Langit Malam

1010 Kata
Malam itu, Dewi duduk di bawah langit malam yang tenang di teras rumah kontrakannya, terpaku pada jurnalnya. Dalam gelapnya malam, ia merenungkan hubungan yang semakin dalam dengan Reza. Langit penuh bintang menjadi saksi setia ketidakpastian dan kebahagiaan yang mengalir dalam pikirannya. Pensil dan jurnal menjadi alat untuk menuangkan pikiran, perasaan, dan harapan. Dewi dan Reza merenung di waktu dan tempat yang berbeda, terhubung oleh keintiman hati dan mimpi bersama. Meskipun terpisah jarak, langit malam menjadi pengingat bahwa takdir mereka saling berpaut, walau waktu dan ruang memisahkan. Dewi melanjutkan penulisannya, "Langit ini selalu memberiku kedamaian. Namun, ada ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Hubungan ini membawa kebahagiaan, tapi apakah kita mampu mengatasi rintangan yang mungkin menghadang?" Langit malam menyaksikan dua jiwa yang merenung dalam ketidakpastian, tetapi juga penuh keyakinan pada kekuatan cinta. Dalam kesunyian malam, Dewi dan Reza menyatukan pemikiran mereka, tanpa mereka sadari, langit yang sama menjadi saksi bisu dari langkah mereka yang terjalin. Pagi harinya, Dewi dan Reza bersiap untuk hari yang penuh tantangan. Dewi kembali ke kampus, merindukan suasana penelitian dan perjuangan ilmiah. Reza, di sisi lain, memimpin pertemuan besar di organisasinya, membahas langkah-langkah besar yang akan mereka ambil. Mereka saling mendukung tanpa menyadari betapa peran satu sama lain memberikan kekuatan tambahan. Namun inilah yang tidak diketahui Dewi,Setiap bulan,dalam beberapa hari Reza akan menghilang,dulu sebelum mereka mengikat tali kasih,Reza tidak pernah mengatakan kemana ia pergi.Tetapi setelah mereka lebih intim menjadi pasangan kekasih,sebelum Reza pergi telah berpamitan pada Dewi. "Dew,aku akan menghadiri pertemuan penting di luar kota." ucap Adrian. "Berapa lama Reza?" Dewi menatap Reza dengan tanya. "Aku belum tahu Dew,mungkin tiga atau empat hari.Jadi jika kamu memerlukan bantuan mengenai Penelitian dan Materi lainnya,kamu bisa menemui Prof.Anwar Chipto ya." pesan Adrian sebelum pergi. Tetapi alih-alih pergi ke luar kota,sebenarnya Reza hanya pergi menuju ke sebuah tempat di pusat kota itu.Sebuah Tower berbalut pusat perbelanjaan dan Apartemen hunian Elit.Reza memiliki sebuah ruang kerja di Tower itu,ia juga miliki satu unit besar apartemen di sana. "Tuan Adrian,silahkan,Ayah anda sudah menunggu." ucap seorang pria bertubuh tegap berambut cepak.Seorang pria lainnya berdiri di depan pintu. 'Oke." jawab Reza. Dua pria berjalan di belakang Reza,mereka menuju sebuah pintu kaca anti peluru Kelas BR7,yang mampu menahan serangan dari senapan sekelas M16,G36 maupun G3. Saat Reza mendekat Pintu kaca bergeser dan terbuka otomatis.Beberapa orang berperawakan tegap dan tubuh kokoh membungkukkan badan ketika Reza melaluinya. "Selamat datang Tuan Adrian Kusumo." ucap Seorang wanita cantik dengan blus berpotongan sedikit terbuka di area d**a. Reza memandang ke arah wanita itu dengan senyum tipis. Reza melangkah dengan mantap, mengenakan setelan hitam yang elegan, lengkap dengan dasi sutra berwarna gelap. Langkahnya tegas, mencerminkan kepercayaan diri yang melekat pada sosok seorang pemimpin. Wajahnya yang tampan dan matanya yang tajam menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Setibanya di ruangan, Reza memberi isyarat singkat pada bawahannya untuk meninggalkan ruangan tersebut. Dengan tenang, dia merentangkan tangannya ke arah sofa kulit berwarna gelap, memberikan tanda pada bawahannya untuk meninggalkan mereka berdua. Reza duduk dengan santai, mengguncang setelan hitamnya sebelum melepaskan dasi sutranya dengan gesit. Ekspresi wajahnya yang tegas berubah menjadi senyum yang penuh intrik saat dia menatap wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Bahasa tubuhnya mencerminkan kekuasaan dan kontrol, seolah-olah dia adalah raja di tengah kerumunan. Wanita itu, meski tampak cantik, merasa gemetar di bawah pandangan intens Reza. Suaranya yang halus terdengar penuh kepercayaan saat dia berbicara, "Tuan Adrian, ayah Anda sudah menunggu. Apakah Anda ingin sesuatu sebelum pertemuan dimulai?" Reza tertawa kecil, "Tidak, Terima kasih. Sampaikan saja bahwa aku akan segera bergabung dengannya." Seolah bermain dalam permainan catur, Reza menunjukkan langkahnya dengan cermat. Bahasa tubuhnya menciptakan aura kekuatan, memastikan bahwa dia bukan hanya seorang akademisi tetapi juga seorang pemimpin dalam dunia yang lebih gelap. Wajahnya yang tampan menyembunyikan rahasia dan kekuatan yang hanya sedikit terlihat oleh mata yang terlatih. Dengan gemulai, wanita itu mengangguk hormat dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Reza dengan pikiran dan rencana yang rumit. Reza memandang keluar jendela, merenungkan peran gandanya sebagai seorang profesor dan pria yang terlibat dalam dunia yang jauh dari cahaya kehidupan akademisnya. Setelah wanita itu pergi, Reza memeriksa sekeliling ruangan dengan pandangan tajamnya. Cahaya yang redup memunculkan aura misterius di wajahnya, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Seolah terpicu oleh kehadiran di ruangan itu, Reza mengambil kursi di balik meja besar dan membuka laptopnya. Jari-jarinya yang terampil menari di atas keyboard, memasukkan kode-kode rahasia ke dalam sistem terenkripsi. Layar laptopnya dipenuhi dengan grafik, diagram, dan informasi yang hanya dimengerti oleh orang-orang di dalam lingkaran elit organisasi ini. Dalam keheningan ruangan, Reza mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Pintu terbuka dan seorang pria berambut abu-abu memasuki ruangan. Pria itu memberi hormat pada Reza sebelum berbicara, "Tuan Adrian, semua sudah siap untuk pertemuan dengan Ayah Anda." Reza mengangguk dan bersiap meninggalkan ruangan. Sementara itu, di kampus, Dewi terlibat dalam diskusi sengit tentang etika riset. Suasana seminar ilmiah yang tadi membawa kekaguman dan keraguan kini bertemu dengan keputusan Dewi untuk mengejar kebenaran, meskipun mungkin itu melibatkan risiko dan konsekuensi yang belum terbayangkan. Malam itu, Dewi pulang ke kontrakannya dengan hati yang resah. Ponselnya berdering, dan suara Reza terdengar di seberang sana, "Dew, aku tahu ini sulit untukmu, tapi aku butuh waktu. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya nanti." Saat itu juga, Dewi merasa dunianya berputar. Ketidakpastian dan rasa takut mencampur aduk dalam pikirannya. Sejenak, dia merenung di bawah langit malam yang sama yang dilihatnya bersama Reza. Keesokan harinya, di kampus yang ramai, Dewi melangkah dengan tekad. Dia memutuskan untuk menggali lebih dalam, mengabaikan rasa takutnya. Dalam perpustakaan, dia menemukan bukti-bukti yang membuka matanya terhadap sisi Reza yang tidak pernah diketahuinya. Di tempat yang sama, Reza bersama ayahnya membahas rencana besar untuk organisasi mereka. Pintu tertutup rapat, dan hanya suara bisikan strategi yang terdengar di ruangan itu. Namun, di sudut hatinya, Reza merasa kehadiran Dewi menghantuinya. Suasana terus memanas. Dewi, di tengah perjalanan mencari kebenaran, dan Reza, terjebak dalam dunianya yang rumit. Keduanya berada pada titik puncak perubahan hidup yang tak terduga. Kehidupan mereka yang tampaknya berjalan paralel bersiap untuk saling berpotongan, dan langit yang sama menyaksikan klimaks dari pertemuan takdir mereka. Waktu terus berlalu,apa yang akan terjadi dalam kehidupan tak seorangpu tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN