“Sepatu yang kamu kenakan hari itu, sepatu hadiah ulang tahun dariku, Chas,”jawab Damian dengan suara yang terkendali. Kinan memandangi Damian yang ternyata bisa bersikap tenang juga di hadapan seseorang. “Kamu pikir sepatu itu hanya aku saja yang punya? “ “Kamu lupa? Sepatu itu dibuatkan seorang desainer Amerika. Aku memesannya khusus untukmu. Dan kamu tahu itu. Jadi kamu tak usah berkelit lagi!” “I-itu.” Chasta gelagapan. Ia bingung harus mencari alasan lagi. Sedang di dalam matanya nampak jelas jika ia tak mau kehilangan laki-laki yang masih sangat dicintainya itu. “Biar aku jelaskan. Itu hanya teman bisnisku, Dami!” lanjutnya berusaha meyakinkan. Chasta benar-benar mati kutu tak bisa membela diri. “Tadi kamu bilang aku yang salah lihat. Sekarang kamu bilang rekan

