Chapter 4 : Kebetulan

1654 Kata
Tidak ada satu pun kejadian yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah dirancang Tuhan dengan sedemikian rupa. Maka ketika hal yang kau anggap kebetulan terjadi secara berulang, itu bukan lagi kebetulan. Melainkan Takdir.         Kinan tidak menduga. Hari yang seharusnya menjadi hari penting baginya, harus ia hadapi dengan kesialan lain. Mengapa harus di saat yang tidak tepat dia bertemu lagi laki-laki yang paling tidak ingin ia jumpai? Dari semua tempat, dari milyaran manusia, kenapa harus bertemu dengan Damian? Laki-laki yang bahkan dia tak tahu siapa namanya.     Dengan sorot mata tajam, Damian menepuk-nepuk d**a yang terkena noda lipstik. Mendengus kesal ke arah Kinan. Sekertaris Sin yang berada tepat di samping kanannya, membisikan sesuatu di telinga. Damian kemudian melirik jam sembari menggertakan gigi. Mengepalkan tangan menahan marah. “Sialan!” umpatnya pelan.  Namun, terdengar jelas di telinga Kinan yang hanya berdiri satu meter di depannya.  “Ada kemeja lain di dalam mobil?” tanyanya pada Sekertaris Sin. “Saya rasa masih ada kemeja warna biru, Pak,” jawab Sekertaris Sin dengan sigap. Laki-laki di sebelah Damian itu memiliki postur tinggi, dengan rambut model spike yang membuatnya terlihat gagah. Umurnya lebih tua tiga tahun dari Damian dan sudah menemani Damian dari awal ia bekerja di perusahaan. Yang membedakan Sekertaris Sin dan Damian hanyalah soal status. Sedang dari paras, Sekretaris Sin memiliki fitur rahang yang tegas persis seperti Damian. Damian memegang ujung jas warna hitamnya. Berpikir bahwa kemeja biru sangat tak cocok di padu padankan dengan setelan yang ia kenakan. Apalagin dengan dasi berwarna hitam yang senada dengan jasnya. “Masih ada waktu berapa menit sampai pertemuan dengan Pak Kris?” “Setengah jam, Pak!” “Baik. Di jalan kita mampir ke butik.” “ Membeli kemeja putih lagi, Pak?” Damian mengangguk tegas. Sekertaris Sin menurut. Sudah jelas dia tak punya wewenang apapun atas kemauan atasannya meski lebih tua. Toh, dia bekerja dan di upah untuk menuruti semua kemauan laki-laki dengan tempramen yang buruk itu. Kinan yang berada di depan Damian, memerhatikan mereka cukup lama. Dia kemudian tersadar ini waktunya untuk interview. Bukan waktunya mengamati dua laki-laki yang sedang bercakap dan gelisah karena kesalahannya. Apalagi jam pertemuan sudah pasti lewat dari jam yang ditentukan. “Kalau Anda mau marah pada saya, nanti saja, ya! Saya sedang ada urusan penting. Ini kartu nama saya, dan Anda boleh menghubungi saya kapan pun saat Anda ingin marah.” Kinan setengah membungkuk memberikan kartu nama, lalu berlari meninggalkan dua laki-laki yang tengah menatapnya heran. Damian yang kesal hanya membuang napas dengan keras. Mengapa harus bertemu lagi dengan perempuan yang benar-benar menyebalkan itu, dengusnya kesal. Lalu, memberikan kartu nama Kinan pada Sekertaris Sin. Menyuruh dia untuk menyimpannya. Siapa tahu suatu hari Damian butuh orang untuk meluapkan emosi. Dan bisa menjadikan Kinan sebagai alasan melampiaskan kekesalan.     Dengan langkah besar, Damian menuju pintu keluar diikuti sekertaris Sin di belakang. Meninggalkan gedung megah itu dengan perasaan marah yang belum sempat reda. ***     Kinan berlari secepat ia bisa. Memijit tombol lift bertenaga dan cepat berkali-kali. Membasuh peluh yang merambat di pelipisnya. Tak peduli jika bedak yang ia tempelkan di wajah kini terhapus sebagian. Ia mengigit bibir. Membayangkan bagaimana wajahnya yang  kini benar-benar tak karuan. Kinan meremas-remas pergelangan tangannya. Menunggu pintu lift yang baru terbuka setelah beberapa menit.     Seorang laki-laki dengan kemeja biru muda dan dasi bewarna lebih tua dari kemejanya, terkejut saat mendapati Kinan ada di depannya. Diandra melempar senyum saat sadar perempuan di depannya adalah Kinan. Sedang Kinan menundukan kepala memberi salam dengan sopan, tanpa melihat siapa sosok di dalam lift. Kinan gegas masuk dan berdiri di samping laki-laki yang belum ia sadari jika itu Diandra. Diandra yang seharusnya turun di lantai satu tadi, mengurungkan niat. Dia malah beralih dan berdiri di sudut lift, memberi tempat agar Kinan lebih leluasa. “Lantai 29, kan?” tanya Diandra saat Kinan akan memijit tombol lift yang berada tepat di samping Diandra. Kinan mengangguk. Lalu tercekat sesaat. Menyadari bahwa suara yang ia dengar, begitu tak asing di telinganya. Kinan memerhatikan pemilik suara. Dari bawah-- mengamati sepatu pantofelnya yang mengkilat. Lalu menatap badannya yang jangkung juga sedikit kurus. Namun, memiliki bahu tegap. Lalu tiba mata Kinan menatap wajah laki-laki yang ada di lift bersamanya. Sedang lift terus melaju. Menunjukkan angka lima pada floor designator. Hanya ada mereka berdua di dalam lift yang melesat cepat tanpa terbuka di setiap lantai. Sudah dipastikan, seluruh karyawan sedang sibuk di divisinya masing-masing. “Diandra?” Kinan membelalakan mata tak percaya. Terkejut sekaligus senang. Tapi ia pun cepat tersadar bahwa kini sedang tak punya banyak waktu.     Diandra menatap Kinan dengan lembut. Lalu melangkah mendekati Kinan yang tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia mendekatkan tubuh beberapa senti pada Kinan. Mengeluarkan tangan kanan yang tadi ia masukan ke dalam saku celananya. Merapihkan rambut yang sedikit tak beraturan, milik perempuan yang layaknya anak kecil di matanya itu. Membelainya perlahan sehingga helai-helai rambut yang mencuat, rapih seketika. Sedang Kinan membalas dengan tatapan penuh ucapan terima kasih. Tanpa kata-kata. Diandra menangkap maksud itu dan hanya mengangguk. Ia mengepalkan  tangan ke udara, memberi semangat pada sahabatnya tersebut. “Fighting!” ucapnya setengah berteriak. Diandra sadar betul bahwa hari ini Kinan sangat terlambat. Sudah pukul tujuh lewat lima belas. Namun, Diandra ingin Kinan tak menyerah dan tetap berusaha. Memang hampir saja tadi Kinan putus asa. Kehilangan harapan dan berpikir sebaiknya pulang saja kembali ke kontrakan. Namun, semangatnya kembali kini. Diandra sudah memberinya sebuah kekuatan. Setidaknya, Kinan sudah sangat berusaha. Urusan diterima bekerja atau tidak, biar ia pikirkan nanti saja. Seperti kata-kata yang pernah ia baca dalam buku,  Kita tidak akan tahu sebuah garis akhir sebelum benar-benar menghadapinya.     Pintu lift terbuka tepat di lantai tertinggi gedung. Kinan melangkah keluar setelah sebelumnya melempar senyum  pada Diandra. Diandra membalasnya tanpa ragu, penuh aliran energi posisitif.     Diandra sengaja menekan tombol lift agar terbuka lebih lama meski sudah waktunya menutup. Menatap punggung Kinan sampai menghilang di ujung kooridor.         Kinan melangkah. Menuju ruangan paling ujung di dekat jendela besar. Ada ruangan resepsionis di sana. Seorang perempuan dengan wajah kecil serta make up natural langsung berdiri menyambut kedatangannya. Rambut yang diikat rapi ke belakang layaknya pramugari, menambah aura kecantikan resepsionis tersebut. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah. “Saya ingin bertemu CEO di sini, Mbak.” “Boleh saya tahu ada keperluan apa? Sebelumnya sudah buat janji dengan Bapak?” Kinan menggeleng.  Kemudian mengangguk dengan cepat. Bukankah wawancara juga merupakan janji pertemuan? pikirnya. Meski bukan pertemuan pribadi antara dia dan pemilik perusahaan. “Saya mau interview, Mbak.” Resepsionis itu seketika menatap jam besar yang menempel di dinding. “Maaf sekali, Mbak. Dari yang saya tahu di jadwal Bapak, seharusnya bertemu pukul tujuh tadi pagi, ya! Tadi Bapak sudah pergi ke pertemuan lain. Mbak terlambat tiga puluh menit.” Kinan melenguh. menunduk lesu. Ini semua memang salahnya yang begitu terlambat. Andai saja dia berangkat lebih pagi tadi, mungkin kejadianya tak akan begini.  Tapi, Kinan tak ingin menyerah begitu saja. Dia meminta resepsionis tadi untuk menelepon Direktur Utama perusahaan. Dengan berat hati, perempuan itu menggeleng. Mengatakan jika ia menyesal tidak bisa membantu banyak. Dia tahu betul karakter atasannya yang menganut paham kedisiplinan tinggi, dan tak ada kesempatan kedua bagi yang melanggar aturan. Hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar nyaring.  Namun, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar. Resepsionis tadi segera menundukan kepala ketika laki-laki itu dengan langkah besar melewatinya. Kinan sengaja tak menoleh, karena ia tahu bisa saja orang itu adalah orang penting yang akan ia temui. Kinan menyembunyikan wajah. Menutupinya dengan telapak tangannya yang kecil. Seketika ruangan di belakang meja resepsionis yang dipenuhi para karyawan riuh. Kepala Kinan meneleng, mencari tahu siapa yang datang-- tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Berjinjit tinggi-tinggi. Samar-samar terlihat seorang laki-laki berjas hitam memakai setelan rapih, memasuki satu ruangan paling besar di ujung kooridor. Beberapa nampak berdiri, memberikan salam untuk menyambut laki-laki yang berjalan diikuti seseorang di belakangnya. “Anda beruntung, Mbak. Bapak baru saja kembali,” ucapnya yang disambut kesemringahan di wajah Kinan. “Tapi saya coba tanya Bapak apa Anda masih boleh melakukan interview.  Silakan tunggu sebentar,” lanjutnya sembari mengambil gagang telepon, menghubungi seseorang. “Anda diizinkan masuk, Mbak,” ucap resepsionis itu pada Kinan setelah meletakan gagang telepon. Disusul ucapan terima kasih dari Kinan yang segera meninggalkan meja resepsionis.     Suara sepatu hak Kinan terdengar di ruangan yang mulai kembali hening. Kinan berjalan menyusuri kooridor yang dilewati dua laki-laki tadi. Ia melangkah hati-hati saat tiba di depan meja-meja karyawan yang sedang bekerja-- fokus menatap monitor masing-masing ataupun sibuk bertelepon dengan wajah-wajah penuh gelisah yang tak bisa Kinan jelaskan. Meja mereka tersusun rapi dan hanya dipisahkan sekat di samping kanan dan kiri. Beberapa mata sempat menoleh ke arahnya karena bunyi sepatu Kinan yang menyita perhatian. Namun, mereka  segera menatap kembali layar-layar di depannya.      Tiba di ujung kooridor, di depan sebuah ruangan paling besar, Kinan mengetuk pintu tiga kali dengan sedikit keras. “Masuk!” jawab seseorang samar dari dalam. Kinan mendorong pintu serta sedikit mengendap-ngendap melangkah. Masuk ke dalam ruangan. Aroma lavender menelusup hidung. Embusan air conditioner menyentuh kulitnya yang seketika membuat gigil. Ia mengamati sudut-sudut ruangan yang sepuluh kali lebih besar dari kontrakan kecilnya.  “Kamu tahu ini sudah jam berapa?” Suara seorang laki-laki dengan kepala yang tertutup monitor, menggelegar di dalam ruangan. Kinan menggigit bibir bawahnya berkali-kali. Melangkah lebih dekat lagi menuju meja dimana laki-laki itu duduk. “Hmmm, selamat siang, Pak! Saya Kinan. Saya berniat melamar di perusahaan Bapak sebagai editor.” Kinan tak menjawab dan berinisiatif memperkenalkan diri dengan cepat. Seketika tangan laki-laki yang tadi sibuk mengarahkan mouse-nya, terdiam sejenak dari aktifitas. Wajah laki-laki itu kemudian menyembul dari balik monitor. Mata mereka saling tatap sesaat.     Bibir Kinan kelu saat mata laki-laki itu membelalak tak percaya. Kinan lagi-lagi tak pernah menyangka jika orang yang duduk di kursi tinggi dengan papan nama sebagai Direktur Utama itu, adalah orang yang ia tumpahkan kopi di kafe kemarin. Dirinya juga lah yang menghadiahi noda lipstik di kemeja putih laki-laki tersebut saat di lobi tadi. Tuhan, kenapa harus kebetulan ini yang terjadi? rutuk Kinan dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN