudah.
Aku tidak pernah melarang kamu menghilang,
Walau pada akhirnya aku yang kewalahan karena kerinduan.
Nanti aku ceritakan,
Bahkan aku tuliskan,
Bagaimana aku melupakanmu,
Tanpa melibatkan orang baru.
Siapa pun boleh pergi dan menghilang dari hidup kita,
Karena tidak ada salahnya,
Kita sering-sering merayakan kehilangan.
Memang benar,
Kita paling hebat,
Masih pura-pura bahagia,
Setelah kita banyak kehilangan.
Sesulit apapun rintangan yang menghadang,
Percayalah,
Yang hilang tetap hilang,
Dan,
Yang datang tetap datang.
Aku sudah bersahabat dengan kesepian,
Sudah nyaman juga dengan kehilangan.
Bagaimana caranya,
Kamu hanya terfokus pada dirimu dan kamu.
Tuhan memang selalu punya rencana,
Untuk buat kita bahagian,
Hanya saja kita yang kurang mensyukurinya.
Jangan pernah merasa sendiri,
Semua ada titik bersamanya,
Walau kenyataannya memang hanya perihal sendiri.
Mengandalkan keberadaan orang lain,
Bukan solusi kebahagiaan bagi diri,
Jika kita mampu melakukan sendiri,
Mengapa harus orang lain?
Untuk siapa pun manusia baik,
Yang sempat membaca tulisan ini,
Terima kasih sudah menjadi versi terbaik yang kamu miliki.
Tidak semua kenyataan yang terlihat,
Memang kenyataan adanya,
Bisa saja sebaliknya.
Yang paling menyakitkan,
Kita seolah kuat dari kehilangan,
Tapi, yang kehilangan malah seenaknya meraih kebahagiaan.
Yang paling sulit setelah kehilangan,
Ialah merelakan dan mengikhlaskan apalagi merayakan.
Kita perlu merasakan sedalam-dalamnya kehilangan,
Agar kita mengerti bagaimana caranya mengikhlaskan.
Yang dicari hilang,
Yang dikejar lari,
Semua akan hilang tanpa dicari itulah alur semesta.
Aku baru saja kehilangan,
Tapi aku lupa kemarin-kemarin aku minta apa sama Tuhan,
Karena ia mengembalikan kehilangan itu dengan sebuah pertemuan.
Jangan pernah salahkan kehilangan,
Jika kita sulit mengikhlaskan.
Kukira dewasa itu menyenangkan
Ternyata semakin banyak beban pikiran,
Semakin banyak tuntutan impian,
Yang harus diwujudkan walaupun sudah tak sejalan.
Kalau boleh jujur
Dulu aku sering cemburuan
Dulu aku sering kangen
Tapi dulu rasanya gengsiku semakin memuncak dan malu tuk sekedar mengungkapkan sebuah pengakuan.
Sudah kuduga kamu masih mikirin dia,
Yang sudah lama pergi dan menghilang,
Tolong berhenti menguras energi,
Untuk manusia yang tak menghargai.
Terlalu ambisi agar dikasihi
Sampai lupa punya harga diri.
Walaupun dia memilih untuk melupakan
Setidaknya aku sudah berjuang keras
Untuk pernah ada didekatnya,
Walau kemudian saling kehilangan
Mau dipendam atau diungkapkan
Keduanya sama-sama bisa jadi faktor kehilangan.
Aku suka menulis, karena dengan menulis aku bisa menangis suka relaku,
Kata-kata yang kutulis seakan-akan mewakilkan air mataku yang terjatuh,
Karena hanya mengandalkan pendengar bagiku buku diary-ku pun lebih setia.
Pada akhirnya,
Kehilangan yang sudah terukir lama
Tetap menempati posisi yang sama,
Sama-sama sulit merelakan.
Kalau yang lama bisa kembali,
Itu ada dua kemungkinan yang terjadi,
Kembali untuk menyakiti,
Kembali karena belum ada pengganti.
Jika keberadaannya aja tak inanto,
Coba sesekali pergi dan menghilang tanpa alasan ingin dicari.
Jangan pernah membenci kehilangan
Karena dengan kehadirannya mampu mendewasakan keegoisan kita
Pergi dan menghilang memang bukan bukan jalan solusi,
Tapi terkadang pergi dan menghilang bisa menjadi intuisi, jika keberadaannya tidak diharapkan lagi.
Aku hanya ingin mengerti
Apa yang sebenarnya terjadi
Tanpa harus membayangkan
Apa yang belum tentu terjadi
Ternyata menjadi dewasa itu
Menyenangkan menurut mereka yang berkata
diwaktu kecil "Enak yah jadi dewasa."
Ternyata realitanya tak seenak bayangan anak kecil itu
Yang dimana harus ada perjuangan untuk menjalani hari-harinya.
Ketidakselarasan hati
Selalu menentukan jalan cerita kita
Ditengah resahnya hati
Yang tidak punya jawaban
Kamu harus berani sendiri
Karena di dunia ini gak melulu tentang peduli
Dan gak semua orang bisa paham kamu dan peduli sama kamu
Kalau bukan kita yang mengerti diri sendiri
Mau siapa lagi yang peduli?
Dulu aku mikir
Siapa yang bersyukur miliki aku
Apakah ada di dunia ini yang bangga dengan aku
Ternyata kutemui ia yang bersyukur an menghargai keberadaanku di hidupnya.
Kamu terlalu sering memikirkan masa depan
Padahal hari ini juga kamu belum paham maknanya
Semua ini
Hanya berada di pikiran
Bukan berarti bisa terjadi begitu aja
Ini hanya soal kecemasan-kecemasan
Yang belum tentu terjadi
Ada rasa takut yang hadir
Takut kamu lebih nyaman dengan orang selain aku
Karena pada kenyataannya aku tidak sebaik itu.
Terlalu merusak
Jika terus dikeluarkan
Tapi terlalu sesak
Jika terus-menerus ditahan
Yang selama ini aku perjuangkan
Ternyata belum terlihat apa-apa dimatamu
Yang sampai saat ini
Ternyata kau menganggap u hanya sebuah pelampiasan semata
Berjuang adalah salah satu effort-ku
Menyerah adalah sebuah hianatku
Dan kamu adalah sebuah tujuan
Ini hanya sebuah kenyataan
Aku ditakdirkan untuk selalu memikirkan kamu
Sedangkan kamu ditakdirkan untuk memikirkan orang lain
Sama-sama diposisi saling memikirkan namun beda tujuan
Salahnya aku
Masih memikirkan kamu
Jelas-jelas kamu menghilang
Bersama pilihanmu itu
Haruskah semua merasa kehilangan?
Atas apa yang sudah ku perjuangan sejak dulu
Dan akhirnya semua usai dan jadi benalu
Hingga kisahnya dihempas masa lalu
Sulit
Satu kata yang mewakili
Dan masih bertahan sampai saat ini
Tetap bertahan untuk tidak saling bertukaran perasaan
Aku mengerti
Dan aku sedikit pahami
Bahwa caraku berperasaan salah
Harusnya ku tutupi
Pikirkan sewajarnya
Langkahkan semestinya
Karena biasanya yang membuat sulit
Adalah pikiran kita sendiri
Terkadang
Kemauan yang tidak sesuai dengan tindakan
Juga bisa menghianati kita
Apalagi harapan yang tidak sesuai ekspektasi
Bisa jadi akan berujung frustasi
Aku tidak ingin terlalu larut
Ketergantungan akan semua hal
Begitu pun harapan-harapan
Aku hanya ingin suatu kejelasan
Cerita kita apakah masih diposisi yang aman?
Dalam hidup
Semua harus dengan takaran
Terkadang kamu harus rela mempertaruhkan
Sesekali juga kamu harus berhenti
Ada kalanya kamu harus memulai kembali,
Dan ada pula waktu kamu untuk mengakhiri semua
Gak semua harus sekarang
Gak mesti semua terjadi bersamaan
Sesekali kamu harus memanjakan dirimu
Istirahat itu perlu, yang gak boleh itu nyerah.
Semua orang punya keinginan,
Walaupun kenyataannya sebaik-baiknya pengabul
Ialah Tuhan yang menghadirkan takdir
Capek yah jadi manusia yang kerjaannya pura-pura
Yang hidupnya dipenuhi ekspektasi manusia
Dan akhirnya banyak kekecewaan yang hadir tiada henti
Ternyata
Semua hal yang terjadi itu sudah ada obatnya
Seperti aku dan kamu ketika dihantui kehilangan
Obatnya cuma satu pertemuan.
Kita tidak perlu mengerahkan semua kekuatan kita
Hanya untuk terlihat kuat
Karena kenyataannya kita benar-benar belum kuat
Dan masih beradaptasi dengan keadaan yang rumit
Kaki terima kasih selalu kuat dan mampu
menopang persoalan hidup sendiri
Kuatkan lagi pikiran,
Kuatkan lagi perasaan,
Kuatkan lagi badan,
Tanggung jawab kita masih membeludak
Tapi, terima kasih sudah mau bertahan.
MERAYAKAN KEHILANGAN
Karya : Pujiyanti
Kenyataan yang ternyata
Bukan standar kebahagiaan.
2 Tahun lalu saya melihat sosok wanita hebat yang selalu ceria didunia keduanya,
Sebut saja media sosial. Sering saya dapati senyuman-senyuman hangat yang hadir didalam hidupmu. Entah apakah kenyataannya sebenarnya seperti itu. Ternyata setelah ditelusuri wanita ini menyimpan banyak luka dan trauma didalam hidupnya.
Merayakan kehilangan
Pada suatu kehilangan, kita seolah menemukan kesedihan.
Dari semua latar yang kita temui dan jumpai.
Pada suatu kehilangan, kita sadar,
Bahwa semua akan hilang kemudian,
Terjadi di awal maupun diakhir itu sudah kehendak Tuhan.
Akhirnya kita lebih sadar dan menghargai sebuah kehilangan,
Tanpa berargumentasi terlalu inggi.
Hidup tak pernah sulit,
Yang sulit itu pikiran kita,
Karena terlalu mempersulit jalannya.
Pernahkah kita berfikir betapa istimewanya kehilangan,
Sampai-sampai selalu kita pikirkan,
Mengapa tidak berinisiatif merayakannya? Mengapa selalu kebahagiaan ang dirayakan.
Bukankah kehilangan sama saja mempunyai standar keistimewaan dihidup kita.
Apa hal yang paling menakutkan dari kehilangan?
Ialah mencari tempat ternyaman untuk memupuk kerinduan.
Karena setiap orang tetap mencari ,
Padahal tempat itu tak pernah benar-benar ada.
Tapi tak apa, bukan?
Kita memang selalu keras kepala dalam hal ini,
Atau keras kepala urusan kehilangan.
Sebuah hati telah dikuatkan,
Selapang-lapangnya jiwa,
Sedalam-dalamnya makna,
Tugas kita, adalah percaya,
Sebaik-baiknya jiwa.
Pada suatu kehilangan,
Arti kebingungan mencari tempat bernaung.
Apakah pada jiwa mereka yang menerima,
Atau pada sesat mereka yang dipaksa kehilangan.
Sesekali kita harus merayakan ini,
.merayakan hati yang terluka,
Saat asa tak sanggup berkata,.
Manusia hanya memikirkan luka.
Bukankah, manusia tahu?
Semua akan hilang kemudian,
Mengapa relung jiwa selalu merasa dilukai dan sulit dicari.
Seharusnya kerelaan mudah dicari dan diterima,
Dibawah rindu yang tak punya titik kesempurnaan dan titik temu.
Yang tersisa, hanya puing-puing kenangan.
Tempat paling tak di inginkan apalagi di ikhlaskan.
Dunia ini penuh dengan manusia baik,
Jika kamu tidak pernah menemukannya,
Maka jadilah pemerannya.
Aku percaya Tuhan itu baik,
Karena semua hal yang terjadi,
Atas kehendaknya tentu baik hasilnya.
Rasanya pilih kasih jika kita,
Hanya terfokus merayakan kebahagiaan saja,
Mengapa kita tidak mencoba merayakan kehilangan.
Tuhan itu baik, ternyata.
Kehilangan-kehilangan itu,
Mengajarkan tuk lebih menghargai keberadaan.
Cobalah sesekali adil dalam merayakan hal istimewa,
antara kebahagiaan dan kehilangan,
sama-sama setara dalam keistimewaan.
Kita adalah dua orang yang sama-sama takut kehilangan,
Namun enggan melahirkan kebahagiaan.
Bukan menolak sakit,
Bukan mau-ku sulit,
Bukan tak ingin rumit,
Tapi tingkahmu yang mempersulit dan membuat aku pahit.
Gak masalah,
Seringkali kalah,
Seringkali mengalah,
Seringkali patah,
Sampai tiba saatnya bangkit dan melawan setidaknya kamu bertahan.
Rasanya sama saja,
Jika aku mengakhirinya,
Kamu tidak akan pernah memulainya.
Lantas apakah harus selalu kehilangan yang disalahkan?
Sedangkan ia berhak dirayakan.
Ada beberapa hal yang harus dipendam sendirian,
Terlebih perihal kehilangan.
Kita memang punya keinginan,
Tapi Tuhan penentu segalanya.
Bukan aku yang takut kehilangan,
Tapi kamu yang menaruh titik kehilangan.
Aku hanya ingin sembuh,
Dititik luka yang lama terukir,
Aku hanya ingin sembuh.
Hadirnya menghantarkan keindahan,
Hilangnya meninggalkan kerinduan.
Cuma rumah
Pergilah dengannya,
Bersenang-senanglah dengannya,
Jika kamu kehilangannya,
Maka kembali lah kepadaku yang cuma rumah ini.
Terkadang kita hanya memikirkan eksistensi dari kehilangan aja,
Tanpa menganggap adanya esensi sebuah kehilangan.
Baru saja dibuat terbang dan sayang,
Mengapa harus hadir sosok kehilangan.
Kita adalah pernah,
Bukan punah,
Bukan juga menyerah, hanya saja sudah.
Beda orang,
Beda asa,
Beda kehilangan,
Beda juga rasa.
Jangan salahkan kehilangan,
Jika kamu masih takut kebahagiaan.
Kita dipaksa maju oleh keadaan,
Dimana selalu saja hal-hal kehilangan yang disalahkan,
tentu saja melulu tentang diikhlaskan.
Kamu sangat hebat saat ini,
Meskipun terluka,
Sambil kecewa,
Bahkan sampai darahmu menetes,
Bunuh diri bukanlah sebuah tujuan.
Coba lihat,
Manusia yang sedang membaca tulisan ini,
Ia, jika ditanya.
Selalu jawabnya gapapa,.
Padahal dikala ia sendiri hatinya hancur dan air matanya tumpah dimana-mana.
Pahit, sakit,
Sulit, payah, marah, lelah, kecewa, merana, gembira, bahagia, semua punya takarannya.
Mau tidak mau,
Sulit tidak sulit,
Suka tidak suka,
Kita harus terima,
Karena memang begitulah semesta.
Hei, ganteng.
Wanita yang sedang membaca tulisan ini,
Hanya ingin sebuah pembuktian dan kepastian, bukan hanya sebuah pengakuan.
Satu yang kutahu,
Broken home, bukan hanya kasus perceraian orangtua saja,
Melainkan kasus kehilangan yang dipaksa mengikhlaskan itu lebih lebih menyakitkan.
Bagaimana kamu bahagia,
Kalau kamu masih nyaman dengan orang yang menjatuhkan.
Bagaimana kata semangat itu hadir,
Jika pelaku semangatnya dipatahkan oleh penyemangatnya.
Terlalu sesak jika ditahan,
Tapi lebih merusak bila dibiarkan.
Semakin dalam pertemuan,
Semakin besar kehilangan.
Justru aku sering berfikir,
Apa yang seharusnya dirayakan,
Kebahagiaan atau kehilangan.
Tuhan, kehilangan ini sudah terlalu sulit,
Tolong beri kami tempat,
Karena masih banyak keinginan yang sudah terlewat.
Kita tidak pernah bisa merubah sifat manusia lain disekitar kita,
Tapi kita bisa memilih siapa saja manusia yang berhak masuk dihidup kita.
Tidak banyak yang aku inginkan,
Aku hanya ingin ibuku tersenyum ketika ia kehilanganku.
Inilah yang katanya dunia,
Yang sukanya mengubah rasa,
Bahkan pandai pura-pura.
Perasaan kehilangannya sudah lama,
Mengapa rindunya tiada henti?
Apa mesti kucari dan kurayakan kembali.
Hari-hari teasa berat,
Kobaran semangat semakin sempit,
Dan jarang ku temui manusia lain peduli,
Dan akhirnya semua hanya perihal diri sendiri yang mengerti.
Walaupun dia memilih
untuk melupakan
setidaknya aku sudah berjuang keras
untuk pernah ada didekatnya, walau kemudian saling kehilangan.
.
.
.
.