7. Pergantian Cuaca

2521 Kata
Jauh dari pasar mereka melangkah. Tidak tahu arah tujuan hingga malam hampir datang. Tidak adil jika harus bermalam di luar lagi. Terlebih langit tiba-tiba mendung. Awan kelabu nampak mentertawakan tiga orang itu. "Ck! Kurasa kita terpaksa harus berteduh. Jalan ini jarang sekali ada rumah." Chris menatap kanan-kiri. "Hujan akan turun malam ini? Aku tidak percaya." Armei menatap langit. "Kenapa tidak percaya?" Laura menoleh ke Armei. "Dia dua puluh tahun ada di gurun, tentunya tidak percaya kalau turun hujan. Entah bagaimana cara dia hidup," balas Chris. "Aku tanya pada Bibi Armei, bukan padamu." Laura melengos. Chris hanya berdecak dan Armei tersenyum tipis. Lagi-lagi langit gelap itu mengeluarkan suara mengerikan. Gemuruh petir menyambar kan kilatan kecil membuat buku kuduk sedikit merinding. Chris mendongak tanpa berhenti melangkah. Dua perempuan itu juga tidak akan berhenti jika Chris tidak mengawalinya. 'Ternyata bisa hujan juga, ya? Sungguh luar biasa! Sedikit demi sedikit pertanyaanku terjawab. Pasti sebentar lagi kunci mengetahui misi yang hilang itu juga akan terlihat,' batin Chris. Jedeerrr!!! "Astaga! Sepertinya ini sungguhan!" Laura terkejut mengepalkan tangan. Petir pertama kali terdengar cukup keras. "Kita harus segera menemukan tempat berteduh!" Armei celingukan mencari tempat yang aman. Namun, yang ada hanyalah pohon dan ilalang. Rumah-rumah warga sudah jauh dan beberapa meter lagi di depannya baru akan ada rumah. Pastinya tidak akan cukup untuk mereka menuju ke sana karena hujan pasti akan mengguyur mereka terlebih dahulu. "Chris, apa yang harus kita lakukan?" Laura terus menatap langit. "Apa kau tidak mengenal tempat ini? Kau, 'kan pencuri pasti jangkauanmu sangat luas," Chris membalikkan pertanyaan. Dia juga kesulitan berpikir sekarang. 'Kenapa tidak ada tempat yang nyaman sekaligus aman di situasi seperti ini?' pikir Chris. "Aku tau dan di sini memang jarang ditempati warga. Hanya jalan panjang biasa untuk menuju ke pemukiman selanjutnya. Sekarang bagaimana?" jawab Laura. Dia semakin panik meskipun dibuat setenang mungkin. "Apa kau takut?" Armei mengetahui kegelisahan Laura. Laura menoleh. Raut wajahnya menyiratkan ketakutan serta keraguan, "Tidak, hanya saja hujan ini pasti akan lebat. Aku tidak mau kita jatuh sakit besok." "Alasan yang lumayan. Sebaiknya jangan mengeluh dan cari tempat yang sekiranya aman untuk berlindung. Laura, kau amati bagian kiri. Aku ke kanan dan Bibi Armei perhatikan depan. Siapa tau ada rumah di dekat sini," titah Chris. Mereka setuju dan melaksanakan apa yang Chris suruh. Memasang ketajaman mata sebaik mungkin terutama Chris. Dia tidak mungkin tidak bisa melindungi dua perempuan baru dalam kehidupannya. Hingga seketika dia menemukan sesuatu. "Di sana! Ada gubuk kecil dekat pohon buah. Kita harus lari ke sana!" Chris menunjuk sisi kanan yang teramat jauh di sana. Matanya sangat jeli mendapati gubuk kayu kecil dan pohon-pohon buah di sekitarnya. Armei dan Laura tersentak. "Benar! Ayo cepat!" Armei menarik Laura untuk lari dan Chris menyusulnya. Sambaran kilat semakin menjadi seiring mereka berlari. Semakin dekat dengan gubuk itu semakin banyak rintangan yang dilewati termasuk bebatuan kecil di sekitar jalan meskipun banyak rumput panjang di sana. Mereka tiba di gubuk itu bersamaan dengan hujan turun teramat deras mengancam siapapun dan mengusir kehangatan. Laura mulai menggigil, tetapi dia tahan sekuat mungkin. "Naikkan kaki kalian, jangan sampai terkena air. Kalau anginnya tidak kencang, kita tidak akan basah kuyup. Semoga hujan ini bukan badai." Armei dan Laura duduk di tengah melipat kaki agar merasa hangat sesuai ucapan Chris. Sedangkan Chris berada di pinggiran gubuk memperhatikan hujan. Pakaiannya sedikit basah demi melindungi Armei dan Laura dari cipratan air hujan. Laura meneleng ke sekeliling, "Ini memang kebun buah milik warga. Buahnya belum tumbuh, justru banyak rumput liar. Chris, matamu tajam sekali sampai bisa melihat ke sini. Tadi tidak terlihat apa-apa padaku." Chris menoleh, "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan yang penting kita bisa berteduh. Kau tidak apa-apa? Bibi, kau juga baik-baik saja?" hanya dengan melihat ekspresinya saja sudah jelas jika Chris khawatir. Laura sedikit tersentak karena Chris memperhatikannya. "Aku tidak apa-apa, tapi Laura sepertinya kedinginan." Armei menatap Laura. Laura segera menggeleng menyilangkan tangan, "Tidak-tidak, aku tidak apa-apa. Ini hanya dingin biasa." "Kau jangan cemas. Kita duduk lebih dekat agar menciptakan kehangatan." Chris duduk agak mendekat dengan mereka dan Armei juga berdempetan dengan Chris, akan tetapi Laura diam saja. "Kenapa diam? Cepat kemari!" Chris bahkan melambaikan tangannya seolah Laura tidak mengerti apa yang dia ucapkan. "Aku ... Ck, rasanya aneh kalau berdekatan denganmu. Tapi tidak masalah yang penting tidak mati membeku. Otakmu cemerlang juga." setelah mengejek baru Laura duduk berdekatan dengan mereka. Lututnya sampai bersentuhan dengan lutut Chris. "Kurang ajar kau! Siapa juga yang mau dekat-dekat denganmu, Pencuri! Kalau bukan karena keadaan mendesak aku tidak mau duduk di sebelahmu!" sewot Chris dan Laura hanya melengos. "Apel ini masih bagus. Kita bisa memakannya selagi menunggu hujan reda." Armei membuka bungkusan kain yang berisi apel di tengah. Chris memang lapar terlebih lagi hanya mendapat bagian kecil dari makanan Laura. Dia tidak segan-segan memakan apel itu dengan sorotan mata menuju ke ladang buah. "Pohon yang kokoh. Pohon apa mereka?" gumam Chris. Derasnya hujan sampai membuat suara Chris terdengar kecil. "Mereka bukan sembarang pohon buah. Buahnya disebut dengan buah cahaya. Harganya sangat mahal. Bentuknya seperti akar tebal dan rasanya hambar, tetapi khasiatnya banyak. Sangat ampuh untuk menyembuhkan penyakit. Di pasar biasanya banyak yang menjual buah ini, tetapi sekarang sedang tidak musim berbuah, jadi jarang terlihat dan harganya jauh lebih mahal." Laura ikut memandang salah satu pohon itu. "Aku pernah dengar tentang buah cahaya. Waktu aku masih remaja buah ini digunakan untuk penerangan pengganti. Maksudnya jika tidak ada lentera atau berada di tempat yang penuh kegelapan buah ini bisa bersinar. Karena itu disebut sebagai buah cahaya. Tidak mengherankan juga kenapa harganya mahal," sahut Armei. Chris percaya saja karena sudah banyak keajaiban yang dia lihat. Sambil menguyah apel dia terus memperhatikan persekitaran. "Wow, buah yang ajaib dan mujarab. Bentuk ya seperti akar tapi tumbuh di pohon," balasnya. "Apa di tempatmu ada buah cahaya?" tanya Laura. Chris menggeleng tanpa menoleh, "Jelas tidak, lah." Laura mengerjap tertarik, "Kenapa? Duniamu itu aneh, ya? Pohon ini terkenal dimana-mana. Kenapa di tempatmu tidak ada?" memajukan sedikit wajahnya. "Yang aneh itu duniamu, tau!" Chris mendorong dahi Laura membuat Laura mendengkus kesal. "Chris, apa rencanamu setelah ini?" Armei mengalihkan pembicaraan sebelum Laura dan Chris bertengkar lagi. Chris menggigit apel dalam gigitan besar. Kilat menyambar membuatnya menelan apel itu tanpa dikunyah dan Laura mentertawakannya. "Hahaha, bodoh?" "Diam kau, Pencuri licik!" Chris mengerang marah. "Laura, sudahlah berhenti tertawa. Hujannya semakin deras, tidak baik kalau kau terus tertawa," tutur Armei. Seketika Laura berhenti tertawa, "Baiklah, tapi dari pada rencana setelah ini aku lebih tertarik pada kalung batu giok itu." menunjuk kalung Chris. Chris memegang kalungnya, "Ini adalah milik paman Aron. Dia sedang menunggu di markasnya sekarang. Aku harus secepatnya menyelesaikan misi." Mendadak Chris menunduk memikirkan sesuatu. "Oh, kenapa jadi runyam begitu wajahmu? Tenang saja jangan terburu-buru. Meskipun aku tidak tau misi apa yang kau maksud, tapi aku akan membantumu sampai dapat. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Mendengar ceritamu aku jadi penasaran bagaimana kehidupanmu yang sebenarnya." Laura mengetuk dagu mengkhayalkan Chris di dunia nyata. "Hahh! Bilang saja kau juga terkesan padaku. Sama seperti gadis-gadis bodoh lainnya." Chris mulai memanaskan suasana. Armei mendesah sudah mengira akan terjadi perang mulut lagi. "Apa katamu?! Jangan samakan aku dengan mereka, ya. Aku tidak terkesan padamu walau aku akui parasmu itu sempurna! Jangan salah paham!" Laura menajamkan matanya. "Oh, ya?" Chris menaikkan sebelah alisnya. Laura naik pitam. Tangannya mengepal kuat siap meninju wajah Chris yang menyebalkan di matanya, "Ekspresi memuakkan! Sudah kubilang aku tidak tertarik padamu!" "Lihat-lihat, kau salah tingkah. Tidak apa-apa, aku maklumi. Semua gadis memang malu-malu." Chris mengalihkan pandangan. "Eerrrr, kurang ajar kau! Rasakan tinjuan dariku!" wadah Laura merah ketika tinjunya sungguh melayang tepat di pipi Chris. "Yaaaa! Kena kau!" serunya lega. Armei menutup mulutnya terkejut. Chris mengelus pipinya kesakitan. Tangannya terkepal ingin membalas Laura, akan tetapi dibatalkan. "Kau memang sialan, Laura! Aku tidak mau melindungimu! Tidak akan! Biar kau kedinginan sampai jadi batu!" Chris keluar dari lingkaran duduk mereka. Dia bersandar tiang gubuk sambil melengos dan melipat tangan. Sebelum itu dia mengambil apel dan memakannya lahap tanpa mau memandang Laura. Laura mulai kedinginan lagi. Benar juga, salah satu dari mereka menjauh maka dingin bisa memasuki tubuh dengan mudah. "Aku juga tidak mau berbagi kehangatan denganmu! Kau yang akan kedinginan sampai besok pagi! Huh!" Laura juga melengos melipat tangan di d**a. Armei menatap mereka bergantian tidak tahu bagaimana lagi cara mendamaikan mereka. Meskipun begitu dia tahu jika niat kedua orang itu sangatlah baik. Ucapan itu hanya sekadar untuk mengisi waktu. Malam yang sunyi hanya ada suara hujan dan gemuruh petir yang mengisi. Seakan dunia sedang menguji tiga orang yang memulai jalan baru. Hari tak kunjung berganti. Malam terasa panjang hingga sulit dilampaui. Mata tak bisa terpejam. Hangat tak bisa didapatkan. Keegoisan masih saja bertahan. Chris laki-laki yang kuat. Dia mungkin bisa menahan dingin yang tidak diduga sebelumnya, tetapi Armei dan Laura mereka sudah tidak sanggup lagi. Perkiraan pertengahan malam sedang berlangsung. Hujan justru semakin deras. Pepohonan serasa lagu karenanya. Untunglah tidak ada angin kencang yang ikut serta, jikalau ada hanyalah angin kecil yang membuat udara semakin dingin. Chris menganggap cuaca ini adalah gertakan baginya untuk kembali peduli pada dua perempuan itu terutama Laura. Egonya terpaksa luluh. Dia menarik Laura dan Armei begitu saja tanpa menghiraukan protesan mereka. Lalu, Chris memeluk mereka erat. Matanya terpejam. Deru napas dua perempuan beda usia itu sangatlah dingin. Laura meronta lemas ingin melepaskan diri. Sayangnya tenaganya tidak terlalu banyak. Dingin menguras energi mereka. "Apa-apaan kau ini? Lepaskan aku!" Chris tidak menjawab juga tidak mengatakan sepatah kata pun. Kemudian, Armei menyadarinya. "Diamlah, Laura. Yang dilakukan Chris benar. Sementara bertahanlah seperti ini. Hanya dia yang punya suhu hangat karena dia lebih kuat. Turunkan egomu sedikit." Mendengar ucapan Armei, Laura pun berhenti meronta. Dia justru mengeratkan pelukannya sampai hampir melingkari pinggang Chris. Chris tersentak, mengerutkan dahi tanpa bisa mengucapkan apapun. 'Kapan hujannya akan berhenti? Cuaca macam apa ini? Siangnya panas terik dan malamnya hujan tak berkesudahan. Ujian yang benar-benar menguji diriku,' batin Chris. Pertama kalinya bagi Chris memeluk perempuan. Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dalam keadaan seperti itu perlahan-lahan hangat mulai menjalar ke tubuh mereka. Setidaknya tidak akan membiarkan dingin menggerogoti tulang mereka. 'Chris ... ternyata dia orang yang pengertian. Aku bisa merasakannya sekarang. Namun, sayang sekali kenyataannya dia berada di dunia yang berbeda. Aku bahkan tidak percaya kalau ada dunia lain selain dunia bayangan. Kupikir dunia bayangan ini adalah dunia nyata dan hanya ada satu dunia. Ternyata kami adalah sisi lain dari dunia asli Chris. Jika memang ada kesempatan aku ingin melihat dunia asli itu seperti apa. Jika tidak ada maka aku akan menemani Chris dalam perjalanannya sesulit apapun rintangannya. Ini adalah sisi lain dari diriku sekarang. Mataku cukup terbuka setelah bertemu dengan pemuda aneh ini. Chris, aku merasakan aura besar dalam dirimu,' batin Laura. Dia menikmati sisa-sisa malam dan mendengarkan lantunan musik hujan. Pertama kali baginya menghabiskan malam dengan cara yang tidak bisa dia bayangkan sebelumnya. Laura cukup nyaman dan menikmati apa yang dia putuskan. Walaupun itu tidak akan mengubah kepribadiannya sebagai pencuri yang cerdik dan sangat cepat. Lain dengan Armei yang sudah terlelap. Chris dan Laura bisa merasakannya karena deru napas Armei jauh lebih tenang dari sebelumnya. Chris harus merekatkan pelukannya pada Armei agar Armei tidak melepaskannya karena dalam keadaan tidak sadar. Benar-benar berharap malam segera berganti dan hujan secepatnya reda. ~~~ Perjalanan masih panjang. Semangat muda tidak akan sia-sia jika melakukan perbuatan mulia. Pohon buah cahaya kembali menegakkan diri. Sinar mentari sangat hangat menyambut pagi. Tetesan demi tetesan air sisa hujan masih membasahi atap gubuk dan jatuh ke rumput panjang. Membuat beberapa embun yang sangat sejuk jika terinjak. Sayangnya tiga orang itu maish tidur sejak dua jam yang lalu. Tidur yang lumayan sulit. Penuh usaha keras agar bisa menutup mata dari dingin. Namun, Armei terbangun dan menyadari itu semua. Dia tersenyum pada lingkungan setelah merenggangkan tangan. Perlahan-lahan dia memisahkan Laura dari Chris, akan tetapi Chris Laura tersadar dan langsung menjauhkan diri. "Astaga, sudah pagi, ya? Syukurlah." mendesah lega seolah keluar dari bahaya mengerikan. "Iya. Padahal kau juga tinggal di rumah kecil, tapi kedinginan di malam hari?" Armei mengejek dengan senyum simpul. "Di rumahku ada banyak barang yang bisa menghangatkan tubuh dan juga ruangan. Lagipula tempatnya tertutup, angin dingin tidak akan bisa masuk seenaknya," elak Laura. Armei mengangguk saja. Laura mengamati keadaan di sekelilingnya, "Ternyata hujan semalam imbasnya sangat besar. Semuanya basah kuyup." "Masih untung ada Chris yang punya inisiatif. Kalau tidak kita akan basah kuyup seperti mereka." Armei menunjuk semua rumput dan pohon. Laura tersenyum setuju. Memperhatikan Chris yang sepertinya masih mengantuk, "Aku akan cari makanan. Tolong jangan bangunkan dia, ya, Bibi." Laura berdiri bersiap turun dari gubuk. "Jangan khawatir. Anak muda ini sangat spesial. Aku tidak akan mengusiknya." Armei sibuk dengan pedangnya selagi memandang Laura yang meninggalkan mereka. "Aku yakin dia akan mencuri beberapa makanan," gumamnya setelah Laura jauh dari gubuk. Apa yang dipikirkan Armei itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Laura kembali ke jalan yang dia lewati sebelumnya dan singgah di salah satu rumah warga. Mencuri apapun makanan yang ada lalu meninggalkan tulisan terima kasih atas makanan yang dia dapat. Selain itu beberapa uang koin juga ditinggalkan walaupun harganya tidak cukup untuk membayar semua makanan yang dia curi. Secepat mungkin dia kembali menemui Armei dan Chris. Suasana masih segar seperti saat dia bangun membuat kakinya sangat lihai berlari. "Aku datang! Wow, dia masih belum bangun? Apa masih hidup?" Laura menaruh semua makanan itu dengan hati-hati. Armei sedang mengasah pedangnya dengan embun dari rumput-rumput panjang, "Cepat sekali! Yahh, dia masih tidur." Laura naik ke gubuk dengan senang hati, "Ini sebagian aku beli dan separuhnya aku curi. Tidak masalah, 'kan?" "Bagiku tidak, tapi Chris mungkin akan protes. Terima kasih, ya," jawab Armei santai. "Ah, biarkan saja. Cepat bangunkan dia." Laura membersihkan wadah air untuk mereka. "Kau galak sekali padanya." Armei membangunkan Chris. "Hahaha, karena aku suka mengganggunya," tawa Laura keras. Chris terjingkat bangun karena Armei tidak sadar menggoyangkan tubuhnya keras. "Aww, sakit sekali!" Chris memegang kepalanya. Laura dan Armei tersentak. "Apa kau pusing? Sebelah mana?" Laura bertanya panik. Chris melirik mereka bergantian, "Tidak apa-apa, hanya sedikit. Sepertinya tidur dengan posisi duduk membuatku pusing." "Terlebih lagi memeluk kami," sambung Armei membuat Chris menatapnya heran. "Aku memeluk kalian? Tolonglah, itu hanya satu-satunya cara agar kalian tidak beku semalam," elak Chris. Lalu, dia melihat ada beberapa makanan tersaji matang di depannya. Dia segera duduk dengan baik dan matanya melebar. "Wah! Sejak kapan banyak makanan lezat di sini? Tidak mungkin kalian yang masak, 'kan?" antusias menunjuk Laura dan Armei. "Bodoh! Aku mencurinya!" Laura berbangga diri. Rahang Chris seolah luruh, "Apa?! Kau mencuri lagi?! Yang benar saja, Laura. Kau curi di mana? Cepat kembalikan!" Laura mengernyit, "Untuk apa? Aku sudah susah payah lari jauh hanya untuk sedikit makanan. Itu pun tidak semua kucuri, separuhnya aku beli." Chris memundurkan kepalanya, "Benar begitu, Bibi?" menoleh ke Armei dan Armei mengendikkan bahu. "Tidak masalah, untuk saat ini kita makan ini dan kedepannya aku yang akan membelikan makanan untuk kita." Armei mengambil makanan terlebih dahulu. Disusul Laura yang mengangguk setuju dan Chris juga tidak bisa diam saja sebelum makanan itu dihabiskan mereka seperti saat di pasar. Lagi dan lagi terpaksa dalam keadaan, ikut memakan makanan itu dengan lahap. Gubuk kecil yang lumayan kuat. Chris meninggalkan jejak senyum pada gubuk itu sebelum pergi melanjutkan perjalanan. Jika ada kesempatan mendesak kedepannya dia ingin bermalam lagi di gubuk kecil. Baginya tidak terlalu buruk karena ada kesannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN