Chris terkepung dari segala arah. Semua orang di pasar tidak percaya padanya. Bukti nyata ada di tangan dan Chris tidak mau menyerahkan senjata itu meskipun sudah diminta.
'Ini masalah besar. Gawat! Bibi Armei aku tinggal sendirian. Ke mana dia? Ah, sudahlah, yang terpenting sekarang bagaimana caranya aku lolos dari mereka. Aku terjebak,' kata Chris dalam hati.
"Anak muda! Sejak kapan kau bergabung dengan gadia itu, Hah?!"
Seruan orang yang sejak awal mengejarnya terdengar begitu keras. Dahi Chris berkerut.
'Gadis? Jadi benar pencuri itu perempuan? Luar biasa bodoh!' batin Chris.
Chris berdecak menekan ujung tongkat itu dan seketika mata pedang kembali masuk. Benda itu mudah digerakkan tanpa mengancam sekarang.
"Paman-paman dan seluruh penghuni pasar sekalian. Aku ini bukan pencuri dan bukan teman pencuri yabg kalian maksud. Aku tidak tau kenapa benda ini ada di tanganku. Walau begitu aku tidak mau melepaskannya sebelum semuanya jelas. Tolong, percayalah padaku." tangan Chris menekan usae menyuruh mereka yang marah untuk sabar.
"Halah, semua pencuri tidak ada yang mau mengaku! Kurung dia! Kita sandera saja, pasti gadis pencuri licik itu datang menyelamatkannya!" orang tadi benar-benar menjadi provokator.
"Iya benar, kurung dia!"
"Siapkan rantainya!"
"Tempatnya di sebelah sini!"
Orang-orang itu mulai sibuk menyiapkan peralatan.
"Rantai? Tunggu, ini tidak adil! Aku tidak bersalah! Hei, dengarkan aku!" Chris menaikkan sebelah alisnya. Dia cukup tenang walau panik. Rasa tidak bersalah membuatnya tidak takut, tetapi tongkat berpedang di tangannya membuatnya penasaran.
Dua orang menghampirinya ingin memasang pengikat rantai pada tangan Chris. Namun, gagal karena Chris melompat salto ke belakang menghindarinya.
"Wow, gerakan yang hebat!" banyak orang terpukau.
"Dia pasti pencuri yang handal!"
Chris tersenyum lebar. "Terima kasih pujiannya, tapi aku tetap bukan pencuri. Paman, jauhkan rantai-rantai itu. Berbahaya dan menyakitkan. Aku bersedia menunggu jika kalian ingin menyelesaikan masalah ini dan membuktikan aku tidak bersalah, asalkan jangan kurung aku. Aku ini pengembara bebas, bukan pencuri!" terangnya.
"Kami tidak percaya! Kalau bukan kenapa kau bisa ilmu bela diri? Kemari dan hadapi takdirmu, Pencuri!"
Chris mengernyit, "Apa? Memangnya yang bisa ilmu bela diri itu hanya pencuri? Takdirku akan indah, Paman. Bukan terikat rantai yang kau bawa!"
"Anak nakal! Paras rupawan tapi akhlak tidak mulia! Jangan dengarkan dia! Cepat tangkap dan kurung dia!" orang yang menjadi provokator itu bicara lagi membuat Chris berdecak. Bukan hanya dua orang itu yang mencoba mengikatnya dengan rantai, tetapi beberapa orang juga mendekat dan mengepungnya.
"Wow, ini terlaku banyak. Baiklah kalau kalian memaksa. Tangkap aku kalau bisa!" Chris membuat ekspresi mengejek dan lari melompat tinggi dari satu toko ke toko lain.
"Hei, jangan lariii!" mereka dibuat pusing mengejar Chris.
"Haha, menyenangkan! Apa jadi pencuri seseru ini?" Chris berlari sambil melihat tingkat berpedang itu.
Lain dengan Armei yang masih sibuk mencari. Wajahnya sudah merah padam menahan gemas. Ingin marah sampai telinganya berasap. Sudah tidak tahan lagi ketika dia tiba di sebuah toko yang sangat besar bahkan berada di dalam sebuah rumah yang sangat ramai. Toko itu menjual makanan khas dari pasar itu. Armei menarik pedang dan dalam sekali ayunan pedang itu menimbulkan suara nyaring membuat orang-orang di sekitarnya memperhatikannya.
"Maaf telah membuat keributan. Aku hanya ingin bertanya, di mana gadis pencuri sialan yang selalu mengacau pasar berada? Aku butuh bantuan kalian!" Armei tidak berbasa-basi.
"Astaga, Nyonya muda itu lagi." keluh pedagang yang pernah ditanyai Armei.
"Kau kenal dia?" orang yang berada di dekat pedagang itu berbisik padanya.
"Tidak, tapi dia bertanya hal yang sama padaku sebelumnya. Aku tidak mengerti kenapa dia mencari pencuri itu." pedagang itu menggaruk kepala.
"Mungkin dia mata-mata istana," bisik orang itu.
"Ha! Aku tidak berpikir seperti itu!" pedagang itu menutup mulutnya.
"Kami tidak tau, Nyonya!" seru beberapa orang dengan jawaban yang sama.
'Aku bukan nyonya, tapi nona. Mereka keterlaluan sekali. Aku tau usiaku sudah tidak lagi muda, tali tidak perlu begitu,' gerutu Armei dalam hati.
"Kalau begitu di mana rumahnya? Aku ada urusan dengannya," Armei masih meminta.
"Kami juga tidak tau." mereka mengendikkan bahu dan kembali ke urusan masing-masing.
"Tu-tunggu! Beri aku informasi. Kalian tidak mau pencuri itu tertangkap? Aku ingin menangkapnya untuk kalian," Armei bingung menyuruh mereka kembali memperhatikannya. Dia tidak lagi dihiraukan. Alhasil napas lelah yang bisa dia keluarkan seraya memasukkan kembali pedangmu.
"Hahaha, gagal, ya? Padahal mencariku itu cukup mudah. Kasihan...," seseorang dengan tawa mengusik telinga berhasil menarik perhatian Armei.
"Siapa itu?" Armei celingukan.
"Tangkap aku kalau bisa, Bibi berpedang!" suara itu semakin nyaring dan terdengar langkah kaki dari atap. Seketika Armei mendongak dan mendapati seorang gadis sedang berlari dari atap toko menuju atap yang lain.
"Sialan! Dia pasti pencurinya! Kau pasti bodoh karena mengaku sendiri, gadis licik! Awas kau!" Armei mengejarnya tak kalah cepat.
Pencuri itu sangat gesit. Seiring langkah kakinya yang cepat dia terus menyunggingkan senyum. Armei dibuat heran dan fokus pada jalan ketika pencuri itu turun dari atap toko dan membuat jalur keluar pasar lewat jalan pintas.
'Lari yang sangat cepat. Pantas saja aku tidak melihatnya saat dia menabrak Chris. Pasti dia memang punya ilmu tersendiri,' batin Armei.
Mereka keluar dari kerumunan orang-orang dan masuk ke pemukiman lain yang belum dilewati Armei. Banyak orang yang beraktivitas di sana. Terik sinar matahari membuat peluh bercucuran di setiap dahi manusia dan dengan tidak sopannya gadis pencuri itu mengganggu satu per-satu pekerjaan mereka.
"Maaf, Bibi. Aku sengaja, haha!" dia menjatuhkan tembikar yang sedang dijemur di depan jalanan rumah.
"Hei, gadis bodoh! Ganti rugi semua ini!" teriak dia yang memiliki tembikar itu.
"Hahaha, tidak mau! Aw, maaf, Paman. Jeramimu berterbangan!" gadis pencuri itu sengaja menyenggol seseorang yang sedang melintas sambil membawa tumpukan jerami untuk ternaknya sehingga orang itu jatuh dan jeraminya berantakan.
"Kurang ajar! Kembali kau, gadis kecil!" seru orang itu marah mengepalkan tangannya ke udara.
Gadis itu justru tertawa dan menambah laju larinya. Armei tidak bisa mengerti apa yang dilakukan gadi itu. Pencuri yang suka mengacau dimana-mana. Dia selalu tersenyum apapun keadaannya. Tidak merasa bersalah ketika orang-orang marah padanya. Armei akui penampilan gadis itu sangat lucu seperti anak kecil yang lusuh. Wajahnya terdapat debu dan coretan lumpur. Pakaiannya kotor dan penuh tali tak terikat. Sepatunya tinggi hampir mengenai lutut. Rambutnya panjang diikat miring ke kanan dan terdapat rumput kering di sana.
"Habis jatuh dari mana dia? Kotor sekali! Ada pencuri sepolos itu? Apa dia juga gelandangan?" gumam Armei di sela larinya.
Masih banyak pertanyaan yang bum terjawab tentang gadis pencuri tersebut. Hingga beberapa menit kemudian pencuri itu berhenti di salah satu pohon belakang rumah warga. Dia lelah, memegang lutut, mengatur napas yang terendah. Tangannya melambai ke belakang meminta Armei untuk berhenti mengejar. Armei pun sama. Dia kesulitan mengatur napas kelelahan.
"Aduh, perutku pusing sekali! Aku butuh air!" racau gadis itu.
Armei terbelalak, "Perutmu bisa pusing? Kau kelainan organ tubuh?"
Seketika gadis pencuri itu tertawa dan membalik tubuhnya. Dia menggeleng menatap Armei, "Nyonya berpedang, kau lebih lucu dariku ternyata. Mana ada perut bisa pusing? Itu hanya ucapan asal dariku saja. Hahh, aku lelah sekali. Kita berhenti sebentar setelah itu lanjut kejar-kejaran lagi, ya." mengibaskan tangannya.
Sringg!!!
Pedang Armei menantang tepat di depan wajah gadis itu membuat gadis itu mengangkat tangan dan menjulingkan matanya.
"Wow, pedang yang tajam," ujarnya santai.
"Katakan siapa kau dan jelaskan apa yang kau perbuat di pasar. Temanku dalam masalah karenamu sekarang," tuntut Armei.
Gadis itu mengerjai polos, "Haishh, sudah kuduga karena itu. Aku tidak mau! Lagipula dia mungkin hanya dimarahi setelah itu dipukul sampai babak belur. Apa yang harus dikhawatirkan?" mengendikkan bahu acuh. Memandang langit seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
Armei menganga, "Kau sudah salah, harus bertanggungjawab!"
"Apa yang harus ku tanggung dan kujawab, Hah?!" gadis itu mendadak menatapnya tajam membuat Armei sedikit tersentak. "Hahaha, ekspresimu bodoh sekali! Nyonya berpedang, aku hanya bercanda. Aku tidak galak sepertimu, haha," sambungnya.
Gelak tawa yang sangat menggelitik hati. Sudut bibir Armei berkedut.
"Apa katamu? Orang macam apa kau ini? Diancam pedang tidak takut dan tertawa sejak tadi," gumamnya heran.
"Karena aku istimewa. Turunkan pedangmu dulu, mari kita berkenalan. Bagaimanapun juga aku telah membiarkanmu mengikuti sampai sejauh ini. Oh, ya, ngomong-ngomong kecepatan larimu lumayan juga." gadis itu menepikan pedang Armei dan Armei memasukkannya kembali ke dalam sarung. Dahinya berkerut tanda waspada sangat berbeda dengan gadia itu yang santai dan ceria. Dia menggaruk kepalanya terlebih dahulu merasa gatal kemudian mendapati rumput kering di rambutnya.
"Haha, sejak kapan aku menjadi sarang burung? Kenapa ada rumput di sini? Maaf, Nyonya berpedang. Aku belum mandi tadi pagi, jadi kotor, hehe." gadis itu meringis membuang rumput kering itu. Armei tetap diam memperhatikan tingkah lakunya.
Gadis pencuri itu berdeham, "Ehm, baiklah. Perkenalkan namaku Laura Zay. Aku pencuri terkenal di pasar ini dan beberapa pasar lainnya, tapi pasar yang ini sudah seperti tempat khusus bagiku dan aku menyukainya. Aku pencuri yang jujur, 'kan? Senang bertemu denganmu!" mengulurkan tangan meminta pertemanan.
Rahang Armei ingin jatuh rasanya. Perlahan dia menjabat tangan gadis pencuri bernama Laura itu, "Senang bertemu denganmu, Pencuri. Aku adalah Armei Ziacu. Panggil saja Bibi, aku masih gadis jangan panggil aku Nyonya."
"Wow, gadis yang tua! Bibi Armei, aku menyukaimu!" Laura mencengkeram tangan Armei sambil melompat sekali karena terlalu semangat.
"Aargh, sakit! Kau gila, ya?!" Armei memekik.
"Ah, maafkan aku! Aku sengaja!" Laura segera melepaskan jabatan tangannya. Armei mengibaskan tangannya kesakitan, "Sialan kau! Sengaja kau bilang?!" hendak mengambil pedang, tetapi Laura menahannya. "Eh, tunggu dulu! Dari pada bermain pedang lebih baik bicarakan hajatmu kemari. Kenapa kau sangat penasaran denganku?"
Ucapan Laura ada benarnya. Armei tidak jati menarik pedang, dia berdeham mengutarakan maksudnya.
"Kau cukup percaya diri. Aku terkesan padamu," jujur Armei.
"Wah, memuji pencuri setelah memakinya, ya? Terima kasih." senyum Laura semakin lebar. Dia berkacak pinggang memperlihatkan sisi liarnya.
"Aku mencarimu karena ingin kau mengaku di pasar dan menyelamatkan temanku yang kau tabrak. Apa kau yang memberikan senjata itu pada temanku ketika kau menabraknya?" Armei menuntut lebih.
"Benar." Laura mengangguk polos.
"Jadi kau sungguh punya trik berlari cepat?" Armei antusias dengan raut serius.
"Haissh, wajahmu itu menegangkan sekali. Aku sudah bersedia terbuka dan kau tidak mau santai sedikitpun. Kalau iya memangnya kenapa? Kau mau aku ajari? Tidak gratis!" Laura sok seperti pencuri yang asli.
"Ck! Kau menunjukkan wajah aslimu. Sekali pencuri tetap pencuri. Tidak ada pencuri yang baik dan bertingkah sopan. Laura, aku mengagumi keberanianmu berkata jujur.
"Hahah, sekalinya bebas tetaplah bebas. Inilah aku yang sebenarnya. Laura Zay yang melakukan apa saja atas kehendaknya. Tidak peduli itu dilarang atau merugikan banyak orang yang penting aku senang. Memangnya kenapa? Kau tidak suka? Apa peduliku?" Laura berdecak acuh. Armei justru tersenyum tipis.
"Lalu, kenapa kau mau mengaku padaku?" tanya Armei lagi.
"Aku mengaku karena tidak tega melihatmu mencariku dari tadi. Pasti sangat sulit menemukanku, iya, 'kan? Hahaha, karena semua orang di pasar ini sudah seperti keluargaku sendiri. Mereka sudah mengenal diriku dengan baik. Biarkan saja aku mencuri sesuka hati, mereka tidak akan bisa memarahiku." Laura menepuk d**a berbangga diri.
"Kenapa begitu? Mereka semua keluargamu?" Armei menggeleng heran.
"Ck, bukan begitu, Bibi Armei. Maksudku adalah aku sudah terkenal di sini. Mereka memaklumi semua aksiku. Lagipula yang kucuri bukanlah perhiasan atau uang hasil kerja keras mereka, melainkan barang-barang yang menarik perhatianku. Semua itu kulakukan juga ada alasannya. Aku ini bukan pencuri amatir yang gila harta, asal kau tau saja." Laura mengendikkan bahu.
"Kau ... mudah sekali menceritakan kisahmu. Apa tidak takut aku melaporkanmu?" Armei sedikit kagum atas keterbukaan Laura.
"Haha, kau tidak akan melakukan itu karena kau orang baik," senyuman Laura sangat manis sampai mampu menghipnotis Armei.
"Orang baik? Baiklah, aku mengerti. Apa kau punya pekerjaan lain?"
"Tidak, mencuri adalah bagian dari hidupku," Laura tidak lagi bicara terlalu keras.
"Kau sangat lucu dan periang. Mungkin itu sebabnya orang-orang di pasar membiarkanmu bertindak seenaknya. Mereka juga tidak terlalu marah saat kau ganggu. Senyummu bisa membangkitkan energi positif bagi semua orang. Kau begitu ceria. Baru kali ini aku melihat pencuri seperti dirimu," Armei mengatakan apa yang ada dibenaknya.
Laura terkekeh, "Banyak orang yang berkata seperti itu. Dengan mudah mereka tau tentang diriku. Yahh, inilah aku. Gadis pencuri yang tertawa setiap hari. Sudah tau semuanya jadi kau tidak marah lagi, 'kan?" godanya.
Sekarang Armei yang tertawa kecil, "Tidak, tapi kau harus ikut denganku menolong temanku dan kembalikan senjata yang kau curi."
"Baiklah, sebelum itu apa kau mau tau kenapa aku membiarkanmu mengetahui kisahku?" pertanyaan Laura membuat Armei kembali mengerutkan dahi, "Kenapa?"
Laura sedikit mendekatkan wajahnya. Armei mendengarkan teramat serius.
"Aku tertarik dengan perjalanan kalian." Laura tersenyum miring.
"Apa?!" Armei tersentak. Ternyata Laura mengetahui tujuannya dengan Chris. Dia hendak bertanya dari mana Laura mengetahuinya, akan tetapi Laura sudah terlebih dahulu menariknya untuk bertemu dengan Chris.
'Itu berarti gadis ini sudah memperhatikanku dengan Chris semenjak masuk pasar atau lebih awal dari itu. Siap, aku kecolongan!' meskipun menggerutu dalam hati Armei tetap tersenyum. Dia sangat tertarik pada kepribadian Laura.
Langkah kakinya riang dan tenang tanpa khawatir sedikit pun. Makian dan seruan penuh hina yang dilontarkan orang-orang dianggap bercanda dan ditanggapi dengan ocehan lucu oleh Laura. Armei hanya bisa mentertawakannya dari belakang. Sampai mereka tiba di tempat Chris yang masih bermain kejar-kejaran dengan orang-orang yang membawa rantai.
"Astaga, dia sedang apa?" Armei mengusap wajahnya gusar.
"Wah, dia sangat tampan! Kau yakin dia temanmu? Terpaut usia jauh sekali!" dengan polosnya Laura menunjuk Armei dan Chris di depan sana.
"Diam kau! Kami memang berbeda usia, dia teman seperjalanan. Cepat hentikan orang-orang ini! Senjata apa yang kau curi sampai terjadi masalah besar seperti ini." Armei menggeleng.
"Senjata itu baru datang dari istana, katanya akan ditempa oleh pandai besi terhebat. Aku menghentikan orang yang membawa senjata itu dan mengambilnya. Ternyata senjata itu adalah gabungan dari simbol dunia bayangan, yaitu tingkat dan pedang. Jika sudah selesai ditempa pasti kuasanya sangat luar biasa. Kalau itu jadi milikku pasti akan sangat menguntungkan. Karena itu aku mencurinya," jelas Laura.
Armei dibuat terkejut lagi, "Kau tau banyak tentang istana."
"Iya, sudah kubilang aku bukan pencuri biasa," Laura tidak membuat ekspresi apapun. Dia hanya menunggu sampai salah satu dari mereka menyadari kedatangannya. Ternyata itu tidak menunggu lama. Mereka langsung mengetahui keberadaan Laura dan akan menangkap Laura, tetapi Armei melindunginya. Laura meringis karena tahu Armei akan melakukan hal itu.
"Ah, hidup memang menyenangkan! Selamat siang semuanya! Maaf merepotkan. Hei, kau yang ada di sana! Berikan senjata itu padaku! Seenaknya saja kau buat main!"
Chris mendengarnya. Dia mengernyit dari kejauhan terkejut jika Armei ada di sana memasang posisi siap menyerang.
"Siapa yang bersama Bibi Armei? Dia dekil sekali seperti aku kemarin," Chris menutupi kelopak matanya dengan tangan agar terhindar paparan sinar matahari. Dia mendorong mereka yang masih ingin menangkapnya. Mereka hanya terjatuh dan mendapat sedikit rasa sakit. Tanpa ragi Chris menyibak kerumunan orang-orang dan mendekati Armei serta Laura. Sorotan matanya tertuju pada Laura yang meringis tanpa dosa.
"Bibi, anaknya siapa yang kau bawa? Kau apakan dia sampai kotor begitu?" Chris menunjuk Laura dengan dagunya.
"Sembarangan kalau bicara! Aku bukan anak kecil, usiaku sudah dua puluh tahun," sahut Laura dengan nada keras.
Chris mendelik, "Seumuran denganku? Bibi, siapa dia?"
"Dia pencuri yang asli, bodoh! Komplotan sendiri lupa? Jangan pura-pura seperti itu!"
"Hahh, mereka kembali bicara yang bukan-bukan," kesah Chris sabar.
"Hihi, karena mereka mengagumiku!" seru Laura.
"Diam kau, bocah dekil! Siapa yang mengagumimu di sini, Hah?!" Chris membentak Laura dan Laura hanya mengerjap-ngerjap. "Hei, ini pencuri aslinya sudah di depan kalian. Kenapa tidak ditangkap?" sambungnya protes.
"Haha, sudah kubilang mereka kagum padaku." Laura merebut senjata di tangan Chris.
"Eh-eh, kembalikan!" Chris tidak terima.
Laura berjalan mendekati orang yang menjadi provokator tadi dan memberikan senjata itu. Ternyata orang itu adalah orang yang dihadang Laura saya membawa senjata tersebut untuk menemui pandai besi. Chris ternganga melihatnya.
"Maafkan aku, ya, telah mengganggu kerjamu. Tapi aku suka mencuri jadi tidak terlalu menyesal bagiku. Lain kali hati-hati jangan sampai kecurian lagi." Laura menepuk dua kali pundak orang itu.
"Terima kasih, gadis pencuri! Kalau kau mencuri lagi aku tidak segan-segan membawa pasukan dari istana," ancam orang itu.
"Lakukan saja. Akan ku hancurkan istana sebelum kau menyerbuku dengan pasukan!" Laura melirik orang itu tajam ketika sudah berbalik. Orang itu mendelik menelan ludahnya susah payah. Ketakutan yang sangat jelas kemudian dia menyuruh orang-orang untuk kembali ke kesibukan mereka.
Kini tinggal Laura, Armei, dan Chris di tengah-tengah pasar itu. Sudah siang dan waktunya menutup pasar. Mereka mengeluh karena menghabiskan waktu untuk meladeninya Chris sehingga tidak berdagang dengan lancar.
Chris masih memandangi Laura dari atas sampai bawah. Tinggi Laura hanya sepundak Chris. Senyumnya menggelikan membuat sudut bibir Chris berkedut ringan. Rambut yang diikat miring dan kotor itu dijambak pelan oleh Chris.
"Aw, sakit tau! Kau kurang ajar sekali! Mau kupukul?!" Laura mengangkat tangannya yang terkepal.
"Kau sungguhan pencuri itu? Yang menabrak ku dengan larian sangat cepat itu? Kau pencuri kecil?" Chris mengerjap tidak percaya.
Laura hanya tersenyum sebagai jawaban dan Armei menyarungi pedangnya lagi. Ketika Laura menjawab, seseorang datang memberikan sebuah makanan untuk Laura.