Yang Tidak Pernah Dipilih

1479 Kata

“DOR!” Mata Hugo melebar. Rowan menganga. Cahyati terkesiap. Peluru menghantam paving block, hanya beberapa sentimeter dari kaki gadis itu. Rowan berlari ke arahnya. “Ca!” Hugo bergerak refleks, lalu berhenti. Tubuhnya membeku, napasnya tercekat. Dunia seolah mengempis di sekelilingnya, lalu ambruk tanpa suara. Cahyati menjerit, berlutut di samping Hugo. “Hugo! Hugo!” Rowan sudah di sisinya. Satu pandang cukup untuk membuatnya paham. “Dia syok.” Tim pengamanan berlarian, membawa Hugo ke mobil. Cahyati gemetar, tangannya dingin, matanya tidak lepas dari wajah Hugo yang pucat. Rowan menoleh tajam. “Lo hampir mati, Ca. Kenapa lo malah khawatirin dia?” Cahyati menatapnya, air mata jatuh tanpa suara. “Karena gue peduli.” -oOo- Lampu klinik putih dan terlalu terang. Bau antiseptik me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN