6. Bergabungnya Laura

2661 Kata
Pasar sangat sepi ketika matahari tepat di atas kepala. Sudah waktunya beristirahat begitu juga dengan Laura yang mengajak Chris dan Armei duduk di pojok pasar bersandar dinding salah satu toko. Seorang anak kecil sebelumnya menghampiri Laura dan memberinya makanan kini sudah pergi. Ternyata Laura sudah menyuruh anak kecil itu sebelum Armei menemukannya. "Mari makan! Jangan malu-malu, kali ini aku membelinya bukan mencurinya." Laura semangat membuka kotak makanan dari kayu itu. "Tunggu! Jadi kau sudah merencanakan semua ini?" tangan Chris menghentikan Laura. "Jangan pegang aku, Tuan tampan! Aku ini berbahaya. Tapi iya yang kau pikirkan benar. Aku ... sudah merencanakan semuanya. Termasuk memberikan senjata itu padamu dan Bibi Armei mengejarku. Itu aku lakukan karena ingin bermain-main denganmu. Bagaimana? Seru, 'kan dikejar orang-orang pasar?! Lain kali ayo lakukan lagi!" Laura mendekatkan wajahnya pada Chris setelah menepis tangan Chris. "Ck, menjauh dariku, Pencuri cerewet! Kau mempermainkan kami. Hahh, kalau kau laki-laki sudah kihajar habis-habisan!" Chris mendorong dahi Laura pelan. "Aww, sudah kubilang jangan sentuh aku! Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Kau tidak berani melawanku? Ayo lawan aku. Mau balas dendam, ya?" Laura membuat kepalan tangan ingin meninju. "Ha? Hahh, lupakan. Aku muak denganmu." Chris mengibaskan tangannya. Laura menganga, "Kau ini tidak tau terima kasih. Aku sudah membawa makanan buatmu. Lihat, Bibi Armei saja sudah memakannya." menunjuk Armei yang asik makan sejak mereka berdebat. Chris terbelalak menatapnya, "Bibi, kenapa kau memakannya?" Armei hanya mengangguk dan terus makan. Laura terkikik, "Eh, kita belum berkenalan. Aku Laura Zay, pencuri terkenal di daerah ini. Siapa kau?" mengulurkan tangan tanpa kesal walau ekspresi Chris sangat tidak menyukainya. "Aku Evans Chris, panggil saja Chris. Siapa aku kau tidak perlu tau." Chris menepis uluran tangan Laura, tetapi Laura menariknya dan menjabat tangannya kuat. "Haha, senang mendengar namamu. Aku baru tau kau di daerah sini. Seorang pengembara, ya? Sedang melakukan perjalanan apa? Pasti menyenangkan. Boleh aku ikut?" "Ish, kau cerewet sekali! Tidak boleh!" Chris menarik tangannya paksa. Laura melipat tangan di d**a, "Huh! Hanya bertanya saja kau marah." Chris terheran-heran lagi. 'Kesal macam apa itu? Sok imut? Hii, menjijikkan. Aku tidak yakin dia seumuran denganku. Meskipun begitu ... kenapa dia memperhatikan aku dan Bibi Armei? Pasti bukan pencuri biasa. Jangan-jangan dia tau kalau aku bukan berasal dari dunia bayangan. Ini buruk. Instingnya tinggi, pencuri baik hati, ceria dan riang walau disalahkan semua orang. Laura Zay, ya? Akan kuberi pelajaran sampai kau jera dan tidak mau mengikutiku,' batin Chris. Laura bukannya marah sungguhan. Dia menjulurkan lidahnya pada Chris setelah itu ikut makan bersama Armei. Chris melotot diejek Laura. Perutnya keroncongan. Tidak menolak jika dia juga lapar dan ingin memakannya. Sampai perutnya berbunyi menarik perhatian Laura dan Armei. Chris memegang perutnya menahan malu. 'Diam kau, perut. Memalukan sekali berbunyi di depan gadis pencuri itu,' tahannya dalam hati. "Sudahlah, Chris, makan saja. Aku yakin dia orang baik," kata Armei di sela makannya. Chris mencebikkan bibirnya, "Kalau aku makan apa aku berhutang budi padamu?" Laura mengangguk cepat membuat Chris melotot lagi, "Lihat sikapmu itu. Kalau menolong orang itu yang ikhlas." menunjuk Laura kesal. "Kau tidak bisa diajak bercanda, ya? Membosankan!" Laura bicara dengan mulut penuhnya. Tangannya mengibas mengusir telunjuk Chris. "Kau!" Chris menunjuk Laura kesal. Dia berdecak memalingkan wajahnya. Namun, rasa lapar tak bisa ditahan lebih lama. Akhirnya dia mengalah menahan malu saat mengambil makanan. Laura diam-diam tersenyum tak mau memandang Chris. "Bibi, kau siapa? Tidak pernah terlihat sebelumnya," kata Laura di sela makannya. Chris melirik mereka. "Siapa aku tidak penting bagimu," Armei acuh. "Kalau begitu aku tidak akan memberikan batu berlian ini pada Chris. Aku berencana ingin memberikannya padamu. Waktu kau mengawasi ini di belakang rumah warga, aku melihat semuanya laku aku mencurinya untukmu." Laura mengeluarkan batu berlian dari ikat pinggangnya. Chris terbelalak, "Wah, batu ini!" "Eits, jangan sentuh!" Laura memukul tangan Chris saat ingin memegang batu itu. Chris mengusap tangannya, "Katakan dulu siapa kalian sebenarnya lalu ajak aku dalam perjalanan kalian. Kesepakatan yang bagus!" sambung Laura. "Bagus kepalamu? Tidak akan!" Chris lanjut makan. "Tidak tau terima kasih. Kalau begitu aku buang saja batu ini." Laura sudah mengangkat tangan ingin membuang batu, tetapi Chris mencekal lengannya. "Jangan! Berikan padaku!" merebut batu bersinar itu kasar. "Kau suka barang curian?" Armei memandangi batu itu. "Tidak, tapi kalau barang sudah di depan mata mau apa, haha. Ini untukku, gadis bodoh! Terima kasih." menerawang batu itu ke langit terlihat sesuatu bersinar di dalam batu. Senyum Chris puas seolah tidak percaya. 'Ini kalau dijual hidupku bisa berubah total. Aku jadi kaya raya!' batin Chris. "Yahh, sepertinya kalian harus mengatakan yang sebenarnya." Laura menyangga kepala menyadarkan Chris. "Bodoh," maki Armei santai pada Chris. Chris menyimpan batu itu dalam sakunya kemudian berdeham panjang. Menyudutkan tatapan Laura dalam meskipun Laura tidak terpengaruh dengannya. Jarak antara merek hanya satu jengkal. Bahkan Chris bisa merasakan napas Laura yang tenang. "Bagaimana kalau kesepakatannya aku rubah? Kau aku izinkan ikut kami kalau kau bisa menahan semua seranganku," ucap Chris tajam di setiap perkataannya. 'Gadis ini tidak gentar sama sekali. Cukup menarik,' batin Chris. Laura berbeda dari gadis yang dia temui setiap hari. Mereka sering memuji dan menggodanya setiap saat hingga jengah ingin muntah, tetapi Laura sebaliknya. Chris tidak merasakan aura perempuan manja dan sok manis dalam diri Laura. Gadis itu kotor dan apa adanya. Cenderung menyembunyikan kehebatannya yang sebenarnya. Itulah tujuan Chris menguji Laura dalam bertarung, untuk mengetahui keahlian Laura yang sesungguhnya. Namun, Chris tidak yakin Laura akan menerima tantangannya. "Baiklah, aku terima!" Laura tersenyum tanpa beban. "APA?!" Chris terbelalak. Armei menarik sudut bibirnya, "Hmm, rasakan sendiri." Chris menatap Armei dengan ekspresi terkejutnya, "Itu sindiran yang buruk, Bibi!" "Haha, Chris penakut! Takut memukulku, Hah? Seberapa kuatnya kau daripada lajunya larianku!" Laura menjentikkan jari sampai Chris mengerjap bodoh kemudian berdiri kembali ke jalanan pasar. "Hei, sialan! Bibi, jangan habiskan makanannya. Aku akan melahap semuanya serta gadis licik itu!" Chris geram dia menyusul Laura segera. Armei masih makan dengan nikmat, "Yahh, bertarung dulu baru tau dia licik atau tidak." Kuda-kuda siap siaga lengkap kepalan tangan tidak sabar untuk mengeksplor kebolehan. Ujian yang cukup berat, tapi Laura terus tersenyum dan bergerak kesana-kemari meneleng mencoba memudarkan keseriusan Chris sampai Chris jengah. "Kau ini sedang apa? Jadi bertarung tidak? Ayo serang aku!" Chris berteriak. "Bagaimana kalau kau yang menyerangku lebih dulu?" Laura yang mulanya berjarak sekitar sepuluh kaki dengan Chris mendadak dalam satu detik sudah berada di depan Chris. Chris melepas posisi siaganya. "Ck, aku tidak akan tertipu dengan trik larimu itu. Setiap pencuri punya tangan dan kaki yang panjang," sindir Chris. "Oh, ya? Kalau begitu serang aku." Laura merentangkan tangan semakin menguji kesabaran Chris. "Aarrggg, kau ini! Hentikan senyum bodohmu! Aku tidak akan melawan perempuan lebih dulu!" Chris mencengkeram udara. Laura meremas rambutnya lalu menjulurkan lidah, "Majulah!" Lari sekencang mungkin mengitari Chris di tiap tepi jalanan pasar. Hanya debu berterbangan yang terlihat. Pandangan Chris mulai kabur dan dia semakin menggeretak. "Sial! Dia memulainya. Aku tidak akan terpengaruh trik payahmu itu, Laura. Kau belum tau kecepatanku," gumamnya. Segera berunjuk kebolehan dengan memegang salah satu tiang sangat kuat sampai ototnya terlihat. Sontak Laura yang tidak bisa mengendalikan laju larinya menghantam tangan Chris dengan perut dan terhenti seketika. "Aww!" Laura hanya mendesah kesakitan. Chris berhasil mencekalnya. Senyumnya berubah menakutkan. Melihat ada hal buruk yang akan terjadi Laura memukul perut Chris sekuat tenaga. Alhasil Chris mundur dan Laura berhasil melepaskan diri. "Haha, sakit di perut dibalas perut." Laura menjulurkan lidahnya lagi. "Berhenti kau, Pencuri kecil!" Chris mengabaikan rasa sakitnya. Mengejar Laura yang kembali berlari sampai berhasil menghadangnya. "Hiyaaaa!" Laura langsung menyerang Chris bertubi-tubi. Tatapannya serius menggeretak Chris yang hanya bisa menangkis setiap serangannya. 'Ternyata kecepatan tangannya tak kalah dengan kaki,' kata Chris dalam hati. Dalam sekati putaran tangan Chris berhasil memukul lengan Laura dan d**a Laura hingga gadis itu mundur dua langkah. Dalam kesempatan itu Chris mengambil alih pertarungan. Tidak ada jeda, Chris mencoba memukul Laura dari segala sisi dan gadis itu berhasil menghindarinya. "Kau punya tangan yang tajam," kata Laura di sela perkelahiannya. "Tidak, ini namanya menitikberatkan kekuatan pada telapak tangan." Chris mendorong d**a Laura dengan telapak tangannya. Laura mendesis mundur lagi memegang dadanya. "Wow, kuatnya," lirihnya. Chris maju lagi sungguh tidak memberi celah pada Laura walau sekadar untuk bernapas. Serangan demi serangan baik tangan dan kaki bergerak seirama. Laura memang kesulitan jika beradu kekuatan karena pada dasarnya dia perempuan. Namun, setiap serangan dari Chris berhasil dia tangkis walau mendapat sedikit luka. "Tidak akan ku maafkan, Chris! Terima ini!" Laura berputar mengangkat sebelah kaki dan menumpukan kekuatannya pada kaki lalu menendang Chris dari arah samping. Chris berhasil menghindar, tetapi tidak disangka Laura berputar lagi dari arah belakang Chris berhasil menendang punggung Chris telak sampai Chris tersungkur jauh dai hadapan. 'Apa?! Aku tidak melihat pergerakan keduanya tadi. Dia menggunakan trik kecepatan larinya,' pikir Chris ketika sudah tersungkur. Napas Laura terengah. Menghampiri Chris mengulurkan tangan menawarkan bantuan. Chris menepisnya dan berdiri sendiri. Laura mengendikkan bahu lalu berkacak pinggang. "Bagaimana? Aku lolos?" dengan percaya diri menampilkan deretan gigi manis nan putih itu. Chris berdecak membersihkan pakaiannya dari debu, "Pertarungan macam apa itu? Aku tidak merasakan nyawa sama sekali." "Itu hanya alasanmu. Buktinya kau menyerangku bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan membalas." Laura menunjuk hidung Chris. Chris sedikit mendelik. Menepis telunjuk Laura, "Itu karena aku benar-benar ingin menghajarmu. Memberi sedikit pelajaran pada tangan dan kaki panjangmu itu." Laura mengerucutkan bibirnya, "Maksudmu kau mau bilang kalau aku harus berhenti mencuri begitu? Tidak akan! Akui saja aku bisa menahan semua serangan kasarmu itu. Lalu, biarkan aku mengikutimu." mengepalkan kedua tangan. Chris menatap Laura dari atas sampai bawah, "Kau percaya diri sekali. Sungguh ingin ikut denganku?" "Tentu saja!" Laura lebih semangat. "Sshh, sebenarnya kenapa ingin mengikutiku? Bukankah mencuri sana-sini lebih bebas dan menyenangkan? Lagipula orang tuamu tidak melarang? Kalau kau pergi akan merepotkan mereka nanti." Chris melipat tangan di d**a. Dia masih memberi pandangan menelisik. 'Apa aku sudah mirip mengintrogasi dia? Tapi Laura tidak merasa keberatan dan terus bersikeras ikut. Yahh, aku akui dia hebat,' pikir Chris. "Orang tua? Aku sudah tidak punya keluarga. Aku sendirian dan bertahan hidup dengan mengacau semua orang. Aku tidak mah membahas hal itu lagi," jawab Laura ringan. "Kau ... tidak merasa sedih atau sedikit mengganjal perasaanmu? Aku telah mengungkit keluargamu," Chris merasa bersalah. Kerutan di dahinya lebih banyak. Laura meneleng melihat kerutan itu. Telunjuknya tergerak begitu saja memisahkan kerutan di dahi Chris membuat Chris tersentak dalam hati. "Tidak peduli seperti apa kehidupan datang pada diri kita, itulah yang harus kita hadapi. Kenapa kau mengerutkan dahimu? Apa aku menendangmu terlalu keras tadi?" Chris tersentak lagi. Laura berpikir dia kesakitan karena ulahnya sampai membantu menghilangkan kerutan di dahi Chris. Terlebih lagi ucapan Laura berhasil masuk ke relung hatinya. Tiba-tiba Chris merasakan sesuatu. "Kenapa kau melakukannya?" kata Chris pelan. Laura mengerjap memandang Chris, "Apa?" "Ah, tidak. Apa ada yang sakit saat aku menyerangmu? Aku rasa sudah cukup memberimu pelajaran." Chris meneliti tubuh Laura yang menerima serangannya tadi. "Tidak ada. Au sudah biasa dengan luka pukulan. Nanti juga hilang sendiri. Jadi bagaimana jawabanmu? Aku berhasil, 'kan? Ayolah-ayolah, biarkan aku ikut! Aku ingat n berpetualang jauh bersamamu!" Laura kembali ke sikap semula. Chris mengetuk-ngetuk dagunya, "Emm, baiklah biar kupikirkan..." "Yeyyy, aku ikut dalam perjalanan kalian!!! Yuhuuuuu, aku senang sekali! Terima kasih, Chris! Bibi Armei, dia menerimaku! Dia memukulku kasar dulu baru mau mengajakku! Hahaha, dia bodoh!" Laura berteriak lari sebelum Chris selesai bicara. Chris menganga lebar. 'Astaga kepalaku pusing menghadapi dia! Jangan memutuskan seenaknya begitu!' gerutu Chris dalam hati. "AKU BELUM SELESAI BICARA, LAURA BODOH!" teriak Chris lantang. Napas yang memburu beriringan dengan langkah yang menghampiri dua perempuan berbeda usia itu. Asap panas seolah muncul dari telinga dan hidung. Sorotannya hanya tertuju pada Laura. Tangannya mengepal merah. Armei dan Laura mengacuhkannya. Makanannya tinggal sedikit. Laura yang mengetahui keberadaan Chris yang sedang marah dia segera menghabiskan makanannya mengundang pelototan tajam Chris dan amarahnya semakin membuncah. "Hmm, ini enak! Hahh, aku kenyang!" Laura mengangkat tinggi-tinggi kotak kayu sisa makanan itu. Chris tidak bisa menahan emosinya lagi. "Terima kasih makanannya. Sudah lama aku tidak merasakan makan makanan lezat." Armei tersenyum manis. Chris semakin naik pitam. Dia membuang kotak kayu itu sehingga Laura dan Armei terkejut. Laura berdiri tidak terima. "Maksudmu apa, Hah?! Kotak itu aku beli bukan mencurinya. Sembarangan saja kau buang!" "Laura...," Chris menggantung ucapannya. "Ha?" Laura mengerjap polos. "AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!" Chris mencekik leher Laura. "Aaaaaa, tidaaaakkk!" dengan bodohnya Laura teriak dan mencekal tangan Chris. "Sudah-sudah, kau makan apel saja." Armei memberikan beberapa apel yang maish tersisa dengan tenang. ~~~ Siang yang panas di dunia bayangan tidak lagi dihiraukan Chris terlebih lagi telinganya juga panas mendengarkan ocehan Laura yang tiada akhir. Karena Laura sudah bergabung dengannya jadi Chris terpaksa memberitahukan segalanya pada Laura termasuk identitas aslinya. Sesuai dugaan, Laura terkejut jauh lebih terkejut dari Armei. Kemudian, Laura membawa Chris dan Armei ke suatu tempat yang disebut sebagai sumur mati. Hanya namanya saja sumur mati, tetapi sumur itu masih mengalirkan air jernih dari sumbernya. Ternyata di sanalah Laura tinggal. Semua barang curian Laura simpan di dalamnya. Di dekat sumur terdapat gubuk kecil yang menjadi tempat berteduh setiap malam. Chris sungguh tidak menduga Laura tinggal di tempat seperti itu. Gadis itu bilang tidak ada warga yang berani mengambil air dari sumur itu karena dianggap sumur itu sudah mati. Memang dahulu sebelum Laura menemukan sumur itu keadaannya sudah kering, tidak ada sumber air. Namun, setelah beberapa saat kemudian sumur itu kembali memberikan air tanpa tahu penyebabnya. Sudah cukup lama Chris dan Armei menunggu di luar gubuk. Laura tak kunjung keluar. Terdengar gemericik air dari dalam gubuk membuat Chris penasaran, tetapi Armei menahannya untuk masuk ke dalam gubuk. "Aku ingin tau apa yang terjadi. Mungkin saja dia dalam masalah," kata Chris. "Jangan masuk. Tunggu saja sampai dia keluar," Armei lelah menjelaskannya. Chris tetap ingin masuk. "Aduh, apa kau tidak mengerti?" Armei kesal. "Apa?" Chris bingung. "Dia sedang mandi dan kau mau masuk? Seperti saja harus dijelaskan." Armei melepaskan Chris sambil menggeleng. "A-apa? Mandi?" Chris sedikit kelagapan. Pintu terbuka menampakkan Laura dengan penampilan berbeda. Chris dan Armei tercengang. Mata Chris melebar sampai ingin keluar. Dia terpaku seperti patung. Tidak berkedip sekali pun. Debu-debu di wajahnya menghilang. Polesan sedikit pewarna bibir merah muda sangat manis dengan senyuman. Rambut panjang nan bersih terurai sempurna. Tidak ada hiasan sama sekali yang terlewat di tubuhnya. Pakaian panjang berwarna kelabu. Sangat redup dan menenangkan di mata. Laura berubah total. "Hai semuanya! Maaf, aku lama, ya? Haha, sebenarnya aku mencari ini tadi. Tanganku terbentur tiang jadi tidak bisa mengikat rambutku. Bisa tolong bantu ikatkan? Sedikit risih kalau terurai." Laura meringis menunjukkan ikat rambut yang ada di pergelangan tangannya. 'Siapa yang ada di depanku? Apa Laura Zay yang kotor itu?' batin Chris. "Wah, cantik sekali!" bergumam tidak sadar. Armei dan Laura memandang Chris. Armei tetap tersenyum tipis, tetapi Laura berdecak lalu memukul dahi Chris. Akibatnya Chris tersadar mengelus dahinya. "Siapa yang kau bilang cantik, Hah? Tadi mengejekku terus sama seperti orang-orang. Sekarang sudah melihatku seperti ini baru terpesona. Yahh, aku akui aku cantik, kau tidak perlu meneteskan air liurmu." mengibaskan tangan percaya diri. Chris melotot, "Apa katamu? Ck, siapa yang memujimu cantik? Sekalinya jelek, ya, tetap jelek! Tidak berkaca, ya?!" 'Sial, dia memergokiku. Apa air liurku benar-benar menetes?' Chris tidak enak dalam hati. "Haha, aku bercanda. Tidak ada air liur di bibirmu." dengan polosnya menunjuk sudut bibir Chris dan Chris langsung mengusap bibirnya. "Laura semakin tergelak. "Hahaha, kau bodoh!" Chris mengetatkan giginya, "Laura Zay!" teriak ya tak terima dipermainkan. Laura masih saja tertawa. "Kalian ini... Laura, biar kubantu mengikat rambutmu." Armei meminta ikat rambut Laura. "Hehe, terima kasih." seperti anak kecil yang mendekati Armei memberikan ikat rambutnya. Chris mengalihkan pandangan tidak mau memandang Laura. Tangannya terlipat di d**a, memandang lurus ke jalanan depan. Memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya selagi Armei dan Laura sibuk dengan rambut. 'Dua perempuan ada di sisiku sekarang. Aku tidak bisa membahayakan mereka dalam masalah apapun. Jika sesuatu terjadi, aku harus bertanggungjawab atas mereka. Pertanyaan kali ini hanya satu yaitu bagaimana caraku mengetahui misi yang hilang?' pikir Chris. Tidak butuh waktu lama untuk mengikat rambut Laura. Terikat menjadi satu di sisi kanan seperti sebelumnya dan itu membuat Chris mengejek Laura jika Laura tidak bisa berdandan seperti perempuan pada umumnya. Mereka meributkan hal-hal bodoh di sepanjang jalan dan Armei terhibur karenanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN