Hari pertama terbangun di rumah mertua, suara langkah Hugo terdengar ketika Cahyati berusaha membuka lemari kamarnya. Closet-nya sangat besar, dilengkapi sofa dan cermin besar di sana-sini, sampai Cahyati sempat khawatir ada portal ke dunia Narnia di dalamnya. Tapi Hugo malah menyandarkan tubuhnya di pintu sambil memegang tablet. “Kita makan nanti jam tujuh. Mommy paling senang kalo semua kumpul,” katanya tanpa menatap, jarinya sibuk menggeser-geser layar. Cahyati mengangguk. “Oke.” Hanya itu. Padahal biasanya kalau di apartemen sebelum keluar jawaban oke akan banyak pertanyaan dari Cahyati, bahkan debat, tentang konsep tampilan, pakaian, dan gaya make-up. Hugo menatap sekilas. “Lo… kenapa kayak robot?” “Enggak,” jawab Cahyati pelan sambil membetulkan tasnya. “Rumah ini gede, banyak C

