Batuk tak kunjung henti membuat d**a menjadi sesak. Lebih sesak dari sebelumnya karena mendengar ocehan Chris yang menyalahkan Laura. Tidak ada air atau makanan yang bisa mengurangi efek serbuk bunga itu. Hanya napas yang tenang dan biarkan sisa-sisa serbuk itu hilang dengan sendirinya baru batuk akan reda.
"Kalau bukan karena kecerobohanmu kita tidak akan hampir mati tau!" sudah berkali-kali Chris mengatakan hal itu.
Laura hanya melambaikan tangan mengacuhkan Chris. Dia sibuk dengan batuknya. Armei sudah berdeham sedikit merasa lega.
"Keterlaluan sekali! Hutan ini penuh jebakan. Tadi hampir saja," mendesis tajam.
Chris menatap Armei jengkel, "Kau marah pada siapa? Hutan raksasa ini tidak akan bisa mendengarmu!"
Laura meliriknya. Tangannya masih memukul d**a ringan dan yang satunya melambai pada Chris. "Kurasa bisa. Labirin ini punya insting yang lebih kuat darimu."
Chris menyorot marah, "Sindiran apa itu?! Mau kupukul kau?" ancamnya sudah mengangkat tangan.
"Aaa, tidak suka diejek jangan marah!" Laura mengalihkan pandangan.
"HENTIKAN!" Armei memukul mereka berdua hingga tersungkur.
"Aaawww!" Laura kesakitan. Pipinya berdenyut terkena pukulan Armei. "Ini pertama kalinya kau memukulku," sambungnya merasa kasihan. Chris mendesis setelah jatuh.
"Kalau bertengkar lagi pedangku yang akan bicara," kata Armei serius dengan tangan memegang gagang pedang yang masih tersimpan baik dalam sarungnya.
Chris dan Laura tersentak. Mereka bangun bersamaan kalau memberi senyuman manis yang dipaksakan.
"Haha, hanya bercanda. Tidak perlu repot-repot," Laura merasa kacau.
'Awas saja kau si sok pemberani! Kuhajar habis-habisan nanti,' geram Laura dalam hati.
Chris masih setia tersenyum. Dia kembali mencari titik peluang untuk jebakan lainnya muncul.
"Hmm, sepertinya tidak ada lagi. Ayo jalan." Chris mendahului.
"Kau yakin tidak apa-apa?" Armei mengikutinya.
"Aduh, sakit sekali." Laura masih mengeluh sambil mengelus pipi seiring kakinya melangkah.
Pertama kali belok kanan. Kemudian menemukan dua cabang jalan dan Chris memilih jalan kiri. Selanjutnya ada tiga cabang jalan dengan tiga pohon besar di sampingnya. Chris memilih lurus tanpa peduli hasutan Laura yang ingin berbelok. Armei juga tidak yakin sepenuhnya apakah jalan yang mereka berdua pilih itu benar. Ada beberapa kotak dan jalan lagi yang mereka jumpai dan Chris membawa langkah mereka tanpa ragu.
"Huft, Ujung-ujungnya tetap sama. Kita tidak akan menemukan jalan keluarnya," desah Chris percaya diri.
"Patut saja kau asik mengambil jalan begitu saja," sindir Laura. Chris hanya meladeninya dengan lirikan.
Namun, perjalanan mereka dihentikan oleh sebuah pohon yang menghalangi salah satu jalan penuh. Mereka menatap pohon yang menjulang tinggi itu penuh keheranan. Ada satu jalan lain yaitu menuju ke kanan.
"Ayo kita ke sana. Di sini tidak bisa dilewati." baru kaki Chris terangkat ingin pergi, seruan dari pohon itu menghentikannya.
"Selamat datang, wahai pemuda pemberani!"
Bola mata Chris melebar sampai bulu kuduknya merinding. Laura dan Armei terjingkat.
"Huaaaaa! Pohon bicaraaaaaa!!!" teriak Laura menggelegar.
"Aaaaaaaaa!" Chris berbalik dengan kaki gemetar. Masih melototi pohon itu.
Armei juga sama terkejutnya, tetapi dia diam dan hanya tangan yang bertindak yaitu melepas pedang dari tempatnya. Mungkin pedangnya bisa melakukan sesuatu. Setidaknya itu yang dia pikirkan untuk berjaga-jaga.
"Po-pohon bicara?! Si-siapa kau?! Siapa yang bicara?!" Chris bertanya terbata-bata.
Laura celingukan mencari sesuatu yang aneh seperti bunga yang tumbuh sendirian misalnya. Sayang tidak ada yang aneh selain pohon yang menutupi jalan itu dan dia yakin suaranya berasal dari pohon itu.
'Ini bukan sihir, tapi keajaiban!!! LUAR BIASA MENGEJUTKAN!' pekik Chris dari dalam hati.
Mulut mereka masih ternganga menunggu tindakan lebih lanjut dari sang pohon.
"Rintangan akan berkurang. Pintu-pintu labirin akan semakin singkat. Jalan utama akan dibuka jika kalian berhasil menjawab pertanyaan."
Pohon itu bicara lagi. Rahang Chris seakan-akan jatuh sekarang.
"Ja-jalan apa? Pertanyaan apa?" Laura menoleh sana-sini bingung.
Chris sadar dan meyakini semuanya nyata. Dia memasang tatapan tajam seolah pohon itu lawan yang licik. "Jalan utama maksudmu jalan yang kami lalui untuk masuk ke labirin ini?"
Pertanyaan berani dari Chris mengagetkan Laura dan Armei.
"Kau berani sekali. Jangan mudah terpancing begitu, dong!" Laura khawatir jika Chris ceroboh seperti dirinya termakan perangkap secara tidak sengaja.
"Chris, kau tidak gegabah, 'kan?" tanya Armei.
"Tidak, ini pasti petunjuk. Pohon ini mmeberi penawaran yang bagus. Katakanlah, wahai pohon aneh!" seru Chris lagi.
"Haaaa! Kau menghinanya!" Laura menepuk kedua pipinya keras. Keterkejutannya bercampur perasaan yang tidak tenang.
"Tepat sekali, pemuda pemberani. Siapapun yang masuk ke hutan labirin ini akan mendapatkan keberuntungan," ujar pohon itu lagi.
"Ha? Dari tadi cuma kesengsaraan yang dapat, bukan keberuntungan!" Laura protes. Ekspresinya dibuat sangat jelek.
"Diam kau!" tangan Chris menyuruh Laura diam dan Laura mendelik.
'Ini seperti papan informasi bonus dalam game. Ini mudah,' pikir Chris.
"Baiklah, apapun itu yang jelas berikan pertanyaannya sekarang juga. Asalkan jika kami berhasil menebaknya berarti pintu jalan utama terbuka, ya," Chris meminta janji.
"Sebagai gantinya hukuman akan menanti jika jawaban kalian salah," kata pohon itu.
Chris mengangguk mantap.
"Kau sudah pikirkan betul-betul?" Laura sedikit mendorong punggung Chris sampai Chris menoleh.
"Iya, tenang saja," Chris percaya diri.
"Terserah. Aku tetap terima jika kalah." Armei menyimpan pedangnya.
Lalu, pertanyaan mulai disebutkan.
"Dua pusaka berkawan tanpa mengenal lawan. Keduanya musnah dalam sekejap. Apakah penyebabnya? Jawablah jika kalian bisa."
Suara yang begitu berat sesuai dengan ukuran sang pohon. Pertanyaan itu membuat dahi ketiga orang di depannya berkerut bersamaan.
"Itu teka-teki atau pertanyaan?" kepala Laura sampai meneleng.
"Jawabannya apa?" dengan mudahnya Armei bertanya.
"Tidak akan diberitahu, Bibi!" geram Laura ingin meremas Armei.
Chris mengetuk-ngetuk dagunya. Biasanya dia akan malas ketika duduk mendengarkan mata kuliah saat belajar, sekarang dia berpikir mencoba memecahkan persoalan.
'Apa jawabannya? Mereka berteman tidak berkelahi, tapi musnah bersamaan. Lalu, apa sebabnya?' pikir Chris.
Laura mengerjap memandang Chris.
'Dia serius sekali. Apa benar-benar berpikir?' herannya dalam hati.
"Hmm, mereka musnah tanpa sebab, ya? Apa hanya punya kesempatan satu kali untuk menjawab?" Armei ikut mengetuk-ngetuk dagunya.
"Bibi, kau juga? Ayolah, mungkin ini jebakan. Tidak kalian anggap serius, 'kan?" Laura mengendikkan bahunya.
Pohon itu menjawab membuat Laura sedikit kaget.
"Benar, hanya ada satu kesempatan," suara bariton tegas itu menggetarkan d**a sampai Laura meneguk ludahnya.
"Laura, kau saja yang jawab," kata Armei santai.
Laura melotot hebat, "Apa?! Jangan bercanda, Bibi! Sudah pasti aku tidak tahu jawabannya!" pekiknya merasakan adanya bahaya jika kalah.
"Tidak apa-apa. Aku yang akan menghadapinya jika ada hukuman." Armei mengetuk pedangnya dua kali.
Chris tidak terkecoh perbincangan dua perempuan itu. Dia bahkan menutup matanya agar lebih fokus. Setelah beberapa detik mata Chris pun terbuka menatap tajam pohon itu.
"Hah, aku tau!" berseru menunjuk pohon tak lupa senyum penuh arti di wajah tampannya.
Laura dan Armei saling tatap kemudian memandang Chris.
"Kau yakin? Hanya satu kesempatan, Bodoh!" Laura masih ragu.
Senyum Chris semakin menjadi-jadi. Laura menganga takut menanti jawaban Chris.
"Jangan sampai salah, jangan sampai dihukum. Jauhkanlah jebakan-jebakan jelek itu dariku," gumam Laura mengganggu suasana.
Chris menunjuk pohon itu lagi penuh semangat, "Jawabannya adalah ... Dua pusaka itu dicuri Laura! Jadi hilang tanpa ada sebabnya karena tidak ketahuan, hahaha!"
Tawa Chris menggelegar. Rahang Armei dan Laura terbuka. Pohon itu diam tak beraksi sama sekali.
"DASAR BODOH! BUKAN ITU JAWABANNYA! AKU TIDAK MENCURINYA, PAYAH!" tidak tanggung-tanggung Laura memukul kepala Chris dari belakang sampai tawa Chris berhenti.
"Bodoh, dasar bodoh!" Armei mendesis geram.
"Aduh! Sakit!" Chris mengelus kepala belakangnya. Dia berbalik menatap Laura sengit. "Aku benar tau! Mereka menghilang tanpa sebab, itu artinya ada yang mencurinya dan tidak diketahui siapapun. Kau lah pencuri itu!" dengan lantang berseru sambil menunjuk Laura.
"BODOH KAU, CHRIS! JAWABANNYA BUKAN SEPERTI ITU! AKU TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN PERTANYAAN ANEH ITU!" kali ini Laura memukul Chris secara terang-terangan.
"Aduuhhh, sakit banget!!!" Chris meringis mengelus dahinya. Sedikit ada benjolan di sana karena Laur memukul terlalu keras.
Armei mendesah pasrah dengan kebodohan Chris, "Jawaban macam apa itu?"
Laura dan Chris masih beradu mulut. Tangan mereka tak tinggal diam, justru saking pukul terlebih lagi Laura yang bersemangat memukuli Chris. Lalu, pohon itu bersuara lagi memecah kehebohan mereka.
"Jawabannya salah," hanya itu yang terucapkan.
"Ha?! Lalu, jawaban yang benar apa?!" Chris terkejut. Mata Laura sudah hampir lepas dari tempatnya. Dia kaku tidak bisa berkata apapun. Was-was akan adanya bahaya yang datang sama seperti Armei yang sudah sial menanggung resiko.
Pohon itu tidak memberikan jawabannya. Mendadak dahannya berubah menjadi bercabang-cabang. Berlubang-lubang membentuk sebuah ruang dan mengeluarkan cabang lainnya. Setelah dilihat dengan teliti, mereka bukanlah cabang biasa, melainkan sebuah batang kayu yang bergerak ke sana-kemari mengeluarkan sesuatu yaitu besi tajam layaknya pedang terbang yang mengejar mereka tanpa henti.
"HUAAAAAA! DARI MANA ASAL SENJATA-SENJATA ITU?! CEPAT LARIIII!" teriak Laura panik. Larinya lebih laju dari yang lain. Berbelok ke semua jalur labirin tidak mementingkan apakah jalan itu benar atau salah.
Bola mata rasanya hampir copot, kaki bergetar, semua lepas kendali saat senjata tajam berjumlah belasan itu mengejar. Tak berani melirik ke belakang. Mereka seperti sudah menjadi target oleh pedang-pedang kecil itu. Pohonnya masih saja mengeluarkan batang-batang sialan yang berongga. Semakin lama mereka bereaksi, semakin banyak pula senjata yang dihasilkan. Akhirnya semakin banyak juga senjata terbang yang mengejar Chris dan lainnya. Ini petaka.
"AAAAAAA! JANGAN BERHENTI SEDETIK PUN! LARIII SECEPAT MUNGKIN! JANGAN BERPENCAR! SIALAN! APA-APAAN POHON ITU?! BUKANNYA MENGHASILKAN BUAH MALAH MENGELUARKAN SENJATA! AWAS KAU!!!" seru Chris memperingati.
"DASAR BODOH! INI GARA-GARA KAU YANG TIDAK PECUS MENJAWAB PERTANYAAN! SANA HADAPI SAJA SEMUA SENJATANYA! KAKIKU TIDAK MAU LARI LAGI!" selalu ada alasan bagi Laura untuk menyudutkan Chris. Meskipun kakinya tidak pegal sama sekali. Mereka terus berlari berusaha menghindar dari ancaman senjata terbang.
Chris mengerang tajam. Namun, bukan saatnya untuk berdebat. Dia melirik ke belakang. Sekitar jarak setengah meter senjata itu mengancam mereka.
'Gawat! Kalau tau gini jadinya aku tidak akan mau dikasih pertanyaan. Ternyata jebakan bisa datang dari mana saja. Ck, apa yang harus kulakukan sekarang?' pikir Chris.
Chris tersentak kala sesuatu menghadang mereka dari depan. Timbul dari tanah berupa akar-akaran hidup yang berkembang menjadi tebal.
"BERHENTI!!!" pekik Chris memperingati. Sontak mereka semua berhenti mendadak.
"AAAAA! APA LAGI ITU?! AKAR RAKSASA?!" bola mata Laur seakan ingin lepas dari asalnya.
Sringgg!!!!
Armei tidak tahan lagi. Di menarik pedang dan membabat habis akar-akaran itu. Namun, tebasan pedangnya sia-sia saja. Sabetan jurus angin di pedang itu juga tidak mempan. Semakin sempit pula peluang mereka untuk menghindar. Chris mengumpulkan tenaganya untuk menendang dan memukul setiap benda tajam yang melayang mengejarnya itu sebelum mendekati Laura dan Armei. Meskipun dia berhasil menendangnya, senjata-senjata itu berhasil kembali dan mengejarnya lagi. Chris terus melawan dan membuang senjata-senjata itu, akan tetapi hasilnya juga sama sampai dia kualahan.
"Laura, bantu aku! Jangan diam saja!" teriak Chris kesal sembari tangannya tak berhenti menangkis senjata.
Armei sedari tadi masih sibuk berusaha membuka jalan dari akar-akar yang merepotkan. Semua jurus pedangnya sudah digunakan. Hasilnya sangat buruk. Napasnya terengah, tetapi satu goresan pun tidak bisa dia hasilkan.
"Si-sial!" dia mendesis menahan diri mundur. Memang akar-akaran itu tidak menyerang, tetapi dia kokoh seperti tembok penghalang.
Laura diam terpaku. Kakinya gemetar tidak berani bergerak. Hanya melihat Chris yang asik melayani serangan pohon raksasa yang semakin menambah pedang dan pisau tajamnya. Meskipun Chris susah menyerukan namanya untuk meminta bantuan, tetapi Laura hanya bisa ternganga.
"A-a-apa yang bisa kulakukan? Aku rasa kita akan mati di sini," cicitnya yang masih bisa didengar oleh Chris. Sedangkan Armei kembali berjuang membasmi akar-akar itu.
"Jangan bodoh, Pencuri licik! Bantu aku kau tidak mereka akan menggores lehermu sungguhan! Aarghh!" Chris sedikit lengah saat mengatakan hal itu pada Laura. Akibatnya sebuah pedang kecil berhasil mengenai lengannya dan membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan.
"CHRIS!!!" teriak Laura khawatir. Mendadak tangannya mengepal tidak terima. "Eeerrrr, usai sudah semua ini! Lawanmu adalah aku, pohon jelek! Hentikan senjata-senjata terbangmu atau aku yang akan menerbangkanmu!" teriak Laura lantang sembari berlari cepat dan sangat cepat menuju pohon raksasa.
"Laura, kau gila, ya?! Apa yang kau lakukan?!"
Chris tersentak mengetahui Laura nekat menghindari setiap serangan senjata terbang. Kakinya mendadak bisa bergerak lincah bagai larian kilat tanpa menimbulkan suara apapun. Tatapan matanya tajam tertuju pada pohon itu. Sedangkan Chris dan Armei masih fokus pada usahanya. Sebisa mungkin Chris menolak semua senjata yang mengarah padanya dan Armei agar tidak mengenai Armei yang berusaha membuka jalan untuknya. Dia cemas karena Laura ingin mengorbankan diri di sana. Dalam sekali tendangan di udara, Chris berhasil melempar beberapa besi tajam sampai terantuk ke dinding labirin. Setidaknya bisa membuat celah untuknya berbicara sebelum mereka kembali menyerang.
"Laura, jangan bodoh! Kau bisa terluka! Sial! Apa maksudmu?!" Chris kalang kabut. Sudah tidak ada celah untuknya kabur atau bergerak selangkah pun. Dia harus menghalau senjata dan membiarkan Laura bergerak bebas sesuai dengan rencananya sendiri.
'Gadis itu benar-benar keras kepala. Melawan pohon itu sama saja membuat dirinya dalam bahaya. Aku tidak bisa mengatasi semua senjata terbang ini dan menyelamatkannya sekaligus,' decak Chris dalam hati.
"Hiyyaaa!!!" Laura meringankan tubuhnya dan melompat membuat para senjata yang diluncurkan begitu saja sebagai pijakan. Dia melompat bagai terbang dari satu senjata ke senjata lain hingga memudahkan dirinya untuk sampai ke pohon itu dengan cepat.
Gerakan Chris terfokus pada senjata, tetapi sorotan matanya selalu terarah pada Laura.
"Laura, jangan ke sana! Berhenti!" serunya semakin tak karuan. Armei ikut-ikutan panik. "Chris... Laura...," panggilnya lirih.
Kepala yang hanya menoleh harus terpaksa kembali pada apa yang mereka hadapi. Semakin dekat Laura dengan pohon raksasa itu, semakin kuat kakinya menginjak semua senjata terbang. Kali ini tubuhnya tidak diringankan, tetapi menitikberatkan kekuatannya di kaki dan menendang sekuat tenaga semua senjata itu sampai menusuk ke dinding labirin.
Armei dan Chris terkejut hebat. Sejak tadi tidak ada yang bisa menembus dinding labirin, tetapi dalam sekali tendangan Laura bisa membuat senjata itu mengoyak dinding labirin bahkan tidak kembali lagi. Mata Chris melebar enggan berkedip seiring aksinya. Keseriusan Laura memperlihatkan kekuatan kakinya membuatnya terpana. Sorot tajam Laura semakin menanjak ketika berada tepat di hadapan pohon raksasa. Tepat saat kakinya menapak ke tanah, Laura mengepalkan tangan dan menahannya di udara. Lubang-lubang dari dahan yang digunakan untuk mengeluarkan senjata itu masih berfungsi. Laura tak peduli jika tubuhnya akan terkena senjata-senjata itu. Dia tetap berdiri tegap di sana.
"Entahlah kau!"
Sekali sentakan, sekali pukulan, Laura mengumpulkan kekuatan otot tangannya pada tinju besarnya dan meninju pohon raksasa itu tepat sejajar dengan posisi wajahnya. Namun, usahanya itu tidaklah mudah. Laura meninjunya sekali lagi dengan tangan yang lain. Kemudian, kedua kaki ikut bermain dan pada akhirnya Laura memukul dengan brutal.
"HIYAAAA!!! TUMBANGLAH KAU POHON SIALAN!!!" teriak Laura menggema di sekitar arena labirin.
"LAURA!" panggil Chris tersentak ketika Laura bergerak bebas sampai sedikit melompat agar bisa meretakkan pohon itu mengakibatkan dirinya terkena senjata yang baru diluncurkan oleh pohon itu. Kiri tangan dan kaki Laura berlumuran darah. Gadis itu terus berjuang hingga pohon itu tumbang. Chris tidak sanggup melihatnya.
"DASAR BODOH! JANGAN BUNUH DIRI DI SANA! CEPAT KEMBALI, LAURA!" teriak Chris semakin menjadi. Armei sampai merinding di belakangnya.
Tidak mengerti kenapa semua ini terjadi di luar ekspektasi. Serangannya begitu bertubi-tubi. Kepungan lokasi itu menjadi penuh senjata sekarang. Chris tidak mau kalah dan diam saja. Jika Laura bisa membuat beberapa besi tajam itu menembus dinding labirin, berarti dia juga bisa. Dengan sekuat tenaga dia menggenggam semua senjata yang terarah padanya sampai kedua telapak tangannya bercucuran darah dan Chris membuangnya ke dinding labirin dengan sangat kuat. Dia bahkan berteriak lantang bagai raungan singa yang marah.
"Aarrgghhh!!!"
"Chris, tanganmu!!!" Armei juga ikut terhasut dalam kepanikan. Kini hanya dirinya saja yang tidak terluka. Chris terus melanjutkan pertarungannya begitu juga dengan Laura. Armei berbalik tidak mau membuka jalan lagi, dia ikut menangkis semua besi terbang itu dengan pedang, tetapi tidak menggunakan gelombang angin pedangnya karena bisa memantul lagi dan itu bisa melukai Chris juga Laura.
'Chris dan Laura begitu antusias. Gadis itu ... tak kusangka juga kuat. Tangan dan kakinya sudah berlumur darah. Dia terluka parah,' batin Armei.
Laura tidak kunjung berhenti. Karena kesal sudah beberapa kali senjata itu mengenai tubuhnya sampai tidak Laura rasakan sakitnya, dia melompat tinggi menaiki pohon itu dan mencoba mematahkan dahannya. Sayangnya tidak bisa. Dahan itu terlalu besar hampir sebesar batang pohonnya. Laura tidak mau menyerah, dia belum puas. Akhirnya berhadapan langsung dengan lubang besar yang menjadi pusat utama mengeluarkan senjata terbang. Sebelum senjata itu muncul bertubi-tubi menyerangnya, Laura terlebih dahulu menghantamnya dengan pukulan super juga tendangan yang bisa mengoyak kaki-tangannya.
"LAURA!!!" jeritan Chris dan Armei kompak mengetahui hal itu.
Mereka pikir dengan Laura membungkam lubang itu membuat Laura tersakiti sampai besi tajam itu menembus dalam dirinya, akan tetapi mereka heran ketika Laura berhasil turun dengan posisi benar dan tenaganya masih kuat. Kaki kirinya berhasil berpijak di tanah.