BAB 116 – GHOSTS FROM THE PAST SCHWARZENBERG PALACE, VIENNA – 10:17 PM Hening. Bukan hening yang damai, melainkan hening yang berisi ancaman. Di balkon utama, bayangan Matteo DeLuca berdiri dengan satu tangan bersandar di pagar emas. Cahaya dari lampu gantung kristal memantulkan siluetnya—membuatnya tampak seperti ilusi yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Di bawah, Marco tetap diam. Matanya gelap seperti langit sebelum badai. Rahangnya mengeras, jemarinya yang bersarung tangan kulit meremas gelas sampanye hingga retak. Lovania menelan ludah. Dia tidak pernah melihat Marco semuram ini. Tapi dia tahu. Ketika seorang pria seperti Marco Maxdev membeku dalam diam, artinya ada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada kemarahan biasa. Tepat saat atmosfer menegang, Matteo berbicara. “B

