Setelah memarkir mobil, Damian mengintip kafetaria lewat kaca pembatas yang transparan. Ia celingukan dari luar sambil mengamati satu per satu isi kantin. Matanya menelusuri ke semua sudut. Dari mulai meja panjang yang menyediakan hidangan tersusun layaknya prasmanan, sampai ke sudut paling belakang. Namun, matanya tak juga menangkap sosok yang sedari tadi ia cari. “Pak Damian! Sedang apa Anda di sini?” tanya sebuah suara dari arah belakang. Sekretaris Sin yang hendak makan siang memergoki Damian bergelagat aneh sejak tadi. “Hmm .., anu ..,” Damian gelagapan. Otaknya berputar sibuk mencari alasan. “Anda mau makan siang dengan menu kantin?” tebak Sekretaris Sin. “Biasanya Anda menyuruh saya membawakannya ke ruangan!” lanjutnya. “Hmm, iya! Tadinya saya mau makan langsung di ka

