Setelah sebulan penuh hidup dalam satu atap yang sama, sebuah amplop tebal berwarna keemasan tiba di depan pintu apartemen. Amplop itu bukan sembarang undangan. Ini adalah undangan pesta pernikahan paling bergengsi tahun ini, menyatukan putri sosialita dengan juragan minyak. Undangan ini adalah tiket mereka untuk tampil di hadapan para jetset. Hugo, dengan ekspresi datar yang sudah menjadi ciri khasnya, membuka undangan itu. Ia tahu, inilah saatnya. Saatnya membawa Celine ke panggung besar dan memperlihatkan "hubungan" mereka untuk pertama kalinya. Tentu saja, itu hanyalah sebuah sandiwara. Tapi Cahyati harus tampil sempurna. Maka, dimulailah minggu neraka bagi Celine. Setiap hari, ia ditempa habis-habisan. Pelatihnya, yang biasanya sabar, kini menjadi lebih galak dari sersan militer. "

