BAB 27 – PERMAINAN DI ANTARA KITA
Udara di antara mereka begitu intens, hampir seperti aliran listrik yang tak terlihat tetapi bisa dirasakan. Lovania dan Marco berdiri begitu dekat, namun tetap terpisah oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar jarak.
Marco mengamati Lovania seakan sedang menilai setiap ekspresi kecil di wajahnya. Dia tahu wanita ini berbeda—tidak bisa diprediksi, tidak bisa dikendalikan semudah yang lain.
Marco: (Dengan suara rendah dan menghipnotis.)
"Anda bermain dengan api, Miss Valley."
Lovania menyunggingkan senyum tipis, lalu mengangkat bahunya dengan santai. Dia tidak takut pada api—justru dialah yang sering kali menjadi nyala itu sendiri.
Lovania: (Dengan nada ringan, tetapi tajam.)
"Lalu, apakah Anda akan terbakar, Marco?"
Marco terkekeh pelan, nada suaranya penuh dengan sesuatu yang lebih dalam—sebuah peringatan, atau mungkin janji. Dia mendekat lebih jauh, cukup dekat sehingga Lovania bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan udara laut yang sejuk.
Marco: (Dengan suara lembut, tetapi penuh kendali.)
"Saya tidak terbakar, sayang. Saya yang mengendalikan apinya."
Lovania memiringkan kepalanya sedikit, matanya berkilat dengan sesuatu yang sulit ditebak.
Lovania: (Suaranya rendah, hampir berbisik.)
"Sungguh? Karena dari sudut pandang saya, Anda sedang berdiri tepat di tepi kobaran itu."
Marco tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia hanya menatap Lovania dengan cara yang membuat udara di antara mereka semakin panas.
Dia mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh dagu Lovania dengan sentuhan ringan, nyaris seperti angin yang berbisik di kulit. Tetapi ada sesuatu dalam gerakan itu—sebuah klaim, sebuah tantangan.
Marco: (Dengan nada pelan, tetapi berbahaya.)
"Dan jika saya memang terbakar, apakah Anda akan ikut terbakar bersama saya?"
Lovania tetap diam, tetapi senyumnya semakin dalam. Dia tidak mudah terprovokasi, tetapi ada sesuatu dalam kata-kata Marco yang menggetarkan sesuatu di dalam dirinya.
Tanpa menghindar, dia menyentuhkan jemarinya ke dasi Marco, membiarkan sentuhan kecil itu menjadi jawaban yang lebih tajam daripada kata-kata.
Lovania: (Dengan suara halus, tetapi menusuk.)
"Mungkin kita akan segera tahu, Marco. Mungkin api ini tidak hanya milik Anda."
Marco menyipitkan matanya sedikit, tertawa kecil dengan nada penuh misteri.
Marco: (Dengan nada menggoda.)
"Saya tidak sabar melihat bagaimana permainan ini akan berakhir, sayang."
Lovania menatapnya dalam diam, karena dia tahu satu hal—permainan ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Mungkin… ini bahkan baru permulaan.