Energi bertambah seiring nutrisi menyebar ke dalam tubuh. Perjalanan kembali dilanjut. Saat semua orang memulai aktivitasnya, langkah terhenti di gerbang pemukiman. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Chris bertanya pada beberapa warga tentang kalung yang dia pakai, ternyata sia-sia. Kalung itu terbilang sulit didapatkan dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengenakan batu giok sejenis kalung Chris. Armei sudah mengatakan hal itu, tetapi Chris tidak percaya dan terus menanyakannya pada setiap orang. Laura sampai bosan dan dia pergi tanpa pamit untuk mencari hiburan sendiri.
"Chris, di mana Laura?" Armei menepuk pundak Chris saat sadar Laura tidak ada di sampingnya. Chris yang sedang bertanya pada seseorang pun menoleh. Kebingungan karena Laura menghilang, "Loh, di mana dia?"
"Apa mungkin pergi mencuri?" Armei juga celingukan.
"Entahlah, ayo kita cari. Menyusahkan saja!" Chris segera berlari tanpa mengucapkan terima kasih pada orang yang dia tanyai.
Armei memperhatikan semua orang yang berlalu-lalang. Tidak ada tanda-tanda keramaian atau Laura sama sekali. Dia pikir jika ada keramaian pasti di sana ada Laura. Chris tidak ingin Armei berpencar darinya, itu akan lebih menyulitkan baginya. Sudah cukup jauh mereka mencari, tetapi Laura tetap tidak ditemukan.
"Kenapa dia harus menghilang? Kalau ketemu akan kupukul habis-habisan!" Chris meninju telapak tangannya.
"Benarkah? Kau tidak akan tega." sahut Armei yang masih menoleh kesana-kemari.
Chris menatap Armei tak terima, "Gadis itu perlu dihajar lebih keras. Aku menyesal tidak memukulnya sekuat tenaga waktu itu."
"Terserah. Menurutmu ke mana dia akan pergi?" tanya Armei.
Chris sedikit berpikir, "Ke mana lagi? Jalan pikirannya hanya mencuri dan mencuri. Pasti dia ada di tempat yang banyak harta dan makanan!"
"Kalau begitu kita cari di tempat orang kaya." Armei menunjukkan jalan.
"Orang kaya?" Chris masih melamun berpikir di manakah tempat orang kaya itu. Tidak sengaja saat menoleh ke rumah yang besar dan mencolok dari pada yang lain dia melihat Laura di jendela rumah itu. Nampak Laura sedang memainkan sebuah giok yang sangat indah. Chris menganga menunjuknya, "Itu dia! Bibi, dia mencuri di sana!"
Seruan Chris menghentikan Armei dan langsung bergerak ke rumah besar itu. Laura dan orang-orang di sana juga mendengarnya membuat mereka menyerbu rumah itu mencari Laura dan Laura kelagapan.
"Dasar Chris tidak bisa bekerjasama! Aku jadi ketahuan, 'kan?!" menepuk dahi seraya melompat dari jendela tak lupa mmebawa giok yang dia curi.
Armei dan Chris yang hampir memasuki rumah menjadi terhenti dan berbelok mengejar Laura. Beberapa orang juga mengejar dan menyorakinya agar berhenti.
"Gadis pencuri! Kembalikan apa yang kau pegang itu! Tidak, itu harganya mahal! Sialan kau!" seru sang pemilik rumah. Larinya sangat laju melebihi orang-orang lainnya. Walau begitu tetap saja Chris dan Armei yang berada di barisan depan.
"Ck, apa yang dipikirkan gadis itu? Bibi, jangan tahan aku kalau sudah menangkapnya. Aku akan mencincang tangannya sungguhan!" geram Chris. Matanya sudah menyala.
"Laura ... aku capek!" Armei sudah mengeluh, bukan berarti dia kelelahan sungguhan. Dia hanya bicara sembarangan.
Laura menoleh, "Hahaha, ayo tangkap aku kalau bisa!"
Chris mengerang geram, "Sialan kau, Laura! Kembalikan cepat sebelum aku marah padamu! Sudah kubilang mencuri itu buruk! Kau tuli tidak bisa dengar aku, ya?!"
"Tangkap pencuri itu!"
"Jangan biarkan dia lolos!"
"Gadis cantik nan imut itu pencuri? Tidak kusangka. Dia hebat juga! Hei, Nona, menjadi pencuri itu tidak baik!"
Teriakan dan seruan beberapa orang yang mengejarnya membuat Laura terhibur. Itulah yang dia inginkan yaitu kehebohan yang tidak membosankan.
"Haha, menyenangkan! Kalau begini tidak akan sepi, 'kan? Aku suka keramaian! Terima kasih, Chris, sudah memergokiku!" Laura semakin menambah kecepatan larinya setelah menoleh ke belakang dan berseru pada Chris.
Chris mengetatkan giginya, "TERIMA KASIH KEPALAMU ITU! CEPAT BERHENTI!"
Mereka lari sangat jauh sampai tidak tahu berada di mana yang jelas rumah-rumah kembali menjadi sedikit dan jaraknya sangat panjang. Semua orang sadar akan waktu. Sudah siang hari jadi mereka memutuskan kembali.
"Biarkan saja dia pergi. Pekerjaanku masih belum selesai. Gara-gara pencuri itu aku membuang-buang waktu. Hahh, lututku!" keluh salah satu warga yang lututnya kesakitan karena kelelahan berlari. Satu per-satu mereka juga mengeluhkan hal yang sama.
"Semoga dia tidak kembali lagi. Cantik-cantik, tapi pencuri. Sayang sekali! Biarkan giokku dia ambil, aku anggap sedekah saja. Aku, 'kan orang kaya," kata sang pemilik rumah tadi.
Mereka mengangguk saja dan kembali dengan berjalan lunglai. Sedangkan Chris dan Armei terus mengejar Laura sampai mendapatkannya. Tidak peduli dengan orang-orang yang sudah berputar arah. Kaki lincah itu tidak berhenti barang sebentar. Dia justru berbelok arah menjadi menuju jalan tikungan. Keluar jalur pemukiman dan jalan menjadi bergelombang meliuk-liuk bagai arus sungai. Chris tidak peduli apapun jalannya yang pasti harus bisa menangkap Laura. Armei menyadarinya bahkan hampir tergelincir karena menginjak bebatuan kecil yang sangat banyak.
"Chris, kita melewati rumah-rumah warga. Aku kesulitan mengendalikan jalanku. Kita berhenti dulu," kata Armei sambil terus berlari.
Chris terus menatap tajam ke hadapan, "Ck! Jalan jelek begini kecil! Pokoknya Laura harus ketangkap! Awas saja nanti aku mutilasi! Laura ... dengar tidak?!" seru Chris marah.
"Haha, aku dengar!" Laura terkikik geli.
"Eeerrrr, sialan!" Chris mengerang.
Armei berlari dengan hati-hati. Kakinya kerap kali tersandung dan dia sudah mulai jengah. Menarik pedang dan menancapkannya di tanah. Sontak membuatnya berhenti. Napasnya terengah, tetapi menahan kesal.
"Chris, aku mundur!" teriak Armei mengangkat tangan pada Chris yang melaju mendahuluinya.
"Ya, Bibi! Serahkan pencuri bodoh itu padaku!" balas Chris tak kalah berteriak lantang.
"Anak-anak nakal! Aron, kenapa kau kirim orang bodoh macam Chris? Sialnya diriku!" gerutu Armei.
Lebih baik duduk dan menunggu mereka. Jalan itu terkadang turun dan naik, kemudian berliku-liku juga jarang sekali pohon besar tumbuh. Hanya lahan kosong yang tidak digunakan. Pedangnya dicabut dan dimasukkan kembali ke sarungnya. Tidak ada suara di sana. Lama-kelamaan Armei bosan. Lalu, pikirannya bekerja dengan cepat.
"Gawat! Chris tak kunjung kembali. Kalau mereka pergi semakin jauh akan tertinggal." Armei mengejar Chris. Lebih cepat dan lebih berhati-hati dari sebelumnya.
Armei tidak melihat keberadaan Chris juga jejaknya. Dia pikir telah tersesat. Namun, hanya ada satu jalan di sana dan dia terus mengikuti jalan itu. Jalan itu membukit membuat Armei heran. Bukanlah pegunungan kenapa bisa membukit? Kemudian menuruni jalan itu seperti turun dari jurang yang tidak terlalu miring. Dari atas sana dia bisa melihat Chris yang masih mengejar Laura. Sontak Armei mempercepat lajunya.
Laura tidak tahu lagi harus ke mana. Dia berbelok masuk di antara pepohonan dan Chris juga belok di jalan yang sama. Hingga beberapa langkah yang tidak bisa dihentikan membuat Laura terjerumus ke dalam semak-semak aneh.
"Aaaaaa!" teriaknya berhasil memberi kode pada Chris.
Saat Chris menyadarinya dia juga tidak bisa menghentikan kakinya sehingga masuk ke dalam semak-semak tersebut.
"Aaaaaa! Kakiku!!!"
Samar-samar mendengar teriakan dua orang yang dia kenal, Armei lebih terus berjuang hingga sampai di depan semak-semak. Dia meneleng heran.
"Kenapa ada semak-semak di hamparan tanah luas? Aneh, padahal jarang sekali pohon tumbuh, justru ada semak belukar," gumamnya.
Ingin menebas semak-semak itu, tetapi diurungkan karena yakin telah mendengar teriakan Laura dan Chris dari arah yang sama. Kemudian, Armei memutuskan masuk perlahan-lahan. Dedaunan dari semak-semak itu terasa kasar membuat tangannya sedikit tergores dan berdarah. Lalu, mulutnya berhasil ternganga. Dia tercengang tak bisa berkata-kata. Matanya melebar memandang luas ke hadapan.
"Aduh! Punggungku sakit!" pekik Laura yang terjatuh ditimpa Chris yang masih terbaring bersama.
Chris mendesis sedikit merasakan sakit. Dia segera bangun dan menarik tangan Laura sampai berdiri, "Hah, kena juga kau! Merepotkan!" sudah mengangkat tangan dengan kepalan yang besar.
Laura berpaling menutup matanya rapat-rapat, "Aaaa, jangan pukul aku! Aku hanya main-main tau!"
Armei yang masih mematung menjadi mengerjap sadar. Dia menghentikan pertikaian Chris dan Laura.
"Kalian berdua hentikan! Lihat apa yang ada di sekeliling kalian!" seruan Armei memekakkan telinga.
Chris dan Laura kompak memandanginya.
"Bibi, bukankah kau menunggu di sana? Kenapa cepat sekali sampai?" Chris melepaskan Laura kasar.
"Aw! Tidak berperasaan!" maki Laura sambil memegangi tangannya yang sakit karena Chris.
Karen Armei tidak mau menjawab, jadi mereka memandang ke mana Armei memandang. Seketika bola mata mereka ingin lepas. Rahangnya hampir jatuh. Labirin raksasa setinggi lima kaki mengelilingi mereka.
"APA?!" teriak Chris dan Laura bersamaan.
"Labirin yang sangat besar. Bagaimana bisa kita ada di sini?" Chris keheranan.
"Aku tidak tau kalau ada labirin di sekitar sini. Siapa yang membuatnya? Woaahh, ini benar-benar megah! Kereeeenn!!!" pekik Laura sedikit melompat senang.
Chris menatap tajam Laura, "Ini semua salahmu! Kalau kau tidak lari ke sini kita tidak akan berjumpa labirin raksasa. Ayo keluar, semak-semak tadi jalannya."
"Tidak mau! Wah, lihat semuanya! Mereka dari rumput dan tanaman rambat asli. Lihat, aku bisa menyentuhnya dan ini ... Ini keras? Daunnya tidak bisa diambil!"
Laura yang mulanya menjelaskan dengan senang berubah menjadi heran karena daun itu tidak bisa dipetik. Ketika dinding labirin yang terbuat dari begitu banyak tanaman rambat asli juga rerumputan yang menjulang tinggi tidak terasa seperti tumbuhan yang mudah dihancurkan. Mereka keras meskipun terasa seperti tumbuhan.
Armei dan Chris mendekat meniru Laura yang mencoba mengambil salah satu daunnya. Chris memegang dinding labirin itu. Perlahan-lahan mencium aromanya dan menekan dindingnya.
"Jika ini tumbuhan asli berarti mudah dihancurkan." gumamnya seraya menekan lebih dalam. Dia terkejut setelah merasakan hasilnya. "Tidak mungkin. Ini keras seperti batu. Apa ada batu di dalamnya?" mencoba membuat celah di antara tumbuhan itu.
"Dinding labirin ini sangat luas!" Laura berjalan-jalan ke depan memasuki labirin. "Semua terbuat dari tumbuhan yang sama," sambungnya.
Armei menarik pedang dan membelah dinding itu, sayangnya tidak bisa. Dia terkejut dan terpental. Chris kaget melihatnya.
"Ini mustahil! Labirin ini bukan labirin biasa. Aku tidak bisa menebasnya!" kata Armei.
"Berarti kita tidak bisa merusaknya. Entah ini asli atau tidak, yang jelas labirin ini bukan labirin biasa. Lebih baik ayo kita cepat keluar," Chris menyerah tidak berhasil membuka dinding labirin.
Laura mengangguk dan mengikuti Chris juga Armei. Saat mereka ingin keluar dari semak-semak itu, mendadak semak-semaknya tidak bisa dibuka. Sama halnya dengan di dinding labirin. Mereka tidak percaya bercampur panik. Chris pikir ini adalah tipuan mantra dari orang yang membuat labirin. Ada jalan di dekat semak-semak yang akan menembus langsung ke pohon di mana mereka berbelok sebelumnya. Mereka langsung lari ke sana berharap bisa keluar. Namun, yang terjadi justru hal yang mengejutkan lagi. Semak-semak itu melebar dengan sendirinya dan menutupi jalan kanan sampai kiri sehingga mengurung mereka. Tidak bisa keluar dan tidak ada jalan. Mereka mulai waspada akan ancaman.
"Kau bisa lompat tinggi?" tanya Chris pada Laura. Armei sudah dipastikan bisa melakukannya.
"Iya, aku bisa." Laura mengangguk pasti.
"Bagus! Dalam hitungan ke tiga ayo kita melompat bersama." Chris mengajak mereka mundur beberapa langkah. Armei dan Laura mengikuti interupsi Chris.
"Satu ... dua ... tiga!" dalam hitungan yang terakhir mereka sungguh melakukan lompatan tinggi.
Tumpuan kekuatan pada kaki membuat mereka melambung tinggi seolah tubuhnya sangat ringan. Sayangnya usaha mereka kembali digagalkan oleh semak-semak yang kembali tumbuh cepat merambat ke atas sampai menutupi mereka secara menyeluruh dan berhenti merambat ketika menyatu dengan dinding labirin.
"Aaawww!"
Mereka terjatuh bersama. Segera bangkit dan melihat sekeliling.
"Sial! Kita terjebak! Tidak ada jalan keluar," kata Laura.
"Apa ini?" Chris mengerutkan dahi.
"Sepertinya ini ulah manusia," gumam Armei.
"Sungguh, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Baru pertama kalinya aku melihat labirin raksasa dan aneh seperti ini," sambung Laura.
Euforia seolah menahan stok udara di sana. Chris mengajak Laura dan Armei untuk masuk ke dalam labirin. Di atas labirin masih nampak langit. Itu berarti tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk melompat dan keluar dari sana.
"Kita gunakan dinding untuk berpijak. Jangan sampai terlewat karena bisa saja terpelincir. Aku khawatir kalau ada hal mengejutkan lagi selain semak-semak tadi, tapi tidak ada salahnya kita coba dulu," ujar Chris.
"Kali ini harus berhasil," kata Laura.
Mereka mengangguk bersama dan melompat bersama. Namun, ada pelapis tak terlihat di udara seperti perisai yang sangat kuat sehingga mereka terpantul kembali jatuh. Tanah sangat kasar menerimanya.
"Sakit sekali! Sebenarnya apa ini?!" Chris masih duduk mengelus p****t.
Laura berdiri mencoba tidak merasakan sakit. Dia meraba dinding labirin mencoba mencari celah. Ekspresinya ketakutan dan berpikir yang bukan-bukan.
"Bagaimana kalau kita benar-benar terjebak di sini. Apa sungguh tidak ada jalan lain? Chris, apa yang harus kita lakukan?"
Chris malas menanggapinya. Dia memandang langit dan memikirkan sesuatu.
'Kalau di atas sana ada perisai tak kasat mata, apa sihir cermin bisa menghilangkannya? Sama seperti pasir gurun dan barang-barang paman Aron yang tak terlihat ketika sihir cermin digunakan. Tapi aku tidak punya cermin seperti itu,' pikir Chris.
Sriingg!!!
Suara pedang Armei menarik perhatian. Dia mencoba memotong dinding labirin. Tingkahnya tak karuan memotong asal-asalan asal bisa memotong sehelai daun saja sudah membuatnya berpikir akan aman jika berhasil menebas semua dinding labirin. Sayangnya, ketajaman pedang tidak bisa memotong sehelai daun pun. Armei tetap berusaha sampai peluhnya keluar.
Laura tidak beranjak jauh dari mereka. Dia terus mengetuk dan meraba dinding labirin. Tidak ada sesuatu yang dia temukan. Chris tak kunjung bangun.
"Ada apa dengan labirin ini?" gumam Chris. Dia pikir pasti ada alasan mengapa labirin raksasa yang dia tempati sangat kuat dan dilengkapi kekuatan sihir.
"Kalian, kemarilah. Aku ingin bertanya," kata Chris mengejutkan Armei dan Laura.
"Ada apa? Kenapa kau serius begitu?" Laura mendekat. Armei memasukkan pedangnya kembali.
"Apa banyak pengguna sihir di dunia ini?" tanya Chris pelan. Alisnya hampir bertaut. Dia memandang langit seperti sebelumnya.
"Tidak banyak, hanya beberapa untuk kepentingan pribadi. Aku jarang menjumpai orang yang menggunakan sihir," jawab Armei.
"Iya, lagi pula tidak terlalu digukanan di sini. Kami menggunakan tenaga dalam dan kekuatan fisik. Itulah kekuatan murni kami," sambung Laura.
"Tandanya ada pengguna sihir, 'kan? Mungkin tidak kalau kita terjebak karena sihir? Seseorang telah membawa kita sampai ke sini," lanjut Chris.
Laura mendelik, "Apa? Mana mungkin? Kan aku yang membawa kalian ke sini. Aku sendiri tidak tau akan terjadi hal seperti ini."
Chris menggeleng, "Bukan begitu maksudku, Laura. Mungkin ada energi dari sihir yang mengendalikanmu sampai lari ke jalan yang salah dan aku terus mengikutimu tanpa berpikir panjang. Kau mengerti?"
Laura semakin menautkan alisnya, "Maksudmu kita lari ke arah sini tanpa disengaja? Dan kita sedang dikendalikan?"
"Sepertinya." Chris mengangguk. Laura tersentak bingung.
"Tapi, Chris ... siapa yang akan menjebak kita? Orang lain tidak mengetahui siapa kau sebenarnya," Armei bertanya hal yang serupa yang kini ada di pikiran Chris. Laura mengangguk membenarkan.
"Orang yang sudah mengetahuiku jauh dari pada kalian. Kedatanganku menimbulkan kecurigaan yang besar baginya. Bisa jadi ini menyangkut misi yang hilang," terang Chris serius.
"Astaga, gawat sekali! Kita harus menyembunyikanmu!" Laura tiba-tiba jongkok di depan Chris.
Chris menatap Laura tajam, "Tidak bisa begitu, Bodoh! Aku tidak mau jadi pengecut. Kalau orang itu mengujiku, maka aku bisa terlepas dari ujiannya bagaimanapun itu."
Laura terperangah, "Lalu, bagaimana sekarang? Kita terjebak."
"Aku juga masih tidak mengerti bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau ini hanyalah manipulasi sihir," Armei menyahut.
"Hanya insting lelaki. Aku selalu waspada dan curiga." Chris berdiri membuat Laura ikut berdiri. Menghela napas panjang dan merapikan pakaiannya sebentar, "Ayo kita telusuri labirin ini. Jalan keluarnya pasti ada di ujung labirin. Yahh, tidak ada jalan lain lagi, bukan?"
Armei dan Laura saling pandang.
"Aku tetap tidak mengerti, Chris. Entah pemikiranmu itu benar atau tidak, yang jelas kau telah berburuk sangka. Di samping itu kau benar, kita harus berjalan di jalan labirin," Laura menggeleng singkat.
"Aku sependapat dengan Laura. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Armei meneleng.
"Bibi, rencana jahat pasti ada." Chris tersenyum manis kemudian melangkahkan kaki terlebih dahulu.
Armei dan Laura masih menimang perkataan Chris. Mereka sungguh tidak paham jalan pikiran Chris.
"Sejauh ini tidak ada orang yang ingin menyakiti kita, 'kan? Apa ada orang yang menyerang Chris sebelumnya?" tanya Laura pada Armei.
"Tidak, orang yang dia jumpai pertama kali adalah aku dan aku tidak melihat tanda-tanda kejahatan mengikutinya," jawab Armei.
Masih diliputi rasa gelisah karena ucapan Chris. Otak mereka tercuci untuk semakin waspada. Memandang langit yang terdapat awan putih bergerak terkena angin. Masih sama seperti biasanya, hanya saja pagi ini terlalu menakjubkan.