12. Rintangan Terakhir

2613 Kata
Pejuang tangguh tidak akan gentar walau satu langkah mundur. Tidak ada gemuruh yang menambah rasa takut. Itulah yang ada dalam diri Laura saat ini. Gadis itu memandang tajam sang batu. Chris melihatnya jelas. Dia bandingkan dengan pejuang bela diri perempuan di dunia nyata yang sering kali dia lihat. Saat ini cerminan mata Chris penuh dengan bayangan Laura. "Baiklah, aku terima permintaanmu. Sebelum itu jawablah teka-teki ini," ujar batu tersebut. Laura sudah bersiap. "Bebaskan diri dari kutukan wujud labirin. Dasar dari keserakahan duniawi dan kekuasaan manusiawi, itulah kuncinya. Apakah yang menjadi kunci kebebasan tersebut? Jawablah!" sambung batu itu. Laura tersentak. Namun, sayang sekali. Tak sempat dia ingin membalas, Chris dan Armei berteriak bersamaan dan menyerangnya dari belakang. Napas Laura tercekat saat berbalik badan. "Hiyaaaaaa!" Armei tak bisa menahan pedangnya. "Larilah, Laura!" seruan Chris terdengar pahit. Dia meringis tanpa berhenti mengantarkan pukulan keras ke wajah pencuri itu. Secepat mungkin Laura menghindar. Dia berlari ke samping dan berujung memutar karena Chris dan Armei terus mengejarnya. Pedang Armei mengoyak udara. Hendak menebas kepala dan kaki Laura, untungnya gadis itu selalu berhasil menghindar. Chris meringis merasa payah. "Bodoh! Cepat lari yang jauh! Jika tidak aku akan menghabisimu!" ada nada tangis yang terhambat di nada Chris. Tenggorokannya mulai terasa sakit membuat Laura tak kuasa menahan marah. 'Kurang ajar kau, batu sialan! Beraninya mempermainkan mereka! Sial, aku jadi sulit bergerak,' batin Laura di sela larinya. Melihat Laura yang melamun, Armei pun berteriak tanpa berhenti mengayunkan pedang mengancam kaki Laura. "Jawab teka-teki itu, Laura! Hanya itu yang bis menghentikan kami!" Laura tersadar selagi melompat jauh dan berlari miring di dinding labirin sehingga serangnya pedang Armei mengenai labirin yang tak bisa dipotong. Sayangnya Chris terus mengincar kepala Laura dengan kepalan tangan yang tak bisa diampuni. Laura terus berlari dan berputar-putar. 'Ah, pertanyaan aneh itu. Aku yakin maksudnya dia ingin membiarkanku membebaskan dirinya atau labirin ini dan itulah jalan keluar akan terbuka, tapi apa jawabannya? Keserakahan dan kekuasaan?' pikir Laura. "Lauraaaaaa! Bicaralah! Aku akan menghajarmu!" seru Chris lagi membuyarkan lamunan Laura. Dalam hati Laura berdecih ketika menatap wajah Chris yang berkerut tegang. 'Apa yang dilakukan si bodoh itu? Dia berniat sekali mau menghajarku,' batin Laura. Seketika laura mempercepat larinya dan Armei tidak bisa mengejarnya. Tidak menduga jika Chris sudah tidak ada di belakangnya. Laura pun turun dari dinding labirin dan tiba-tiba Chris sudah berada di depannya. Begitu terkejutnya Laura hingga dia tak bisa menghindar. Chris berhasil memukul perutnya telak sampai darah mencuat dari sudut bibir Laura. "Laura!!!" teriak Chris setelah Laura tumbang. Tangannya bergetar. Percuma saja merasa bersalah, karena tangan itu ingin memukul Laura lagi dalam keadaan tersungkur. "Si-sialan kau!" gumam Laura sembari menyeka darahnya dan bangkit. Menatap tajam Chris dan berusaha membalas serangannya. "La-Laura?" Armei bertanya tentang keadaannya, tetapi menyerang dari belakang. Laura berhasil menghindar, sayangnya tidak bisa menghindari tangkapan Chris yang mencekal tangannya. Chris memukulnya lagi dengan jarak dekat membuat Laura terpental hingga ke batu raksasa. "Aarghh!!!" Laura memekik hebat. Sontak Chris luruh atas kendali batu itu. Armei pun tak menyangka Laura bisa terluka sungguhan dan dia masih dibuat dalam keadaan terkendali. Pedangnya menghunus kurus ke arah Laura yang sedang berusaha berdiri. "Lari, Laura!!!" teriak Armei sembari menahan air matanya. Lain dengan Chris yang sudah berkaca-kaca dan ingin memukul dirinya sendiri. Apakah daya, dia tak punya kekuatan untuk melepas kendali batu itu. Luruhnya hanya terhitung beberapa detik, tubuh kokohnya berhasil kembali berdiri tegak dan bersiap menyiapkan metode pukulan penghancur. Laura yang menyadarinya pun memaki diri sendiri. Dia berhasil berdiri dan menunggu sampai dua orang itu kembali menyerangnya. "Baiklah, jika itu mau kalian. Akan kulayani!" seru Laura tak kalah berani dan itu berhasil membuat batu raksasa tertawa. "Hahahaha! Teman yang saling bertengkar memang pemandangan yang mengharukan. Haruskah kututup kembali semua hadiah yang kau dapatkan di cobaan sebelumnya, gadis muda?" Batu itu meremahkannya. Seketika Laura mengurungkan niat untuk membalas serangan Chris juga Armei. Dia melirik batu itu. 'Benar juga. Batu ini berbeda dari dari tantangan sebelumnya. Dia tidak tenang dan serius. Hanya menguji mental dan mulai fisik seperti orang jahat. Tandanya dia punya kelemahan. Mungkinkah, jawaban dari teka-tekinya juga merupakan kelemahannya? Jika memang dia lemah, berarti setelah pertanyaan ini pasti tidak akan ada ujian lain. Labirinnya akan hilang sempurna. Itu jika asumsiku benar,' pikir Laura. Lirikan Laura berhasil menangkap kedatangan Chris juga Laura. Dia segera melompat tinggi menyebabkan serangan mereka mengenai batu itu. Di saat seperti itu, Laura melarikan diri dengan merosot di antara mereka sehingga berada di belakang mereka dan berhadapan dengan batu itu. Dahi Laura berkerut setelah melihat batu itu secara ulang bersamaan dengan Armei dan Chris yang berbalik memandangnya. Serangan mereka tidak mempan pada batu itu. 'Ada ruang tak beraturan di batu itu. Mungkinkah di sana adalah kelemahannya?' pikir Laura. Kerutan di dahi dan pusing tak bisa dibendung. Serangan demi serangan teman menjadi penghambat jalan. Selain melompat dan terus berlari demi menghindari serangan bertubi-tubi mereka, yang dipandang hanyalah satu yaitu ruang dalam batu raksasa itu. Ruangan yang kecil sebesar kepalan tangan Chris. Itu yang dipikirkan Laura. Kemudian, pertanyaan batu raksasa itu terus terngiang. Menurutnya ada tiga kata kunci diantaranya adalah kebebasan, keserakahan dan kekuasaan. Jika dia bisa menyatukan teka-teki tersebut, maka usai sudah. Makanan mewah akan dia dapat. Setelah beberapa menit dan bahkan tubuhnya lelah terus menghindar begitu juga Chris dan Armei yang kelelahan terus menyerang tanpa keinginannya, Laura nekat berhenti dan diam di depan batu itu. Tak peduli jika Chris juga Armei menyerangnya dari belakang meskipun mereka berseru menyuruhnya pergi. Laura tetap memandang tajam batu itu seolah memiliki jawaban pasti. Kemudian, tangan panjang miliknya merogoh pakaian, mengeluarkan sesuatu yang membuat Chris terheran-heran. Sebisa mungkin dia menahan gerakannya agar melambat untuk mendekati Laura. Armei melakukan hal yang sama seperti Chris. Mereka tidak menduga jika sesuatu yang dikeluarkan Laura adalah batu yang bersinar. Mereka terkejut dan dirasa batu itu pun juga bisa terkejut. "Batu berlian?!" seru Chris dan Armei bersamaan dengan susah payah. Laura segera memasukkan batu berharga itu ke ruang tak beraturan batu raksasa. Dia sendiri tersentak ternyata berlian curiannya masuk keseluruhan dan bentuknya sama dengan ruang tersebut. Kini batu raksasa itu tertutup sempurna. Dia mengerang dan mengeluarkan cahaya menyilaukan. Laura menyilangkan tangannya di wajah untuk menghalau cahaya itu. Sontak batu itu menghilang dan pengaruh pengendaliannya ikut menghilang membuat Chris dan Armei luruh kelelahan. Laura mengerjap setelah cahaya itu pun menghilang. Dia terkejut karena tidak ada sepatah kata pun untuk mengatakan dia berhasil atau tidak. Celingukan bingung merasa dibodohi. Namun, sesuatu yang ajaib datang. Cahaya itu muncul lagi sampai berhasil membuatnya mundur satu langkah. Tiba-tiba aroma makanan menggelitik indera penciumannya. Tak mengelak jika dia terbuai dan ketika cahaya itu menghilang, telah meninggalkan aneka ragam makanan enak dan banyak sesuai hadiah yang diminta Laura. Sungguh keajaiban yang tiada tara baginya saat ini. Armei dan Chris terbelalak tidak percaya. Mereka segera mendekat seolah-olah seluruh rasa lelah mereka hilang. Laura pun terduduk lemas melihat itu semua. Matanya dipenuhi oleh makanan. Dia mengerjap bodoh ketika binar yang sama terpancar di mata kedua temannya yang kini telah duduk mengapitnya. "Woaaahh! Makanan mewah! Kau berhasil, Laura! Tandanya kau menang lagi! Wahaha, hebat sekali!" Chris tak henti-hentinya ternganga. "Luar biasa! Laura, bagaimana bisa kau tau kalau...," sebelum Armei menyelesaikan ucapannya, Laura memotongnya dengan makan terlebih dahulu. Dia makan tanpa peduli mana dulu yang dia ambil. Tanpa malu makan banyak hingga mulutnya penuh. Darah yang tersisa di sekitar bibirnya sudah tak dirasakan. Bahkan terdapat banyak buah pula di sana. Chris pun tak ragu ikut makan cukup rakus. Energi perlu diisi, jika tidak mereka benar-benar tewas di arena labirin yang rumit ini. Armei hanya terkekeh dan mengejar napas. "Baiklah, aku mengerti. Kau menggunakan berlian yang kau curi untuk menjawab teka-teki itu. Kata-kata saja tidak akan cukup, karena batu itu berkata ingin kebebasan, sehingga kau mengambil tindakan untuk membebaskannya sesuai dengan jawaban pertanyaannya. Keserakahan dan kekuasaan manusia adalah harta. Sedangkan wujud dari batu itu adalah batu. Tepat sekali kalau kau menggunakan berlian," terangnya menjawab pertanyaannya sendiri kemudian ikut makan makanan percuma tersebut. "Hmm? Benarkah begitu, Laura? Kenapa tidak kau gunakan batu giok yang kau curi saja? Berlian itu lebih mahal," sahut Chris dengan mulut penuh. Bicaranya terdengar tidak jelas. Dia terus menyumpal mulutnya dengan makanan. Laura tidak menjawab. Dia bahkan makan lebih banyak dari Chris seolah tidak mau kalah dari Chris. Mereka terlihat sedang lomba makan paling banyak membuat Armei terkekeh lagi. "Giok saja tidak cukup utnuk ketamakan dan kekuasaan. Benar, 'kan, Laura?" jawab Armei dan Laura mengangguk. "Meski begitu kau terluka. Makanan ini hanya untuk pemulihan energi, bukan berarti semua luka kita akan sembuh. Kuharap tidak ada lagi rintangan di depan sana. Aku ingin sekali memusnahkan labirin ini dari luar," sambungnya dan Laura mengangguk lagi tanda setuju. Chris jadi berhenti makan. Memandang Laura yang masih enggan bicara padanya. Segera menelan makanan yang memenuhi mulutnya dengan agak sulit. Pandangannya menjadi meredup. Dia merasa bersalah juga kasihan. Laura tetap mengacuhkannya dengan terus makan. "Aku minta maaf telah menghajarmu. Itu di luar kendaliku. Kalau kau marah, setelah ini bisa melampiaskannya padaku. Bagaimanapun juga aku tidak ingin menyerang perempuan yang terluka." Chris menunduk, lebih tepatnya memalingkan muka. Perlahan tangannya terulur untuk mengambil makanan lagi. Sayangnya Laura tetap tak berkutik. Itu pun menarik perhatian Armei. "Laura, bicaralah. Dia sudah minta maaf. Apa yang kau harapkan?" Armei berbisik pada Laura tanpa bisa didengar Chris. Hal itu justru membuat Laura semakin mempercepat cara makannya. "Astaga, kau terlihat seperti monster kelaparan. Baiklah, aku juga akan menjadi monster kelaparan." Chris menggeleng lalu melanjutkan makan dengan sangat lahap. Armei mendesah pasrah. Dua orang itu tidak akan bisa dihentikan. Mereka memiliki sikap keras kepala yang sama. Walau begitu berhasil membuatnya tersenyum. 'Ini tidak buruk. Rintangan yang lumayan sulit ditukar dengan makanan. Hahaha,' tawa Armei dalam hati. Chris terus melirik Laura diam-diam. Dia sependapat dengan Armei jauh di lubuk hatinya ingin tertawa. Gadis itu mempertaruhkan nyawa demi makanan. Menurutnya itu geli sekaligus mengagumkan. Chris tidak bisa menyangkal dia telah kagum pada Laura. 'Tak kusangka kau menginginkan hadiah yang berguna untuk keberlangsungan nyawa kita semua. Makanan ini ... jauh lebih berharga dari semua makanan yang pernah aku makan. Tenang saja, Laura. Suatu saat nanti akan kubalas kebaikanmu dengan cara yang setimpal. Darah yang kau tumpahkan tak akan sia-sia. Jika saja aku bisa mengetahui misi yang hilang dengan segera, pasti kau tidak akan terkoyak sana-sini. Aku ... minta maaf dari relung hatiku. Apa aku berlebihan? Kurasa aku sudah terlalu banyak bicara,' batin Chris. Dia tersenyum dan terus tersenyum. Idola di dunia nyata adalah orang yang berhasil memikat hati setiap insan denga tindakan sekaligus keahlian yang mereka punya. Apakah Chris telah mengidolakan Laura? Tidak, dia hanya kagum. Sekejap saja pemikirannya berubah karena tahu jika Laura melakukan hal itu hanya karena kekesalan hatinya. Walau dia terkesan, tetap tidak bisa disebut sebagai idola. Sayangnya Chris telah mengagumi keberanian, tekad, kecerdasan, dan kelicikan gadis itu. Mungkin, di dunia nyata dia tak menemukan gadis yang serupa dengan Laura si pencuri. Makanan itu tandas tak tersisa. Rasa lapar telah hilang. Kini kantuk menyerang. Hal itu tidak bisa mencegah tekad mereka untuk terus berjalan demi ujung hutan labirin. Chris bersyukur sejauh ini semua rintangan yang berhasil mereka lewati tidak melanggar janjinya. Mereka bisa berjalan lurus menuju pintu keluar. Anehnya tidak ada benda aneh lagi yang muncul. Tandanya tidak ada rintangan yang menghalangi. Bagus, itu memudahkan jalan. Sayangnya hutan labirin itu sangat luas. Mereka tak kunjung keluar dan tidak tahu hari masih siang atau sudah malam. Chris menatap sekeliling, "Apa sudah gelap? Di sini agak redup." Armei dan Laura juga memandang langit-langit. "Memang, tapi tidak bisa dipastikan. Tidak ada celah untuk cahaya masuk," ujar Armei. "Haishh! Sepertinya kita akan menginap di sini," desah Chris. "Laura, apa kau lelah? Lukamu yang paling parah di antara kita." Armei menoleh pada Laura. Chris hanya meliriknya dan Laura menggeleng. "Bagaimana kalau kita istirahat? Beberapa jam lagi kita lanjutkan perjalanan," saran Chris. "Yahh, aku setuju." Armei langsung menaruh pedangnya ke tanah dan duduk bersandar dinding labirin. Chris juga demikian dan disusul Laura. Mereka menghela napas panjang. Tak terasa melewati sebuah labirin ternyata sesulit ini. Harus mengerahkan seluruh tenaga. Memandang langit-langit labirin yang sama. Benar-benar dauh yang lebat. Hutan sunyi tiada hewan kecil yang berbunyi seperti bernyanyi. Hiburan yang memilukan diri sendiri. Mendadak senyum Chris terbit. Menarik perhatian dua perempuan beda usia di kanan-kirinya. 'Sejauh ini aku senang,' gumamnya dalam hati. Senyum yang dia tampilkan seakan terlihat sangat manis. Andai saja di depan sana adalah tempat di mana matahari terbenam dan mereka kini tengah meraskan hangatnya udara senja dengan memandang barat yang sama, pasti rasanya begitu menenangkan. 'Bersama orang-orang yang tidak akan membiarkanku sendirian ketika malam telah tiba, itu serasa mimpi di dunia nyata. Arena pertandingan bela diri pun teman dianggap musuh. Tiada yang namanya setia jika sudah menyangkut menang dan kalah. Ironis sekali perbedaan di dunia nyata dan dunia bayangan,' Chris terkekeh dalam hati. Seketika dia teringat pada handphone yang disita Armei. Ingin memintanya, tetapi ingat kembali jika handphone itu tak berfungsi di sini. Lalu, Chris mendesah tanpa sebab. Tingkah anehnya menimbulkan kerutan di dahi Armei sekaligus Laura. Namun, mereka tak bicara sekali lun. Biar menikmati rasa lelah dan istirahat yang panjang sampai waktunya tiba untuk dirasa siap menjelajahi hutan labirin yang tinggal satu jalan ini. Tak lama kemudian Chris tertidur pulas. Armei dan Laura tidak bisa tidur, tetapi Laura pura-pura tidur. Armei lah yang terjaga dan menjaga keselamatan mereka sementara waktu. Namun, kantuk yang menyerang tak bisa dibendung lagi. Akhirnya dia tertidur dan Laura membuka matanya. Dia mendesis kesakitan setelah sejak tadi menahannya. Pukulan Chris, itulah serangan terakhir yang dia terima. Masih membekas dan terasa sangat menyakitkan seakan ada organ dalamnya yang terluka. Dia benar-benar membutuhkan pengobatan sekarang. Rasa sakit itu membuatnya tidak bisa tidur. Hingga berjam-jam lamanya. Ketika Chris bangun, dia melihat Laura dan Armei sudah bangun lebih dulu. Masih tak terlihat bagaimana keadaan hari di luar sana. Setidaknya rasa lelah mereka pun berkurang. Sayangnya, wajah lucat nan penampilan yang tak beraturan dari Laura membuatnya risau. Chris pikir Laura menahan sesuatu yang tidak bisa dia tunjukkan dan itu benar adanya karena sakit itulah yang dia tahan. Chris bisa tahu jika Laura menahan rasa sakitnya. Dia adalah ahli bela diri yang hebat, tentunya mengenal betul mana kondisi yang sehat dan tidak. Namun, Chris pura-pura tidak tahu agar Laura tetap tenang dan tidak marah lagi padanya. Mereka berjalan cukup lama hingga akhirnya menemukan sebuah cahaya dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang itulah jalan keluarnya. Chris lari dan mencoba menuntun Laura untuk lari, tetapi Laura menjauh dan membuat Armei yang berada di tengah sebagai pembatas jarak antar mereka. Chris tidak mau mengambil pusing amarah Laura, dia tetap mengajak mereka lari agar bisa keluar dengan cepat. Cahaya itu semakin jelas dan banyak. Harapan tak berakhir pahit. Cahaya itu memang tempat untuk keluar dari hutan labirin. Kaki mereka melangkah bersamaan menuju pintu terakhir dengan suka cita. Sontak pintunya tertutup ketika mereka berhasil keluar dan hutan labirin itu hilang tanpa jejak. Tentu saja hal itu menggetarkan jiwa Chris dan yang lainnya. Hingga akhirnya Laura tak bisa menahan lagi. Dia pingsan di lengan kokoh Chris yang sudah mengetahui jika dia akan pingsan. Chris mengesampingkan semua pertanyaan yang terbenam untuk labirin ajaib itu. Dia memandang sakitnya wajah Laura yang rapuh. "Kau siaga sekali," gumam Armei yang juga memandang Laura. Chris menggendong Laura tak peduli dengan lukanya sendiri, "Tubuhnya sudah mencapai batas. Untunglah kita berhasil keluar. Ternyata ini di siang hari. Entah berapa lama kita terjebak, yang penting sekarang ayo cari tabib." Berlari terlebih dahulu membiarkan Armei mengikutinya. Sama-sama tidak mengenal daerah asing yang mereka pijaki, yang jelas mereka mencari pemukiman. Setidaknya matahari bisa kembali terlihat dan hangatnya teresap ke seluruh tubuh. Angin panas berhembus pelan menyalurkan oksigen yang melegakan dadaa. Semua sempurna kecuali luka yang masih ada. Setelah cukup lama berlari, mereka menemukan sebuah desa sederhana yang sangat sibuk. Sesegera mungkin Chris bertanya pada penduduk desa tentang keberadaan tabib. Tidak peduli yang terhebat atau tidak yang jelas tabib itu bisa mengobati mereka semua. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN