9. Terbentuknya Hutan Labirin

2550 Kata
Panasnya sinar matahari tak begitu mengusik perjalanan mereka. Labirin yang membuka banyak jalan membuat semua terlihat sama. Tidak tahu apakah jalan itu sudah pernah dilewati atau belum, yang jelas kaki tetap melangkah tanpa ada ujungnya. Sampai matahari tepat di atas kepala mereka terus berputar-putar. Haus melanda, sia-sia tanpa ada pengorbanan lainnya. Setidaknya berusaha melawan perisai di atas labirin, itu sudah bentuk pengorbanan dari Armei, akan tetapi Chris melarangnya karena akan merusak diri Armei saja alias tidak berguna. "Hahh, sampai kapan kita begini?" Laura mendesah. Tangannya bergelantungan lesu. "Biarkan aku lawan perisai itu, Chris!" Armei tetap memaksa. Sedari tadi terus memaksa, tetapi tidak akan bertindak jika Chris tidak mengizinkannya. "Aku tau kau bisa, Bibi. Tapi nanti akan ada bahaya yang akan datang. Percayalah," jawaban yang sama dari Chris. Armei mengerang, "Bahaya apa?! Aku akan melakukannya!" Pedang kembali keluar dari sarungnya. Armei mengambil ancang-ancang dan siap menebas langit. Cahaya di ujung mata pedang itu mulai terlihat. Chris tersenyum miring, sudah dia duga Armei akan menggunakan kuasa pedang rahasianya itu. Laura menganga menatapnya. "Hiyaaaa!" Armei memberi luka pada perisai tak kasat mata itu serta dari dorongan angin yang dikeluarkan pedangnya. Namun, sesuai dugaan Chris. Armei terpantul bersamaan serangannya. Chris segera menarik Laura untuk menepi dan Armei menjauh berpijak dinding, dia bisa menjaga dirinya sendiri. "Awas! Serangan Armei berbahaya?" Chris menekan pundak Laura. Laura masih menganga tidak peduli Chris menyentuhnya sampai kaget, "Wow, hebat! Bibi Armei seperti pendekar wanita!" Armei menoleh, "Aku gadis, bukan wanita!" dia turun berpijak tanah. Tanah yang terkena serangan angin pedangnya itu sedikit tergores dan hampir terbelah. Laura mengerjap, "Eh? Masih diperdebatkan juga?" Chris dan Laura memperhatikan tanah itu. "Jurus yang sama saat kau melawan ular telaga itu, 'kan?" tanya Chris. "Iya, tidak kusangka gagal." menyimpan pedangnya kembali. "Sudah kubilang akan terjadi bahaya. Labirin ini sangat kuat," sambung Chris. "Tanahnya agak terbelah. Bibi, kau mau mengajariku pedang? Tadi itu keren!" Laura sedikit mendekatkan wajahnya ke tanah itu. "Tidak boleh," Armei cuek. Seketika Laura mendongak, "Kenapa? Aku bisa belajar dengan cepat. Tolong, ajari aku, ya." mengedipkan matanya berkali-kali dan Armei tetap menolak. Chris bergidik menatap Laura, "Hentikan tatapan sok manis wajahmu. Menjijikkan tau!" "Ck, jangankan kau. Aku saja tidak diajari." Chris berdecak. Tangannya terlipat sempurna di d**a. Laura berjalan menyeimbanginya. "Itu wajar karena kau tidak akan menguasai pedang. Jadi ajari aku, ya, Bibi." menoleh ke belakang. Armei tetap menggeleng sebagai balasan. "Haha, rasakan!" ejek Chris. "Ish, kau ini!" Laura mengepalkan tangan hendak melayangkan pukulannya. Namun, terdengar bunyi dari sesuatu yang dia pijak. Langkah Chris dan Armei pun ikut berhenti. Mereka saling pandang bicara lewat mata. Laura tidak berani mengangkat kakinya. "Chris, apa yang ada di bawah kakiku?" Laura bersuara pelan. "Jangan diangkat! Kau pertahankan kakimu," kata Chris hampir mirip berbisik. "Kenapa?" Laura bicara jauh lebih kecil dari sebelumnya. "Kenapa kalian berbisik?" Armei mengernyit. "Sssttt!" Chris dan Laura kompak memberi tanda agar Armei diam. "Ck, apa yang ditakutkan? Biar aku lihat." tanpa pikir panjang Armei menarik kaki Laura dan nampaklah sebuah ranting kecil yang Laura pijak. Awalnya cemas Laura pikir benda yang berbahaya, takutnya menjadi luntur seketika. "Ha? Cuma ranting kecil? Huft, bikin kaget saja!" desah Laura. Namun, ranting dan tanah di sekitarnya bergemuruh. Mereka berkumpul mundur beberapa langkah. "Ada sesuatu yang akan terjadi," kata Chris. "Apa?" Laura tidak menduga jika ranting itu ancaman yang nyata. Getarannya semakin bertambah dan mendadak timbul sebuah retakan. Laura memekik, Armei sudah siap siaga dengan pedangnya, sedangkan Chris berada di depan mereka seakan ingin menghadapi apapun yang muncul sendirian. Retakannya semakin bertambah. Menjalar ke semua dinding labirin dan membengkakkan tanah. "Astaga! Ini bahaya besar!" Laura memekik. Mereka berpegangan tangan. Chris menatap ke segala arah, semuanya bergetar hebat. Kakinya sudah tidak bisa berdiri kokoh begitu juga Laura dan Armei yang terus mempertahankan diri agar seimbang. "Bagaimana bisa? Ranting itu!" Chris memperhatikan ranting yang dipijak Laura. Sesesuatu telah mendorongnya dari bawah tanah membuat tanahnya terbelah semakin banyak. Laura dan Armei melotot. Sebuah batang kayu menempel di bawah ranting itu dan terus tumbuh menjulang tinggi hampir menyamai tinggi manusia. "Mundur, ayo mundur!" seru Laura menarik Armei dan Chris. "Lepaskan aku! Laura, apa yang kau pijak tadi bukan ranting biasa. Dia tumbuh jadi pohon!" Chris melepaskan tangan Laura yang memegang sedikit pakaiannya. "Bodoh! Tanahnya terus bergetar hebat, nanti kau bisa jatuh kalau tidak berpegangan!" maki Laura marah. Dia mengkhawatirkan Chris. Chris menggeleng, "Aku akan di depan kalian." Armei berdecak, "Jangan bercanda." menarik pedang tajamnya menghadap ke belakang siap sedia jika sesuatu datang mengancam. Chris mengangguk mengerti maksud Armei. Dia berbalik ke depan dan ternyata ranting itu semakin naik dan batang kayunya semakin tinggi melebihi dinding labirin. Laura kebingungan. Dia menoleh ke kanan-kiri panik. Tidak disangka dinding labirin itu bergerak seperti tumbuhan hidup. Mereka berpencar mencari sesuatu yang akan dipijak seperti mencari bagian tubuhnya untuk tumbuh. "Gawat-gawat! Ini monster labirin tumbuhan rambat!" Laura menggeleng sambil memekik. Armei dan Chris juga mengetahui hal itu. Mereka terus memasang kewaspadaan tinggi selagi kaki bergerak kesana-kemari menyesuaikan dengan guncangan tanah yang tidak berhenti. Terkejut yang benar-benar menggetarkan d**a. Sekujur tubuh rasanya terguncang bersamaan labirin yang berubah bentuk. Mereka terkepung di tengah-tengah proses perubahan dinding labirin. Pohon hidup di depan mereka menampakkan dedaunan yang nyata. Begitu pula di sekeliling mereka. Daun dan rambatan tumbuhan itu berubah menyesuaikan batang pohon yang muncul dari tanah dan merambati mereka tanpa celah. Mereka bergerumul menjadi satu. Tidak ada lubang sama sekali. Semua lubang udara tertutup walau satu helai daun. Chris, Armei, dan laira terombang-ambing mengikuti tanah mempertahankan diri agar tidak jatuh juga terhindar dari munculnya banyak pohon dari tanah. Rusaknya tanah mengotori kaki mereka. Setiap kali salah berpijak maka pohon yang baru akan tumbuh. Rambatan-rambatan itu juga tumbuh lebih besar. Laura berteriak kecil ketika pohon-pohon yang baru muncul mendorongnya ketika salah berpijak. Chris tak henti-hentinya tersentak. Armei ingin menyerang, tetapi tidak berdaya. Mereka berkembang dengan sangat cepat. Terlebih lagi setelah para pohon tumbuh, dedaunannya mulai lebat tanpa tahu dari mana mereka berasal. Hingga langit-langit labirin yang tertutup perisai tak terlihat kini tertutup daun dari pohon misterius. Labirin itu berubah total. Bukan lagi nampak seperti dinding labirin setinggi lima kaki, akan tetapi lebih mirip hutan tanpa celah. "Ini adalah hutan labirin?" gumam Laura membuat Chris dan Armei menoleh. Laura menatap semua pohon di sekitarnya. "Benar, ini hutan. Kita terjebak di tengah hutan yang berbentuk labirin," sambungnya dengan suara lebih pelan. Napasnya memburu setelah guncangan hebat tadi. Jantungnya masih berdegup dua kali lipat lantaran terkejut yang tak berkesudahan. Chris memperhatikan sorotan netra Laura yang menandakan adanya sedikit rasa takut. Dia mulai cemas akan sesuatu yang tidak pasti. Mungkinkah labirin baru yang disebut dengan hutan labirin ini akan menimbulkan mala petaka baginya? Pikiran Chris mulai terkontaminasi dengan semua hal buruk. Jika berharap ini ilusi maka salah besar. Keajaiban itu nyata dan Chris tidak bisa menyimpulkan apapun secara logika. 'Dari semua hal yang kupelajari tidak ada yang seperti ini. Apa semua pohon ini telah disihir? Bisa jadi dugaanku benar jika ini adalah rekayasa orang di balik misi yang hilang. Aku harus cari jalan keluarnya,' pikir Chris. Ambisinya masih sama apapun keadaannya pasti Chris hanya memikirkan misi yang misterius itu. Ketika hutan labirin berhenti berkembang, seratus persen mereka terperangkap. Jalan di depannya sangat panjang dan bercabang. Pasti akan tersesat saat menyusurinya. "Wow...," gumam Chris. Matanya melebar menyorot ke depan. "Chris, aku takut sekali," cicit Laura. Perlahan-lahan mundur sampai menabrak Armei. Armei pun menoleh dan menyimpan pedangnya. Matanya melirik sana-sini mencari kelahan labirin. Namun, labirin tidak punya kelemahan selain menemukan jalan keluarnya. Dia berpikir juga tidak ada gunanya. Mendengar keluhan Laura membuat Chris menarik rambut Laura. "Aww! Sakit tau! Kenapa menjambakku?" Laura meringis mengelus rambutnya yang terikat miring. "Ini semua salahmu!" sungguh tidak ada niat untuk Chris marah. Dia hanya kesal bercampur tidak mengerti apapun sekarang. Laura ternganga, "Oh, ya? Tadi kau bilang orang asing yang merencanakan ini semua. Sekarang mau menyalahkanku?" dahinya berkerut marah. Chris menunjuk Laura, "Tetap saja kau yang salah. Kalau bukan karena kau mencuri terus lari sampai sini, kita tidak akan terperangkap di labirin aneh ini." Laura menepis telunjuk Chris kasar sampai Chris berdecak, "Eh-eh, sembarangan kalau bilang! Mulutmu itu racun, ya? Tadi jelas-jelas menyangkal bukan salahku, sekarang menyudutkanku. Bibi Armei saja mendengarnya dengan jelas. Dasar plin-plan!" berganti menunjuk hidung Chris. "Ish, diam kau! Aku tidak mau lagi bekerja sama denganmu! Pencuri kecil pembawa sial!" Chris melipat tangan di d**a. Armei menatap mereka bergantian karena bingung. "Apa katamu?! Kau yang sialan! Aku bukan pembawa sial. Asal kau tau, aku pembawa keberuntungan tau! Karena aku ini sangat cerdik dan lincah. Kau saja kalah lari dariku dan semua orang tidak bisa menangkapku sekali pun. Orang-orang yang memerintah di sana juga tidak bisa menangkapku," Laura mulai menyombongkan diri lantaran sangat geram dengan tuduhan Chris. Sudut bibir Chris terangkat, "Benarkah? Kalau kau memang secerdik itu maka buktikan! Keluar dari hutan labirin ini tanpa gagal! Dasar tidak tau diri! Di cap pencuri justru bangga." "Oh, kau menantang, ya? Baiklah, akan kutunjukkan jalan! Bibi Armei, ayo ikut aku saja. Biarkan si sok pemberani itu jalan sendirian!" Laura menyingsingkan lengan pakaiannya lalu menarik Armei untuk jalan terlebih dahulu. "Ck, kalau jalannya lebih buruk akan kuhabisi kau!" kata Chris di belakang mereka. Kemudian, menyusul tanpa mengukir senyum. Tapak kakinya sengaja membekas meninggalkan jejak sebagai tanda. Dia harap tidak akan tersesat dan kembali ke jalan yang sama nanti. Namun, jejak itu menghilang seiring kakinya melangkah. ~~~ Dua orang suruhan Raja dengan cermin yang bisa menunjukkan keberadaan Chris kini kehilangan arah. Mereka kelelahan setelah melewati hujan deras di malam hari dan hilangnya salah satu teman Chris saat mencuri membuat Chris ikut menghilang. Saat ini sedang kesulitan dan cermin ajaib mereka tidak berfungsi. Terus mencari Chris sampai melewati beberapa pemukiman yang sangat jauh dari labirin. Ternyata hutan labirin membuat keberadaan Chris tidak terdeteksi. Tandanya bukan merrka, juga bukan orang di balik misi tanpa nama yang mempermainkan Chris dan yang lainnya. Semua itu hanya asumsi Chris hingga kini, meskipun kekesalannya pada Laura semakin bertambah. 'Sial-sial-sial! Kenapa pikiranku bercabang dua? Ini tidak keren! Harusnya putuskan salah satu saja, yang mana yang salah. Laura atau orang yang nggak jelas di luar sana sengaja ingin bermain denganku?' pikir Chris kacau. Bibirnya mengerucut dan wajahya sangat masam. Sejak tadi berjalan di belakang Laura dan Armei yang hanya berputar-putar selama satu jam. Desahan napas lelah terus dia keluarkan tanpa bicara. Mendongak berharap sinar matahari bisa menembus atap labirin yang penuh daun. Sayangnya sinarnya terpantul tanpa bisa masuk. "Kenapa aku rasa kita hanya berputar-putar," Armei mengawali pembicaraan. Sontak Laura terhenti. "Ha? Apa iya?" celingukan melihat beberapa pohon dan semak-semak dinding labirin apakah ada persamaan untuk jalan yang sudah dia lewati. Chris berdecih memancing lirikan sengit Laura. Namun, Chris tetap diam tidak mau mengacau sebelum gadis itu menyerah. "Kau punya sesuatu untuk memberi tanda? Agar kita tau jalan mana yang sudah dilewati. Ini memusingkan juga." Laura menggaruk kepalanya. "Aku tidak punya apa-apa selain pedang dan beberapa uang," jawab Armei. Lalu, dia melirik Chris. "Apa kau punya, Chris?" Sebelum Chris menjawab, Laura menyelanya padahal Chris sudah membuka mulutnya, "Hah, jangan tanya dia. Dia hanya punya emosi yang pola pikir yang sok benar. Padahal tidak punya pendirian." mengendikkan bahu santai. Chris melotot, "Sialan kau! Coba katakan lagi, akan kutarik lidahmu!" kesal Chris semakin menjadi. Darahnya mendidih di ujung kepala. "Huh! Tidak tau malu. Bertengkar dengan seorang gadis." Laura melengos acuh tanpa peduli bagaimana merahnya wajah Chris dengan tangan yang terkepal sempurna. Sebelum Chris meluapkan amarahnya, Armei terlebih dulu menurunkan kepalan tangan Chris. "Laura benar, meskipun ini juga salahnya. Kalian berdua sama-sama salah. Lebih baik sekarang coba pikirkan jalan keluarnya. Aku tidak mau berputar-putar lagi." Perkataan Armei membuat Chris dan Laura sedikit menunduk. Ketika Armei mencoba menciptakan goresan di tanah dengan pedangnya, seketika pedang itu tertancap tidak bisa dicabut. Lalu, perlahan-lahan terhisap sampai Armei kualahan menariknya. "Tanah ini menghisap pedangku! Cepat bantu aku menariknya!" seru Armei. Terlihat sangat bersusah payah sampai ototnya terlihat. "Ha! Bagaimana bisa?! Bertahanlah, jangan lepaskan pedangmu!" Laura buru-buru "Astaga, masalah apa lagi ini?" Chris mulanya terkejut, tetapi dnegan cepat menguasai dirinya. Dia menarik pedang itu dengan sangat kuat, akan tetapi tangan Armei dan Laura menghalanginya. "Kalian, minggirlah dulu." Chris memiringkan kepalanya. "Jangan sok kuat, Bodoh!" Laura berteriak. Matanya melebar sempurna. Tangannya benar-benar merasakan bagaimana tanah itu mengisap pedang begitu kuat. Dia pikir Chris hanya asal bicara saja. "Lepaskan saja, Laura. Chris itu jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan." Armei sudah melepaskan pedangnya. Kini Chris mengambil alih pedang itu sendirian. Laura acuh melepaskan pedang itu. "Jangan terlalu memuji dia, Bibi. Nanti bisa besar kepala," hinanya. Chris hanya menggeleng tidak memperdulikan mereka. Dia memusatkan tumpuan kaki dan menarik pedang itu sekuat tenaga hingga lambat lain pedang itu bisa terlepas dari tanah. Laura sampai menaikkan alisnya karena perkiraannya salah. "Waww, kuat!" sudut bibir Laura berkedut. "Hahh, tanah meresahkan! Ini pedangmu." napas Chris sedikit turun-naik ketika memberikan pedang itu pada Armei. "Terima kasih. Chris, kemungkinan kita akan bisa memberi tanda," senyum Armei hanya bertahan saat mengatakan kata terima kasih. Setelah itu kembali pada keseriusan yang waspada. Chris menatap bekas tanah yang mengisap pedang tadi, "Kau benar. Kita harus lebih hati-hati. Setelah ini jebakan apa lagi?" Laura yang diacuhkan pun melengos. Dia heran ketika melihat sesuatu yang lain dari pada yang lain di dinding hutan labirin. Dia pun mendekatinya. "Apa ini? Seperti bunga, tapi kenapa bentuknya aneh?" Laura meneleng. Bunga itu berwana putih, hanya ada kelopak tanpa tangkai. Langsung menempel pada dinding labirin dan hanya ada satu dari semua dinding labirin yang sudah dijumpai. "Hei, kalian! Lihat ini! Ada bunga aneh!" pekik Laura merebut perhatian Chris dan Armei. "Hmm?" Chris menoleh. Laura tidak berpikir panjang, dia ingin menyentuh bunga itu. "Laura, jangan menyentuhnya! Kita tidak tau apakah berbahaya atau tidak!" cegah Armei. Namun, Laura berhasil menyentuh bunganya. "Ah, sudah kupegang! Eh, ini tidak bisa dipetik." ketika meremas bunga itu, Laura kesulitan. Jarinya tidak sengaja mendorong bunga itu hingga bunganya tertekan masuk ke dinding labirin. Seketika Laura menarik tangannya. "Ha!!! Bunganya diserap!" pekik Laura seraya mundur kelagapan. Chris dan Armei mendekat menangkap Laura. Belum sempat paniknya hilang, sesuatu terjadi lagi. Gemuruh di dinding labirin bersamaan mengeluarkan bunga yang sejenis. Kanan dan kiri merambat hingga ke ujung sana yang tidak diketahui batasnya. Dalam sekejap semua bunga itu mengeluarkan serbuk yang sangat menyengat. Berbau harum, tetapi sangat menyesakkan jika terhirup. Sontak mereka menutup hidung dan mulut menahan napas. Pandangan mulai kabur karena dikelilingi serbuk bunga. "Uhuukk-uhuukk! Tahan napas kalian!" Laura terbatuk. Bicaranya sulit menahan napas. Chris mencoba menghilangkan serbuk-serbuk yang menghalangi pandangannya seperti kabut asap, akan tetapi percuma. "Ini beracun! Cepat cari jalan keluarnya! Lariiii!" seru Chris kemudian lari diikuti Armei dan Laura. Kemanapun mereka lari memasuki jalan labirin selalu ditutupi serbuk beracun. Sampai tidak sanggup lagi menahan napas dengan cara seperti itu, mereka pun berhenti. Perlahan mencuri oksigen yang ada serbuk itu semakin terhirup dan semakin sesak pula pernapasannya. Chris menutup hidungnya rapat-rapat sambil menoleh sana-sini demi mencari kelemahan bunga putih itu. 'Semua senjata pasti ada kelemahan. Apa kelemahan bunga sialan itu?' pikirannya sulit bekerja. Matanya melebar ketika mendapatkan sesuatu. Chris meraba udara mencari dinding labirin dengan hati-hati. Armei dan Laura samar-samar mengetahuinya. Wajah mereka semakin pucat. Tidak ada cara lain selain mencoba, hingga sampailah Chris pada dinding labirin. Dia mencari salah satu bunganya dan dapat. Dia tekan bunga itu sama seperti saat Laura menekannya. Dia pikir cara itu akan berhasil sama seperti tombol nyalakan yang bisa juga digunakan sebagai matikan di remot kontrol dunianya. Dugaannya itu berhasil. Bunga itu kembali masuk ke dinding labirin. Bukan hanya satu, melainkan semuanya dan serbuk bunga beracun menghilang bersamanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN