Tempat Bersandar

1432 Kata

Warung bakso pinggir jalan itu sederhana. Kipas angin tua berputar malas, aroma kaldu, bawang goreng, dan daun seledri melayang di udara. Suara sendok-garpu, obrolan pengunjung, suara motor lewat, semuanya bercampur menjadi latar yang anehnya menenangkan setelah intensitas latihan anggar barusan. Cahyati duduk di sebelah Rowan, sengaja memilih meja menghadap tembok agar tak terlihat. Tangan gadis itu masih sedikit gemetar saat memegang mangkuk bakso yang baru datang. Ia menarik napas pelan, yang rasanya malah sesak. “Gue tambahin sambel dikit, ya?” katanya, nadanya dibuat setenang mungkin. Rowan mengangguk. “Terserah lo.” Tentu saja sedikit versi Cahyati berubah jadi empat sendok penuh. Rowan melihatnya tanpa berkomentar. Ia hanya melanjutkan memotong bakso halus dengan ketenangan sese

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN