Seketika lubang besar itu retak menghentikan semua senjata yang terbang. Senjata-senjata itu jatuh bertebaran bagai bunga gugur dari pohon raksasa. Chris dan Armei mencoba menghindarinya dengan berlari secepat mungkin ke arah Laura. Napas Laura tersenggal-senggal. Menatap retakan yang terus bertambah ke pangkal cabang. Tangan dan kakinya bergetar. Tatapannya semakin bertambah tajam.
"Laura! Kau tidak apa-apa?! Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?!" Chris khawatir. Dia mencoba membalikkan tubuh Laura untuk mengecek kondisinya, tetapi Laura menghindar.
Chris dan Armei tersentak. Laura tak bergerak sedikit pun. Ucapannya sangat menusuk jantung. Sontak retakan itu merambat hingga ke tiap cabang pohon hingga dahan terdekat dari lubang yang ditendang Laura roboh. Chris terkejut langsung menarik Laura mundur.
"Runtuh? Tidak mungkin!" Armei menutup mulutnya.
Chris terbelalak melihat beberapa dahan yang lain akan ikut jatuh.
"Laura, apa yang kau perbuat? Menghindar semuanya!" Chris membawa Laura dan Armei mundur beberapa langkah bersamaan dengan runtuhnya dahan-dahan besar itu. Laura tersenyum miring. Menjauhkan diri dari Chris tentunya membuat Chris semakin bingung.
"Pohon ini baru permulaan. Ayo ... kita jalan." dengan perasaan dingin Laura mendahului mereka.
Terserah jalan mana yang dia ambil. Niatnya hanya satu yaitu menghadapi semua pertanyaan yang terlontar. Jika ancaman datang lagi dia akan berada di barisan depan.
Chris mengerutkan dahi heran. Berdecak menarik Laura agar kembali padanya.
"Apa yang kau bicarakan, Bodoh? Kau tidak bisa...," sebelum Chris selesai bicara, Laura menepis tangan Chris membuat Chris semakin tersentak. Laura bahkan tidak berpaling untuk memandang Chris.
"Kerasukan apa anak ini?" gumam Chris tidak mengerti. "Sedangkan pohon itu sudah diam. Berarti ... dia kalah?" sambungnya.
"Laura, sebaiknya kita obati dulu lukamu. Chris juga terluka, biar aku rawat kalian," tegur Armei karena Laura tidak bersuara.
Gadis pencuri itu justru mendongak berusaha memandang langit yang tidak nampak sedikit pun. "Obati saja dia. Untuk apa mengobatiku yang sudah menyesatkan kalian di labirin laknat ini? Aku pantas mendapat luka. Bukan begitu ... Chris?"
Laura melirik Chris tajam di akhir ucapannya. Chris semakin dikejutkan dengan perubahan gadis itu.
"Laura, kau ini kenapa? Aku tidak paham. Kalau mau membuktikan diri setidaknya jangan sok kuat. Ayo, obati dulu lukamu." Chris mengayunkan tangannya agar Laura mau mendekat. Sayangnya Laura memilih pergi ketimbang menuruti perintahnya.
"Bocah sialan itu benar-benar menguji syaraf otakku! Apa maunya sebenarnya?" geram Chris.
Sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Laura. Hanya tidak bisa mengekspresikanya saja. Gadis itu berjalan tenang seolah tidak sakit sama sekali. Padahal darahnya semakin berkurang dan membercak mengotori tanah. Chris berdecak memukul tangannya sendiri lantaran tidak berhasil membujuk gadis itu.
'Apa yang dia pikirkan? Maksudnya apa bertanya seperti itu? Kurang ajar! Kau membuatku menaruh empati padamu,' geram Chris dalam hati.
Armei bisa melihat kecemasan yang mendalam di mimik wajah Chris. Lalu, beralih pada Laura yang memunggunginya dan terus melangkah.
"Laura...," panggilnya lirih. Tidak menyangka Laura akan berubah lebih dingin darinya. Pikirnya perasaan Laura sedang terguncang sekarang. Itu membuat ambisinya untuk keluar dari labirin dan menyelamatkan mereka semakin kuat.
"Dia pasti merasa bersalah. Ditambah ucapanmu yang menantangnya. Itu terdengar seperti penghinaan," kata Armei yang telah melirik Chris.
Chris menaikkan alisnya heran, "Apa?"
Armei hanya mengangguk sebagai balasan. Cerminan Laura di mata Chris nampak begitu jelas, terlebih darah segar yang terus menetes itu.
'Jangan bilang Laura memasukkan ucapan kasarku ke hati dan dia ingin membuktikan diri? Benar-benar bodoh! Kenapa semua perempuan mudah terperdaya dengan omongan yang bahkan hanya untuk bercanda? Aku bercanda, Payah!' geram Chris dalam hati lagi. Tangannya ikut terkepal kuat.
"Ayo, Bibi. Kita kejar dia dan pukul kepala keras sampai sadar." Chris meninggalkan Armei dan berjakan cepat mengejar Laura.
Armei menghela napas panjang. Sebelum mengikuti Laura dan Chris, dia memandang pohon raksasa dan senjata-senjata yang terbujur di tanah.
"Kaki Laura memang luar biasa," gumamnya mengingat aksi Laura tepat di akhir kakinya menapaki bagian labirin itu.
Ketika mereka berhasil menyeimbangkan langkahnya dengan Laura, gadis itu tetap diam meskipun Chris merecokinya dengan berbagai bujukan yang bahkan menurutnya menjijikan. Dia hanya ingin Laura mengobati lukanya. Sampai Chris tidak mau mengobati dirinya jika Laura juga tidak diobati. Sekarang dua remaja itu membuat Armei pusing.
"Keegoisan tingkat tinggi yang lucu," kata Armei memecah omelan Chris pada Laura.
Sontak Chris menoleh tidak terima, "Apa katamu? Dia saja yang egois, jangan ikutkan aku."
"Hmm," Armei bergumam malas.
"Ck! Kalau itu maumu jangan bicara sampai nanti. Silahkan tunjukkan kebolehanmu." Chris melipat tangan di belakang Laura.
'Sialan! Gadis itu tidak bicara walau sudah kugertak. Aku pusing mencium bau anyir dari darahnya. Ssshh, sampai kapan lukanya akan terbuka? Gram sekali aku!' gerutu Chris dalam hati.
Beberapa langkah kaki mereka akan mendekat jalan yang bercabang dua. Namun, sebelum mereka belok, Laura menghentikan langkahnya.
"Hmm? Ada apa?" Chris meneleng melihat Laura.
Gadis itu masih enggan bicara membuat Chris berdecak lagi. Dia mendongak begitu juga Armei. Chris heran, dia ikut mendongak. Sontak matanya melebar karena ada sepercik cahaya yang menyilaukan di langit-langit labirin. Cahaya itu berkumpul membentuk sebuah lingkaran dan berada tepat di depan Laura. Chris menyerukan Laura untuk mundur, tetapi gadis itu tidak mau mendengarkannya.
"Cukup, Chris." Armei menghentikan Chris yang ingin menarik paksa Laura. Dia pikir lingkaran cahaya itu adalah jebakan.
"Laura!" Chris memanggil Laura agar mau mundur bersama mereka.
Namun, gadis itu justru mengulurkan telunjuknya untuk menyentuh cahaya itu.
"Kenapa kau bodoh sekali? Jangan sakiti dirimu sendiri! Itu bisa jadi jebakan, Laura!" Chris meronta lantaran Armei masih mencekal tangannya.
Dia ingin memaksa Laura agar tidak berbuat macam-macam. Sayangnya, jari Laura telah berhasil menyentuh cahaya itu. Seketika kilauan sinar muncul setelah Laura menyentuhnya membuat silau sejenak bagi mereka. Lalu, cahaya itu menjadi keras seakan ada cermin di dalamnya. Laura tersenyum miring, Chris terkejut dan Armei perlahan melepaskan cekalannya. Mereka memandang cahaya yang sama. Meskipun begitu hutan labirin masih hampa.
"Selamat datang di petualangan hutan labirin. Jawab satu pertanyaan maka semua jalan yang salah akan ditutup," lingkaran cahaya itu mengeluarkan suara bariton yang sama seperti pohon sebelumnya.
"Apa?! Semudah itu hadiahnya? Bagaimana kalau salah?" Chris memicing setelah terkejut.
"Ini sangat menguntungkan. Kita bisa keluar tanpa ragu berjalan di jalan yang salah," sambung Armei.
"Jika salah maka kejutan akan menanti," jawab lingkaran cahaya itu.
Chris meninju telapak tangannya. "Baik! Aku akan...," sebelum Chris selesai bicara, Laura telah menyelanya.
"Katakan!" kata Laura tegas.
Chris sungguh serasa diremehkan. "Laura, apa kau sadar dengan ucapanmu? Aku...," sayang sekali ucapan Chris kembali disela oleh Laura.
"Katakan!" hanya itu yang keluar dari mulut Laura dengan lebih tegas dari sebelumnya.
Chris mengepalkan tangannya erat sampai otot-ototnya tercetak jelas di balik pakaian panjangnya. Sorotannya tertuju pada Laura.
"Aku harap kau menjawabnya dengan benar, pencuri licik!" desis Chris membuat Laura juga mengepalkan tangannya.
"Siang berubah gelap dan malam berubah terang. Rotasi bumi bukan pada porosnya. Manusia terkuat pun tidak bisa menghentikannya. Apa sebabnya?" lingkaran cahaya itu telah memberi pertanyaan.
Chris dan Armei tersentak bersamaan, tetapi tidak dengan Laura. Dia tetap tenang bahkan memberi pandangan tajam pada lingkaran cahaya itu.
"Jika kau ragu untuk menjawabnya, aku bisa memberi pilihan untuk kejutannya. Selamatkan teman-temanmu untuk menuju jalan berikutnya dan korbankan dirimu, atau korbankan mereka dan selamatkan dirimu," lingkaran cahaya itu bersuara lagi.
"Sialan! Beraninya kau memberi pilihan seperti itu! Kau pikir ini permainan imajinasi? Taruhan kami nyawa, payah! Kau tidak lihat luka di sekujur tubuh kami, ha?!" Chris marah pada lingkaran cahaya itu.
"Aku tidak menerimanya karena aku akan menjawabnya dengan benar!" bentak Laura bukan terdengar seperti bercanda.
"Apa?!" Chris beralih menatap Laura. Dia bahkan berada di samping Laura sekarang.
"Kau benar-benar! Hanya ada satu kesempatan. Jika kau salah tebak, hal yang mengerikan pasti datang seperti sebelumnya. Pikirkan baik-baik!" bentak Chris.
Armei dengan kasar menarik Chris agar menjauh dari Laura. "Bibi, dia itu..."
Armei memotong ucapan Chris. Mengangguk meyakinkan Chris untuk membiarkan Laura bertindak. Chris masih belum mengerti juga jika Laura sedang kesal karenanya. Dengan kasar pula Chris menarik pedang Armei dan menantang lingkaran cahaya itu. Dia mengerang tak terima.
"Kalaupun jawabannya salah, akan kuhadapi apapun yang terjadi ... sendirian!" ujarnya lantang.
"Takdir!" tiba-tiba Laura berseru.
"Apa?!" Chris dan Armei terkejut. Mungkin lingkaran cahaya itu juga terkejut.
"Takdir adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Meskipun siklus siang dan malam berubah itu karena adanya takdir dari Sang Penguasa alam semesta. Baik manusia terhebat, binatang buas mematikan, atau ilmu pengetahuan yang semakin berkembang seiring jalannya masa, mereka tidak luput dari takdir yang telah tertulis. Rotasi kehidupan bisa dipermainkan bahkan dunia lain bisa terlihat kebenarannya. Semua itu ada karena takdir. Semua penyebab dari apapun yang terjadi dikarenakan adanya takdir. Jadi, jawabannya adalah takdir!" seru Laura menggema di jalan labirin itu.
Chris tidak bisa membungkam mulutnya. Mata tajam Laura terus menantang lingkar cahaya itu tanpa berkedip sekalipun. Pedang Armei yang dia pegang perlahan-lahan diturunkan. Lingkaran cahaya itu tidak memberi jawabannya membuat tangan Laura semakin terkepal. Mereka diam menunggu selang satu menit baru lingkaran cahaya itu bersuara.
"Takdir ... adalah jawaban yang tepat."
Suara bariton itu menggetarkan jiwa Laura. Seketika kepalan tangannya terbuka, alisnya terangkat tak menunjukkan tajamnya tatapannya lagi. Dia lega dalam hati. Begitu juga dengan Chris yang semakin menganga. Armei smalai merebut kembali pedangnya dan dia tidak peduli.
"A-apa? Jawabannya benar?" kata Chris seperti bergumam.
Armei tersenyum bangga sembari menaruh pedangnya dalam sarung, "Takdir, ya? Lumayan juga."
Jawaban yang singkat itu mampu membuat lingkaran cahaya menepati ucapannya. Perlahan-lahan jalan yang akan menyesatkan mereka ditutup. Kini hanya ada satu jalan dari tiap lorong labirin. Mereka hanya perlu berjalan mengikuti lorong itu. Mulanya tempat yang mereka pijak sekarang ada dua cabang jalan dan kini hanya tinggal satu yaitu yang berada di depan mereka.
"Selamat kalian berhasil. Silahkan menuju arah selanjutnya. Semoga menikmati pengalaman di hutan labirin." lingkaran cahaya itu memudar dan kembali ke asalnya yaitu menghilang di atap labirin.
Laura menghembuskan napas panjang. Chris mengerjap sadar dan mendekati Laura lagi.
"Wah! Kau hebat! Bagaimana bisa tau kalau takdir jawabannya? Kupikir kau tidak percaya dengan Pencipta semesta alam dan takdir, tidak taunya kau mengerti semuanya!" pekik Chris kagum.
Walaupun cara memandangnya sudah bersahabat, itu tidak berhasil mengubah isi hati Laura. Gadis itu tidak meliriknya sedikitpun. Kakinya melangkah begitu saja tanpa mengucap sepatah kata walau untuk Armei. Senyum bodoh Chris menjadi hilang. Dia diam memandangi punggung Laura yang akan menghilang dari belokan labirin.
"Sudah mengerti sekarang? Dia tidak mau bicara padamu." Armei menekuk pundak Chris dan mengikuti Laura. Senyuman yang Armei tinggalkan menambah tusukan di hati Chris.
"Apa aku terlalu meremahkan dia? Laura ... jauh dari dugaanku,' batin Chris.
Kini Chris mengerti sepenuhnya. Perkiraannya jika Laura memasukkan semua hinaannya ke dalam hati ternyata itu benar. Sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan karena percuma jika membujuk Laura agar mau berbaikan dengannya. Ketika dia ikut berjalan bersama mereka yang mengganggu pikirannya kali ini bukan jebakan atau pertanyaan yang terlontar tiba-tiba, melainkan sikap Laura.
'Dia dingin sekali! Lebih dingin dari setiap malamku,' batin Chris lagi.
Kakinya tidak mau melangkah lebih dekat bersama Laura. Dia memilih berjalan setara dengan Armei dan pandangannya selalu ke segala arah. Hingga ketidaksengajaan merusak jalan mereka. Chris tersandung sesuatu hingga tersungkur. Namun, sesuatu itu tidak terlihat wujudnya. Laura dan Armei berbalik segera mencari apa yang membuat Chris jatuh. Chris segera bangkit. Rasanya memalukan laki-laki seorang diri jatuh tersungkur di depan dua perempuan sekaligus.
"Sial-sial-sial! Apa yang mengganggu jalanku tadi? Tidak ada batu atau akar di sini." ikut celingukan mencari penyebab akan jatuhnya dia.
"Tidak ada apapun. Kau yakin terhalang sesuatu?" tanya Armei yang maish memperhatikan tanah di sekitar Chris.
"Aku seperti dihalangi sesuatu yang keras. Bukan karena kakiku yang salah jalan," bela Chris.
Laura menatap satu titik yaitu tempat terjatuhnya Chris. Hal itu membuat Chris dan Armei curiga.
"Ada sesuatu, Laura?" tanya Armei.
Laura maju satu langkah tepat di mana Chris menginjakkan kaki sebelumnya yang dibilang terdapat benda keras di sana. Armei dan Chris bingung apa yang akan Laura lakukan.
"Minggir ... semuanya!" kata Laura tegas.
Sontak Armei dan Chris minggir walau bertanya-tanya. Laura mengangkat tinggi kakinya menyerupai sembilan puluh derajat.
"Muncullah!!!" mendadak dia memekik dan menghentakkan kaki yang diangkatnya ke tempat itu sampai tanahnya retak dan dia segera mundur.
Chris tidak bisa menahan keterkejutannya. Retakan tanah itu semakin besar sampai tanahnya mencuat seperti percikan air. Ternyata keluarlah batu besar dari retakan itu. Sangat besar sampai menghalangi jalan mereka, terantuk dinding ke dinding labirin lain. Namun, hanya setinggi dua kaki. Laura berhadapan langsung dengan batu itu.
"Hal lagi yang muncul? Sudah kuduga itu sebuah batu!" kata Chris masih di tempatnya. Dia mengikuti saran Armei agar tidak mengganggu Laura.
Batu itu membuat garis retakan sendiri tepat di depan wajah Laura. Sampai membentuk sebuah bentuk yang tidak beraturan. Namun, retakan itu menjorok ke dalam dan memiliki ruang. Dia sangat mengkilap. Laura mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti. Apa yang sebenarnya batu itu lakukan?
"Tahap ke tiga dari ujian menuju pintu keluar hutan labirin. Gadis kecil, aku sudah melihat keberanianmu sejak awal. Kau hanya pura-pura lemah dan mengalahkan dua teka-teki lain dengan sangat mudah. Aku punya hal yang sama dengan mereka."
Batu itu ternyata juga mengeluarkan suara. Entah hutan labirin yang bicara dnegan mengendalikan mereka atau mereka sendiri yang hidup tapi mati. Keajaiban seperti itu tidak heran terjadi dan Laura sudah mengerti jika dirinya yang menjadi sasaran semua rintangan di hutan labirin karena dirinya lah yang menyelesaikan tiap tantangannya.
"Dengan mudah katamu? Kau tidak lihat darahnya hampir habis seperti itu? Dia hanya sok kuat, batu besar!" ujar Chris lantang entah menantang batu itu atau membela Laura. Sayangnya Laura tidak tertarik dengan ucapan Chris. Itu membuat Chris jengkel dan berdecak geram.
"Lakukanlah!" Laura justru memberi perintah.
Batu itu tertawa. Tawanya mengerikan membuat Chris dan Armei marah. Mereka bahkan mengerang bagai petarung yang siap tanding. Bahkan Armei menarik pedangnya dan siap menghunus ke Laura. Gadis itu menoleh ke belakang menyadari kedua teman barunya bersikap aneh.
'Sial! Batu ini punya kekuatan mengendalikan emosi manusia. Mereka bisa terhipnotis lebih lama dan akan menyerangku tanpa kehendak mereka,' pikir Laura.
"Hahaha, benar sekali! Aku telah mengendalikan mereka. Kau punya dua pilihan. Jika berhasil menawan teka-teki yang kuberikan maka kalian selamat. Jika tidak, mereka akan menyerangmu tanpa henti sampai napasmu berhenti," batu besar itu mengatakan hajatnya.
Laura mengetatkan giginya, tangan juga terkepal. Kembali berhadapan dengan batu itu, "Katakanlah! Tapi aku punya atau permintaan! Kau harus mengabulkannya jika aku berhasil meladenimu!" dengan berani menunjuk batu itu.
"Ja-jangan, Laura. Cepat pergi dengan lompati batu itu. Aku ... tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerangmu!" Chris bicara dengan terbata-bata. Kaki dan tangannya sudah siap siaga untuk bertempur.
Laura tersentak menoleh ke belakang lagi.
"Iya, larilah, Laura! Pedangku tidak bisa kukendalikan!" Armei juga menyerukan hal yang sama.
Laura semakin memanas. Dia menjauh beberapa langkah dari batu itu. "Beri kami makanan enak jika aku bisa menghentikanmu! Itulah permintaanku!" seru Laura menunjuk batu itu lagi.
"Apa?!" Armei dan Chris berteriak bersamaan. Itu pun mereka lakukan sekuat tenaga karena tubuhnya memang di luar kendali mereka.
'Kurang ajar! Ada yang mengikat diriku. Aku sadar, tapi diriku dikendalikan. Ilusi macam apa ini?' gerutu Chris dalam hati.
Sekuat tenaga mereka meronta berusaha membebaskan diri dari tawa yang seperti mantra pengikat itu, semakin erat pula ambisinya untuk menyerang Laura. Lalu, batu itu tertawa lagi. Kaki Armei dan Chris kesulitan menahan diri agar tidak mendekati Laura. Segala sumpah serapah Chris lontarkan dalam hati untuk batu itu. Jika sampai pukulannya mengenai Laura, dia tidak akan memaafkan batu itu. Bukan tanpa alasan Chris memikirkannya, itu karena Laura sedang terluka dan dia seorang perempuan. Chris bukanlah pengecut yang menyerang perempuan secara brutal apalagi dalam kondisi terluka.
"Aku akan menghancurkanmu setelah ini, batu keparatt!" desis Chris dengan segala kesadarannya. Keringat panas-dingin sudah mulai bercucuran di dahinya.