Hugo menatap layar ponselnya lama seperti sedang menunggu wahyu turun dari langit, padahal itu cuma nama “Daddy” yang muncul besar-besar. Nada di seberang langsung dingin begitu telepon tersambung. “Pulang ke rumah utama, kita perlu bicara!” Titik, tanpa tanya kabar, tanpa napas. Begitu telepon ditutup, Hugo menghela napas panjang seperti baru ditampar realita. Ia menatap Cahyati yang sedang santai mengunyah marshmallow. “Kita harus pulang ke rumah ortu gue,” katanya, berusaha terdengar santai, padahal nada pasrahnya bocor. “Lo siap-siap, ya. Tiga hari lagi. Dan lo… harus jadi Celine full version,” tambahnya pelan. Cahyati melongo, Hugo cuma mengangkat bahu, setengah merasa bersalah, setengah ingin kabur ke Antartika. “Tenang, bareng gue di sana. Aman,” meski berkata begitu, ekspre

