BAB 118 – BLOOD-STAINED SECRETS SCHWARZENBERG PALACE, VIENNA – 10:25 PM Dentuman ledakan di luar sana mengguncang seluruh istana. Lampu kristal di langit-langit bergetar, gelas-gelas champagne di meja-meja mewah berderak sebelum pecah, dan suara alarm semakin tajam, menusuk ke dalam kesadaran. Tetapi di dalam ballroom ini, ketegangan yang sesungguhnya tidak berasal dari ledakan. Itu berasal dari keheningan. Marco tetap diam. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya, otot-otot di rahangnya menegang, tetapi ekspresinya tetap dingin—hampir terlalu dingin. Lovania berdiri di sampingnya, membaca setiap mikro-ekspresi di wajahnya. Sementara Matteo? Dia tersenyum. “Looks like someone wants to crash the party.” Suaranya terdengar santai, tetapi mata hitamnya berkilat dengan sesuatu yang lebih

